NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Retakan di Balik Kaca

Laras tak pernah percaya pada kebetulan. Dua belas tahun belajar dan bekerja sebagai dokter mengajarinya satu hal: gejala selalu punya sebab, dan sebab yang disembunyikan biasanya yang paling serius.

Pagi setelah pertemuannya dengan gadis desa itu, ia duduk di meja makan dengan secangkir teh yang tak disentuh. Di seberangnya, Carlo membaca laporan di tablet, mengunyah roti panggang dengan tenang. Terlalu tenang.

"Mas pulang jam berapa semalam?"

"Hampir tengah malam. Kamu sudah tidur."

"Aku belum tidur." Laras menyesap tehnya. "Aku menunggu sampai jam satu."

Carlo mengangkat wajah sekilas, lalu kembali ke layar. "Maaf. Ada rapat dengan investor yang molor."

"Rapat di mana?"

"Kantor."

"Kantor tutup jam delapan, Mas. Aku tadi menelepon Pak Hendra."

Gerakan Carlo terhenti setengah detik. Hanya setengah detik, tetapi Laras sudah terlatih membaca jeda sekecil itu. "Kamu menelepon Hendra?"

"Hanya menanyakan jadwal Mas. Aku istrimu, wajar kalau khawatir." Laras tersenyum tipis. "Apalagi sejak Mas kembali dari... perjalanan panjang itu."

Kata *perjalanan* ia ucapkan pelan, dengan tekanan yang halus. Carlo tak menjawab. Ia meletakkan tablet, mengelap bibir dengan serbet, dan berdiri.

"Aku harus berangkat. Jangan menungguku malam ini."

Setelah pintu menutup, Laras tetap duduk. Dari saku blusnya ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang tadi pagi ia temukan terselip di saku jas Carlo saat menggantungnya: secarik struk bensin dari sebuah SPBU di kabupaten yang jaraknya empat jam dari kota. Tanggalnya tiga minggu lalu.

Tiga minggu lalu, Carlo bilang ia sedang bersembunyi di luar negeri, memulihkan diri setelah "kecelakaan" yang hampir merenggut nyawanya.

Laras melipat struk itu dan menyimpannya kembali. Lalu ia mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat untuk seseorang yang sudah lama tak ia hubungi.

*Aku butuh bantuanmu. Tolong cari tahu siapa yang tinggal di rumah putih di Jalan Palem Raja nomor 12.*

---

Di paviliun itu, Andien menjalani hari dengan perasaan yang makin sulit ia definisikan.

Carlo tak datang selama sembilan hari. Ketika akhirnya muncul, ia membawa buket mawar dan wajah yang dipaksa ramah. Mereka makan malam berdua di ruang makan besar yang terlalu sunyi, dan Andien mencoba menceritakan tentang kebun kecil yang ia mulai di halaman belakang.

"Mas, boleh Dien tanam sayur di sana? Tanahnya subur."

"Terserah kamu."

"Tapi Bu Wati bilang itu taman milik..."

"Aku bilang terserah." Nada Carlo mengeras, lalu ia menghela napas, memijat pelipis. "Maaf. Aku lelah."

Andien menunduk dan menusuk nasinya dengan garpu. Ia belajar bahwa ada dua Carlo. Yang pertama adalah pria di desa, yang tertawa saat ia salah memotong bawang dan menyiram kebun jam lima pagi. Yang kedua adalah pria di kota, yang selalu melirik ponsel dan menghitung kata-katanya.

"Mas," katanya pelan. "Kapan Dien boleh ketemu orang-orang Mas? Teman Mas, atau keluarga..."

"Belum waktunya."

"Sampai kapan?"

"Dien." Carlo meletakkan sendoknya. "Aku sudah jelaskan. Ini demi keselamatanmu."

"Dien tahu. Tapi Dien juga istri Mas. Rasanya... aneh, jadi istri yang tidak boleh disebut."

