NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Medan Perang Lantai Tiga

Lantai tiga gedung utama SMA Taruna Bangsa biasanya menjadi area paling sunyi karena hanya berisi ruang rapat besar yayasan dan laboratorium utama. Tapi siang ini, atmosfer di koridor lantai tiga terasa begitu berat dan menekan. Eca berjalan dua langkah di belakang Angkasa sambil mendekap laptop perak dan map proposal biru erat-erat di dadanya. Punggung tegap Angkasa di depannya berjalan dengan langkah mantap tanpa keraguan sedikit pun, memancarkan aura seorang pemimpin mutlak yang siap menundukkan siapa saja yang berani menentangnya.

Begitu Angkasa mendorong pintu kaca buram bertuliskan "RUANG RAPAT UTAMA YAYASAN", hawa dingin AC sentral langsung menyergap tubuh Eca.

Ruangan itu sangat luas dan mewah, didominasi oleh sebuah meja oval panjang dari kayu mahoni yang dikelilingi oleh belasan kursi kulit premium. Di ujung meja, beberapa orang dewasa berpakaian batik mahal dan jas formal—yang Eca yakini sebagai jajaran direksi yayasan dan donatur utama sekolah—sudah duduk tenang sambil membaca lembaran dokumen. Di sisi kiri meja oval, Reno Aliansyah bersama dua anggota fraksinya di OSIS sudah duduk bersedekap dada. Begitu pintu terbuka, pandangan mata Reno langsung bergeser tajam, mengunci tepat ke arah Eca yang berjalan mengekor di belakang Angkasa dengan penampilan cupunya.

Reno sempat menaikkan sebelah alisnya, memancarkan sorot mata penuh tanda tanya besar melihat keberadaan Eca di sana.

"Selamat siang, Bapak-Bapak sekalian. Terima kasih sudah meluangkan waktu," sapa Angkasa dengan suara baritonnya yang terdengar sangat berwibawa dan penuh penghormatan formal, beda total dengan nada ketus yang biasa dia pakai saat menindas Eca.

Angkasa berjalan menuju kursi utama di ujung kanan meja oval yang khusus disediakan untuk Ketua OSIS, lalu menarik kursi di sebelah kirinya. Dia menatap Eca dengan pandangan mengisyaratkan perintah. "Duduk di sini, Asisten," ucap Angkasa pelan namun tegas.

Eca menelan ludah dengan susah payah, lalu segera duduk di kursi kulit yang terlalu empuk itu. Dia buru-buru membuka laptop perak Angkasa, menyalakannya, dan membuka dokumen kosong untuk mencatat notulen rapat sesuai perintah kerja rodinya. Di seberang meja oval, tatapan mata tajam dari Reno terus-menerus mengawasinya, membuat Eca merasa tidak nyaman dan canggung luar biasa.

Rapat besar akhirnya dimulai. Salah seorang donatur utama, seorang pria paruh baya berkacamata bernama Pak Hendi, membuka sesi presentasi. "Baik, agenda utama kita siang ini adalah pengesahan anggaran untuk acara Pentas Seni Akbar Yayasan bulan depan. Proposal resmi sudah diajukan oleh Ketua OSIS. Silakan, Angkasa, jelaskan poin utamanya."

Angkasa berdiri dengan tenang, mengancingkan satu kancing jas almamaternya, lalu mulai memaparkan rencana anggaran dengan sangat terstruktur. Suaranya yang tegas memenuhi seisi ruangan, menjelaskan detail alokasi dana mulai dari panggung, bintang tamu artis ibu kota, hingga sistem pengamanan berkala. Eca sibuk mengetik setiap poin ucapan Angkasa dengan jari-jarinya yang mulai terasa lelah.

Namun, baru saja Angkasa menyelesaikan pemaparannya dan hendak menutup presentasi, suara ketukan pulpen yang sengaja diketuk keras di atas meja mahoni memotong suasana.

TAK! TAK!

