Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CALON TUNANGAN YANG SALAH
BAB 3
Napas Rizky Syah yang memburu terasa makin mendekat, bersiap untuk kembali menyesap bibir Kamilah. Namun sebelum bibir pria itu kembali menyentuh miliknya, Kamilah dengan cepat mendaratkan telapak tangan kecilnya, membungkam mulut Rizky.
Kamilah mendongak, berusaha menunjukkan raut wajah yang setenang mungkin meski dadanya bergemuruh hebat. "A-aku masih ada urusan mendesak. Bisakah kita bicarakan hal ini di lain waktu?"
Rizky menatap mata Kamilah dalam-dalam. Keheningan sempat menyelimuti kamar penthouse itu selama beberapa detik yang menegangkan, sebelum akhirnya Rizky perlahan melepaskan kuncian di pinggang Kamilah.
"Baiklah," ucap Rizky singkat.
Tanpa membuang waktu, Kamilah memutar tubuhnya dan bergegas melangkah menuju pintu keluar. Aku harus segera pergi dari sini sebelum dia berubah pikiran! bisik Kamilah dalam hati.
Namun, baru saja jemarinya hendak menyentuh gagang pintu, bayangan tinggi besar Rizky sudah lebih dulu memotong jalannya, menghadang tepat di depan pintu.
"Tinggalkan nomor kontakmu," tuntut Rizky tajam.
Kamilah mengelus dadanya yang kaget. "Oh... baiklah."
Demi bisa keluar dari ruangan itu secepat mungkin, Kamilah menyebutkan deretan angka nomor ponselnya. Namun di dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana lain. Sudah untung masih ditanggapi, malah minta macam-macam. Nanti begitu sampai di luar, akan langsung kublokir dan kuhapus kontaknya dari ponselku!
Rizky menatap ponselnya sebentar, lalu menyunggingkan senyum tipis yang amat misterius. Tiba-tiba, pria itu menundukkan kepala dan mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat di jidat Kamilah.
"Sampai jumpa, calon tunanganku," bisik Rizky penuh penekanan.
Kamilah membeku di tempatnya. Belum sempat ia memprotes sapaan absurd itu, Rizky kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Kamilah dan berbisik dingin, "Kalau kamu berani menghapus nomor ini atau memblokirku... aku tidak ragu untuk langsung mengunjungi kediaman Keluarga Ye."
Ancaman itu bagaikan petir di siang bolong. Kamilah membelalakkan matanya. Bagaimana bisa dia tahu apa yang sedang kupikirkan di dalam hati?!
Kamilah hanya bisa menyengir canggung sambil mengangguk pelan. Mana mungkin ia mau membawa pria berbahaya ini ke hadapan keluarganya? Yang ada masalahnya justru makin membesar. "I-iya... mana mungkin aku melakukan itu. Aku mau ke rumah sakit dulu untuk menjenguk Kakekku. Dadah!"
Dengan langkah seribu, Kamilah langsung meloloskan diri begitu Rizky memberi celah.
Beberapa saat kemudian, Kamilah sudah berdiri di koridor rumah sakit VIP. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan raut wajahnya yang kacau sebelum melangkah masuk ke kamar rawat kakeknya.
Namun, begitu pintu digeser, langkah Kamilah kembali terhenti. Di dalam kamar rawat yang luas itu, rupanya kakeknya tidak sendirian. Ada beberapa tamu terpandang yang sedang duduk mengelilingi ranjang.
Salah seorang pria muda berjas rapi berdiri dan menoleh ke arah pintu. Pria itu adalah Ikram Pratama, pewaris utama dari Keluarga Pratama yang sangat berpengaruh di Kota Jakarta Selatan—dan dialah sosok calon tunangan yang sebenarnya dijodohkan untuk Kamilah!
"Kakek, bagaimana perasaan Kakek hari ini?" tanya Kamilah santai, mencoba mengabaikan keberadaan orang asing itu.
Kakek Ye terkekeh pelan melihat cucunya. "Wah, Kamilah, kamu sudah datang! Sini, Kakek perkenalkan dulu. Ini Ikram Pratama dari Keluarga Pratama di Jakarta Selatan. Dan Ikram, ini cucu kesayangan Kakek, Kamilah."
Darah di tubuh Kamilah serasa berhenti mengalir seketika. Kepalanya mendadak pusing hebat.
Kakek... kenapa tidak bilang dari awal kalau hari ini ada acara perjodohan langsung?! jerit Kamilah histeris di dalam hatinya. Aku sudah tidur dengan orang yang salah semalam!
