Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebab
Kak Ivan langsung masuk kedalam toilet apartemennya sesampainya kami di dalam kamar ini. Aku curiga dia muntah kembali, baru kutahu sekarang ternyata ada orang yang bisa traumatic terhadap makanan.
Rasa penasaranku hilang saat kak Ivan muncul dan dengan wajah basahnya menyunggingkan senyum sungkan.
"Sorry ya Dit. Kakak malah jadi tumbang gini." Ucapnya menghampiriku.
"Tenang aja kak. Nggak apa-apa, selama nggak minta Adit buat gotong-gotong tubuh kak Ivan. Aman lah."
Kami duduk-duduk gabut cukup lama, tanpa ada obrolan di antara kami. Kak Ivan terlihat sibuk dengan ponsel nya, sementara aku lebih memilih membuka-buka koleksi buku di lemari kaca milik kak ivan.
"Hmmm... Dit, beres-beres yuk. Sudah semingguan ini kakak nggak pernah nyapu maupun bebersih kamar ini."
Aku sedikit kaget mendengarnya. Selama itu kah ruangan ini tidak tersentuh alat kebersihan. Pandanganku mulai mengitari sekeliling, menurutku ruangan ini cukup bersih.
Aku yang baru menyadari kak Ivan menatapku seakan meminta jawaban, segera ku anggukkan kepala ku ke arahnya.
Kami mulai aktifitas dengan menyapu, mengepel dan kak Ivan lanjut mencuci bajunya, memasukkan nya kedalam mesin cuci berwarna hitam miliknya. Selanjutnya kami sama-sama merebahkan diri pada karpet tebal di ruang tamu ini dan menyalakan televisi layar datar yang ada disana.
"Kak,,, obat nya kapan bisa Adit minum lagi?" Di tengah aktifitas kami menonton sebuah acara di televisi, aku mulai bertanya serius.
"Sekarang bisa si kalau mau. Dengan syarat sudah nggak ada lagi efek samping yang muncul dari obat sebelumnya. Kalau kamu masih ada mual, brarti tunggu agak siangan aja." Mata kak Ivan masih terfokus pada televisi di depan kami.
"Adit udah oke kak. nggak ada keluhan lagi kok." Ucap ku meyakinkan. Aku merasa sudah lebih baik sekarang. Kalau untuk mual, hampir setiap hari aku merasakan nya. Selama tidak membuat gejolak berlebihan, aku masih menganggap itu menjadi batas normal kondisi ku sekarang.
"Nanti aja lah ya, agak siangan. Kakak pengen rebahan dulu. Capek habis beberes."
Aku hanya mampu mengangguk mengerti. Ya, seperti nya aku pun butuh untuk sekedar rebahan.
Aku mengambil iPhone ku dan mulai membuka nya. Mengusir rasa bosan sambil mencoba membuka aplikasi hijau disana. Aplikasi chat yang hampir seluruh warga +62 memilikinya.
Beberapa chat kubuka.
Mamah sayang
Apa kabar ganteng mama hari ini? Mama kangen.
Aku tersenyum membacanya, segera ku gulir tombol calling tanpa merespon dulu chat dari mama. Sampai nada tunggu panggilan berakhir, mama belum menjawab panggilan ku. Mungkin beliau sedang di dapur dan tidak membawa hp nya.
Kuputuskan langsung membalas chat nya itu.
Baik mah,,, semoga mama juga baik selalu, cantik selalu, Adit sayang mama.
Send...
Aku pun melihat chat yang lain nya.
Ferdy
Gue bakal nemuin Lo.
Aku kembali tersenyum sendiri membaca chat dari Ferdy, jam segini Ferdy pasti masih sibuk di sekolah. Keinginanku untuk menjahilinya dengan menjawab chat nya menggunakan kalimat-kalimat tantangan segera ku urungkan. Lebih baik aku tidak mengganggunya saat di sekolah.
