NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

****

Pukul lima lewat tiga puluh menit pagi. Keheningan di apartemen lantai tiga puluh terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Ivandra terbangun dari tidurnya di sofa kulit ruang tengah dengan perasaan ganjil yang merayapi dadanya. Kalimat-kalimat tegas dan sorot mata jernih Aini dari perdebatan semalam masih terngiang jelas di dalam kepalanya, memutar ulang rasa bersalah yang enggan ia akui secara terang-terangan.

Ivandra bangkit, melangkah pelan menuju area dapur bersih. Pria itu mengacak rambut hitamnya yang sedikit berantakan, berniat melunakkan ketegangan dan "menebus" sikap kerasnya semalam. Namun, langkah kakinya terhenti mendadak.

Kamar tamu Aini sudah terbuka lebar dan rapi tanpa cela. Suasana apartemen begitu hening—gadis itu ternyata sudah berangkat lebih awal ke rumah sakit, menghindari interaksi dengan dirinya.

Di atas meja makan marmer hitam, tersaji sepinggir roti panggang keju yang masih tertutup tudung saji, segelas susu gandum hangat yang uapnya perlahan menghilang, serta sebuah kertas catatan kecil berbentuk persegi yang tertindih di bawah gelas.

Ivandra meraih kertas itu. Jemarinya mencengkeram pinggiran kertas saat membaca tulisan tangan yang rapi dan halus di sana:

> Sarapan dan susu hangat sudah saya siapkan. Saya berangkat lebih awal menggunakan taksi online agar tidak merepotkan Anda. Selamat bertugas hari ini, Dokter Ivandra.

Ivandra membisu. Sebutan "Dokter Ivandra"—bukan "Mas Ivan" seperti biasa—terasa bagai tamparan pelan yang menegaskan kembali garis batas tebal di antara mereka. Pria jangkung itu menghembuskan napas panjang yang amat berat. Rasa gengsi yang menjulang tinggi menahannya untuk meminta maaf, sementara penyesalan yang tertahan kini mengendap kian pekat di dasar hatinya.

**

Suasana tenang di RS Utama Wigunadi seketika pecah saat sirine tanda bahaya bergema nyaring melalui pengeras suara lorong lantai tiga.

Paging darurat! Code Blue Gedung B Lantai Empat! Tim Bedah Saraf dan Anestesiologi segera menuju Ruang Operasi Utama Lima!

Aini yang saat itu sedang merapikan lembar observasi di Poli Anak langsung tersentak. Ia meraih jas putihnya, berlari cepat menyusuri koridor menuju area persiapan operasi. Panggilan darurat tersebut melibatkan seorang pasien anak berusia enam tahun dengan kasus pendarahan epidural akut akibat trauma kepala pasca-kecelakaan, membutuhkan tindakan krusial berupa kraniotomi cito untuk menyelamatkan nyawanya.

Di scrub room, air mengalir deras dari kran otomatis. Aini sedang menyikat jemari dan lengannya sesuai standar sterilisasi ketika pintu geser otomatis terbuka.

Ivandra melangkah masuk. Pria itu telah mengenakan pakaian hijau operasi, namun aura dingin dan ketegangan paska-perdebatan semalam masih terpancar sangat pekat dari raut mukanya. Matanya bergulir singkat menatap Aini dari balik cermin besar, namun tak ada satu pun patah kata yang terucap.

Aini pun memilih membisu. Ia mengeringkan tangannya dengan handuk steril, memasang sarung tangan latex dan masker medis, lalu melangkah lebih dulu memasuki Ruang Operasi Lima.

Pendar lampu bedah raksasa menyinari ranjang operasi yang dingin. Di sekitar pasien, dr. Farhan bersama beberapa perawat anestesi sedang sibuk memastikan jalur sedasi dan ventilasi pasien tetap stabil.

"Aini, bantu saya pantau tekanan intrakranial dan observasi pasokan oksigen, ya," panggil dr. Farhan cepat.

"Baik, Dokter Farhan," sahut Aini sigap, langsung menempatkan diri di samping mesin anestesi.

Tak lama kemudian, Ivandra masuk bersama asisten dokter bedah saraf senior. Pria itu melangkah mendekati meja operasi dengan pembawaan yang amat tenang dan penuh wibawa, mengikis seluruh ketegangan emosional pribadi demi keselamatan nyawa di hadapannya.

"Dokter Farhan, bagaimana status hemodinamik pasien?" tanya Ivandra dengan suara berbariton berat di balik masker medisnya. Suaranya terdengar datar, tegas, dan berjarak.

"Saturasi stabil di sembilan puluh delapan persen, tapi tekanan darah mulai fluktuatif akibat tekanan massa hematoma di otak," jawab Farhan lugas. "Kita harus bergerak cepat, Van."

Ivandra mengangguk tipis. "Baik. Kita mulai insisi sekarang. Semua tim, harap fokus."

Pembedahan dimulai dalam keheningan yang mencekam. Di bawah pendar lampu bedah yang dingin, Ivandra bertindak sebagai operator utama dengan presisi yang luar biasa luar biasa. Jemari kokohnya memegang skalpel, memotong lapisan jaringan dengan akurasi millimeter tanpa ada sedikit pun getaran ragu.

