~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
***
Matahari pagi menyinari atap ijuk Puskesmas Pembantu Hulu Rawa dengan hangat. Bangunan kayu panggung yang semula lapuk dan terbengkalai itu kini tampak bersih berkat gotong royong warga. Papan nama kayu yang memudar telah dicat ulang, dan halaman depannya kini dihiasi pagar bambu rendah serta tanaman obat herbal yang ditanam para ibu desa.
Sejak pesta syukuran malam itu, Pustu tak pernah sepi. Tempat itu berelaborasi menjadi jantung aktivitas baru warga Hulu Rawa—bukan hanya tempat berobat, tetapi juga tempat berkumpul, bersosialisasi, dan bertukar cerita.
Di teras panggung Pustu, Melani duduk di atas tikar pandan sambil dikerumuni oleh belasan anak-anak desa. Bidan muda itu mengenakan kemeja putih sederhana yang digulung hingga siku dan kain tenun lokal. Paras ayunya yang manis menyinarkan kehangatan alami, membuat anak-anak betah berlama-lama menyimak suaranya yang lembut.
"Jadi, anak-anak..." ujar Melani seraya memperagakan gerakan mencuci tangan menggunakan boneka kayu kecil. "Kuman itu ukurannya sangat kecil, tidak kelihatan oleh mata kita. Kalau kita tidak cuci tangan pakai sabun sebelum makan, kumannya ikut masuk ke perut dan bikin perut mules-mules seperti kemarin. Paham?"
"Paham, Bidan Cantik!" seru Bimo paling nyaring, membuat anak-anak lain tertawa riang.
"Bidan Melani, dongeng tentang ksatria dari kota kemarin dilanjutkan dong!" pikat seorang anak perempuan berambut ikal di barisan depan.
Melani tertawa kecil, senyumnya yang manis mencerahkan teras Pustu. "Sabar, ya. Nanti sore setelah Bidan selesai memeriksa Ibu-ibu yang konsultasi kehamilan, Bu Bidan sambung ceritanya."
Tak jauh dari kerumunan anak-anak, beberapa ibu desa yang sedang menunggu giliran periksa sibuk bersenda gurau.
"Duh, beruntung betul desa kita punya Bidan sepeti Melani. Sudah ramah, pinter, cantiknya bikin adem mata," puji Bu Minah seraya menyikut pelan lengan warga di sebelahnya.
"Bukan cuma adem buat mata kita, Bu Minah... tapi adem buat hati seseorang yang dari tadi berdiri di bawah pohon beringin itu," sahut ibu lainnya seraya mengarahkan pandangan ke sudut pelataran Pustu.
Sontak, beberapa ibu-ibu menahan tawa tawa gemas mereka.
Di bawah naungan pohon beringin yang tak jauh dari teras Pustu, berdiri sosok Rangga Wira. Pria tegap berparas tampan itu mengenakan kemeja kain kasar berwarna gelap. Manik matanya yang sehitam malam tak bergeming dari sosok Melani. Berdalih "patroli keamanan rutin", sang Ketua Adat belakangan ini makin sering menampakkan diri di sekitar Pustu—sebuah pemandangan langka yang tak pernah terjadi sebelum kedatangan Melani.
Sadar akan tatapan dan bisik-bisik gemas para warga, Melani melirik ke arah pohon beringin. Matanya beradu lurus dengan mata tajam Rangga Wira. Pipi Melani seketika merona merah muda. Rasa canggung bercampur desir hangat yang manis mendadak merayap di dadanya.
Melani bangkit berdiri, menepuk-nepuk rok tenunnya yang terkena debu, lalu melangkah perlahan mendekati Rangga Wira. Kalung tenun warisan ibu Rangga yang melingkar anggun di lehernya berkilau diterpa cahaya matahari.
"Selamat pagi, Pak Rangga..." panggil Melani pelan. Suaranya terdengar sedikit canggung dan malu-malu.
Rangga Wira menghentikan sapuan pandangannya pada wajah ayu Melani. Dahinya berkerut tipis mendengar panggilan bernada formal itu.
"Pak Rangga?" ulang Rangga dengan suara baritonnya yang berat namun bernada protes halus. "Bukankah saya sudah bilang di hulu sungai kemarin... panggil saya Rangga saat kita bicara?"
Melani makin salah tingkah, jemarinya memegangi batu hitam di kalungnya. "A-ah... itu... di depan warga dan anak-anak, rasa-rasanya kurang sopan kalau saya hanya memanggil nama, Pak Rangga. Anda kan Ketua Adat di sini..."