Beberapa grup yang kupunya ternyata cukup ramai juga. Aku tidak berniat membukanya. Langsung ku scroll kembali dengan melewat kan grup-grup dengan notice pesan baru nya yang sudah sampai ratusan.
Dheka (7 messages)
Aku terdiam beberapa detik membaca nama itu. Pesan yang telah dikirim pagi tadi, ada rasa ragu untuk membukanya. Tapi akhirnya ku touch juga nama itu untuk mengetahui pesan apa saja yang dia kirimkan kepada ku.
Sorry, aku ganggu lagi.
Hari ini aku terbang ke Kuala lumpur, mau urus pendaftaran ku di universitas Malaya. Dan aku berencana akan tinggal langsung disini.
Masih banyak hal yang ingin aku pastikan ke kamu Dit. Tapi sudahlah, aku takut tersakiti.
Sejak kapan kamu berkhianat?
Kamu sudah berhubungan badan dengan siapa saja? Kenapa sampai bisa virus itu ada di tubuh kamu? Berapa kali sebenernya kamu bergonta-ganti pasangan tidur?
Tapi biarlah itu menjadi rahasia kamu.
Jangan cari aku lagi. Kita udah selesai.
Aku mengakhiri membaca chat dari Dheka dengan dada yang bergemuruh. Kenapa bisa sepicik itu pemikirannya?!
Aku tidak pernah berhubungan badan dengan wanita mana pun.
Aku tidak pernah berkhianat dari Dheka.
Harusnya dia tahu, bagaimana jadwal ku yang selama ini lebih banyak bersamanya saat pulang sekolah. Bahkan hampir setiap hari sebelum tidur kami saling Vidio call melihat keadaan masing-masing.
Aku menoleh pada kak Ivan yang masih setia dengan tontonannya.
"Kak, menurut kak Ivan apa penyebab Adit dapat virus HIV ini di tubuh Adit?" Matanya yang fokus menatap televisi, kini beralih menatap ku.
"Hanya kamu yang tau Dit." Ucapnya kemudian dengan senyum yg tersirat kekecewaan disana.
Ada apa ini?
Apa kak Ivan juga menganggap aku telah melakukan hal menjijikkan itu?!
"Adit nggak tahu kak. Adit nggak pernah berzina, Adit nggak pernah pake narkoba. Jadi kira-kira karena apa?" Aku bertanya mulai frustasi sendiri.
"Bener?!" Masih dengan mimik wajah yang kurang percaya, kak Ivan terlihat tidak berniat mengetahuinya.
"Kaaaak, Adit nggak pernah ngelakuin hal-hal itu..." Aku semakin frustasi menyadari bahwa kak Ivan pun seakan telah menganggap ku melakukan semua itu.
"Iya, kamu sendiri yang tau dit. Yang jelas tubuh bisa terserang HIV kalau Sering berganti pasangan. Melakukan hubungan seksual yang beresiko baik homoseksual maupun heteroseksual. Menggunakan jarum suntik narkoba secara bersamaan. Selain itu sepertinya tidak ada Dit." Ucapnya lagi kali ini diiringi rasa kesalnya.
"Kalau nggak pernah melakukan semua itu, apa penyebab lainnya?"
"Bisa aja dari plasenta ibu yang melahirkan kamu dulu. Tapi mama kamu bersih."
Menyadari semua fakta ini, aku mulai berfikir keras. Bagaimana mungkin?!
Atau ...
"Atau... Hasil tes nya salah?!" Aku berasumsi yang lain, ya, sangat mungkin hal itu terjadi.
"Kakak yang langsung tes darah kamu, tes anti bodi kamu. Bahkan karena nggak percaya sama hasilnya, kakak sampai ulang tiga kali." Aku menatap tak percaya apa yang kak Ivan katakan.
Tidak mungkin!!!
Lantas dari mana aku mendapatkan virus ini?
Aku menghela nafas cukup panjang untuk menenangkan hati ini. Rasanya nano-nano, ada sakit di sana namun kesedihan lebih mendominasi.
