Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGADILAN PALSU
Aula Utama Klan Lin berdiri megah dengan pilar-pilar batu ukir dan lantai pualam yang mengilap. Sinar matahari pagi menembus celah jendela tinggi, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah keheningan ruangan. Lin Yuan melangkah masuk dengan rantai besi hitam seberat puluhan kilogram membelenggu kedua pergelangan tangan dan kakinya. Bunyi gemerincing besi beradu dengan pualam menggemakan ketegangan yang mencekam.
Pakaian Lin Yuan masih koyak bersimbah darah kering. Bebat linen di dadanya memerah di beberapa titik. Namun, alih-alih menundukkan kepala seperti seorang pesakitan yang ketakutan, langkah Lin Yuan tetap stabil dan tegak.
Di panggung atas aula, duduk lima Penatua Klan Lin. Di posisi paling tengah, Penatua Utama Lin Zhen menatap Lin Yuan dengan raut wajah keras bagai batu. Di sisi kanannya, Penguasa Kota Feng Shidong duduk di kursi kehormatan, memegangi cangkir porselen dengan mata terpejam separuh, mengamati setiap gerak-gerik Lin Yuan dengan kewaspadaan dingin.
Di sekeliling aula, puluhan murid dan anggota klan berkumpul. Bisik-bisik kebencian dan rasa ingin tahu menyebar bagai uap racun.
"Lihat dia, jangankan meminta ampun, matanya bahkan tidak menunjukkan penyesalan sama sekali." Bisik seorang murid klan di barisan belakang.
"Pasti dia sudah menjual jiwanya pada iblis. Mana mungkin sampah tanpa *qi* bisa meremukkan Beruang Zirah Besi?" Sahut murid lainnya.
Lin Yuan berhenti di tengah aula. Ia berdiri tegak, membiarkan beban berat rantai menarik pundaknya ke bawah. Matanya yang hitam pekat menyapu deretan wajah-wajah terhormat di depannya.
PLAK!
Penatua Lin Zhen menghentakkan telapak tangannya ke meja kayu cendana di depannya. Suara benturan keras itu menyumbat seluruh bisik-bisik di aula seketika.
"Lin Yuan!" Bentak Penatua Lin Zhen dengan suara berat bergema. "Kau tahu kenapa kau berdiri di sini dengan belenggu besi hari ini?"
Lin Yuan menatap lurus ke arah Penatua Lin Zhen. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang terasa begitu dingin.
"Karena aku membunuh monster yang gagal dikalahkan oleh para jenius klan ini?" Tanya Lin Yuan datar.
Suasana aula mendadak tegang. Beberapa penatua di atas panggung mengkerutkan kening, tersinggung oleh nada suara Lin Yuan yang sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat.
"Kurang ajar!" Teriak Penatua Ketiga yang duduk di ujung kiri. "Di hadapan Penguasa Kota dan para penatua, kau masih berani membual dan bersikap lancang?!"
Penguasa Kota Feng Shidong meletakkan cangkir porselennya ke meja dengan denting halus. Ia mendongak, menatap Lin Yuan dengan mata menyipit.
"Lin Yuan," Panggil Penguasa Kota Feng Shidong dengan suara teratur dan menekan. "Kota ini baru saja melewati bencana Bulan Darah. Puluhan prajurit gugur, dan gerbang dimensi terkoyak. Namun hal yang paling membahayakan keselamatan warga bukanlah monster binatang di luar tembok, melainkan ancaman terselubung di dalam kota."
Feng Shidong mengarahkan telunjuknya ke dada Lin Yuan.
"Selama tiga tahun, setiap pengujian meridian menunjukkan bahwa tubuhmu hampa tanpa energi spiritual. Kau tidak memiliki bakat, tidak memiliki aliran *qi*, dan dikategorikan sebagai kultivator cacat." Ucap Penguasa Kota dengan nada dingin. "Lalu tiba-tiba, di tengah kekacauan semalam, kau memancarkan tekanan jiwa liar yang memicu rasa dingin menyengat dan meremukkan cangkang Beruang Zirah Besi kelas dua hanya dengan satu pukulan tangan kosong."
Penguasa Kota bersandar pada kursinya, menyilangkan jari-jarinya.
"Tidak ada teknik kultivasi resmi di seluruh Kerajaan ini yang dapat melompati batas fisik selebar itu dalam semalam tanpa menggunakan jalan pintas terlarang." Lanjut Penguasa Kota Feng Shidong. "Katakan pada kami, ilmu iblis apa yang kau praktikkan secara rahasia? Siapa yang mengajarimu teknik menyerap darah atau menumbalkan jiwa?"
Di samping panggung, Lin Heng melangkah maju satu kali. Wajahnya dipenuhi rasa percaya diri yang dibuat-buat, meski matanya masih enggan menatap langsung ke arah Lin Yuan.
