Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarah
Foto profil itu menampilkan seorang perempuan cantik dengan senyum lebar, berdiri di depan gedung yang tampak familiar — gedung kantor tempat Alya bekerja sekarang. Di bio akun itu tertulis: *Sarah Wijaya. Brand Manager. Life is too short for bad coffee & boring meetings.*
Alya menahan napas. Ia menggulir ke bawah, melihat unggahan-unggahan terakhir. Ada foto Sarah dan beberapa rekan kerja di sebuah acara kantor. Ada foto makan malam mewah dengan caption singkat: *dinner date 🖤*. Dan yang membuat dada Alya semakin sesak — di salah satu unggahan lama, tiga bulan lalu, ada foto Sarah berdiri berdampingan dengan seorang pria berkemeja putih, tersenyum ke arah kamera.
Pria itu Raka.
Alya menatap layar ponselnya lama, mencoba memproses apa yang baru saja ia lihat. Ia tahu ia tidak berhak merasa seperti ini — Raka bukan siapa-siapanya lagi, sudah tiga tahun mereka berpisah, dan wajar saja kalau Raka punya kehidupan baru, punya orang baru. Tapi kenyataan itu tetap terasa seperti pukulan telak, terutama setelah momen ringan yang mereka lewati sore itu, setelah cangkir kopi americano tanpa gula yang diam-diam masih diingat Raka.
*Kenapa aku peduli?* batinnya, marah pada dirinya sendiri. *Aku yang seharusnya sudah move on.*
Ia mengunci ponselnya, memasukkannya ke dalam tas, dan memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Tapi keputusan itu jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
---
Keesokan harinya di kantor, Alya berusaha keras bersikap normal. Ia tenggelam dalam pekerjaan, menyusun draf konten kampanye dengan fokus berlebihan, seolah pekerjaan bisa menjadi pelarian dari pikiran-pikiran yang terus mengganggu semalaman.
Siang itu, saat ia sedang mengambil makan siang di kantin kantor, seseorang duduk di kursi kosong di depannya tanpa diundang.
"Alya, kan?" tanya perempuan itu, tersenyum ramah.
Alya mendongak, dan jantungnya nyaris berhenti. Wajah itu — wajah yang baru semalam ia lihat di layar ponselnya — kini duduk tepat di hadapannya, tersenyum seolah mereka sudah lama saling kenal.
"Iya," jawab Alya, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. "Kamu—"
"Sarah," katanya, mengulurkan tangan. "Brand Manager, divisi sebelah. Aku sering dengar nama kamu dari Raka, katanya kamu penanggung jawab konten buat kampanye Q4."
Alya menjabat tangan itu dengan senyum yang dipaksakan. "Oh, iya. Salam kenal."
"Raka bilang kamu jago banget soal strategi konten," lanjut Sarah, masih dengan nada ramah yang tulus, tanpa jejak kecurigaan sedikit pun. "Dia jarang banget muji orang, lho. Jadi kamu pasti emang bagus."
Setiap kata yang keluar dari mulut Sarah terasa seperti pisau kecil yang menusuk pelan — bukan karena Sarah jahat, justru karena ia terlalu baik, terlalu ramah, terlalu... tidak bersalah. Alya tidak punya alasan untuk membencinya, dan itu yang membuatnya semakin frustrasi.
"Kalian... deket ya sama Raka?" tanya Alya, mencoba terdengar sekadar basa-basi, meski jantungnya berdebar menunggu jawaban.
Sarah tertawa kecil. "Deket gimana ya... kita udah kenal cukup lama. Dia orangnya tertutup banget soal hal pribadi, tapi aku tetep berusaha deketin dia." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan, "Jujur aja, aku suka sama dia. Udah dari lama. Tapi dia susah banget ditebak."
Alya tersenyum kaku, tidak tahu harus merespons apa. Di satu sisi, ada kelegaan aneh mendengar bahwa hubungan mereka belum tentu seperti yang ia bayangkan semalam. Tapi di sisi lain, mendengar pengakuan Sarah secara langsung membuat semuanya terasa lebih nyata, lebih rumit.
