NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Mungkinkah?

Pernyataan tulus dan permintaan maaf dari Raya menghantam ulu hati Aris bagaikan pukulan godam yang amat menyakitkan.

Rasa bersalah yang selama ini mengendap di dalam jiwanya mendadak menyembur bagaikan lahar panas. Wanita polos yang hidupnya telah ia hancurkan, suami sahnya yang telah ia bunuh di jalanan, dan anak kandungnya yang telah ia ubah statusnya menjadi anak angkat, kini justru meminta maaf kepadanya karena merasa "merepotkan."

Lidah Aris terasa kelu. Tenggorokannya bagai tersumbat duri tajam.

Ia lantas memaksakan sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman paling getir dan penuh kepiluan yang harus ia sembunyikan dari pandangan Raya.

"Jangan pernah bicara begitu, Raya," bisik Aris dengan suara parau yang hampir tak terdengar. "Kamu dan Cyla tidak pernah merepotkan aku. Justru aku... aku yang bertanggung jawab penuh atas hidup kalian. Apapun yang terjadi, aku yang memilih untuk berada di posisi ini."

Raya menatap Aris lekat-lekat. Ada ketulusan yang sangat pekat dari ucapan pria itu, namun di saat yang sama, Raya bisa merasakan ada penderitaan tak kasat mata yang tersirat dari balik nada suara Aris.

Namun, Raya menganggap penderitaan itu sebagai bentuk kelelahan Aris akibat mengurus dirinya dan perusahaan secara bersamaan.

"Terima kasih, Aris," ucap Raya tulus. "Aku... aku akan berusaha keras untuk pulih. Aku ingin cepat ingat, agar aku bisa membantu memikul bebanmu dan menjadi kekasih yang berguna buat kamu."

"Cukup kamu berada di sisiku dan sehat kembali, Raya. Itu sudah lebih dari cukup," sahut Aris. "Sekarang, kembalilah ke kamar dan istirahatlah. Udara makin dingin."

Raya mengangguk pelan. "Selamat malam, Aris."

"Selamat malam, Raya."

Aris berdiri mematung di tengah ruangan, memandangi sosok Raya yang perlahan melangkah naik menyusuri anak tangga menuju lantai dua hingga bayangan wanita itu menghilang di balik pintu kamar utama.

Begitu pintu kamar Raya terdengar tertutup rapat, seluruh pertahanan fisik dan mental Aris runtuh seketika.

Pria perkasa yang ditakuti di dunia bisnis itu terhuyung mundur, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke atas sofa. Tangannya yang gemetar hebat menutupi seluruh wajahnya.

Isakan sunyi yang sangat menyiksa dada keluar dari tenggorokannya. Air mata penyesalan yang ditahannya sejak di rumah sakit akhirnya menetes menembus celah-celah jemarinya.

"Tuhan... apa yang sudah aku perbuat?" bisik Aris histeris dalam kesendiriannya. "Dia meminta maaf padaku... Dia meminta maaf kepada pria yang sudah membunuh suaminya..."

Aris mengepalkan tangannya dan menghantamkan tinjunya pelan ke dada kirinya sendiri, dan mencoba meredakan rasa sesak dan mual yang membakar jantungnya.

Kebohongan yang ia ciptakan kini bukan sekadar benteng perlindungan, melainkan penjara tak bertepi yang mengurung jiwanya dalam dosa abadi.

**

Dua hari berlalu setelah malam yang penuh ketegangan itu. Suasana di mansion Aris tampak kembali tenang di permukaan. Aris makin protektif dan memberikan perhatian ekstra kepada Raya dan Cyla, sementara Raya makin menaruh rasa percaya dan kehangatan pada pria itu.

Namun, kebenaran adalah sesuatu yang selalu mencari celah untuk keluar, sekecil apa pun celah itu.

Pagi itu, sekitar pukul sembilan, Aris sudah berangkat ke kantor utamanya untuk memimpin rapat pemegang saham tahunan. Suster Santi sedang berada di taman belakang bersama Cyla yang sedang asyik bermain sepeda roda tiga khusus balita.

Raya melangkah ke area depan mansion untuk menyirami tanaman hias di sepanjang verenda, sebuah aktivitas sederhana yang direkomendasikan dokter untuk melatih motorik dan menenangkan pikirannya.

