NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Anak-anak yang Waspada

Tangan Bik Inah berhenti beberapa senti dari spatula.

Matanya berpindah dari daging di atas meja ke ponselku yang menyimpan foto gudang, lalu ke Bu Sumi dan tetangga lain di pintu. Dia tahu, satu gerakan lagi hanya akan memperburuk posisinya.

“Masak saja sesukamu,” desisnya. “Nanti kalau Pak Arya marah, jangan menangis.”

Dia berbalik dan pergi sambil menghentakkan sandal.

Bu Sumi membantu mengupas bawang sebelum kembali membuka warung. Tetangga yang lain ikut pamit setelah berpesan agar aku menyimpan semua foto. Begitu mereka pergi, dapur menjadi lebih tenang.

Namun aku tahu Bik Inah belum menyerah.

Aku menggoreng telur dadar, menumis sedikit daging dengan kecap, lalu memasak sayur wortel dan kentang untuk Sasa. Nasi hangat mengeluarkan uap dari penanak. Aroma yang begitu biasa membuat ketiga anak berdiri di sekitar dapur seperti sedang menyaksikan pesta.

“Boleh aku bantu?” tanya Bayu.

“Boleh. Bawa sendok ke meja, ya.”

Dia mengambil empat sendok sekaligus, lalu kembali mengambil dua lagi setelah menghitung kami dalam hati.

“Ayah belum pulang. Berarti lima.”

“Satu untuk Bik Inah juga.”

Bayu mengerutkan hidung. “Bik bisa ambil sendiri.”

“Tetap taruh satu.”

Aku tidak ingin anak-anak belajar bahwa keadilan berarti membalas lapar dengan lapar.

Raka berdiri dekat pintu, tidak ikut membantu dan tidak pergi. Matanya mengikuti setiap bahan yang masuk ke wajan. Sasa duduk di kursi tinggi seadanya yang disangga dua bantal, kedua tangannya memukul meja pelan.

Saat aku mencuci pisau, Bik Inah muncul dari lorong. Dia tidak masuk ke dapur. Dia membungkuk di dekat Raka dan berbisik cukup pelan agar terdengar seperti rahasia, tetapi cukup keras agar aku menangkap setiap kata.

“Jangan gampang percaya. Ibu tiri selalu baik sebelum akad. Nanti kalau sudah jadi istri Ayah kalian, kalian bertiga bisa dikirim ke rumah orang lain.”

Punggung Raka menegang.

“Bik,” tegurku.

“Saya cuma mengingatkan anak-anak supaya hati-hati.”

“Dengan menakut-nakuti mereka?”

“Kenyataan memang menakutkan. Kamu belum tentu tahan mengurus tiga anak yang bukan darahmu.”

Aku mematikan keran. “Kalau ingin bicara tentang saya, bicara di depan saya. Jangan pakai anak-anak untuk melawan orang dewasa.”

Bik Inah tersenyum tipis, puas melihat wajah Raka kembali tertutup. “Kita lihat saja siapa yang benar.”

Dia pergi lagi.

Aku tidak mengejarnya. Minyak sudah panas dan Sasa mulai gelisah. Aku menyelesaikan masakan, memotong telur menjadi bagian kecil, lalu membawa semuanya ke meja.

Bayu duduk paling cepat. Tangannya sudah memegang sendok, tetapi dia menoleh kepada Raka sebelum menyentuh nasi.

“Makanlah,” kataku.

Raka tetap berdiri.

“Kak?” Bayu memanggil pelan.

“Jangan dulu.”

“Tapi aku lapar.”

“Kubilang jangan.”

Aku meletakkan sepiring nasi, telur, dan tumis daging di depan Raka. “Tidak ada yang memaksa. Kalau kamu belum mau, biarkan di meja.”

Dia menatap piring itu seolah makanan di hadapannya bisa menggigit.

Bayu tidak tahan lagi. Dia mengambil sepotong telur dari piringnya dan baru hendak memasukkannya ke mulut ketika tangan Raka bergerak.

Plak.

Telur itu jatuh ke lantai. Piring Bayu ikut bergeser dan sebagian nasi tumpah.

Sasa terkejut lalu menangis. Bayu menatap kakaknya dengan mata basah.

“Kenapa, Kak? Aku lapar.”

“Jangan makan pemberian orang yang baru datang.” Suara Raka gemetar, meski wajahnya dipaksa tetap dingin. “Kamu tidak tahu isinya.”

Ada ketakutan sungguhan di balik kalimat itu.

Bukan sekadar anak yang termakan hasutan pagi ini. Ini ketakutan yang sudah lama tinggal di tubuhnya.

Aku mengangkat Sasa dari kursi dan menenangkannya lebih dulu. Setelah tangisnya reda, aku menyerahkannya kepada Bayu, lalu mengambil sapu untuk membersihkan nasi yang jatuh.

