Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bioskop Mini
Lampu bioskop mini itu meredup begitu operator menyalakan layar dan berlalu, meninggalkan suara klik pintu yang terkunci rapat. Suasana mendadak hening, hanya tersisa pendar cahaya layar yang menerpa wajah mereka.
"Apa kabar, Umi?"
bisik Rangga, memecah kecanggungan.
"Baik. Abi gimana?.
"Baik juga. Akhirnya aku bisa ketemu Umi. Umi kelihatan fresh dan cantik banget hari ini."
Winta terkekeh pelan, menyembunyikan getar di suaranya.
"Kenapa Abi bisa suka sama Umi? Umi kan sudah tua."
"Umi belum tua,"
potong Rangga cepat. Matanya menatap Winta lekat-lekat.
"Abi suka memperhatikan foto-foto Umi di TikTok. Umi begitu anggun, berwibawa. Senyum Umi bahkan mengalahkan para artis. Abi yakin, pasti banyak pria yang merayu Umi lewat pesan pribadi, kan?"
Winta hanya tersenyum tipis. Ucapan Rangga memang benar, tetapi tak satu pun pesan genit itu pernah ia tanggapi.
"Umi... sudah berapa tahun jadi janda?"
Sebelum Winta sempat menjawab, jemari hangat Rangga sudah merengkuh telapak tangannya. Rangga membawa jemari halus itu ke wajahnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di sana.
Darah di dada Winta mendesis hebat. Jantungnya berdebar kencang hingga telapak tangannya membasah oleh keringat dingin. Ada riak gairah yang bergolak, kerinduan yang telah enam tahun ia kubur rapat-rapat sejak kepergian suaminya.
Belum sempat Winta menguasai diri, Rangga berpindah ke hadapannya. Pria itu berjongkok, mengikis habis jarak di antara mereka. Napas hangat Rangga menghembus di permukaan kulit Winta. Tanpa sepatah kata pun, bibir Rangga menyapu bibirnya, mula-mula lembut, lalu berubah menjadi lumatan yang dalam dan menuntut.
Winta mendesah pasrah. Dinding pertahanannya runtuh, ia membalas ciuman itu dengan gairah yang sama besarnya.
Di bawah pendar layar dan remang ruangan, batas di antara mereka lebur.
Sentuhan demi sentuhan membakar kulit, menyulut hasrat yang telah lama dahaga. Di atas kursi bioskop itu, kedua tubuh menyatu dalam ketegangan yang intim, menyuarakan kerinduan dan kepasrahan yang pekat, hingga akhirnya kelelahan membawanya kembali ke realita.
Semua berlalu begitu cepat. Rangga berpindah ke kursinya, membenahi pakaiannya yang sempat berserakan di lantai. Winta melakukan hal yang sama dengan jemari yang masih gemetar.
"Abi minta maaf, Umi. Apa Umi marah?"
tanya Rangga seraya merapikan kerahnya.
Winta menggeleng pelan.
"Yuk, kita pulang."
"Filmnya belum selesai, Umi..."
"Abi bukan mengajak Umi untuk nonton ke sini, kan?"
tatap Winta lurus.
Rangga menunduk.
"Maaf, Umi. Abi khilaf."
"Umi mau pulang. Anak Umi sebentar lagi pulang , lagian ada paket yang mau diantar ke rumah."
"Baik, Umi. Abi pesankan taksi dulu, ya."
Sementara Rangga mengetik pesanan di ponselnya, Winta menatap garis wajah pria tampan di sampingnya itu. Benaknya berpasrah pada keraguan, Apakah aku cuma dimanfaatkan? Apakah aku cuma mainan bagi Rangga karena aku seorang janda yang kesepian?
"Apa Abi juga duda?"
tanya Winta akhirnya.
"Iya, Umi."
"Sudah berapa lama?"
"Paling tidak... sepuluh tahun."
"Kenapa tidak menikah lagi?"
"Abi trauma, Umi."
Winta menghela napas panjang.
"Menikahlah lagi..."
"Iya, tapi sama Umi,"
sahut Rangga cepat.
"Enggak usah. Umi sudah tua."
"Kalau gitu, Abi enggak akan pernah menikah."
Tiba-tiba, ponsel Rangga berdering menandakan pengemudi taksi telah tiba di depan gedung.
"Taksinya sudah datang, Umi."
Winta bangkit berdiri, tetapi Rangga mendadak menarik tubuhnya ke dalam pelukan erat, lalu kembali melumat bibirnya seakan tak ingin berpisah.
"Sudah, Abi... taksinya sudah menunggu," bisik Winta pelan sambil mendorong dada Rangga secara halus.
Di dalam taksi, Winta melemparkan pandangannya ke luar jendela. Tatapannya kosong. Ia tak pernah membayangkan bahwa hari ini ia menyerahkan kerapuhan dirinya kepada pria yang hanya dikenal melalui media sosial. Air matanya menetes perlahan, tetapi bergegas ia usap agar tak memicu curiga pengemudi taksi.
Setibanya di rumah, Winta bergegas mengambil titipan paket di warung tetangga dan membuka pintu rumahnya.
Ia tak ingin membuang waktu. Ia langsung menuju kamar mandi, khawatir anaknya keburu pulang. Di bawah kucuran shower, air mata dan guyuran air menyatu membasahi tubuhnya. Namun, anehnya, tak ada rasa benci sedikit pun atas apa yang baru saja terjadi.
Hari ini adalah hari paling berkesan sekaligus menggairahkan yang pernah ia rasakan sejak enam tahun belakangan.
Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Winta menunaikan shalat Asar. Di atas sejadahnya, ia menangis terisak, memohon pengampunan atas dosa yang telah diperbuat. Namun, ia sadar, mata bengkaknya bisa memancing pertanyaan sang anak.
Selesai berdoa, Winta naik ke pembaringan. Dengan jemari ragu, ia membuka aplikasi WhatsApp untuk mengirim pesan kepada Rangga.
Namun, pesan itu hanya menunjukkan centang satu. Foto profil pria itu mendadak hilang. Barulah Winta tersadar sepenuhnya, aksesnya telah ditutup, dan ia telah diblokir.
Bersambung