"Obat selanjutnya sekarang aja kak." Aku berusaha realistis sekarang, ya.. life must go on. Lebih baik aku segera menyelesaikan semuanya kemudian memulai hal baru yang sudah ku rencanakan.
"Kamu jujur aja Dit, mungkin kakak bisa bantu." Kak Ivan masih menatapku intens.
"Kak Ivan harus percaya. Adit nggak pernah melakukan apapun hal yang mungkin menjadi penyebab Adit tertular virus ini yang tadi kak Ivan sebutkan. Tidak ada satu pun yang pernah Adit lakukan. Kak Ivan harus percaya." Satu anggukan kecil dari kak Ivan membuatku sedikit lega. Entah hanya untuk menentramkan hatiku atau memang benar dia sudah mempercayaiku.
"Kakak siapkan obat nya dulu. Kamu tunggu disini." Aku hanya menurut.
Tidak sampai hitungan menit, kak Ivan datang kembali dengan Tumbler ku di tangan kanan nya.
"Ini, kamu bisa minum sekarang." Dia menyerahkan sebutir pil berwarna orange kemudian menyodorkan Tumbler ku yang telah dibukanya. Aku langsung menelan pil itu dan segera meneguk air dalam Tumbler ku.
Tanpa menunggu reaksi apapun, aku memutuskan segera menuju ke kamar. Toh kalau di simpulkan sepertinya aku akan merasa mengantuk dulu sebelum efek lainnya kurasakan.
Langkah kaki ku belum sampai di pintu kamar, saat semua objek didepan ku terasa berputar.
"Kak..." Lirih aku berusaha memanggil kak Ivan sambil terus mencari pegangan untuk tangan ku.
"Kenapa? Kakak disini. Di belakang kamu." Ucapan kak Ivan yang seharusnya diucapkan dengan tempo normal, terdengar di telingaku sangat slow motion.
"Ver...ti...go..." Dengan sisa kesadaran yang masih ada, aku berusaha memberikan penjelasan padanya.
Tangan kekar itu kurasakan menahan tubuh lemasku yang tiba-tiba meluruh. Dengungan di telingaku dan pandangan berputar di depanku terasa semakin menyiksa. Aku pun pasrah meluruhkan diri ini sebelum semuanya menjadi gelap dan semua suara menghilang.
Selanjutnya, aku merasakan gesekan lembut yang menerpa wajahku. Kubuka mata ini, dan betapa takjub nya aku. Aku terbangun di sebuah Savana luas yang seperti tidak berujung. Pikiran ku menerawang, aku ingat pernah berada di tempat seperti ini. Dulu, saat di Surya kencana. Saat Doble summit ku ke gunung gede dan gunung pangrango. Agak mirip, tapi aku yakin ini bukanlah di Surya kencana surganya Padang edelwis yang ada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl itu.
Kurasakan hembusan angin semilir yang sangat menenangkan. Sejenak aku merasa ingin selalu tetap bisa berada di tempat ini, rasanya sangat damai. Dan yang terpenting, aku merasakan tubuhku sangat sehat. Tidak ada mual yang hampir setiap waktu menemaniku. Tetapi tiba-tiba langit biru yang cerah tergantikan menjadi gumpalan awan hitam yang tebal. Dan semua rasa sakit kembali datang. Beberapa kali aku mencoba menahan gejolak dalam perutku. Bahkan sampai kupasrahkan untuk mengeluarkan semuanya tapi tidak ada yang keluar. Hujan pun segera turun setelahnya. Aku tidak punya tempat berteduh, kubiarkan tubuh ini ditimpa rintik hujan yang semakin deras. Selanjutnya suara petir dan kilat yang menyambar ikut meramaikan ketegangan disini.
Dimana tempat berteduh untukku?
Dimana kak Ivan?
Aku mencoba berteriak memanggil nama orang-orang yang ku kenal. Tapi hanya ada derasnya suara hujan yang menenggelamkan suaraku sendiri.
Tolong,,, Aku ingin pulang.
Siapapun... Tolong...
semangatt juga kak 💪