"Semoga berhasil," kata Alya akhirnya, karena hanya itu yang bisa ia katakan.
"Makasih," jawab Sarah, tersenyum lebar. "Eh, ngomong-ngomong, minggu depan ada acara gathering kantor. Kamu ikut, kan? Raka juga pasti dateng."
"Aku... lihat jadwal dulu," jawab Alya, meski ia sudah tahu jawabannya akan tetap iya, karena bagian dari dirinya—bagian yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam—masih ingin tahu lebih banyak.
---
Sore harinya, Raka mengirim pesan singkat ke email kerja Alya: *Ada waktu sebentar? Mau diskusi soal draf konten yang kemarin.*
Alya membalasnya dengan singkat, lalu berjalan ke ruangan Raka—kali ini bukan ruang rapat bersama, tapi ruangan pribadinya sebagai Head of Marketing. Ruangan itu rapi, minimalis, hampir tanpa sentuhan personal, kecuali satu foto kecil di sudut meja yang membuat Alya berhenti sejenak saat melangkah masuk.
Foto itu—foto lama, agak pudar—menampilkan dua orang muda tersenyum lebar di depan kampus mereka dulu. Alya mengenali foto itu dengan sangat baik, karena ia yang mengambil gambar itu sendiri, delapan tahun lalu, menggunakan kamera analog pinjaman temannya.
Raka masih menyimpannya.
"Kamu boleh duduk," kata Raka, tidak menyadari arah pandangan Alya, atau mungkin pura-pura tidak menyadari.
Alya duduk, mencoba mengalihkan perhatiannya dari foto itu, meski hatinya sudah bergejolak. Mereka mulai membahas draf konten, dan seperti pertemuan sebelumnya, suasana perlahan mencair menjadi lebih santai. Tapi kali ini, ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Alya, dan ia tidak bisa lagi menahan diri.
"Aku ketemu Sarah tadi siang," kata Alya, mencoba terdengar santai meski jantungnya berdebar kencang.
Tangan Raka yang sedang mengetik di laptop berhenti sejenak. "Oh," jawabnya, nadanya berubah sedikit lebih hati-hati. "Dia bilang apa?"
"Dia bilang dia suka kamu," jawab Alya jujur, memutuskan untuk tidak berbasa-basi lagi. "Udah lama, katanya."
Raka menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. Untuk beberapa detik, ia tidak berkata apa-apa, hanya menatap layar laptopnya yang sudah gelap karena tidak disentuh.
"Sarah orang baik," katanya akhirnya, pelan. "Tapi aku nggak pernah kasih dia harapan lebih dari sekadar rekan kerja."
"Kenapa?" tanya Alya, tidak yakin kenapa ia bertanya, tidak yakin apa jawaban yang ia harapkan.
Raka menatap Alya lurus-lurus, matanya menyimpan sesuatu yang berat, sesuatu yang selama ini ia tahan. "Karena," katanya pelan, "ada orang lain yang belum pernah benar-benar aku lupakan. Meskipun aku yang memilih untuk pergi dari orang itu, delapan tahun lalu."
Jantung Alya berhenti berdetak sepersekian detik.
*Delapan tahun lalu?*
Bukan tiga tahun seperti yang selama ini ia yakini—tapi delapan. Sejak awal, sejak masa kuliah mereka, sejak sebelum semua yang Alya kira ia tahu tentang alasan kepergian Raka.
Sebelum Alya sempat bertanya lebih lanjut, ponsel Raka kembali bergetar di meja. Kali ini bukan Sarah.
Layar menunjukkan sebuah nama yang belum pernah Alya dengar sama sekali: **Bu Marlina — Ibu.**
Dan di bawah nama itu, notifikasi pesan singkat muncul, cukup jelas terbaca dari posisi duduk Alya:
*"Raka, kamu harus pulang sekarang. Ini soal perjanjian dulu sama keluarga Alya. Semuanya harus dijelasin."*