"Penguasa Kota, Penatua Utama!" Ucap Lin Heng menyatukan kedua tangannya memberi penghormatan. "Saya adalah saksi mata di lokasi kejadian. Saat Lin Yuan melayangkan pukulan itu, saya merasakan aura pembunuh yang amat menjijikkan. Tubuhnya diselimuti bayangan hitam perak yang mirip dengan teknik pemuatan jiwa iblis dari Sekte Darah Iblis! Dia sengaja membiarkan para pengawal terluka agar bisa menyerap energi darah di sekitar lorong untuk memperkuat serangannya!"
Tuduhan Lin Heng menyulut riuh rendah di seluruh aula. Para anggota klan mulai berteriak murka, menuding Lin Yuan sebagai pengkhianat dan iblis yang menyusup ke dalam keluarga.
"Usir dia!"
"Eksekusi pengkhianat iblis!"
"Dia mencemari nama baik Klan Lin!"
Di tengah gelombang cacian dan teriakan histeris itu, Lin Yuan berdiri bagai karang di tengah badai. Ia tidak mencoba memotong teriakan orang-orang itu, tidak pula berteriak membela diri. Ketenangannya yang di luar nalar justru perlahan-lahan membuat aula kembali hening oleh rasa tidak nyaman yang aneh.
Saat suara teriakan surut, Lin Yuan perlahan mengembuskan napas panjang.
"Apakah kalian sudah selesai?" Tanya Lin Yuan pelan, suaranya tidak keras namun memotong keheningan dengan begitu jernih.
Penatua Lin Zhen mendesis marah. "Lin Yuan! Kau tidak punya hak untuk membalikkan pertanyaan! Jawab tuduhan Lin Heng dan Penguasa Kota!"
Lin Yuan menoleh perlahan ke arah Lin Heng. Senyum tipis di bibirnya melebar sedikit, dipenuhi oleh rasa hina yang mendalam.
"Lin Heng," Panggil Lin Yuan datar. "Saat Serigala Besi pertama kali menembus lorong belakang, di mana kau berada?"
Lin Heng tertegun sejenak, wajahnya agak memerah. "Aku... aku sedang memimpin tim patroli!"
"Kau berlari kencang membelakangi warga," Potong Lin Yuan tanpa memberi jeda. "Kau membiarkan seorang pedagang dicabik di depan matamu, lalu kau berlari ke benteng dalam sambil menjerit ketakutan. Dan saat pagi harinya Beruang Zirah Besi menghancurkan tembok lorong, kau adalah orang pertama yang melompat mundur, membiarkan dua rekanku tertimbun reruntuhan batu."
"Kau membual!" Jerit Lin Heng dengan suara melengking panik. "Aku mengatur formasi mundur taktis!"
"Mundur taktis?" Lin Yuan terkekeh tipis—suara tawa yang terdengar begitu hampa dan menusuk. "Kau melarikan diri, Lin Heng. Dan saat kau sibuk menyelamatkan nyawamu sendiri, aku berdiri di sana menahan cakar beruang itu dengan sebatang tombak karatan."
Lin Yuan mengalihkan pandangannya dari Lin Heng, menatap lurus ke mata Penatua Lin Zhen dan Penguasa Kota Feng Shidong.
"Kalian duduk di atas kursi mewah ini, berbicara tentang keselamatan kota dan nama baik klan," Ucap Lin Yuan dengan nada suara yang membumi, dingin, dan amat mantap. "Tapi saat gerbang dimensi jebol semalam, tidak satu pun dari kalian para penatua atau pengawal kota yang menampakkan hidung di lorong belakang. Kalian bersembunyi di aula dalam sampai situasi aman."
"Lancang!" Teriak Penatua Ketiga sambil berdiri dari kursinya.
"Aku tidak peduli apa yang kalian sebut sebagai teknik iblis atau ajaran sesat," Lanjut Lin Yuan, mengabaikan teriakan sang Penatua. "Saat aku membunuh serigala itu, aku menyelamatkan seorang ibu dan anaknya. Saat aku meremukkan beruang itu, aku menyelamatkan seorang wanita tua yang tersudut di gudang. Kalau bertarung mati-matian menggunakan otot dan darahku sendiri demi bertahan hidup dianggap sebagai ilmu iblis, lalu apa sebutan untuk kalian yang berlari ketakutan dan baru keluar untuk merebut hasil buruan orang lain? Apakah itu yang kalian sebut ajaran lurus?"
PLAK!
Penatua Lin Zhen menghantamkan tinjunya ke meja hingga kayu cendana tebal itu retak menjadi dua bagian. Wajah tua itu merah padam oleh amarah dan rasa malu yang terpampang telanjang di depan seluruh anggota klan.
