NovelToon NovelToon
Tawanan Pangeran Siren

Tawanan Pangeran Siren

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Beda Dunia / Fantasi
Popularitas:667
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.

Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.

Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesona Maut di Ruang Tahta

Pintu jeruji tulang ikan raksasa terbuka dengan derit tajam yang memecah keheningan sel bawah tanah. Cahaya remang-remang dari obor sihir biru menyapu mataku yang masih perih karena kurang tidur. Aku refleks menarik tubuhku makin rapat ke sudut dinding karang, menatap dua sosok tinggi besar yang tiba-tiba melangkah masuk ke dalam sel basahku.

Mereka bukan dua prajurit tambun yang berjaga semalam. Mereka adalah dua orang Siren wanita.

Namun, jangan bayangkan wujud Siren wanita seperti sosok dewi laut nan anggun. Wajah mereka kasar dengan rahang lebar yang dihiasi barisan taring tajam mencuat keluar. Sisik-sisik kelabu kebiruan melapisi leher, bahu, dan pinggul mereka yang berotot. Pakaian mereka terbuat dari rajutan rumput laut kering dan tulang-tulang binatang laut kecil yang dirangkai asal-asalan.

"Ini dia manusia yang dicari Paduka Pangeran," geram salah satu Siren wanita berambut merah kusut seperti rumput laut membusuk. Suaranya berat dan parau, seperti gesekan dua batu kali.

Siren wanita kedua yang bertubuh lebih jangkung menatapku dari atas ke bawah. Matanya yang berwarna kuning keemasan berkilat penuh rasa lapar yang membuncah. Sudut bibirnya yang robek melengkung memamerkan taring-taring kuning, dan detik berikutnya, setetes air liur kental menetes jatuh dari mulutnya, mengenai lantai karang yang dingin.

"Kulitnya... sungguh putih dan mulus," bisik Siren wanita berambut merah itu sambil membasahi bibirnya sendiri dengan lidah bercabang. "Pasti sangat empuk kalau dikunyah hidup-hidup. Bau darahnya manis sekali..."

Bulu kudukku berdiri serentak. Rasa mual melilit diperutku melihat tatapan mereka yang seolah sedang memandangi seekor kalkun panggang yang siap disantap.

("Aduh, Ibu-Ibu Iblis! Air liurnya tolong dikontrol, dong! Itu udah mau netes ke kaki aku! Jangan milih-milih bagian tubuh aku pakai mata kelaparan gitu, aku ini manusia, bukan steak daging sapi kelas premium yang siap kalian santap!")

"Jangan sentuh dia!" bentak Siren kedua dengan galak, melempar tatapan tajam pada rekannya. "Pangeran Nataniel memintanya dihadapkan malam ini dalam keadaan bernapas dan bersih. Kalau kau berani mencicipinya sedikit saja, kepala bisulmu itu yang bakal dipenggal Pangeran!"

Siren berambut merah itu mendesis gusar, namun tidak berani membangkang. Dengan kasar, tangan bersisik dan berkuku tajam itu mencengkeram lengan atas pakaian selamku yang robek, merenggut tubuhku hingga terangkat berdiri tanpa memedulikan ringisan kesakitanku.

Mereka menyeret tubuh lebamku keluar dari sel, menyusuri lorong-lorong batu karang yang gelap dan lembap menuju sebuah ruangan khusus pemandian. Di tengah ruangan batu itu, terdapat sebuah bak raksasa yang terukir dari batu cadas hitam, berisi air bening berminyak yang memancarkan aroma bunga laut yang sangat pekat.

Tanpa basa-basi, kedua Siren wanita itu merobek sisa-sisa pakaian selam hitamku hingga hancur berkeping-keping. Aku melempar jeritan kecil, buru-buru menutup bagian-bagian intim tubuhku dengan kedua tangan yang gemetar hebat.

"Cepat masuk, Serangga Murahan!" bentak mereka seraya melempar tubuhku tanpa ampun ke dalam bak mandi batu.

*BYUR!*

Air di dalam bak terasa hangat dan sedikit lengket. Belum sempat aku menguasai diri dari guncangan, kedua Siren itu langsung menyerangku dengan sikat kasar yang terbuat dari tanaman laut. Mereka menggosok kulitku dengan sangat kasar dan brutal, seolah-olah sedang membersihkan kerak panci yang membandel!

