NovelToon NovelToon
Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:146.3k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.

Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.

Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.

Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.

Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.

BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir Paling Tidak Terduga

"Malam, Fira. Kamu kelihatan lelah sekali hari ini," sapa Mbak Mega, pengawas sif malam itu, saat melihat Safira sedang memakai sedikit bedak di depan cermin loker.

Safira menoleh dan tersenyum tipis. "Malam, Mbak Mega. Hanya sedikit kelelahan karena urusan dinas kantor pagi tadi. Tapi saya siap bekerja kok."

"Bagus. Malam ini ada reservasi penuh di area sofa VIP lantai dua. Tugasmu seperti biasa ya, Fir. Kamu hanya bertugas mengantarkan baki berisi minuman dari bar utama ke meja tamu, lalu langsung kembali ke bar setelah meletakkannya. Jangan meladeni obrolan tamu yang sudah mabuk, dan kalau ada yang macam-macam, langsung pencet tombol darurat di pilar." pesan Mbak Mega dengan nada memperingatkan.

Mbak Mega sengaja memberikan tugas paling aman itu kepada Safira karena dia tahu Safira adalah wanita baik-baik yang butuh uang mendesak, bukan wanita yang mencari hiburan atau kesenangan dunia malam.

Safira pintar menjaga jarak, pembawaannya yang lembut namun tegas membuat para tamu enggan untuk bertindak kurang ajar padanya.

"Baik, Mbak Mega. Terima kasih banyak," jawab Safira lembut.

Tepat pukul delapan malam, pintu utama kelab dibuka dan dentuman musik bergenre lounge mulai menggema rendah memadati ruangan. Cahaya lampu berganti menjadi temaram bernuansa ungu dan merah tua, menciptakan ilusi kemewahan yang semu.

Safira mulai bekerja. Kedua tangannya yang lentik mengangkat sebuah baki perak yang cukup berat, berisi beberapa gelas kristal dan botol minuman beralkohol mahal.

Dengan langkah kaki yang anggun dan stabil, dia menyusuri anak tangga menuju area sofa VIP di lantai dua, mengantarkan pesanan dengan sikap yang teramat sopan.

"Ini pesanannya, Tuan. Silakan dinikmati," ucap Safira lembut sembari meletakkan gelas minuman di atas meja kaca tamu dengan posisi yang presisi tanpa menimbulkan suara dentingan yang mengganggu.

"Terima kasih, Manis." sahut salah seorang tamu pria paruh baya dengan pakaian necis, mencoba melirik wajah cantik Safira.

Safira hanya mengangguk sopan dengan senyuman formal, lalu segera membalikkan badannya dengan anggun dan berjalan kembali menuju koridor belakang, menghindari interaksi lebih lanjut.

Pekerjaan ini sangat menguras fisiknya yang sudah kelelahan sejak rapat pleno pagi tadi. Kakinya yang terbalut sepatu hak tahu setinggi lima senti mulai terasa pegal dan berdenyut nyeri karena harus terus berjalan bolak-balik membawa beban baki selama berjam-jam.

Namun, setiap kali rasa lelah itu mendera, Safira akan selalu mengingatkan dirinya sendiri pada lembar kertas tagihan utang yang harus ia bayar akhir bulan nanti.

'Tinggal beberapa bulan lagi... jika aku bisa mempertahankan ritme kerja keras ini, sisa utang pokoknya akan berkurang drastis.' semangati Safira di dalam hatinya, sembari mengeringkan keringat di lehernya dengan selembar tisu di balik pilar bar.

Malam semakin larut, dan suasana di dalam kelab malam itu semakin riuh oleh gelak tawa para kaum ekspatriat dan pengusaha muda yang ingin melepas penat. Safira terus bergerak seperti robot bernyawa, mengantarkan minuman demi minuman, mengabaikan bisingnya dunia malam yang sangat kontras dengan kesunyian jiwanya.

Dia sama sekali tidak tahu, dan tidak pernah membayangkan, bahwa duniaku yang ia coba sekat dengan rapat antara siang dan malam ini, perlahan-lahan mulai retak.

Di salah satu sudut ruangan VIP lantai dua yang gelap, beberapa pasang mata dari kalangan pebisnis kelas atas mulai berdatangan untuk menikmati malam.

Dan takdir, dengan cara yang paling tidak terduga dan kejam, sedang bersiap untuk mempertemukannya kembali dengan bahaya terbesar dalam hidupnya, meruntuhkan seluruh dinding persembunyian yang telah ia bangun dengan tetesan air mata selama tiga tahun ini.

Asap rokok aromatik mengepul tipis di bawah siraman cahaya lampu LED temaram bernuansa ungu gelap dan merah darah di area lounge VIP lantai dua The Velvet Room. Dentuman bas musik house yang beritme konstan terasa menggetarkan permukaan lantai marmer dan dinding-dinding berlapis beludru hitam. Di sudut ruangan yang paling privat, tersembunyi di balik partisi kaca buram yang eksklusif, Gavin Alvaro Abraham duduk dengan keangkuhan yang mutlak.

