Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Punya Kamu
Ponsel itu terus berdering di antara wajah mereka.
"Turun," bisik Laras.
Bram justru mendekatkan layar. "Cepat. Nanti abangku sedih."
Laras merampas ponselnya, lalu mendorong dada Bram dengan telapak tangan. Lelaki itu bergeser sedikit, cukup untuk membiarkannya duduk, tetapi tetap berada di atas kasur dengan senyum yang mengundang tamparan kedua.
Panggilan berhenti.
Laras baru mengembuskan napas ketika layar kembali menyala.
Calon Suami.
"Dia gigih juga," komentar Bram.
"Diam."
Laras menekan tombol terima. Ia memastikan hanya wajahnya yang masuk ke kamera, lalu menyadari panggilan itu hanya suara. Untunglah. Rambutnya berantakan dan selimut Bram masih membungkus tubuhnya sampai dada.
"Halo, Mas Radit."
"Akhirnya diangkat." Suara Radit terdengar hangat. Tidak ada jejak lelaki yang beberapa jam lalu berada di balik pintu bersama asistennya. "Kamu di mana, sayang? Orang yang kusuruh antar sarapan bilang kamarmu kosong."
Laras menahan tatapannya pada dinding. "Aku sudah pulang lebih dulu."
Bram yang sedang meraih gelas air berhenti.
"Pulang?" Radit terdengar terkejut. "Kenapa nggak bilang?"
"Kirana sakit kepala. Aku ikut ke tempatnya sebelum subuh. Dia nggak mau menyetir sendiri."
Kebohongan itu keluar dengan mulus. Kirana memiliki satu vila kecil di sisi lain kompleks Nayaka Springs. Kalau Radit bertanya kepada petugas, Laras bisa saja berdalih mereka keluar lewat jalur privat keluarga Nayaka.
Bram mengangkat gelas ke arah Laras, seolah bersulang untuk kebohongannya.
Laras memalingkan wajah.
"Aku bisa mengantar kalian," kata Radit. "Seharusnya kamu bangunkan aku."
Di belakang suaranya, Laras mendengar bunyi mesin mobil dan seseorang menutup pintu. Rupanya Radit sama sekali belum pulang ke Jakarta.
"Kamu kelihatan sibuk semalam."
Kalimat itu lolos sebelum sempat ia tahan.
Bram menutup mulut dengan punggung tangan, tetapi bahunya bergerak menahan tawa.
Radit terdiam sesaat. "Maksudmu?"
"Kamu menghilang dari pesta. Aku pikir ada urusan kantor."
"Oh, itu." Nada Radit kembali ringan. "Tiara menerima telepon dari tim Cakrawala. Ada masalah dengan dokumen izin. Aku membantunya sebentar."
Laras memejamkan mata.
Bahkan alasan yang dipilihnya masih Proyek Cakrawala. Proyek yang dijadikan kedua keluarga sebagai tali di leher Laras, kini dipakai pula untuk menutupi perselingkuhan.
"Begitu, ya," jawabnya.
Bram mengulurkan tangan, mengambil satu helai rambut yang menempel di bibir Laras. Laras menepisnya, tetapi gerakan itu membuat seprai bergeser dan kasur berderit.
"Kamu sama siapa?" tanya Radit tiba-tiba.
"Kirana."
"Aku dengar suara."
Bram membungkuk ke dekat ponsel. "Pagi, Mas."
Laras menutup mikrofon dengan telapak tangan dan menendang pahanya. Bram menangkap pergelangan kakinya sebelum sempat mengenai sasaran.
"Apa?" Radit bertanya.
"Televisi," kata Laras cepat. "Kirana menyalakan televisi."
"Kedengarannya seperti suara lelaki."
"Acara pagi memang ada pembawa acara lelaki, Mas."
Bram menunduk di dekat lututnya, tertawa tanpa suara. Laras menendangnya lagi, kali ini berhasil mengenai rusuk. Ia hanya mengusap bagian itu dengan wajah puas.
"Aku bercanda," kata Radit. "Jangan tegang begitu."
"Aku nggak tegang."
"Aku harus kembali ke Jakarta lebih cepat. Masalah Cakrawala ternyata lebih rumit. Sarapan sudah kukirim ke kamarmu, tapi karena kamu sudah pergi, nanti biar sopir menjemputmu di tempat Kirana."
Perhatian yang sempurna. Jadwal yang diatur. Sarapan yang dikirim. Sopir yang disiapkan.
Kalau Laras tidak melihat sendiri apa yang terjadi semalam, ia mungkin masih mengira dirinya perempuan paling beruntung di ruangan mana pun.
"Nggak perlu," katanya. "Aku akan pulang dengan Kirana."