Saat Raya sedang memegang penyiram tanaman plastik, terdengar bunyi bel gerbang utama dari arah luar. Seorang petugas pos berpakaian oranye tampak berdiri di luar pagar besi yang tinggi.

Raya meletakkan penyiram tanamannya, lalu berjalan menghampiri gerbang.

"Selamat pagi, Ibu. Apakah benar ini kediaman Bapak Aris?" tanya petugas pos ramah seraya memegang sebuah amplop cokelat tebal berukuran sedang.

"Selamat pagi. Iya benar, saya... keluarganya," jawab Raya agak canggung. "Ada surat untuk Pak Aris?"

"Iya, Bu. Ini ada paket dokumen kilat yang dialamatkan ke kediaman pribadi beliau, bukan ke kantor. Mohon ditandatangani bukti penerimaannya di sini," terang petugas itu seraya menyodorkan papan klip dan pulpen.

Raya menandatangani formulir penerimaan tersebut tanpa rasa curiga sedikit pun. Setelah petugas pos berlalu, Raya berjalan kembali ke dalam rumah seraya memandangi amplop cokelat di tangannya.

Di bagian depan amplop, tertulis nama penerima: Aris Prakasa (Pribadi). Namun yang menarik perhatian Raya adalah tidak adanya nama atau alamat pengirim di bagian belakang amplop tersebut. Hanya ada stempel pos lokal kota tempat mereka tinggal.

"Kenapa tidak ada nama pengirimnya ya?" gumam Raya heran.

Saat Raya melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang luas, amplop cokelat yang agak lapuk di bagian perekatnya itu mendadak robek di bagian pinggir akibat gesekan tangan Raya. Hingga, beberapa lembar kertas dan sebuah benda kecil terjatuh ke atas lantai marmer.

Raya terkejut. "Ah, maaf..."

Raya berlutut untuk memungut barang-barang yang berserakan di lantai. Benda pertama yang ia ambil adalah sebuah lembaran koran bekas yang sudah terpotong rapi, sebuah kliping berita koran lokal berumur beberapa minggu lalu.

Mata Raya yang bening tak sengaja membaca judul berita utama pada potongan koran tersebut yang dicetak dengan huruf tebal berwarna hitam:

**KECELAKAAN MAUT DI PERSIMPANGAN JALAN LINGKAR: SEORANG PRIA TEWAS DI TEMPAT, ISTERI DAN BALITA KRITIS.**

Jantung Raya mendadak berdesir aneh. Sebuah getaran dingin merayap dari ujung kakinya menuju puncaknya.

Napasnya mendadak tertahan. Dengan tangan yang mulai gemetar tanpa alasan yang jelas, Raya mengangkat kliping koran itu lebih dekat ke wajahnya lalu membaca paragraf pertama berita tersebut:

*"Sebuah sedan putih ringsek parah setelah dihantam kendaraan lain di persimpangan jalan lingkar pada Kamis malam saat hujan deras. Pengemudi sedan putih, Ardiansyah (32), dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat benturan fatal. Sementara sang istri, R, beserta putrinya yang berusia satu tahun berhasil dievakuasi dalam kondisi..."*

"Ardiansyah...?"

Nama itu bergema dahsyat di dalam ruangan hampa di kepala Raya.

Nama yang tak pernah ia dengar dari Aris. Nama yang tak pernah disebut oleh siapa pun di rumah ini. Namun saat matanya membaca nama Ardiansyah, dada Raya bergemuruh hebat. Rasa sesak luar biasa mendadak mencengkeram paru-parunya.

"Ar... di... an... syah?" bisik Raya dengan suara bergetar parah.

Tiba-tiba, sebuah kilasan ingatan liar (flashback) melintas kilat di balik matanya yang terpejam kencang:

Suara tawa hangat seorang pria di dalam mobil... Harum aroma kue bolu pandan... Suara lembut memanggilnya "Istriku tersayang"... Dan kilatan cahaya lampu mobil yang menyilaukan dari balik kegelapan malam...

"Aagghh!"

Raya memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum beracun menghantam tempurung kepalanya secara mendadak. Pandangannya menjadi kabur dan bergoyang hebat.

"Kepalaku..."

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!