Hening menggantung. Carlo menatap piringnya, rahangnya bergerak seolah menahan sesuatu.

"Beberapa bulan lagi," katanya akhirnya. "Aku janji."

Janji kedua. Andien menghitungnya diam-diam, dan membencinya karena ia menghitung.

---

Kesempatan datang dengan cara yang tak ia duga.

Siang itu Bu Wati pergi ke pasar, dan Carlo meninggalkan jasnya tersampir di kursi ruang tamu setelah kunjungan singkat pagi harinya. Andien hanya hendak melipatnya agar tak kusut. Ia tak berniat menggeledah.

Tetapi sebuah dompet kecil terjatuh dari saku dalam jas itu dan terbuka di lantai.

Andien berlutut memungutnya. Di balik selipan uang tunai ada selembar foto kecil yang terlipat dua. Ia tak ingin melihat, tetapi tangannya sudah membuka lipatan itu.

Foto pernikahan.

Carlo dalam setelan jas hitam, tersenyum di depan kamera, dan di sisinya seorang perempuan bergaun putih dengan sanggul rendah dan mata cokelat tua yang tenang. Latar belakangnya adalah ballroom megah dengan karangan bunga setinggi dua meter dan ratusan tamu berpakaian mewah.

Perempuan itu adalah dokter yang hampir menabraknya di jalan.

Andien tak bernapas. Foto itu bergetar di jemarinya. Ia membaliknya. Di belakang tertulis dengan tinta biru, tulisan tangan yang rapi:

*Carlo & Laras — 14 Juni.*

Tahun itu, dua tahun lalu.

Dunia di sekeliling Andien seperti menyempit menjadi satu titik. Telinganya berdenging. Ia terduduk di lantai marmer, foto itu masih tergenggam, dan ingatan-ingatan mulai berjatuhan seperti kartu domino: garis pucat di jari manis Carlo. Ponsel yang bergetar. Panggilan tak terjawab bertuliskan *Laras*. Alasan-alasan yang selalu masuk akal.

*Kamu keponakan Bu Wati dari desa. Jangan sebut namaku.*

"Tidak," bisiknya. "Tidak, tidak..."

Mungkin ada penjelasan. Mungkin perempuan itu mantan istri. Mungkin...

Tetapi tak ada mantan istri yang menatap suaminya dengan kehangatan seperti itu di foto. Dan tak ada mantan istri yang namanya membuat seorang pria menyembunyikan ponsel di malam pengantinnya.

Pintu depan berderit.

Andien tersentak, buru-buru melipat foto dan menyelipkannya kembali ke dompet. Tangannya gemetar begitu hebat hingga dompet itu nyaris terlepas. Ia sempat menaruhnya di saku jas tepat saat Bu Wati masuk dengan kantong belanja.

"Mbak? Kenapa pucat sekali?"

"Tidak apa-apa, Bu." Suara Andien terdengar asing di telinganya sendiri. "Cuma... kepanasan."

Bu Wati menatapnya lama. Sesuatu di wajah perempuan tua itu bergeser, lalu ia meletakkan belanjaannya dan berkata pelan, nyaris berbisik, "Mbak sudah tahu, ya?"

Andien menoleh perlahan. "Tahu... apa, Bu?"

Bu Wati menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar menatap Andien tanpa menghindar.

"Maafkan saya, Mbak. Saya cuma pekerja. Tuan Carlo yang membayar saya tutup mulut."

"Siapa dia sebenarnya, Bu?"

"Saya tidak berhak..."

"Bu. Saya mohon."

Bu Wati menarik napas gemetar. "Namanya Carlo Prasetia. Pewaris Prasetia Group. Dan perempuan itu, Nyonya Laras, adalah istrinya. Sudah dua tahun."

Andien tak menangis. Entah mengapa, air matanya tak turun. Ia hanya merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh dengan sangat pelan, seperti rumah bambu yang dimakan rayap, tak ada bunyi dan tak ada ledakan, hanya tiang-tiang yang satu per satu menyerah.

