NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : MAKAM DI UJUNG KAMPUNG

"Kau sudah cari sampai ke bawah tungku tanah liat tidak, Yu?" tanya Karta pelan sekali, suaranya nyaris hilang terbawa angin yang makin dingin. Matanya tak berkedip menatap samar sisa rumah mereka di kejauhan, seolah menanti seseorang melambaikan tangan dari balik puing.

"Tadi Ibu selalu bilang, kalau ada bahaya besar, itulah tempat pertamanya dia sembunyi."

"Sudah, Karta. Sudah kucari sampai ke setiap sudut, sampai di balik setiap tumpukan kayu yang bisa digeser," jawab Bayu lembut, melangkah mendekat lalu menaruh tangan di bahu sahabatnya.

"Tidak ada di sana. Tapi... aku melihat jejak kaki mereka berdua, mengarah terus ke belakang rumah, menuju kolam ikan."

Karta tak menjawab, langsung berlari sekuat tenaga melewati tumpukan bata dan ranting tajam. Napasnya tersengal bukan karena lelah, melainkan karena dada yang makin sesak takut akan apa yang akan ditemuinya.

Bayu mengikutinya di belakang, langkah tetap hati-hati meski hatinya pun sama gelisahnya. Ia belum menemukan jejak kedua orang tuanya sejak kekacauan tadi, dan ketakutan itu terus menggerayangi dadanya.

Di tepi kolam yang airnya keruh penuh debu, di balik semak kangkung liar yang tumbuh lebat, terlihat dua sosok terbaring berdampingan. Tangan mereka saling merangkul erat, seolah berjanji takkan berpisah walau apa pun yang datang. Itu Bapak dan Ibu Karta.

"Bu... Pak..." panggil Karta parau, seketika lututnya lemas seketika dan ia berlutut di pinggir air. Tangannya gemetar menyentuh wajah ibunya yang masih terlihat tenang, lalu meremas pelan tangan bapaknya yang penuh kapalan hasil membajak sawah belasan tahun lamanya.

"Kalian pasti mau lari ke seberang sana ya? Tapi ledakan itu... pasti melempar kalian ke sini..."

Bayu berdiri di sampingnya, menunduk dalam. Dadanya terasa seperti diremas kasar. Tak ada satu kata pun yang pantas terucap saat hati sahabatnya sedang hancur sedemikian rupa.

"Ayo kita angkat mereka ke tempat yang lebih aman dulu, Karta," ucap Bayu akhirnya, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tak ikut bergetar.

"Nanti... nanti kita cari Bapak dan Ibuku bersama-sama."

Mereka berdua mengangkat perlahan tubuh kedua orang tua itu, membungkusnya rapi dengan kain anyaman yang masih utuh ditemukan di pinggir parit. Sepanjang jalan kembali ke tempat warga berkumpul, mata Karta tak pernah sekalipun beralih dari wajah mereka berdua.

Astri yang sedang membasuh luka lecet di kaki Bu Siti langsung berdiri tegak melihat kedatangan mereka. Ia tak perlu bertanya apa-apa, raut wajah pucat dan mata sembab itu sudah menjelaskan segalanya. Ia segera mendekat, merangkul lengan Karta erat-erat, cukup memberikan kekuatan tanpa perlu satu kata pun terucap.

Tak lama kemudian, dari arah bekas kebun pisang milik Bayu, terlihat Dul Kalong dan Embek Gombloh berjalan dengan langkah sangat berat. Di pundak mereka terpikul dua tubuh yang tertutup selendang batik tua. Saat diletakkan perlahan tepat di samping jenazah orang tua Karta, rasanya seolah tanah di bawah kaki Bayu ikut luruh kembali.

"Ini dia, Nak..." ucap Dul Kalong pelan, matanya juga berkaca-kaca.

"Kami temukan di bawah batang pisang yang roboh tertimpa angin ledakan. Mereka sedang berusaha lari ke tempat terbuka, tapi tertahan di sana."

Bayu berjongkok perlahan, tangannya gemetar hebat saat menyibakkan sedikit kain penutup. Benar saja, itu Bapak dan Ibunya. Wajah Ibu masih menyisakan senyum tipis, seolah sempat membisikkan doa sebelum napasnya berhenti. Tangan Bapak menggenggam sangat erat sebutir benih padi, seolah ingin mewariskan harapan itu langsung ke tangan anaknya.

Bayu tak berteriak, tak menangis meledak-ledak. Hanya terasa panas perlahan merambat dari ulu hati naik ke kerongkongan, membuatnya sulit menelan napas. Ia tempelkan keningnya di punggung tangan Bapak yang kasar itu, menahan sekuat tenaga agar tak luruh sepenuhnya di tempat itu.