Rangga Wira menatap kedalaman mata jernih Melani. Seulas senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibir tegasnya. "Hukum adat tidak mempidanakan seorang bidan yang memanggil nama Ketua Adatnya, Melani."
Pipi Melani makin hangat. Ia mengalihkan pandangannya ke samping, menahan tawa kecilnya. "Tetap saja canggung, Pak Rangga... Eh, maksud saya, Rangga."
Rangga merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah bumbung bambu kecil yang tertutup rapi. Ia menyodorkannya pada Melani.
"Apa ini?" tanya Melani bingung seraya menerima bumbung hangat itu.
"Madu hutan murni dari lereng utara," jawab Rangga datar, mencoba menyembunyikan perhatian kecilnya di balik wajah tegasnya. "Kamu bekerja dari pagi sampai malam merawat warga. Jangan sampai kamu sendiri yang jatuh sakit. Minum itu setiap pagi."
Melani terpaku memandangi bumbung bambu di tangannya, lalu mendongak menatap Rangga. Perhatian-perhatian kecil yang konsisten dari pria garang namun protektif ini selalu berhasil membuat jantungnya berdegup tak menentu.
"Terima kasih banyak... Rangga," bisik Melani tulus, menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki. "Kamu sendiri sudah sarapan?"
Rangga Wira terpaku sejenak menatap senyuman itu. Dada pria tegap itu bergetar pelan. "Sudah," jawabnya singkat, menutupi kecanggungannya dengan berdeham keras. "Saya harus memeriksa perbatasan desa. Jika ada sesuatu di Pustu, panggil Seno."
"Baik, hati-hati di jalan..." balas Melani lembut.
Rangga memutar tubuhnya dan melangkah pergi. Dari teras Pustu, riuh tawa godaan dari Bu Minah dan ibu-ibu desa pecah melihat interaksi canggung namun manis antara sang Ketua Adat dan Bidan mereka. Anak-anak desa bersorak kecil, menggoda Bu Bidan mereka yang wajahnya makin memerah.
Namun, kehangatan dan romantisme yang perlahan tumbuh di Pustu tidak disambut dengan mata terbuka oleh seluruh lapisan desa.
Di dalam Rumah Adat yang terhalang tirai kain tenun tebal, suasana terasa berat dan sarat kecemasan. Beberapa tetua adat berambut perak duduk melingkar di atas tikar pandan tua. Mbah Baya memimpin pertemuan tertutup tersebut bersama tiga tetua senior lainnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus, Mbah Baya," cetus Mbah Karsa, tetua berwajah keras dengan garis kerut dalam di dahinya. "Kedekatan Ki Rangga dengan Bidan kota itu sudah melampaui batas kewajaran seorang Ketua Adat."
Mbah Baya mengelus janggut putihnya dengan raut wajah berbobot, menyimak lekat.
"Benar!" timpal tetua lainnya dengan nada khawatir. "Ki Rangga adalah pimpinan tertinggi suku kita. Darah dan jabatannya terikat pada hukum tanah ini. Bagaimana mungkin ia memberikan kalung tenun milik mendiang ibunya—simbol perlindungan paling sakral—kepada seorang perempuan asing dari kota?"
"Melani sudah menyelamatkan anak-anak kita dan membongkar kejahatan Bi Naya," tangkas Mbah Baya mencoba bersikap adil. "Perempuan itu jujur dan berhati murni."
"Kami tidak memungkiri jasanya sebagai bidan, Mbah Baya!" potong Mbah Karsa tegas, menepuk lantai kayu. "Tapi ada batas antara menghormati seorang tenaga medis dan membiarkan seorang wanita luar mempengaruhi pikiran Ki Rangga! Ki Rangga makin lunak pada aturan-aturan kota. Sejak Bidan itu ada, tradisi pengobatan tua kita makin disingkirkan!"
Mbah Karsa menatap Mbah Baya dengan sorot mata menekan. "Jika Ki Rangga sampai menaruh hati dan membawa wanita luar itu masuk lebih dalam ke dalam tatanan inti Adat Hulu Rawa... keseimbangan hukum leluhur kita yang dijaga ratusan tahun bisa runtuh! Warga akan kehilangan pegangan tradisi!"
Para tetua lainnya mengangguk-angguk setuju, riak ketidaksukaan dan prasangka lama kembali memercik di balik ketenangan desa.
Mbah Baya menghela napas panjang, memandangi pintu Rumah Adat dari kejauhan. Sebuah benih konflik baru di dalam internal adat desa perlahan mulai berkecambah, siap menguji keteguhan cinta dan perlindungan Rangga Wira terhadap Bidan Melani.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