"Pernikahan kami..." suaranya nyaris tak terdengar. "Pernikahan kami di desa. Itu..."

"Saya tidak tahu, Mbak," bisik Bu Wati. "Tapi Tuan Carlo menyuruh saya menyebut Mbak 'keponakan'. Seolah Mbak..." Ia tak sanggup melanjutkan.

*Seolah aku tidak pernah ada.*

---

Malam itu Carlo datang sekitar pukul sepuluh, membawa kotak kue dan senyum yang dipoles rapi.

Andien menyambutnya di pintu. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Ia mengambil jas dari tangan Carlo dan menggantungnya, seperti istri yang baik.

"Mas capek?"

"Sedikit." Carlo mengecup keningnya, dan Andien menahan keinginan untuk memalingkan wajah. "Kamu kenapa? Matamu bengkak."

"Kelilipan debu di kebun."

"Hati-hati."

Mereka duduk di sofa. Carlo bercerita tentang rapat dan klien dan kemacetan, kata-kata mengalir tanpa henti, seolah ia takut pada keheningan. Andien mendengarkan sambil menatap tangan kiri pria itu. Garis pucat di jari manisnya sudah hampir hilang, ditutupi cincin emas tipis yang kali ini ia pakai, cincin pernikahan yang bukan dari Andien.

*Bodoh,* pikirnya. *Aku bodoh sekali. Selama ini ia tak pernah sembunyikan apa-apa. Aku saja yang tak mau melihat.*

"Mas," potongnya lembut. "Dien boleh tanya satu hal?"

"Tentu."

"Kalau suatu hari Mas harus memilih antara aku dan sesuatu yang lain, Mas pilih apa?"

Carlo tertawa, tetapi tawanya sumbang. "Pertanyaan apa itu?"

"Cuma ingin tahu."

Ia menatap Andien lama, sorot matanya berubah, ada sesuatu di sana yang hampir menyerupai ketakutan. Tangannya terulur dan menangkup pipi gadis itu.

"Kamu," katanya. "Selalu kamu."

Andien tersenyum. Senyum paling rapi yang pernah ia buat seumur hidup.

Dan Carlo, yang tak pernah gagal membaca ekspresi lawan di ruang rapat, tak menyadari bahwa itu adalah senyum seseorang yang baru saja belajar berbohong.

---

Jauh setelah Carlo tertidur, Andien duduk sendirian di tepi jendela. Di tangannya ada kartu nama yang selama ini ia sembunyikan di bawah gulungan benang.

*dr. Laras Prameswari, Sp.PD.*

Ia memandanginya sampai tulisan itu kabur. Ada dua jalan di depannya. Ia bisa menelepon Laras malam ini, mengaku, memohon maaf, membongkar semuanya, dan menanggung akibatnya. Atau ia bisa diam, bertahan, berharap Carlo benar-benar punya penjelasan.

Cahaya bulan jatuh pada cincin emas di jarinya, cincin murah yang dibeli di toko emas desa, yang tadinya ia kira lambang kesetiaan.

Ia memutar cincin itu pelan, sekali, dua kali. Lalu, untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, Andien tidak menangis, tidak berdoa, dan tidak berharap.

Ia hanya mengingat satu hal. Pesan ibunya di teras gubuk, pagi itu: *kalau ada apa-apa, pulang.*

Namun pulang berarti mengakui bahwa ia telah ditipu. Dan di dasar hatinya, di bagian yang paling keras kepala dan paling bodoh, ia masih ingin mendengar kebenaran itu dari mulut Carlo sendiri.

Di meja rias, ponsel Carlo menyala dalam gelap. Sebuah pesan masuk dari kontak bernama *Laras ❤️*.

*Mas, aku tahu kamu berbohong. Besok kita bicara.*

Andien membacanya dari tempatnya duduk. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bukan hanya dirinya yang sedang terperangkap dalam permainan ini.

---

*Bersambung ke Bab 6...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!