Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Diantara Kelopak Bunga
Alea meregangkan badannya di sudut toko bunga karena lelah duduk seharian merangkai bunga. Otot-otot punggungnya terasa kaku dan jemarinya yang halus mulai menyengat perih akibat terus-menerus memegang tangkai tanaman serta gunting tajam. Di sudut ruangan yang beraroma harum mawar dan tanah basah itu, Alea sempat mematung sejenak. Pandangannya menerawang jauh menembus kaca depan toko yang mulai dibasahi gerimis tipis sore hari. Setiap kali rasa lelah fisik menyerang, kenangan pahit masa lalu selalu menemukan celah untuk kembali menyusup dan menyiksa pikirannya.
Semenjak hari itu, Alea diusir oleh kedua orang tuanya karena dia merupakan aib telah hamil di luar nikah. Kejadian empat tahun lalu itu masih terekam begitu jelas di ingatannya, seolah baru terjadi kemarin sore. Ia masih ingat betul bagaimana tatapan murka sang ayah dan tangisan penuh kekecewaan ibunya saat rahasia kehamilannya terbongkar. Tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan kepanikan dan ketakutan yang dialaminya di klab malam malam itu, Alea dipaksa angkat kaki dari rumah yang telah membesarkannya. Dengan satu tas kain lusuh dan usia yang masih sangat muda, ia melangkah menyusuri jalanan dingin tanpa tujuan, membawa luka batin yang tak pernah benar-benar sembuh.
"Ehh, bengong ajaaa!" ucap Zia menepuk bahu Alea, membuyarkan lamunan wanita itu.
Alea tersentak kecil, refleks mengelus dadanya yang berdesir kaget. Ia menoleh dan mendapati Zia—rekan kerjanya sekaligus pemilik toko bunga kecil ini—sedang berdiri di sampingnya sambil berkacak pinggang dengan sunggingan senyum jahil.
"Kamu ini, Zia... kaget aku," bisik Alea pelan sembari mencoba mengulas senyum tipis untuk menutupi gelisah di matanya.
"Habisnya dari tadi aku perhatikan kamu cuma melamun sambil melilitkan pita di kelopak krisan itu. Pipinya sampai ditekuk begitu," tutur Zia lalu mengambil tempat duduk di kursi plastik sebelah Alea. Raaut wajah Zia yang semula jenaka perlahan berubah menjadi lembut dan penuh simpati. "Ada masalah, Al? Atau... kamu lagi mikirin Azka?"
Mendengar nama putra kecilnya disebut, pertahanan dingin di dada Alea seketika mencair. Senyum hangat yang tulus kini benar-benar terukir di bibirnya. Azka adalah satu-satunya alasan mengapa ia sanggup bertahan menatap dunia setelah dihempaskan oleh keluarganya sendiri. Bocah laki-laki berusia tiga tahun yang memiliki mata bulat jernih itu adalah keajaiban terbesar di tengah kehancuran hidupnya.
"Nggak apa-apa, Zia. Cuma agak pegal saja karena dari pagi duduk terus," jawab Alea lembut, berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa hatinya sempat teriris mengingat masa lalu. "Sore begini Azka biasanya sudah selesai mandi di tempat penitipan. Aku cuma makin nggak sabar ingin cepat-cepat pulang dan memeluk dia."
Zia mengangguk paham dan mengusap pelan lengan Alea. Ia tahu betul bagaimana perjuangan keras Alea selama dua tahun terakhir bekerja di tokonya. Tanpa keluhan, tanpa keputusasaan, Alea selalu memberikan yang terbaik demi mencukupi kebutuhan tumbuh kembang sang putra.
"Ya sudah, pesanan bunga meja untuk acara besok pagi kan sudah selesai semua. Rangkaianmu juga sudah rapi banget," ujar Zia seraya berdiri dan mengambil alih sisa tangkai bunga di meja. "Kamu rapi-rapi saja sekarang, siap-siap buat jemput Azka. Sisanya biar aku yang bersihkan dan kunci toko."
"Beneran nggak apa-apa, Zia? Aku bisa bantu sapu-sapu sebentar kok," tawar Alea tidak enak hati.
"Nggak usah, Al. Kasihan anakmu kalau nunggu terlalu lama. Cepat sana bersiap," dorong Zia sambil terkekeh pelan.
Alea menatap Zia dengan rasa haru yang mendalam. Di saat dunia membuangnya dan menganggapnya sebagai cela, Tuhan masih mengirimkan orang baik seperti Zia yang mau mengulurkan tangan tanpa menghakimi masa lalunya. Alea segera berdiri, merapikan apron kain yang melilit pinggangnya, lalu melangkah ke ruang belakang untuk mengambil tas dan barang-barangnya.
Ia tidak pernah tahu, di saat ia mencoba menata hidup sederhananya dengan tenang di pinggiran kota ini, jauh di pusat kota sana, bayang-bayang Adrian dan masa lalunya yang kelam masih terus bergerak di balik kegelapan, perlahan tapi pasti mencari celah untuk menemukannya kembali.