"Aduh! Pelan-pelan, nyonya-nyonya! Ini kulit manusia, bukan sisik penyu!" jeritku merintih kesakitan saat sikat kasar itu menggerus bahu dan punggungku hingga memerah.

Mereka sama sekali tidak mendengarkan keluhanku. Mereka memandikanku seperti memandikan hewan ternak sebelum disembelih. Namun, di tengah siksaan mandi kasar itu, salah satu Siren wanita mengambil sebuah botol keramik kecil berisi cairan berwarna hijau berkilat. Tanpa membuang waktu, cairan ajaib itu dituangkan ke atas air mandi.

Seketika, reaksi magis terjadi. Rasa perih luar biasa yang tadinya membakar luka-luka goresan karang di bahu, paha, dan pergelangan kakiku mendadak surut secara drastis. Sensasi dingin menyegarkan merayap cepat, menjahit kulit-kulitku yang robek secara instan. Hanya dalam hitungan detik, seluruh luka lebam dan bekas darah segar di tubuhku sirna tanpa bekas, meninggalkan permukaan kulit yang amat halus, mulus, dan bersih bersinar!

Kedua Siren wanita itu terpaku. Air liur mereka kembali menetes lebih banyak saat melihat perubahan wujudku. Kulit putih bersihku tampak kontras dan berkilau di antara keburaman batu penjara.

("Gila... ramuan obat bawah laut ini ajaib banget! Sekejap aja luka goresan karangku langsung mulus lagi bagai habis perawatan salon mahal! Tapi tolong banget itu mulutnya dilap dulu, air liurnya udah mau membanjiri lantai pemandian!")

Setelah memandikanku dengan paksa, mereka menyeret tubuhku yang basah ke depan cermin koral raksasa. Di sana, sebuah nampan berisi pakaian telah disiapkan. Namun, saat mataku menatap pakaian tersebut, jantungku rasanya mau melompat keluar dari dada.

Pakaian itu bukan gaun panjang anggun seperti gaun putri raja. Yang tergeletak di atas nampan adalah sepasang bikini mini berwarna perak metalik yang berkilauan, yang sepertinya merupakan barang curian atau jarahan dari lemari pakaian kaum mermaid (putri duyung) kelas atas. Sebagai pelengkap, ada selembar kain rumbai halus yang mengikat sangat pendek di pinggulku, menyisakan seluruh bagian perut, punggung, dan paha mulusku terpapar bebas tanpa penutup.

"K-Kalian bercanda, kan?" pekikku tertahan dengan mata membelalak sempurna. "Aku harus pakai baju yang bahannya irit banget gini?! Ini mah namanya hampir telanjang!"

"Tutup mulutmu, Manusia!" bentak Siren berambut merah, langsung memaksakan bikini mini itu melekat di tubuhku secara kasar. Mereka mengikat kain rumbai di pinggulku dengan kencang hingga membuatku hampir tersedak.

Tidak hanya itu, mereka memoleskan serbuk mutiara berkilau di sepanjang leher, tulang selangka, dan pahaku. Rambut cokelat panjangku disisir rapi dan dibiarkan terurai bergelombang hingga menutupi sebagian punggungku yang terbuka.

Ketika aku menatap refleks ke arah cermin koral, aku sendiri terpana melihat pantulan diriku. Pakaian serba terbuka itu menonjolkan setiap lekuk tubuh mungilku secara sempurna. Di antara lingkungan Istana Siren yang dipenuhi monster-monster bertaring dan bersisik gelap, keberadaanku mendadak menjelma bagaikan seorang putri duyung yang terpancar bersinar, seorang putri duyung langka yang unik karena memiliki dua kaki manusia yang mulus.

("Apes banget nasibku hari ini! Muka udah disulap cantik bagai dewi laut, tapi bajunya bikin masuk angin! Ini kalau Ibu sama Ayah di desa lihat anak gadisnya pakai baju kurang bahan kayak gini di depan iblis laut, bisa-bisa mereka kena serangan jantung seketika! Mana bahannya ngepress banget lagi, risihnya setengah mati!")

Sebelum aku sempat memprotes bentuk pakaian ini lebih jauh, kedua Siren wanita itu mencengkeram kedua lenganku secara ketat dan menyeretku keluar dari pemandian.