Ikram Pratama melangkah mendekat dengan senyuman hangat dan ramah. Ia mengulurkan tangannya dengan sangat sopan. "Halo, Kamilah."
Kamilah menyambut uluran tangan itu dengan canggung. "Halo..."
"Aku pernah melihat video tarianmu di sebuah acara kebudayaan. Penampilanmu saat membawakan tarian Diaochan sungguh luar biasa... kamu sangat cantik," puji Ikram dengan tulus, menatap Kamilah dengan binar keagungan.
"Terima kasih..." balas Kamilah singkat.
Memperhatikan gerak-gerik Ikram yang sopan dan tutur katanya yang halus, hati Kamilah agak sedikit luluh. Orangnya kelihatan sangat lembut dan hangat... agak mirip dengan almarhum Ayah, batin Kamilah.
Melihat interaksi manis di antara kedua muda-mudi itu, Kakek Ikram yang ikut hadir langsung menimpal dengan nada serius namun bersemangat.
"Keluarga Ye, kami dari Keluarga Pratama sungguh-sungguh serius dengan perjodohan ini. Kami bahkan bersedia memberikan lima persen saham perusahaan utama kami sebagai mas kawin untuk Kamilah. Bagaimana? Tolong pertimbangkanlah cucuku ini," ujar Kakek Ikram tegas.
Kakek Ye yang terharu mendadak batuk-batuk kecil akibat emosi yang membuncah.
"Kakek! Kakek tidak apa-apa, kan?" seru Kamilah panik sambil memegangi tangan kakeknya dan memberikan segelas air hangat.
Melihat kondisi kakeknya yang makin ringkih dan sakit-sakitan, pertahanan batin Kamilah runtuh. Kakek yang membesarkanku sejak kecil setelah Ayah meninggal... ini mungkin adalah keinginan terakhir Kakek sebelum matanya tertutup.
Kamilah menggenggam erat tangan kakeknya, lalu menatap Ikram dan para tetua di ruangan itu. "Aku... aku akan menuruti semua kemauan Kakek."
"Bagus! Bagus sekali, Cucuku!" seru Kakek Ye dengan mata berkaca-kaca penuh lega.
Di tengah suasana haru tersebut, ponsel di dalam tas Kamilah mendadak bergetar hebat. Kamilah melihat nama pemanggil di layarnya, lalu membungkuk sopan pada semua orang di ruangan.
"Kakek, aku mau menerima telepon sebentar di luar. Ini panggilan dari temanku," pamit Kamilah.
Kamilah melangkah keluar ke koridor rumah sakit yang sepi dan langsung menggeser tombol hijau. "Halo, Elisa?"
Suara Elisa—sahabat karibnya yang bekerja di bidang informasi—dengar tergesa-gesa di seberang telepon. "Kamilah! Aku sudah dapat info detail tentang pria bernama Rizky Syah yang kamu tanyakan tadi!"
"Bagaimana?" tanya Kamilah cepat.
"Gawat, Kamilah! Dia itu bukan orang sembarangan. Rizky Syah adalah pimpinan sekaligus murni pewaris utama Keluarga Syah dari Kota Jakarta Utara. Bahkan kakeknya sendiri di pemerintahan harus memanggilnya dengan sebutan Komandan!"
Kamilah menahan napasnya. "Jakarta Utara?"
"Iya! Dengar baik-baik," lanjut Elisa penuh penekanan. "Keluarga besar Syah di Kota Jakarta Selatan itu fokus berbisnis, sedangkan Keluarga Syah di Kota Jakarta Utara memegang kekuasaan politik dan militer! Tapi Rizky Syah ini beda... dia memilih jalannya sendiri dan mendirikan Grup Shangchen hingga sukses besar. Dia punya kemampuan jenius, kekuasaan, dan latar belakang yang sangat kuat! Kalau kamu sampai berurusan dengannya, kamu harus ekstra hati-hati!"
Telepon terputus. Kamilah menyandarkan punggungnya pada dinding dingin koridor rumah sakit, memegangi kepalanya yang makin berdenyut.
Benar-benar orang yang sangat merepotkan... bisik Kamilah dalam hati dengan keputusasaan yang melingkupinya. Bagaimanapun juga, sebelum masalah salah kamar ini terbongkar dan merusak pernikahanku dengan Keluarga Pratama, aku harus menyelesaikan masalah dengan Rizky Syah secepatnya!