"Aku lebih tenang kalau sopirku yang mengantar."
"Mas Radit, aku bukan anak kecil."
Ada jeda tipis sebelum Radit tertawa. "Baiklah. Kabari aku kalau sudah sampai."
"Iya."
"Aku sayang kamu."
Laras menatap bekas merah di leher Bram.
"Aku tutup dulu."
Ia memutus panggilan sebelum Radit sempat mengulang kalimatnya.
Bram bersiul pendek. "Dingin banget. Kasihan abangku."
"Semua ini salahmu."
"Aku yang selingkuh sama Tiara?"
"Kamu sengaja hampir membuatku ketahuan."
"Tapi nggak ketahuan, kan? Ternyata kamu pintar bohong."
Laras mengambil bantal lain, tetapi Bram lebih cepat turun dari kasur. Ia melemparkan jubah hotel ke arah Laras.
"Pakai. Kalau mau kabur, jangan pakai selimut."
Laras menatap lantai. Gaunnya ada, tetapi hanya satu sepatu yang terlihat di dekat sofa.
"Sepatuku sebelah mana?"
Bram melihat sekeliling. "Mungkin ketinggalan di koridor."
"Nggak mungkin."
"Atau kamu lempar semalam. Aku nggak sempat bikin daftar inventaris."
Laras mengenakan jubah, mengikatnya erat, lalu turun dari ranjang. Baru dua langkah, rasa pegal membuatnya berhenti.
Bram menahan lengannya. "Pelan."
Laras menepis tangan itu. "Jangan pura-pura perhatian."
"Aku bukan pura-pura."
Nada Bram terlalu datar untuk sebuah ejekan. Laras menatapnya, tetapi lelaki itu sudah berbalik mengambil botol air.
Bel pintu berbunyi.
Keduanya membeku.
Bram melirik panel interkom di dinding. "Mungkin sarapan."
Bel berbunyi lagi, disusul ketukan tiga kali.
"Bram."
Suara Radit terdengar dari luar.
Darah Laras seperti berhenti mengalir.
Bram berjalan santai ke panel interkom dan menyalakan kamera. Wajah Radit memenuhi layar kecil. Di belakang bahunya berdiri Tiara dengan pakaian yang sudah kembali rapi dan rambut tersanggul rendah.
"Kenapa mereka ke sini?" bisik Laras.
"Mungkin abangku kangen adiknya."
"Jangan buka pintu."
"Kalau nggak kubuka, dia makin curiga."
Ketukan berikutnya lebih keras.
Laras berlari kecil menuju kamar tidur, lalu kembali untuk mengambil gaunnya. Sepatu yang ada di dekat sofa ia raih dengan satu tangan.
"Yang sebelah lagi?"
Bram menunjuk foyer.
Sepatu hak tinggi perak bertabur kristal itu tergeletak di dekat pintu masuk.
Laras hendak mengambilnya, tetapi gagang pintu sudah bergerak. Bram mendorong bahunya ke arah kamar.
"Masuk."
"Sepatuku."
"Terlambat."
Laras menyelinap ke kamar tidur dan menutup pintu tanpa suara. Ia menjatuhkan diri di sisi ranjang, menarik selimut untuk menutupi gaun dan sepatu di tangannya, lalu menahan napas.
Dari ruang depan terdengar pintu utama dibuka.
"Pagi-pagi begini sudah inspeksi?" suara Bram terdengar santai.
"Aku mau pamit. Kita harus kembali ke Jakarta," jawab Radit. "Kamu belum tidur?"
"Baru bangun."
"Kelihatannya semalam cukup ramai."
Laras menatap pintu kamar. Dari celah bawahnya, bayangan kaki bergerak.
"Biasa," kata Bram.
"Lehermu kenapa?"
Kesunyian menggantung.
Laras menyentuh kuku jarinya sendiri. Garis merah di leher Bram. Bekas gigitannya dekat tulang selangka. Gelas air, dua bantal di lantai, gaun yang tadi ia bawa terburu-buru. Jejak mereka ada di mana-mana.
"Digigit," jawab Bram akhirnya.
"Aku bisa lihat." Suara Radit menjadi lebih rendah. "Semalam sama cewek siapa?"
Di balik pintu kamar, Laras memejamkan mata.
Bram tertawa kecil.
"Punya kamu."
Tak ada jawaban.
Laras membuka mata. Melalui celah pintu yang belum tertutup sempurna, ia melihat kepala Radit perlahan menoleh ke foyer.
Tatapannya jatuh pada sepatu hak tinggi perak bertabur kristal di dekat pintu.
Sepatu yang dipakai Laras semalam.
Wajah Radit mengeras.