NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBOHONGAN

Ada sebuah teori fisika yang mengatakan bahwa waktu itu relatif. Bagi orang yang sedang menunggu microwave selesai memanaskan nasi, satu menit terasa seperti satu jam. Tapi bagi Lina, tiga tahun pernikahan terasa seperti tiga detik. Cepat, blur, dan tiba-tiba sudah habis tanpa ia sadari apa yang sebenarnya ia makan selama ini.

"Lina! Handuk ku mana? Yang aromanya wangi lavender!"

Teriak Raka dari dalam kamar mandi sehingga memecahkan lamunan Lina di ruang dapur. Lina menatap panci nya yang berisi sup ayam yang baru saja mendidih. Uapnya mengepul, persis seperti kesabarannya saat ini.

"Ada Di rak atas Mas ! Di sebelah sabun batang yang kamu bilang 'terlalu licin' minggu lalu!" balas Lina berteriak balik, namun suaranya datar.

setelah beberapa menit kemudian Raka muncul , hanya mengenakan handuk di pinggangnya, rambutnya masih basah kuyup. Dia tersenyum, senyum yang dulu membuat lutut Lina lemas namun Sekarang? Itu hanya membuat Lina ingin melemparkan sendok sayur ke arah dahinya.

"Makasih, Sayang. Kamu memang paling tahu letak barang-barangku," kata Raka sambil mencium pipi Lina sekilas. "Aku harus berangkat cepat hari ini. soalnya Meeting sama klien sangat penting. Jangan lupa kirimkan laporan keuangan rumah tangga ke emailku ya, biar aku cek nanti malam."

Lina mengangguk kaku. "Siap, Tuan Direktur Keuangan Keluarga."

Raka pun tertawa renyah. "Kamu ini, selalu saja lucu. Ya udah, aku pergi dulu.I Love you!"

Pintu kini tertutup. dan Suara mesin mobil Raka perlahan menjauh hingga menghilang. Hening kembali menyelimuti rumah mewah dua lantai itu. Rumah yang bersih, rapi, dan sunyi seperti kuburan.

Lina menghela napas panjang. Dia melihat sekeliling dapur. Semuanya tampak berkilau. Tidak ada noda minyak, tidak ada debu. Ini adalah hasil tangannya. Dan untuk apa? Untuk seorang pria yang menganggap istri nya sebagai bagian dari inventaris rumah tangga, sejajar dengan kulkas dan mesin cuci.

Ding!

Ponsel Lina berbunyi. ada Sebuah pesan masuk dari Dinda, adik bungsunya.

Kak, aku sekarang lagi di depan rumah.aku Boleh mampir nggak? Aku juga bawa martabak manis favorit Kak Raka. Aku Lagi stres banget nih di kos kosan.

Lina memicingkan mata. Dinda. Adik kecilnya yang polos, manja, dan selalu butuh pertolongan. Sudah enam bulan terakhir, Dinda sering sekali mampir Kadang menginap semalam karena terhalang hujan deras kadang menginap dua malam karena listrik mati dan bahkan kemarin dia menginap tiga hari karena habis bertengkar dengan teman sekamar nya.

Raka, tentu saja dengan segala kemurahan hatinya atau mungkin bisa di sebut kebodohannya selalu mengizinkan.katanya "Kasihan Dinda, Lin. Dia kan masih muda, jauh dari orang tua. Biar dia nyaman di sini," begitu lah kira kira alasan Raka.

Dan Lina, sebagai istri yang baik, selalu mengiyakan. Karena dia percaya pada keluarganya. Karena dia percaya pada suaminya.

Karena dia naif.

Lina mengetik balasan singkat. Boleh. Masuk saja, pintu belakang nggak dikunci.

setelah Sepuluh menit kemudian, Dinda masuk ke dapur dengan wajah cemberut yang sudah dilatih sejak kecil untuk memancing simpati. Dia membawa kotak martabak besar.

"Kak Linaaa..." rengek Dinda, langsung memeluk lengan Lina. "Kangen banget sama Kakak. Di kosan sepi banget, teman-temanku jahat semua."

Lina melepaskan pelukan itu perlahan. "Halo juga, Din. Martabaknya masih hangat?"

"Iya, Kak! Spesial buat Kak Raka juga. Kak Raka mana?" tanya Dinda, matanya berkeliling mencari sosok suami kakak nya itu.

"Dia baru saja pergi meeting. Katanya penting," jawab Lina, mengambil piring.

Dinda terlihat sedikit kecewa, tapi ia segera menutupinya dengan senyum lebar. "Yah, sayang banget. Padahal aku mau ngobrol-ngobrol sama Kak Raka soal tugas kampusku. Dia kan pintar, pasti dia bisa bantu."