Malam ini, Gavin terpaksa memenuhi ajakan para kolega bisnis dan sahabat-sahabat lamanya setelah seharian penuh menguras energi memimpin rapat konsolidasi di gedung pusat.

Di sebelah kanannya, Raditya dan Erlangga sedang asyik berbincang mengenai pergerakan nilai tukar valuta asing, sementara Bastian duduk bersandar sembari sesekali memeriksa jam tangan mekanisnya.

Gavin sendiri tidak banyak bicara. Dia mengenakan kemeja kasual hitam premium dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan lengan bawahnya yang kokoh dan berurat.

Jemari tangannya yang panjang bergerak pelan, memutar-mutar korek api gas berlapis emas di atas meja kaca, sementara sepasang mata elangnya menatap kosong ke arah lantai bawah kelab dengan binar dingin yang mematikan.

"Vin, lu beneran bakal mindahin staf admin yang mirip mantan istri lu itu ke lantai dua puluh sembilan besok pagi?" tanya Erlangga setengah berbisik, memajukan tubuhnya demi mengalahkan bisingnya suara musik.

Gavin tidak menoleh. Bibirnya hanya terkatung rapat, membentuk garis lurus yang kaku.

"Semua mutasi di dalam Abraham Group didasarkan pada kebutuhan rekonsiliasi data secara presisi. Tidak ada urusan personal," jawabnya berat, datar, dan sarat akan penekanan yang mutlak.

Bastian yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, tahu betul bahwa di balik topeng profesionalisme itu, ada singa yang sedang menyusun rencana kejam.

"Oke, Tuan Presdir. Kita lihat seberapa lama lu bisa bersikap formal kalau berhadapan sama dia setiap hari." seru nya.

Tepat pada saat itu, dari balik tirai hitam yang membatasi koridor pelayan, seorang wanita melangkah masuk ke area sofa VIP mereka. Wanita itu berjalan dengan kepala yang sedikit menunduk, kedua tangannya memegang sebuah baki perak besar yang berisi satu botol Macallan langka dan empat gelas kristal kosong.

Dia adalah Safira Angela.

Rambut panjang Safira yang hitam kecokelatan dibiarkan tergerai indah, membingkai wajah lembutnya yang tampak sedikit lelah namun tetap memancarkan kecantikan yang murni. Gaun hitam selutut dengan celemek putih kecil di pinggangnya melekat pas pada tubuhnya yang ramping. Langkah kakinya anggun dan konstan, meniti jarak menuju meja kaca tanpa menyadari siapa sosok yang sedang duduk di kegelapan sudut sofa.

"Permisi, Tuan. Ini pesanan minuman untuk meja nomor empat belas," ucap Safira lembut, suaranya yang jernih dan tenang terdengar begitu kontras di tengah bisingnya atmosfer kelab malam.

Dengan gerakan yang teratur dan penuh tata krama, Safira berlutut dengan satu kaki di dekat meja kaca untuk menurunkan botol minuman yang cukup berat itu dari bakinya. Namun, ketika jemari lentiknya baru saja menyentuh leher botol, matanya tanpa sengaja bergulir ke arah atas, menatap pas pada sosok pria yang duduk tepat di hadapannya.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Wardi's
berat banget ceritanya., gqk ada bencanda2nya ya ka orhor..
irma hidayat
sekarang giliran para penjahat yg menuai buah perbuatanya
sunaryati jarum
Kebahagiaan kamu bertambah dengan sadarnya Aldi kakakmu Sekar,tentu hal tidak lepas dari bantuan suamimu yang meminta tempat perawatan terbaik.
sunaryati jarum
Nikmati kebersamaan dan kebahagiaan kalian
Rahma Inayah
diuar Gavin dan Fira SPT org asing hanya dimas yg tau klu mrk suami istri tp di rumh suami istri yg mn Gavin sllu menempel SPT lem PD safira
Rahma Inayah
demi.membela.sang mantu demi utk keadilannya sang papa mertua turun Langs buatemasukan Haryo ke jeruji besi .mn bisa membongi Kel Abraham group
Rahma Inayah
Gavin didpn Safira lemah lembut tp saat berada di meja CEO dingin ,tegas tak tersentuh jgn kan menegur senyum pun mahal
sunaryati jarum
so sweet banget Pak Bos
sunaryati jarum
Segera tumbuh kecebong kamu Gavin
irma hidayat
lanjut thor💪
Rahma Inayah
semoga Safira segera hamil biar perlu hamil ank kembar..🤭🤭
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut thorr👍
tari
semangat thor
up yang banyak dong thor
Silvia
cerita nya bagus
Lala_Syalala: Terima kasih sudah mampir baca kak,,, semoga selalu suka ya sama ceritanya🙏🙏 😊😊🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
irma hidayat
mantap papa romi langsung jegal niat busuknya
irma hidayat
bucin akut gavin
irma hidayat
mantap gavin suami idaman banget
Lovita BM
Akhirnya 🥳
𝐈𝐬𝐭𝐲
Gavin langsung buka puasa...😂😂
Euis Amalia
yeay... lepas kangenn yg romantisss... senang bacanyaaa👍😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!