"Tutup mulutmu, pengkhianat!" Bentak Penatua Lin Zhen dengan napas memburu. "Kau bukan hanya mengadopsi ilmu iblis, tapi jiwamu juga sudah busuk dan pemberontak! Klan Lin tidak pernah mendidik murid yang tidak tahu berterima kasih sepertimu!"
Penguasa Kota Feng Shidong perlahan berdiri dari kursinya. Wajahnya yang semula tenang kini sepenuhnya mengeras. Kata-kata Lin Yuan tidak hanya menampar harga diri para penatua klan, tetapi juga menelanjangi kepalsuan pemerintah kota di depan umum.
Bagi Feng Shidong, tidak penting apakah Lin Yuan benar-benar menggunakan ajaran iblis atau tidak. Yang penting adalah bahwa bocah ini terlalu tajam, terlalu berbahaya, dan tidak bisa dikendalikan oleh rantai kekuasaan mana pun.
"Penguasa Kota Feng," Ucap Penatua Lin Zhen sambil membungkuk ke arah Feng Shidong. "Anak ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Menurut hukum klan, murid yang mempraktikkan ajaran tak dikenal dan membangkang pada atasan harus dihancurkan meridiannya dan dieksekusi di tempat!"
Di sudut belakang aula, Paman Gu yang berdiri di antara kerumunan memegang tongkat tuanya erat-erat, matanya bergetar hebat saat mendengar kata 'eksekusi'.
Namun, Penguasa Kota Feng Shidong mengangkat tangannya pelan, menahan tindakan Penatua Lin Zhen. Mata tajam Penguasa Kota terkunci pada Lin Yuan yang masih berdiri tegak tanpa rasa takut sedikit pun di tengah ancaman hukuman mati.
"Hukuman mati terlalu mudah untuk seorang pemberontak," Gumam Penguasa Kota Feng Shidong dengan senyuman dingin yang mengerikan. "Dan menghancurkan meridiannya hanya akan menyisakan bangkai yang tak berguna."
Penguasa Kota melangkah ke tepi panggung, menatap Lin Yuan dari atas.
"Bulan Darah belum berakhir, dan perbatasan utara di Benteng Tembok Besi sedang membutuhkan pasokan daging manusia untuk menahan gelombang monster di garis depan," Ucap Penguasa Kota Feng Shidong dengan nada suara yang penuh kekejaman rasional. "Jika dia memang memiliki kekuatan liar yang tak dikenal, biarkan dia membuangnya di tempat lumpur dan darah bertumpuk."
Penguasa Kota menoleh ke arah Penatua Lin Zhen.
"Cabut statusnya sebagai anggota Klan Lin," Perintah Penguasa Kota tegas. "Hapus namanya dari silsilah, dan buang dia ke barisan tahanan perang menuju Benteng Tembok Besi besok pagi. Biarkan para monster di perbatasan utara yang meremukkan tulang-tulangnya."
Penatua Lin Zhen terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum puas dan mengangguk pelan. "Keputusan yang sangat bijaksana, Penguasa Kota. Tempat pembuangan para kriminal adalah kuburan yang paling cocok untuk sampah pemberontak sepertinya."
Lin Heng di samping panggung menghela napas lega, senyum kemenangan yang kejam terukir di wajahnya. Semua orang tahu bahwa tingkat kelangsungan hidup para tahanan buangan di Benteng Tembok Besi tidak pernah mencapai sepuluh persen. Dikirim ke sana sama saja dengan vonis mati yang diperlambat secara menyiksa.
Seluruh orang di aula menatap Lin Yuan, mengira pemuda itu akan berlutut menangis atau memohon ampunan setelah mendengar hukuman yang begitu mengerikan.
Namun, Lin Yuan hanya menarik napas perlahan.
Rantai besi di tangannya bergemerincing pelan saat ia meluruskan punggungnya. Tidak ada ratapan. Tidak ada rasa putus asa. Di dalam dadanya, Kera Putih bermata emas justru mengembuskan uap hangat yang melapisi lautan jiwanya—seolah-olah menyambut tempat pembantaian darah yang baru dengan kepuasan dingin.
Lin Yuan menatap Penguasa Kota dan para penatua satu per satu, menyimpan setiap lekuk wajah mereka di dalam ingatannya.
"Benteng Tembok Besi," Bisik Lin Yuan pelan, senyum tipisnya kembali muncul di wajahnya yang bernoda darah. "Terima kasih atas hadiahnya."
Tanpa menunggu diseret oleh pengawal, Lin Yuan membalikkan badannya sendiri, melangkah tenang menyeret rantai besinya keluar dari aula utama, meninggalkan kepalsuan klan menuju takdir barunya di perbatasan berdarah.