"Mereka pergi berdua, Nak. Mereka tak sendirian," bisik Mbah Kartareja yang berdiri tenang di sebelahnya, tangan tuanya mengusap lembut ubun-ubun Bayu.

"Itu kebahagiaan terbesar bagi orang tua, meninggal bersama orang yang paling dicintainya."

"Tapi kenapa harus secepat ini, Mbah?" tanya Bayu pelan, suaranya berat seolah ada batu besar yang menindih lidahnya.

"Rencananya baru mau kami wujudkan. Mereka baru mau melihat anaknya melamar, melihat panen yang sudah dipelihara dengan susah payah."

"Takdir sudah tertulis jauh sebelum kita lahir ke dunia, Nak. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghormatinya dengan menjadi anak yang jauh lebih kuat dari sebelumnya," jawab Mbah Kartareja tegas namun lembut.

Pak Somad segera memotong ranting pohon kelapa yang lurus dan kuat. "Ayo kita siapkan alasnya. Tak pantas mereka terbaring di tanah yang penuh debu begini."

"Benar, sebentar lagi matahari benar-benar hilang," tambah Wadana Raksapati sambil menatap langit yang makin gelap.

"Jauh sekali kalau harus dibawa ke pekarangan makam umum, di sana juga sudah rata hancur terkena bom. Lebih baik kita makamkan di sini saja, di bawah tempat dulu pohon beringin besar itu berdiri. Tempat yang paling suci di ujung jalan ini."

Bayu dan Karta mengangguk pelan, lalu mengambil cangkul sederhana yang masih tersisa. Mereka berdua yang memulai menggali tanah di bawah batang pohon yang patah itu.

Tanahnya gembur, namun setiap kali cangkul menyentuh tanah, rasanya seolah memukul kembali setiap kenangan indah yang pernah dibangun bersama mereka.

"Maafkan Karta, Pak, Bu..." gumam Karta di sela-sela ia mengangkat tanah, air matanya jatuh tepat menimpa lubang yang sedang digali.

"Anakmu ini belum sempat membuat kalian bangga. Belum sempat membawakan cucu yang bisa kalian gendong sepuas hati."

"Aku juga, Bu... Pak..." tambah Bayu pelan, napasnya terasa berat sekali diambil.

"Belum sempat kubuktikan janji-janjiku. Tapi tenanglah, apa pun yang terjadi, janji itu takkan pernah putus. Aku akan menjaga semua orang yang tersisa ini, persis seperti cara kalian menjaga kami selama ini."

Ketika lubang sudah cukup dalam dan rapi, keempat jenazah diturunkan dengan penuh hormat dan kasih sayang. Doa dibacakan bersama, suaranya menyatu perlahan dengan hembusan angin sore yang makin kencang.

Saat tanah ditimbun kembali menutup raga mereka, tak ada satu pun warga yang beranjak pergi duluan. Semua berdiri diam sampai gundukan itu terbentuk rapi dan tegak.

Bayu memetik sebatang rumput yang masih tumbuh subur di dekat situ, lalu menanamkannya tepat di puncak makam kedua orang tuanya. Ia berjanji dalam hati, rumput itu akan selalu ia jaga setiap kali ia berani kembali ke tempat ini.

Karta berdiri tegak di samping makam orang tuanya, menatap matahari yang hampir sepenuhnya hilang di balik bukit. Langit berwarna merah gelap, seolah membasahi cakrawala dengan sisa darah dan api peristiwa tadi.

"Malam akan datang, Yu," ucap Karta akhirnya, menoleh ke arah sahabatnya. Matanya masih sembab, tapi tatapannya kini sudah berubah jauh lebih tegas.

"Mereka sudah tenang di sana. Sekarang giliran kita melanjutkan apa yang belum selesai, demi mereka, dan demi kita semua."

"Benar sekali," sahut Bayu mantap, meratakan sisa tanah di pinggir makam lalu meletakkan bahunya menempel erat di bahu Karta.

"Dan mulai hari ini, kita pastikan tak ada satu pun yang berani menginjak-injak tempat peristirahatan terakhir mereka sembarangan. Perjuangan kita bukan lagi sekadar mengejar masa depan indah, tapi juga menghormati masa lalu yang dirusak orang asing."

Perlahan warga mulai melangkah mundur satu demi satu, meninggalkan dua makam itu di ujung jalan yang dulu selalu penuh tawa dan riuh rendah. Hati mereka mungkin tertinggal di sana, tapi tekad untuk melangkah maju kini tumbuh jauh lebih kokoh dari pohon beringin yang sudah roboh itu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!