Tidak ada bentakan. Tidak ada tuntutan agar Raka meminta maaf.

Aku menyendok nasi baru dari penanak, menambahkan telur dan daging dari wajan yang sama, lalu duduk di kursi Bayu.

“Perhatikan,” kataku.

Aku memakan telur itu. Kutelan. Lalu nasi, sayur, dan daging. Aku mengambil tiga suap lagi tanpa melepaskan tatapan dari Raka.

“Saya makan masakan yang sama. Kalau ada sesuatu di dalamnya, saya yang pertama sakit.”

Raka tidak menjawab.

“Saya tidak akan memaksa kalian percaya hari ini. Tapi Bayu lapar. Sasa juga perlu makan. Kalau kamu ingin melindungi mereka, lihat dengan teliti, bukan dengan membuat mereka terus kelaparan.”

Rahangnya bergerak. Dia memandang tanganku, bibirku, lalu wajan di dapur.

Aku mengembalikan piring baru kepada Bayu. “Mau makan sekarang?”

Bayu menatap Raka sekali lagi.

Lama sekali, kakaknya akhirnya duduk.

“Aku coba dulu,” kata Raka.

Dia mengambil satu suap kecil dari piringnya sendiri. Mengunyah pelan. Menunggu.

Bayu mengikuti setiap gerakannya.

Setelah beberapa detik, Raka mengambil suap kedua. Barulah Bayu mulai makan. Anak itu menyuap terlalu cepat sampai tersedak, lalu meminum air setengah gelas sekaligus.

“Pelan,” kataku. “Makanannya tidak akan habis. Kalau masih lapar, tambah.”

“Boleh tambah?”

“Boleh.”

Wajahnya terang seketika.

Sasa menerima telur lembut dan sayur yang kuhancurkan. Setiap sendok masuk tanpa penolakan. Sesekali dia tersenyum, memperlihatkan gigi kecilnya.

Raka masih makan dengan hati-hati. Namun pada akhir makan, piringnya bersih.

“Enak?” tanya Bayu.

“Biasa saja.”

Bayu mencibir. “Kalau biasa saja, kenapa tambah dua kali?”

Telinga Raka memerah. Untuk pertama kalinya, aku melihat anak itu tampak seperti bocah sepuluh tahun, bukan penjaga kecil yang harus selalu waspada.

Setelah makan, aku menyimpan sisa tempe dan telur di wadah tertutup. Aku sengaja menaruhnya di rak yang mudah dijangkau anak-anak.

“Kalau lapar, bilang. Tidak perlu sembunyi-sembunyi,” kataku.

Raka menatap wadah itu, lalu menatapku. “Kenapa?”

“Karena makanan di rumah ini memang untuk dimakan kalian.”

“Kenapa Mbak tidak marah waktu aku menjatuhkan makanan?”

Aku menutup pintu lemari. “Karena kamu melakukannya untuk melindungi Bayu, bukan untuk menghina saya.”

Matanya membesar sedikit.

“Tapi lain kali, tanya dulu. Kita periksa makanannya bersama. Membuang nasi saat adikmu lapar bukan cara melindunginya.”

“Kalau ternyata berbahaya?”

“Saya makan lebih dulu. Kalau itu belum cukup, kamu boleh tetap tidak makan. Saya tidak akan memaksa.”

Dia tidak menjawab.

Siang menjelang sore, aku mengantar Sasa tidur. Ketika kembali ke dapur, suara bisik-bisik datang dari belakang pintu.

Bayu duduk di lantai bersama Raka. Di tangannya ada sepotong tempe yang diambil dari wadah. Dia membelahnya menjadi dua, tetapi bagian yang diberikan kepada kakaknya jauh lebih besar.

“Kakak makan,” bisiknya. “Aku udah kenyang, kok.”

Padahal beberapa jam lalu dia menambah nasi dua kali.

Raka hendak menolak, tetapi Bayu memasukkan tempe itu ke tangannya dan lari sebelum kakaknya bisa mengembalikan.

Aku mundur pelan agar mereka tidak tahu aku melihat.

Kedua anak itu sudah terlalu lama belajar membagi kekurangan, sampai sepiring makanan hangat pun belum cukup membuat mereka percaya bahwa besok tidak akan lapar lagi.

1
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
Anik Setyowati
kalau Arya jadi mantu bik Inah boh aboh kasihan 3 anak krucil itu pasti di sia siakan,belum jadi aja 3 Mak itu sudah nggak terawat apalagi jadi,sungguh ancur dunia persilatan
beybi T.Halim
ada yaa guru dikota cem turunan setan gini???mulutnya kaya bukan mulut pendidik🙈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!