Mereka membawaku menyusuri lorong-lorong istana atas yang sangat megah. Dinding-dindingnya terukir indah dari koral kristal yang memancarkan cahaya warna-warni. Bunga-bunga laut raksasa mekar anggun di setiap sudut, menciptakan suasana yang amat berkebalikan dari penjara karang bawah yang gelap dan berbau amis.

Pintu ganda raksasa yang terbuat dari cangkang kerang purba berwarna keemasan perlahan terbuka lebar.

Ruang Tahta Teluk Bayangan.

Ruangan itu sangat luas dan megah. Langit-langitnya melengkung tinggi dengan pilar-pilar karang raksasa yang dililit tanaman laut ajaib. Ratusan prajurit Siren bertubuh tegap dan para pejabat istana berdiri berbaris di sepanjang karpet merah berhias manik-manik mutiara. Semua mata merah dan keemasan milik para monster laut itu mendadak tertuju padaku saat aku diseret melangkah masuk.

Gumam kekaguman bercampur rasa lapar yang teredam berbisik riuh di antara mereka. Kehadiranku yang tampak berkilau dengan dua kaki manusia di tengah populasi monster membuat atmosfer ruangan terasa sangat pekat dan tegang.

Namun, perhatianku sepenuhnya terkunci pada sosok yang duduk tegap di atas tahta karang tertinggi di ujung ruangan.

Nataniel.

Sang Pangeran Siren duduk secara anggun namun sarat akan ancaman bahaya yang mematikan. Jubah hitam bersulam benang emas terhampar longgar di bahunya yang kokoh, membiarkan dada tegap bertelanjang badannya terpapar bebas. Sepasang kaki manusianya yang panjang terpaut santai di atas pijakan tahta. Wajahnya yang kelewat tampan bagaikan pahatan dewa Yunani tampak dingin, dengan sepasang iris mata keemasan yang berkilat tajam memancarkan dominasi mutlak.

Kedua Siren wanita menghempaskan tubuhku secara kasar di hadapan tangga tahta. Aku tersungkur berlutut di atas karpet halus, membiarkan kedua lututku menyentuh dasar lantai.

"Yang Mulia Paduka Pangeran Nataniel," seru pengawal pribadi dengan suara menggelegar. "Tahanan manusia telah dibawa sesuai perintah Anda!"

Hening seketika merayapi seluruh ruangan tahta. Suasana menjadi begitu menekan hingga detak jantungku sendiri terdengar amat nyaring di dalam telingaku.

Nataniel memiringkan kepalanya sedikit. Iris mata keemasannya yang dingin merayap perlahan menyapu setiap inci tubuhku, mulai dari rambut cokelatku yang bergelombang, leher mulusku, dada dan perutku yang hanya terbalut bikini perak mini, hingga dua kaki manusiaku yang terbuka bebas di atas lantai.

Ujian ketahanan pertama baru saja dimulai. Nataniel sengaja membiarkan hening membeku selama beberapa menit, melepaskan aura sihir penekannya untuk menguji apakah aku akan hancur oleh rasa takut atau mengompol di tempat.

Aura sihir dingin itu menghantam dadaku secara bertubi-tubi, membuat paru-paruku serasa dihimpit batu raksasa. Keringat dingin menetes membasahi pelipisku. Ketakutan setengah mati membakar seluruh sistem sarafku.

("Tuhan yang Maha Kuasa! Ini iblis ganteng kenapa natapnya kayak mau menelanjangi sekaligus menguliti aku hidup-hidup?! Tatapannya dingin banget, serasa dilempar ke dalam kulkas raksasa! Tolong ingatkan aku buat nggak pingsan sekarang! Jangan pingsan, Alessia! Senyum! Pasang muka pemuja paling ikhlas!")

Dengan seluruh sisa keberanian yang kupunyai, aku memaksakan diriku untuk perlahan menengadah. Aku memasang raut wajah penuh pemujaan manis yang tak berdosa, membiarkan mata cokelatku berbinar-binar palsu menatap sosoknya di atas tahta.

"Wahai Yang Mulia Paduka Pangeran Nataniel yang Maha Agung, Tampan, dan Tiada Tandingannya..." suaraku bergetar lembut, diwarnai aksen kepasrahan dan keagungan yang kubuat-buat secara sempurna. "Kehadiran hamba di hadapan ketampanan dan keagungan Paduka yang begitu menyilaukan ini... benar-benar membuat dada hamba berdebar gila-gilaan karena rasa kagum yang tak tertahankan."

("Iya, berdebar gila-gilaan karena takut mati, woi! Bukan karena kagum! Mana baju ini bikin risih banget lagi, rasanya kayak cuma pakai sempak sama selendang tipis di depan ratusan monster pemakan daging! Malunya tembus ke dasar samudra!")

Seringai tipis yang teramat dingin merayap di sudut bibir tampan Nataniel. Ia menurunkan kakinya dari tahta, lalu melangkah turun tangga perlahan demi perlahan. Derap langkah kakinya menyuarakan kematian yang mendekat.

Nataniel berhenti tepat di depanku. Ia membungkuk sedikit, lalu menggunakan jari telunjuknya yang berujung kuku tajam untuk mengangkat daguku secara kasar, memaksaku menatap tepat ke dalam iris mata keemasannya yang berkilau berbahaya.

"Kau memiliki mulut yang sangat manis untuk ukuran seekor serangga yang hampir mati, Manusia," bisik Nataniel dengan suara berat yang berdengung magis di dalam kepalaku. "Dan penampilanmu malam ini... cukup menghibur mataku."

Sentuhan jarinya yang dingin bagai es membuat bulu kudukku berdiri hebat. Aku menelan ludah secara samar, tetap mempertahankan senyum pemujaan manisku meski di dalam hati aku sudah menjerit histeris ketakutan.

"Tubuh dan jiwa hamba adalah milik Paduka yang Agung," balasku halus, memperdalam tatapan mataku. "Hamba siap memberikan apa pun demi menyenangkan hati Paduka malam ini."

("Bohong banget! Bohong besar! Dalam hati aku udah nyumpah-nyumpahin kamu, iblis ganteng! Awas aja kalau cerita 1001 Malamku gagal, aku bakal gigit jari tanganmu yang dingin ini!")

Nataniel menatap mataku dengan dalam, mencoba mencari titik kebohongan atau rasa panik di sana. Namun topeng akting survival-ku terpasang begitu ketat. Akhirnya, Pangeran Siren itu menegakkan kembali tubuhnya, menyilangkan tangan di dada tegapnya.

"Sangat baik," ujar Nataniel penuh keangkuhan. "Mari kita lihat, apakah cerita manusia yang kau janjikan sanggup menyamai keindahan bualan mulut manismu itu... Badut Kecil."

---

⭐⭐⭐⭐⭐

Halo Kiravers! Gimana bab ketiganya? Makin tegang dan bikin gemes banget, kan? Penampilan Alessia dengan bikini perak mini benar-benar bikin heboh seluruh isi Istana Siren! Akankah dongeng racikan Alessia sanggup membuat Pangeran Nataniel terpukau dan menyelamatkan nyawanya besok malam? Yuk, jangan lupa klik LIKE, simpan novel dan VOTE cerita ini sekarang juga, lalu lanjut baca bab berikutnya ya!

1
Helmy Faldy Alaydrus
ini si alesia makan apa thor
Pena kira: ikan lele kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: 🙏 terimakasih kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ada akademi vokal di dunia siren yak😄
Pena kira: mau join kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ttp kek bocil😄
Pena kira: xixixixi
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
cobain dulu lah kabur
Pena kira: kesian kang ikan lele Dumbo nya kak kalo ditinggal kabur
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
lawak lawak
Pena kira: 🤣🤣🤣 terimakasih kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: terimakasih kk
total 1 replies
Pena kira
tapi gantengnya nggak ngotak kak😭
Best
seramnye..
Pena kira: tapi gantengnya nggak ngotak kak 😭
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ikut mual njirrr🤢
Pena kira: minum antimo kak..aman😅
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍 lanjut thor
Pena kira: asiap kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍
Pena kira: makasih kakak
total 1 replies
Best
hadir Thor..
Pena kira: thanks a lot kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
gila kuat banget mental si alessia
Pena kira: sempat hidup generasi sandwich kak 😂
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
bagus lho tapi masih sepi. semangat thor bagus cerita nya..next👍
Best: "Baby or Babi." judul novel terbaru aku. Romansa yang di taburi juga dengan humor dan fantasi. Yuk mampir
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!