Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan Nyawa
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Tiga hari setelah pertemuannya dengan pria berjubah abu-abu, Xiao Bai masih belum bisa sepenuhnya mencerna kata-kata tentang segel yang menyembunyikan kekuatannya sejak kecil. Namun perutnya yang kosong tak peduli pada misteri apa pun—rasa lapar yang nyata jauh lebih mendesak daripada teka-teki masa lalu yang belum terjawab.
Dua keping perak terakhirnya sudah lama lenyap, dirampas para preman di pasar. Pil-pil hasil ekstraksinya tak laku dijual karena kecurigaan orang-orang kota. Bahkan roti pemberian Paman Chen sudah habis dua hari lalu. Xiao Bai duduk di sudut gudang tuanya, menatap perutnya sendiri yang mulai terasa perih, menyadari bahwa jika ia tak segera bertindak, kelaparan akan membunuhnya jauh lebih cepat daripada segala musuh yang pernah menghinanya.
"Tungku," gumamnya pelan, suaranya lemah karena berhari-hari kurang makan, "bisakah kau mengekstrak sesuatu dari monster? Bukan hanya tumbuhan?"
> **[Tentu, Host. Inti monster—terutama monster tingkat rendah di sekitar Hutan Ba—dapat diekstrak menjadi pil energi yang jauh lebih padat nutrisinya dibandingkan pil dari tumbuhan biasa. Namun perlu diperingatkan: Host belum memiliki kemampuan bertarung yang memadai. Menghadapi monster, bahkan tingkat rendah, tetap mengandung risiko cedera serius atau kematian.]**
Xiao Bai tertawa lemah, suara yang lebih mirip erangan daripada tawa sungguhan. "Kalau aku diam saja di sini, aku juga akan mati. Setidaknya kalau aku mencoba, ada peluang aku bisa bertahan."
Ia bangkit berdiri, tubuhnya sedikit gemetar karena lemas, lalu melangkah keluar gudang menuju Hutan Ba—tempat yang sama di mana ia bertemu Li Ling'er beberapa hari lalu, namun kali ini ia harus melangkah lebih dalam, ke area yang lebih liar, tempat monster-monster kecil biasa berkeliaran mencari mangsa.
---
Setelah berjalan hampir satu jam menembus semak belukar, Xiao Bai akhirnya menemukan jejak yang ia cari—bekas cakaran di batang pohon, tanda keberadaan Serigala Bayangan, monster tingkat rendah yang biasa diburu murid-murid sekte sebagai latihan dasar. Bagi kultivator dengan qi yang berfungsi normal, monster ini bukan ancaman berarti. Tapi bagi Xiao Bai yang hanya mengandalkan tubuh manusia biasa tanpa kekuatan kultivasi sama sekali, ini adalah pertaruhan nyawa.
Ia menemukan seekor Serigala Bayangan sedang beristirahat di dekat akar pohon besar—tubuhnya sebesar anjing dewasa, bulu hitam legam dengan mata merah menyala yang langsung terbuka waspada begitu mencium kehadiran manusia di dekatnya.
Xiao Bai membeku, jantungnya berdegup kencang. Ini kesempatan pertamanya—dan mungkin satu-satunya sebelum tenaganya benar-benar habis.
"Tungku, apa yang harus kulakukan?" bisiknya, mengambil sebatang ranting tebal sebagai satu-satunya senjata yang bisa ia temukan.
> **[Host tidak memiliki kekuatan fisik atau kultivasi untuk bertarung langsung. Namun, aku mendeteksi kelemahan alami pada Serigala Bayangan: makhluk ini sangat sensitif terhadap cahaya terang, karena ia berburu di malam hari menggunakan indra penglihatan dalam gelap. Manfaatkan hal ini jika memungkinkan.]**
Serigala itu mulai menggeram, ototnya menegang bersiap menyerang. Xiao Bai, dengan tangan gemetar, meraih batu-batu kecil di sekitarnya sambil mundur perlahan ke arah celah bebatuan yang memantulkan cahaya matahari sore—satu-satunya sumber terang di area yang mulai teduh oleh pepohonan lebat.
Serigala itu melompat menerjang lebih cepat dari yang Xiao Bai duga. Ia berguling ke samping, merasakan cakar tajam menggores lengannya, rasa perih membakar kulit yang robek. Darah segera membasahi jubahnya yang sudah lusuh.
"Sial!" ia mengerang, bangkit terhuyung, menyadari lengannya kini berdarah cukup deras. Serigala itu berbalik cepat, bersiap menerjang untuk kedua kalinya.
Xiao Bai berlari sekuat tenaga menuju celah bebatuan yang memantulkan cahaya, melemparkan tubuhnya ke area terbuka tepat ketika serigala itu kembali melompat. Cahaya matahari sore yang menerobos celah pepohonan langsung menghantam mata merah menyala milik sang serigala—makhluk itu mengaung kesakitan, mundur beberapa langkah, matanya berkedip cepat mencoba menyesuaikan diri dengan silau mendadak.
Inilah kesempatannya. Xiao Bai, dengan sisa tenaga yang nyaris habis, menghantamkan ranting tebal di tangannya tepat ke bagian kepala serigala yang masih kesilauan—sekali, dua kali, hingga makhluk itu ambruk dengan lolongan terakhir yang memilukan, tubuhnya mulai memudar menjadi kabut tipis, meninggalkan sebuah inti berwarna merah gelap sebesar kelereng di atas tanah.
Xiao Bai jatuh berlutut, napasnya memburu, lengannya masih mengucurkan darah, tapi matanya terpaku pada inti monster yang baru saja ia dapatkan dengan taruhan nyawa. Untuk pertama kalinya sejak diusir dari sekte, ia berhasil mengalahkan sesuatu—bukan lewat kultivasi yang tak ia miliki, tapi lewat akal, kesabaran, dan kemauan untuk mempertaruhkan segalanya demi bertahan hidup.
"Aku... berhasil," bisiknya, suara yang bercampur antara lega dan tak percaya, sebelum kesadarannya mulai memudar karena kehilangan darah dan tenaga yang terkuras habis.
> **[Peringatan! Kondisi Host kritis akibat kehilangan darah berlebihan. Host harus segera melakukan ekstraksi darurat sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya!]**
Dengan sisa kesadaran yang tersisa, Xiao Bai meraih inti monster yang masih hangat itu dengan tangan gemetar, memaksakan diri untuk fokus meski pandangannya mulai mengabur.
"Tolong..." bisiknya, lebih kepada Tungku daripada dirinya sendiri, "jangan biarkan aku mati di sini, setelah semua yang sudah kulalui."
Cahaya keemasan di dadanya berdenyut kuat, seolah merespons keputusasaan pemiliknya, mengalir lebih deras dari biasanya menuju inti monster di telapak tangannya yang gemetar—namun sebelum proses ekstraksi sempat selesai sepenuhnya, dunia di sekitar Xiao Bai mulai berputar gelap, dan tubuhnya ambruk ke tanah hutan yang lembab, tak sadarkan diri, dengan inti monster yang setengah terekstrak masih menggenggam erat di tangannya yang berlumuran darah.