Reno Aliansyah menegakkan posisi duduknya, menatap Angkasa dengan senyuman tenang namun penuh dengan kilatan provokasi yang mematikan. "Sori, Ketua. Tapi sebagai Wakil Ketua OSIS sekaligus perwakilan bidang pengawasan anggaran, gue merasa proposal yang lo ajuin ini terlalu berlebihan dan nggak efisien."

Atmosfer di dalam ruangan rapat mendadak berubah drastis menjadi sangat tegang. Para donatur yayasan mulai saling berbisik dan memajukan tubuh mereka, tertarik dengan perdebatan dua pemimpin muda ini.

"Berlebihan di bagian mana, Reno?" tanya Angkasa dingin, sepasang mata elangnya menyipit tajam menatap rivalnya itu.

"Di bagian alokasi dana panggung dan sistem keamanan," jawab Reno dengan nada suara yang sangat lugas. Dia membuka map merah miliknya sendiri, lalu menyodorkan selembar kertas ke tengah meja. "Gue udah ngelakuin riset tandingan ke beberapa vendor. Dana panggung yang lo ajuin itu kemahalan sekitar tiga puluh persen dari harga pasar normal. Ditambah lagi, dana pengamanan internal yang lo tulis di tabel keuangan itu... angka nominal rupiahnya mencurigakan. Nggak sesuai sama jumlah personel yang dibutuhin. Menurut gue, anggaran ini sengaja digelembungkan buat kepentingan kelompok tertentu di OSIS."

DEG!

Tuduhan Reno bagaikan bom waktu yang meledak di tengah ruangan rapat. Para donatur yayasan langsung menatap Angkasa dengan pandangan menuntut penjelasan. Tuduhan korupsi atau penggelapan dana internal sekolah di depan pemilik yayasan adalah hal yang sangat fatal.

Eca yang duduk di sebelah Angkasa bisa merasakan perubahan suhu tubuh cowok di sampingnya. Rahang Angkasa tampak mengeras sempurna, dan tangannya yang bertumpu di atas meja mahoni mengepal kuat hingga urat-urat tangannya menyembul jelas. Angkasa menoleh sedikit ke bawah, menatap ke arah laptopnya, lalu memberikan tatapan mata yang sangat tajam dan penuh tekanan kepada Eca.

Cari data tandingan vendor panggung di folder tersembunyi laptop gue sekarang! perintah Angkasa lewat sorot matanya yang penuh ancaman.

Eca langsung panik. Jarinya bergerak cepat membuka folder-folder di laptop perak Angkasa. Pikirannya berputar liar. Dia terjebak dalam dilema moral yang sangat rumit. Di satu sisi, Reno tadi pagi menawarkan bantuan untuk mengembalikan kartu pelajar lamanya jika dia mau membantu menjatuhkan Angkasa. Ini adalah kesempatan emas bagi Eca untuk membiarkan Angkasa kalah telak di depan donatur agar kuasanya runtuh!

Tapi di sisi lain, ancaman Angkasa tentang pencabutan beasiswa pindahannya bukan main-main. Jika Angkasa hancur hari ini, cowok kejam itu pasti akan menyeret Eca bersamanya ke dalam jurang kehancuran.

Dengan jantung yang berdebar kencang bak genderang perang, Eca menemukan sebuah file PDF tersembunyi bernama "Vendor_Sertifikasi_A". Begitu membukanya, mata Eca yang tajam langsung menangkap sebuah detail kecil pada tabel keuangan yang dilewatkan oleh Angkasa maupun Reno.

"Maaf... permisi, Bapak-Bapak sekalian," cicit Eca tiba-tiba memotong keheningan rapat dengan suara yang sengaja dibuat lugu dan bergetar khas cewek cupu.

Seluruh orang dewasa di ruangan itu, termasuk Angkasa dan Reno, langsung menoleh serentak menatap Eca dengan heran. Seorang murid cupu berkuncir dua berani angkat bicara di rapat donatur kelas kakap?

"Alesya, diam. Ini bukan tempat lo buat bicara," tegur Angkasa dengan suara rendah yang mengancam di dekat telinga Eca.

