Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran 2
Naya mengalihkan pandangannya kepada sang kakak sambil menatap lurus ke manik mata sang kakak itu.
"Dan kamu, Mbak Diandra. Kelihatannya kamu ini tidak punya keahlian selain iri dan mengambil punya orang? Sepertinya kamu memang sangat iri padaku yah sampai mau mengambil semua orang yang aku dapatkan dengan mudah?".
"Kamu kayaknya tidak laku ya jika tidak merebut orang-orang yang menjadi bekasku?"
Rentetan hinaan dari Naya membuat Diandra tidak bisa mengontrol emosinya. Dia akhirnya melupakan akting depresinya karena emosi dan tidak terima.
"Jangan kurang ajar, Naya! Aku tidak merebut mereka semua, mereka terpikat olehku!, Harusnya kamu yang ngaca mengapa mereka semua meninggalkanmu untuk bersamaku!"
Dia berdiri kemudian berjalan mendekati Naya yang kini menatapnya dengan senyum miring dan bersedekap dada.
"Oh ya, masa sih, Mbak?" ucapnya dengan tatapan meremehkan.
"Tentu saja, aku lebih segalanya darimu. Memang apa yang diharapkan dari wanita sepertimu?, Bahkan kamu itu cuma lulusan SMA dan bahkan tidak punya penghasilan tetap."
"Aku lulusan SMA?" tunjuknya pada diri sendiri kemudian tertawa keras.
"Aku bukan lulusan SMA, Mbak, dan kalian semua harus tahu itu. Aku Sarjana S2, silakan tanya Bimo kalau dia berani berkata jujur!".
Bimo menelan ludahnya dengan sukar. Selama ini dia membohongi semua orang jika Naya hanya lulusan SMA dan hanya bekerja di rumah biasa untuk tetap menjaga harga dirinya, padahal dia memang lulusan S2. Dia langsung diam seribu bahasa ketika semua mata tertuju padanya.
"Alah omong kosong, tidak usah mengelak deh. Kamu itu jangan terlalu banyak halu!" sungut Diandra.
Naya terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya mendengar hinaan sang kakak yang tidak masuk akal.
"Mereka tidak akan pergi dan berpaling dariku, Mbak, kalau kamu tidak menggodanya, Mbak. Bahkan di hari terakhir sebelum perginya Mas Agam, dia bahkan menyesal karena menikah denganmu. Dia tahu kamu itu perempuan pengkhianat, itu sebabnya dia mengalami kecelakaan karena dia melihat sendiri kamu berselingkuh darinya!" teriaknya dengan penuh emosi.
Dia memang mengetahui hal itu karena Agam memberitahunya ditelpon saat itu tapi sebelum mengatakan siapa yang lelaki selingkuhan istri nya itu kecelakaan itu terjadi,
Keheningan pecah seketika. Wajah mereka langsung menegang mendengar perkataan Naya yang sangat mengejutkan itu
Wajah Diandra memutih lalu memerah. Tangannya bergetar hebat, dia tidak terima dihina seperti itu walau tubuhnya menegang mendengar hal itu.
Dia tidak menyangka jika Agam sudah mengetahui hal itu bahkan sampai mengalami kecelakaan tapi dia harus bisa membela dirinya sekarang, dia tidak mau Naya menginjak harga dirinya dihadapan semua keluarga, apalagi selama ini mereka mengenalnya sebagai perempuan baik.
"JAGA MULUTMU, NAYA!". Jeritnya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Naya sehingga wajah teroleh kesamping. Semua orang tersentak menatap Diandra tidak percaya.
"Bagaimana bisa orang sepolos dan sebaik Diandra bisa mengamuk dan menampar orang seperti itu.
Naya tidak mundur. Dia justru tersenyum tipis sambil mengusap pipinya yang memanas kemudian menatap Diandra dengan senyum miring
"Kenapa? Kena mental ya, Mbak?, Takut semua orang tahu kalau Mas Agam mati bukan karena kecelakaan biasa, tapi karena melihat istrinya sendiri berzina di ranjangnya?".
"DIAM! KAMU FITNAH!". Diandra menjambak rambut Naya dengan brutal.
Bimo panik. Dia langsung menarik tubuh Diandra ke belakang.