Namun, di pertengahan proses kraniotomi, situasi mendadak kritis. Tekanan darah pasien mendadak merosot drastis akibat pendarahan hebat dari pembuluh darah yang pecah di dalam tempurung kepala.

Bip! Bip! Bip! Bip!

Suara monitor medis berbunyi nyaring dan cepat, memicu kepanikan kecil di antara para perawat.

"Pendarahan masif!" seru asisten bedah cemas. "Tekanan darah drop ke tujuh puluh per empat puluh!"

"Suction! Siapkan klem kranial!" perintah Ivandra dengan nada yang tetap tenang namun menekan. Matanya yang tajam menatap area pendarahan melalui mikroskop bedah. "Dokter Farhan, pertahankan tekanan perfusi otak!"

Di balik mesin anestesi, Farhan sempat ragu sejenak menentukan dosis obat vasopresor yang paling aman untuk pasien anak dalam kondisi syok hipovolemik tersebut.

Melihat keraguan itu, Aini bergerak secepat kilat. Tanpa menunggu instruksi panjang, jemari Aini dengan presisi tinggi menyiapkan cairan kristaloid hangat dan dosis dopamin yang sudah dihitung cepat berdasarkan berat badan pasien.

"Irigasi hangat dan vasopresor siap, Dokter Ivandra," tutur Aini dengan suara jernih, tenang, dan tanpa nada panik sedikit pun.

Ivandra melirik Aini sekilas melalui celah masker. Tanpa perlu pertukaran kata berbelit-belit, komunikasi tanpa suara di antara mereka terjalin sangat luar biasa. Ivandra seolah tahu betul bahwa Aini telah mengantisipasi setiap langkah medis yang ia butuhkan di meja bedah.

"Suntikkan sekarang," sahut Ivandra pendek.

Aini menyuntikkan obat tersebut ke jalur IV dengan cekatan. Hanya dalam waktu tiga puluh detik, grafik di monitor perlahan menstabil. Tekanan darah pasien kembali merayap naik menuju angka aman.

"Tekanan darah kembali stabil di seratus per enam puluh. Perfusi jaringan terjaga," lapor Aini lancar.

Ivandra segera memanfaatkan celah waktu emas tersebut. Jemari panjangnya dengan sangat lihai menghentikan sumber pendarahan utama, memasang bone wax, dan mengevakuasi gumpalan darah yang menekan jaringan otak pasien. Gerakannya begitu cepat, elegan, dan tanpa cela—berpadu sempurna dengan kesigapan Aini yang selalu menyediakan instrumen dan pemantauan tepat waktu sebelum Ivandra bahkan sempat memintanya.

Beberapa perawat dan dokter konsultan yang menyaksikan pembedahan itu dari balik kaca ruang kontrol bertukar pandang penuh rasa kagum.

"Luar biasa..." bisik salah satu perawat senior di ruang kontrol. "Dokter Aini baru koas, tapi chemistry dan refleks kerjanya sama Dokter Ivan klop banget. Nggak ada panik-paniknya sama sekali menghadapi situasi kritis kayak tadi."

"Iya, padahal Dokter Ivan itu terkenal paling susah ditutupi ritme kerjanya kalau di ruang operasi," timpal staf lainnya terpukau.

Dua jam kemudian, prosedur kraniotomi darurat itu berhasil diselesaikan dengan sangat sukses. Tanda-tanda vital pasien anak tersebut kembali normal dan stabil.

Ivandra melepaskan sarung tangan latex-nya yang berbercak darah, melemparkannya ke tempat sampah medis. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Aini yang sedang merapikan sisa kassa dan peralatan anestesi di sudut meja.

Ivandra mengikis jarak, berdiri tepat dua langkah di samping Aini. Di bawah pendar lampu bedah yang kini mulai diredupkan, mata elang pria itu menatap dalam-dalam pada figur istrinya.

"Kerja yang sangat bagus, Dokter Aini," tutur Ivandra dengan suara rendah berbariton berat. Kali ini, tidak ada nada dingin atau intimidasi di dalamnya—hanya ada pengakuan tulus dan rasa hormat profesional yang mendalam atas kompetensi Aini.

Aini mendongak pelan, menatap balik mata Ivandra dari balik maskernya. Ia menyunggingkan sebuah senyum tipis yang tak terlihat, namun terpancar jelas dari binar matanya yang lembut.

"Terima kasih, Dokter Ivandra. Itu semua karena kepemimpinan operasi dari Anda yang sangat presisi," sahut Aini santun dan formal.

Ivandra tertegun sejenak, merasakan desir hangat yang asing di dadanya saat mendengar nada bicara Aini yang begitu dewasa dan bermartabat. Di balik tembok kontrak dan perdebatan dingin mereka, keduanya baru saja membuktikan bahwa rasa hormat dan kesolidan profesional mereka berdiri sangat kokoh di atas segalanya.

Bersambung....

1
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!