Namun Eca memilih mengabaikan teguran itu demi menyelamatkan posisinya sendiri. Dia memutar layar laptop perak Angkasa ke arah tengah meja agar bisa dilihat oleh semua donatur dan Pak Hendi. "Itu... seingat saya saat mengetik proposal ini tadi siang, dana panggung Kak Angkasa memang terlihat lebih mahal karena vendor yang dipilih sudah termasuk biaya asuransi kerusakan penuh dan sertifikasi keselamatan internasional anti-gempa, Pak. Sementara vendor tandingan yang diajukan Kak Reno... harganya lebih murah karena belum termasuk biaya sewa tenda medis dan tidak ada garansi keamanan panggung jika terjadi cuaca buruk."

Eca mengambil napas dalam, lalu melirik Reno dari balik kacamatanya dengan pandangan meminta maaf. "Jadi, kalau dihitung secara total risiko kecelakaan acara, anggaran Kak Angkasa sebenarnya jauh lebih hemat sepuluh juta rupiah dibanding vendor milik Kak Reno yang rawan kena denda tambahan jika terjadi kerusakan alat."

Suasana ruangan rapat mendadak senyap selama beberapa detik. Pak Hendi, sang donatur utama, langsung mengambil laptop Angkasa, membaca detail file PDF yang ditunjukkan Eca, lalu mengangguk-angguk puas dengan senyuman lebar.

"Luar biasa! Analisis yang sangat jeli dari seorang sekretaris muda," puji Pak Hendi dengan suara lantang. Dia menatap Reno yang kini wajahnya tampak sedikit menegang karena serangannya berhasil dipatahkan dengan telak. "Reno, apa yang dibilang siswi ini benar. Kamu kurang jeli melihat faktor asuransi keselamatan. Anggaran Angkasa resmi saya sahkan tanpa ada pemotongan satu rupiah pun!"

TOK! TOK! TOK!

Palu rapat diketuk oleh Pak Hendi, menandakan kemenangan mutlak berada di tangan Angkasa siang ini.

Reno Aliansyah perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap Eca dengan pandangan mata yang sangat dalam, campur aduk antara kecewa dan rasa penasaran yang semakin besar. Dia tidak menyangka cewek cupu yang ingin dia bantu justru menjadi senjata rahasia yang membalikkan keadaan untuk Angkasa.

Rapat besar akhirnya ditutup beberapa menit kemudian. Para donatur yayasan mulai meninggalkan ruangan satu per satu sambil menepuk pundak Angkasa dengan bangga. Begitu ruangan rapat kembali sepi dan hanya menyisakan mereka berdua, Eca langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang, merasa seluruh tenaganya sudah terkuras habis.

Eca buru-buru merapikan laptop dan berkasnya, bersiap untuk segera kabur sebelum atmosfer mencekam kembali datang. Namun, baru saja dia hendak berdiri dari kursi kulitnya, sebuah tangan besar dengan gerakan cepat mencengkeram sandaran kursi Eca, menahannya agar tetap duduk di tempat.

Eca menoleh dengan kaget. Angkasa sudah berdiri tepat di samping kursinya, mencondongkan tubuhnya dengan sepasang mata elang yang kini menatap Eca dengan pandangan yang sangat intens, tajam, dan... tidak ada lagi kilatan amarah dingin di sana. Yang ada hanyalah tatapan penuh kekaguman tersembunyi yang membuat jantung Eca mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Eca bisa merasakan kehangatan napas Angkasa di pipinya.

"Gue nggak nyangka... otak lo ternyata jauh lebih berbahaya dari penampilan cupu lo ini, Alesya," bisik Angkasa dengan suara yang sangat rendah, berat, dan terdengar begitu seksi di keheningan ruang rapat yang kosong. Sudut bibir tipis cowok itu terangkat, membentuk sebuah senyuman misterius yang belum pernah Eca lihat sebelumnya. Senyuman yang tidak lagi bernada ancaman, melainkan sebuah tanda bahwa Angkasa kini mulai tertarik sepenuhnya pada sosok asli di balik topeng gadis cupu miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!