Lina langsung berhenti mengiris martabak. dan Pisau di tangannya kini terhenti di udara. Ada nada yang terdengar aneh dalam suara Dinda. Nada yang terlalu akrab. Terlalu... intim.

"Tugas kampus? Bukannya kamu semester akhir tahun lalu sudah lulus, Din?" tanya Lina, pura-pura lupa.

Dinda terdiam sesaat. Matanya berkedip cepat. "Eh, iya ya. Lupa aku. Maksudnya... skripsi revisi. Iya, skripsi revisi."

Lina akhirnya tersenyum tipis. Senyum yang tidak membuat matanya menyipit "Oh, gitu. Ya sudah, sini makan. Nanti dingin."

Lina Dan dinda duduk di meja makan. Dinda banyak bicara, bercerita tentang temannya, tentang dosennya, tentang betapa susahnya hidup tanpanya. Lina mendengarkan setengah hati, sambil memperhatikan gerak-gerik adik kandungnya sendiri.

Tiba-tiba, ponsel Dinda yang tergeletak di meja bergetar. Layarnya menyala. Nama kontak yang muncul bukan nama teman, bukan nama dosen.

Nama itu: "Suami Orang 😈"

Jantung Lina melompat. Suami Orang? Siapa suami orang? Apakah Dinda sedang dekat dengan pria beristri? Lina merasa jijik sekaligus khawatir.

"Din, siapa itu 'Suami Orang'?" tanya Lina santai, sambil menyeruput teh.

Wajah Dinda memucat seketika. Dia meraih ponselnya dengan gerakan panik. "Ah, itu... itu cuma grup drama, Kak! Namanya aja lebay. Isinya curhat-colonghat gitu."

Lina menatap Dinda lekat-lekat. Ada keringat dingin di dahi adiknya. Ada ketakutan di matanya.

"Grup drama?" ulang Lina. "Sejak kapan grup drama pakai emoji setan?"

Dinda tertawa gugup. Tawanya terdengar sumbang. "Ya ampun, Kak Lina kenapa jadi cerewet banget sih. Kan biar seru. Udah ah, aku mau ke toilet dulu. Perutku agak sakit habis makan martabak."

Dinda buru-buru berdiri dan lari ke arah toilet tamu

Lina masih tetap duduk. Matanya tertuju pada ponsel Dinda yang tertinggal di meja. Jaraknya hanya satu jengkal saja

Prinsip Lina selalu jelas: Jangan pernah mengorek privasi orang lain, bahkan keluarga sendiri.

Tapi prinsip itu retak ketika ia melihat notifikasi baru muncul di layar ponsel Dinda yang masih menyala redup. Bukan dari "Suami Orang", tapi dari WhatsApp. Preview pesannya terlihat jelas.

"Sayang, tadi kamu lupa ambil jaketmu di mobil. Aku simpan dulu di apartemen. Nanti malam jam 8 aku antar? Atau kamu mau mampir saja? 😘"

Nama pengirimnya bukan "Suami Orang".

Nama pengirimnya adalah: "Raka ❤️"

Dunia Lina berhenti berputar. Suara kipas angin di langit-langit terdengar seperti deru pesawat jet. Napasnya terasa tercekat.

Raka? Suaminya? Mengirim pesan mesra ke adik kandungnya? Dan Dinda menyimpan nomor Raka dengan nama "Suami Orang"?

Lina merasa ingin muntah. Tapi alih-alih muntah, sebuah tawa kecil, histeris dan pahit, lolos dari bibirnya.

"Ternyata," bisik Lina pada dirinya sendiri, "teori relativitas itu salah. Tiga tahun pernikahan bukan terasa seperti tiga detik. Tapi seperti tiga abad penyiksaan yang baru saja dimulai babak utamanya."

Dia menatap pintu toilet tempat Dinda bersembunyi. Lalu menatap ponsel itu.

Apakah dia harus membuka chat itu? Atau pura-pura tidak tahu dan menunggu drama berikutnya?

Lina mengulurkan tangannya. Jarinya gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai mendidih.

Satu klik. Hanya butuh satu klik untuk menghancurkan segalanya.

Tapi sebelum jarinya menyentuh layar, suara langkah kaki terdengar dari tangga. Bukan dari toilet. Dari arah pintu depan.

Pintu depan terbuka.

"Lina! Aku lupa ambil laptop!"

ucap raka Suara Raka.

Lina langsung membeku. Ponsel Dinda masih di tangannya. Layarnya masih menyala, menampilkan nama "Raka ❤️" yang seolah olah sedang mengejeknya.

Dan Raka berjalan masuk ke dapur, tersenyum lebar, tanpa menyadari bahwa neraka baru saja mengetuk pintu rumahnya.

bantu like ya hehe

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!