Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Bayangan di Balik Pilar
Seminggu sebelum Festival Penentuan, Chu Feng akhirnya menyadari bahwa dirinya sedang diawasi.
Bukan karena kecerobohan si pengintai—pria berjubah abu-abu itu cukup terlatih untuk tidak meninggalkan jejak yang jelas. Melainkan karena Mata Dewa milik Chu Feng, yang kini bisa ia pertahankan hampir sepuluh napas penuh setiap kali diaktifkan, mulai menangkap sesuatu yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya: pola energi tubuh manusia yang bersembunyi, berbeda dari yang bergerak bebas di sekitarnya.
Pagi itu, saat berlatih di sudut terpencil lapangan, ia merasakannya lagi—sebuah kehadiran samar di balik pilar batu tua di ujung lapangan, aliran qi yang sengaja ditekan serendah mungkin agar tidak terdeteksi oleh kultivator biasa.
Chu Feng tidak menghentikan latihannya. Ia melanjutkan gerakan tombak dasarnya dengan tenang, seolah tidak menyadari apa pun, sambil diam-diam mengarahkan sedikit Mata Dewa untuk mengonfirmasi apa yang ia rasakan.
Benar. Ada seseorang di sana.
"Kau menyadarinya," suara di dalam dirinya berkomentar, nada waspada. "Sudah berapa lama menurutmu dia mengawasimu?"
Entahlah, pikir Chu Feng, tidak mengucapkannya keras-keras agar tidak mencurigakan. Tapi ini bukan kali pertama aku merasa diawasi belakangan ini.
Ia menyelesaikan rangkaian gerakannya seperti biasa, lalu berjalan santai menuju sumur kecil di dekat lapangan untuk minum, seolah tidak terjadi apa pun. Namun alih-alih kembali ke paviliunnya setelah itu, ia mengambil jalan memutar—melewati koridor sempit di belakang gudang senjata, sebuah jalan pintas yang jarang diketahui orang karena jarang digunakan.
Di sanalah ia berbalik tiba-tiba, tombak latihannya sudah terarah ke arah bayangan yang mengikutinya diam-diam sejak lapangan.
"Kau bisa keluar sekarang," katanya, suaranya tenang namun tegas. "Atau haruskah aku menganggapmu sebagai ancaman?"
Hening sejenak. Kemudian, dari balik tumpukan kayu bakar di sisi gudang, pria berjubah abu-abu itu melangkah keluar, wajahnya sedikit terkejut namun mencoba menutupinya dengan sikap tenang.
"Yang Mulia terlalu curiga," katanya, membungkuk formal. "Hamba hanya kebetulan lewat."
"Kebetulan," Chu Feng mengulangi, matanya menyipit. "Kebetulan yang sama seperti tiga hari lalu di dekat perpustakaan? Atau kebetulan lima hari lalu di lapangan latihan barat?"
Wajah pria itu sedikit memucat. Chu Feng sebenarnya hanya menebak—ia baru benar-benar merasakan kehadiran ini dua kali sebelumnya, tapi reaksi si pengintai sudah cukup mengonfirmasi bahwa tebakannya tidak jauh dari kebenaran.
"Hamba tidak tahu apa yang Yang Mulia maksud," pria itu mencoba mempertahankan sikap tenangnya, meski suaranya sedikit bergetar.
Chu Feng menatapnya lama, mempertimbangkan pilihannya. Ia bisa mendesak lebih jauh, memaksa pria ini mengakui siapa yang mengutusnya—kemungkinan besar sudah bisa ia tebak. Tapi itu akan mengungkap terlalu banyak tentang kemampuannya sendiri, sesuatu yang belum ingin ia perlihatkan sebelum Festival Penentuan tiba.
"Baiklah," katanya akhirnya, menurunkan tombaknya. "Kalau begitu, sampaikan pada siapa pun yang mengutusmu—kalau memang ada yang mengutus—bahwa aku hanya berlatih untuk festival seperti yang lain. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari seorang pangeran tanpa bakat."
Ia sengaja mengucapkan kalimat terakhir itu dengan nada datar yang sama seperti biasa ia gunakan di depan umum—topeng yang sudah bertahun-tahun ia pelihara, kini ia gunakan kembali dengan sengaja untuk menyesatkan.
Pria itu mengangguk cepat, lalu bergegas pergi tanpa menunggu lebih lama, jelas lega bisa lolos dari konfrontasi yang lebih rumit.
Chu Feng menatap kepergiannya, ekspresi tenangnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam.
Chu Yan mulai memperhatikanku.
"Apa itu masalah?" tanya suara di dalam dirinya.
Belum, jawab Chu Feng dalam hati, melanjutkan langkahnya kembali ke paviliun. Tapi aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Festival tinggal seminggu lagi, dan aku belum siap menunjukkan kartuku pada siapa pun—apalagi pada Kakak Keenam.
Malam itu, ia menceritakan kejadian tersebut pada Lao Sun sambil menyantap makan malam sederhana di paviliunnya.
"Chu Yan memang selalu waspada, Yang Mulia," kata Lao Sun, wajahnya sedikit khawatir. "Sejak kecil, dia dikenal sebagai yang paling teliti di antara semua putra kaisar, meski jarang menunjukkannya secara terbuka."
"Aku tahu," Chu Feng mengangguk pelan. "Itu sebabnya aku harus lebih hati-hati dari sekarang. Kalau dia mulai curiga sebelum festival dimulai, dia bisa menyiapkan sesuatu yang tidak kuinginkan."
"Apa Yang Mulia yakin sudah siap untuk festival itu sendiri?"
Chu Feng terdiam sejenak, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan jujur. Kultivasinya memang berkembang jauh lebih cepat dari yang seharusnya, tapi ia masih baru membuka meridian kedua—jauh dari level yang dimiliki saudara-saudaranya yang lain, terutama Chu Yan yang sudah mencapai tingkat Lautan Qi sejak dua tahun lalu.
"Belum sepenuhnya," jawabnya jujur. "Tapi aku tidak butuh menang di setiap pertandingan, Paman Sun. Aku hanya butuh bertahan cukup lama untuk tidak mempermalukan diri—dan lebih penting lagi, untuk tidak menunjukkan terlalu banyak."
Lao Sun mengangguk, meski kekhawatiran di wajahnya belum sepenuhnya hilang. "Hamba hanya berharap Yang Mulia tidak meremehkan bahaya festival ini. Beberapa pertandingan bisa menjadi ganas, terutama ketika taruhannya adalah takhta kerajaan."
"Aku tahu," Chu Feng menatap keluar jendela, ke arah lapangan besar yang mulai dipersiapkan untuk festival—panggung kayu yang sudah setengah jadi, bendera-bendera Kerajaan Chu yang mulai dikibarkan di sekelilingnya. "Dan justru karena itu, aku tidak akan membiarkan diriku lengah."
Tiga hari sebelum festival dimulai, sebuah undangan resmi tiba di paviliun Chu Feng—sesuatu yang jarang sekali terjadi mengingat posisinya yang selalu dianggap tidak penting dalam urusan protokol istana.
Undangan itu berasal dari paviliun tamu kehormatan, ditandatangani dengan tulisan tangan yang rapi dan elegan.
Chu Feng,
Aku dengar festival akan dimulai lusa. Sebelum itu, maukah kau menemaniku berjalan-jalan sore ini? Aku ingin melihat lebih banyak wilayah kerajaan ini sebelum semuanya sibuk dengan festival.
—Su Yue
Chu Feng menatap undangan itu cukup lama, sebuah perasaan hangat yang sudah lama tidak ia rasakan perlahan menjalar di dadanya. Di tengah semua persiapan, ketegangan dengan Chu Yan, dan misteri yang belum terpecahkan tentang ibunya, undangan sederhana ini terasa seperti jeda yang tidak terduga—namun diterima dengan senang hati.
"Kau tersenyum lagi," komentar suara di dalam dirinya, kali ini tanpa nada mengejek seperti biasanya, melainkan sesuatu yang lebih lembut. "Nikmatilah selagi bisa, Pangeran Ketujuh. Jalan yang akan kau tempuh setelah ini tidak akan selalu semudah ini."
Chu Feng tidak sepenuhnya memahami maksud dari kata-kata itu saat itu. Tapi ia melipat undangan tersebut dengan hati-hati, menyimpannya di balik jubahnya, lalu bersiap untuk sore yang—untuk sesaat—membuatnya bisa melupakan semua beban yang menantinya.
Ia tidak tahu bahwa jeda kecil ini, seindah apa pun kelihatannya sekarang, kelak akan menjadi salah satu kenangan yang paling ia rindukan—sekaligus paling menyakitkan untuk dikenang—di antara semua yang akan terjadi setelahnya.