"Cukup, Diandra! Hentikan!". Bentaknya, tapi tangannya justru gemetar.
Dia takut jika Naya tahu jika dirinya lah orang yang dilihat Agam saat itu, bisa habis dia jika sampai semua itu ketahuan
Adam maju dengan napas memburu. "Naya! Apa maksud ucapanmu itu?! Jangan bawa-bawa orang yang sudah mati!".
Naya tertawa dingin, menatap ayahnya lurus. Sedangkan Adam tersentak melihat tatapan sang anak yang seolah mengatakan jika semua itu adalah kebenarannya.
"Ayah mau bukti? Tanya Bimo. Dia yang mengurus laporan polisi Mas Agam dulu, kan?, Dia yang menutupi semuanya demi menjaga nama baik keluarga ini!".
Semua mata kini tertuju pada Bimo. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengucur deras. Dia sekarang ketakutan setengah mati jika ibunya tahu dia menjadi selingkuhan Diandra saat itu, ibunya pasti sangat murka padanya, dia sangat benci sama Pelakor itu sebabnya dia mengizinkan Bimo menikah dengan Diandra untuk mencegah hal itu.
"Nay... jangan... jangan buka di sini..." bisiknya memelas.
Dia segera memegang tangan sang istri dan membawanya menjauh tapi Naya menepis tangannya dengan kasar.
"Kenapa takut, Mas? Bukankah kamu suami yang katanya pegawai pemerintah jujur itu? Atau kamu juga ikut berselingkuh dengan kakakku di belakangku?". Tanyanya dengan pelan dan penuh penekanan
Lastri langsung menjerit histeris. "Bimo! Jawab! Apa ini benar?!"
Suasana ruang tamu itu berubah menjadi medan perang. Diandra menangis histeris menutupi wajahnya, Adam terduduk lemas, Rahayu memegangi dadanya sesak.
Dan Naya hanya berdiri tegak di tengah kekacauan itu, menatap mereka satu per satu dengan tatapan puas yang dingin.
"Usir aku? Silakan. Tapi aku pastikan, setelah hari ini, tidak ada satu pun dari kalian yang bisa hidup tenang."
Naya berjalan ke arah pintu utama dan membukanya lebar-lebar.
Udara malam masuk, dingin menusuk.
"Keluar!!."
Satu kata itu membuat semua orang menoleh.
"Apa maksudmu, Naya?" suara Adam bergetar.
Naya menunjuk pintu dengan dagunya, tatapannya tidak goyah.
"Aku bilang KELUAR. Dari rumahku. Sekarang."
"Kamu tidak bisa mengusir kami! Aku ayahmu!". Adam berdiri dengan marah.
Naya tertawa sinis. "Ayah? Ayah yang bahkan tidak pernah menganggapku anak? Ayah yang menjualku demi Diandra? Maaf, Ayah sudah bukan siapa-siapa di rumah ini."
Dia menoleh ke Bimo yang masih mematung.
"Dan kamu. Ambil keluargamu, ambil kakakku tersayang itu, dan pergi dari hidupku. Aku akan kirim surat cerai besok pagi."
"Naya, jangan begini... kita bisa—" Bimo melangkah maju memohon.
"Diam!" potong Naya tajam. "Satu langkah lagi kamu maju, aku panggil satpam dan aku pastikan video perselingkuhan kakakku itu tersebar ke kantor dinasmu. Mau coba?"
Wajah Bimo langsung pucat. Dia tahu Naya tidak main-main.
Lastri yang tadinya sombong kini hanya bisa menarik tangan Sari yang menangis ketakutan.
"Kita pergi, Bimo. Perempuan gila ini sudah kerasukan!" desisnya, tapi suaranya bergetar.
Satu per satu mereka berjalan keluar dengan kepala tertunduk. Diandra yang masih histeris diseret oleh Rahayu.
Sebelum Adam keluar, Naya menahan pintu.
"Mulai malam ini, jangan pernah injakkan kaki kalian lagi di sini tanpa izinku. Anggap saja anak tengah kalian ini sudah mati, seperti kalian selalu menganggapku tidak ada."
Brak!
Pintu dibanting keras tepat di depan wajah mereka.
Naya menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya terengah. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh juga.
Tapi kali ini bukan air mata lemah. Ini air mata kemenangan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak mengalah.
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal