Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Tamu Tak Diundang
Malam itu, penginapan mereka di distrik pengrajin terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara jangkrik dan angin malam yang mengisi kekosongan setelah pertemuan tegang dengan Nyonya Rui.
Ji Ming mendapat giliran jaga kedua, duduk di dekat jendela kamar bersama Xiao Mu dan Xiao Yu yang keduanya tampak lebih waspada dari biasanya, seolah merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan Ji Ming sendiri.
Sekitar tengah malam, Xiao Yu tiba-tiba terbangun dari posisi istirahatnya, cahaya matanya menyala terang, dan melalui ikatan jiwa yang kini semakin kuat, Ji Ming merasakan gambaran samar—sesosok bayangan bergerak lincah di atap-atap bangunan sekitar penginapan, mendekat dengan gerakan yang jelas terlatih dan bertujuan.
"Ada seseorang di luar," Ji Ming berbisik, membangunkan Yun Xia yang tidur di kamar sebelah dengan mengetuk dinding pelan—kode sederhana yang mereka sepakati sejak perjalanan panjang bersama.
Yun Xia muncul dalam hitungan detik, pedang sudah di tangan, matanya waspada menyapu kegelapan di luar jendela. "Berapa banyak?"
"Sepertinya hanya satu, tapi bergerak seperti seseorang yang tahu persis apa yang ia lakukan."
Mereka berdua bergerak diam-diam membangunkan yang lain, dan dalam beberapa menit seluruh rombongan sudah berkumpul di ruang tengah penginapan yang gelap, bersiaga tanpa menyalakan lentera yang bisa menarik perhatian.
Sosok bayangan itu akhirnya muncul di atap seberang, melompat turun dengan anggun ke halaman kecil penginapan, jubahnya yang gelap nyaris tak terlihat dalam kegelapan malam kecuali garis tipis sulaman perak di ujungnya—lambang yang membuat Tetua Kang tersentak begitu melihatnya jelas di bawah cahaya bulan.
"Wakil Tetua Sun," Tetua Kang berbisik, suaranya campuran terkejut dan waspada. "Kenapa kau di sini?"
Sosok itu—seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di dagu—berhenti di tengah halaman, tangannya santai namun matanya penuh perhitungan seorang kultivator berpengalaman.
"Aku dikirim Dewan Tetua begitu laporan dari gerbang kota sampai ke Puncak Elang Hitam, Tetua Kang," Wakil Tetua Sun menjawab, suaranya datar namun mengandung ancaman tersembunyi. "Beberapa dari kami khawatir dengan 'investigasi khusus' yang kau sebutkan pada penjaga gerbang itu. Terutama karena Dewan sendiri tidak pernah mengetahui investigasi semacam itu."
"Kau datang atas nama siapa?" Su Mei bertanya tajam, melangkah maju di samping Tetua Kang meski kekuatan jiwanya belum sepenuhnya pulih.
Wakil Tetua Sun tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. "Atas nama beberapa tetua yang lebih... berkepentingan menjaga stabilitas sekte, dibanding membiarkan skandal tiga puluh tahun lalu dibongkar kembali di hadapan Dewan Aliansi. Kau pikir kau satu-satunya yang tahu tentang ekspedisi itu, Tetua Kang? Beberapa dari kami sudah lama menduga—dan lebih memilih membiarkan kebenaran itu tetap terkubur, demi kebaikan sekte kita bersama."
Kata-kata itu membuat Ji Ming merasakan dinginnya kebenaran baru yang mengerikan—bukan hanya Tetua Kang yang menyembunyikan rahasia gelap ini, tapi kemungkinan ada lebih banyak orang dalam hierarki sekte yang mengetahui, atau bahkan sengaja membiarkannya, demi menjaga reputasi institusi mereka.
"Jadi kau di sini untuk membungkamku," Tetua Kang berkata, suaranya kini dipenuhi kemarahan yang jarang ia tunjukkan, "seperti yang seharusnya mereka lakukan tiga puluh tahun lalu, alih-alih membiarkan kebohongan ini terus tumbuh."
"Aku di sini untuk menjaga stabilitas," Wakil Tetua Sun membalas tenang, tangannya mulai bergerak ke gagang pedang di pinggangnya. "Kalau itu berarti kau harus 'menghilang' dalam sebuah kecelakaan tragis dalam perjalanan investigasimu yang tidak sah ini, begitu juga bocah buronan yang kau lindungi ini, maka begitulah adanya."
Yun Xia sudah bergerak maju, pedangnya terangkat siap bertarung, tapi Su Mei mengangkat tangan menahannya.
"Tunggu," Su Mei berkata cepat, matanya menyipit menatap Wakil Tetua Sun. "Kalau kau benar-benar bertindak atas nama beberapa tetua yang ingin menjaga rahasia ini, itu berarti kau tidak bertindak atas nama seluruh Dewan. Membunuh kami di kota netral seperti ini, di hadapan saksi-saksi yang mulai mengetahui kebenaran—itu akan jauh lebih berbahaya bagi 'stabilitas' yang kau bicarakan dibanding membiarkan investigasi berjalan."
Wakil Tetua Sun terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata itu dengan mata yang menyipit tajam—jelas seorang yang terbiasa menghitung risiko sebelum bertindak.
"Kau benar," ia akhirnya berkata, meski nada suaranya tetap dingin dan mengancam. "Membunuh kalian di sini terlalu berisiko. Tapi jangan salah paham—ini hanya penundaan, bukan pengampunan. Kalian punya waktu sampai pertemuan dengan guild-guild itu selesai. Setelah itu, semua opsi kembali terbuka."
Ia melompat mundur ke atap gelap tanpa suara, menghilang secepat kedatangannya, meninggalkan rombongan yang kini menyadari bahwa ancaman yang mereka hadapi jauh lebih besar dan lebih terorganisir dari yang pernah mereka bayangkan.
"Ada faksi dalam Dewan Tetua sendiri yang lebih memilih membunuh kebenaran daripada menghadapinya," Old Bo berkata pelan, suaranya bergetar oleh kengerian situasi yang baru saja mereka hadapi.
"Ya," Tetua Kang menjawab, wajahnya pucat memikirkan implikasinya. "Dan itu berarti perjuangan kita baru saja menjadi jauh lebih rumit dari sekadar membersihkan namamu, Ji Ming."