🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Minggu pagi di apartemen Senopati, Adrian sudah bangun sebelum pesan komisaris berbunyi untuk kedua kali. Dapur jarang dipakai. Ia hanya merebus air dan tidak jadi menuang kopi. Di meja makan yang lebih sering menjadi meja baca, map Koridor Timur sempat ia keluarkan dari tas, lalu ia masukkan lagi. Amplop kecil di dalamnya belum waktunya, pikirnya, kalau yang memanggil adalah orang yang ingin semua hal terdengar selesai.
Ia berangkat tanpa Dimas. Mobil tidak ia ambil dari parkir B3. Taksi menurunkannya di sisi Sudirman yang sepi, dan satpam di lobi hanya memeriksa kartu karyawan sekali.
Minggu, 19 Oktober, Menara tidak memakai suara yang sama. Lobi hanya dijaga satu petugas, televisi berita bisu, dan lift yang berhenti lebih lama di lantai kosong. Adrian naik sendirian. Sari tidak masuk pada hari seperti ini. Dimas tidak dipanggil. Pesan dari sekretariat komisaris hanya berisi jam dan lantai: sebelas, tiga puluh lima.
Lantai tiga puluh lima bukan lantai kerja harian. Karpetnya lebih tebal. Tidak ada kubikel. Ruang Komisaris Utama berada di ujung, pintunya dari kayu yang tidak menyatu dengan kaca di lantai direktur. Jendela menghadap ke sisi yang berbeda dari ruang Adrian, ke jalur yang lebih banyak pohon daripada papan nama perusahaan.
Bramantya Halim sudah duduk. Cara ia menuang teh membuat ruangan terasa seperti rumah orang yang lebih tua, bukan seperti ruang pemeriksaan. Ia menunjuk kursi di seberang.
“Terima kasih sudah datang hari Minggu,” katanya. “Saya tidak mau ini menumpuk sampai rapat Senin dan terdengar lebih besar dari ukurannya.”
Adrian duduk tegak. Jam di pergelangan tangannya, milik Darmawan, ia geser sekali sampai talinya duduk rata. “Bapak memanggil soal data room.”
“Saya dengar ada insiden kecil di data room minggu lalu.” Suara Bramantya ramah, seperti biasa. “Penyusup. Anda menanganinya secara internal. Bagus. Saya apresiasi penutupan yang rapi. Tidak perlu sampai ke dewan atau ke media.”
“Saya menahan laporan karena ada angka yang perlu dicek lebih dulu. Bukan hanya karena ingin menutup.”
“Tentu. Angka selalu perlu dicek.” Bramantya mengaduk tehnya walaupun gula di dasarnya sudah larut. “Yang penting, akuisisi tetap jalan dan tidak ada kebocoran yang merusak. Saya sudah bilang ke beberapa anggota dewan bahwa internal sudah menangani. Mereka tenang.”
Adrian menunggu pertanyaan berikutnya. Siapa yang masuk. Angka mana yang ditahan. Kenapa satu nama vendor historis masih muncul di draf yang akan dibaca Aruna. Pertanyaan itu tidak datang. Bramantya tidak meminta laporan. Tidak meminta nama. Tidak membuka map. Ia memuji penutupan, lalu menggeser pembicaraan ke jadwal seolah insiden itu sudah selesai di kalimat sebelumnya.
Bramantya membuka map tipis yang hanya berisi jadwal, bukan angka. “Closing yang kita bicarakan dengan Aruna masih duduk di akhir bulan, kalau tidak ada yang membuat mereka menarik kursinya. Gudang di Tanjung Perak dan depo di Jakarta tidak akan pindah tangan hanya karena kita rapi di atas kertas. Tapi orang seperti Helena tidak membeli ketenangan yang terlambat.”
Adrian mengenal nama itu dari meja akuisisi, bukan dari telepon hari ini. Helena adalah orang yang akan membaca ketenangan sebagai kekurangan angka. Bramantya mengucapkannya ringan, seperti jadwal, bukan seperti pertanyaan.
“Pesisir perlu wajah yang stabil,” lanjutnya. “Kita sudah terlalu sering menjelaskan masa lalu perusahaan ini kepada orang yang hanya ingin alasan untuk menunda tanda tangan. Saya tidak ingin akhir bulan diisi penjelasan baru.”
“Pemeriksaan internal belum selesai,” kata Adrian.
“Saya tidak meminta Anda mengakhirinya hari ini.” Bramantya tersenyum kecil, senyum orang yang menenangkan rapat, bukan senyum orang yang menang. “Saya meminta agar yang keluar dari gedung ini tetap kalimat yang sama. Sudah ditangani. Tidak ada yang bocor ke pasar. Kita jaga deal-nya. Perusahaan ini tidak butuh cerita kedua pada saat cerita pertama belum ditutup dengan rapi.”
Adrian mengangguk karena tidak punya kalimat yang bisa ia letakkan di atas meja tanpa bukti. Rasa bahwa arahan itu terlalu rapi datang pelan. Terlalu cepat menenangkan. Terlalu sedikit rasa ingin tahu dari seorang komisaris utama yang biasanya bertanya sampai jadwal orang lain bergeser. Ia tidak menuduh. Tidak ada dasar untuk menuduh. Yang ada hanya urutan kalimat yang terasa sudah disusun sebelum ia masuk.
“Kalau butuh dukungan tambahan dari sisi dewan, bilang saja,” kata Bramantya. “Saya ingin deal ini bersih sebelum akhir bulan. Kalau ada anggota yang tetap khawatir, saya yang menghadapinya. Anda urus operasi. Itu pembagian yang sudah menyelamatkan kita setelah ayah Anda tidak bisa lagi memimpin.”
Nama Darmawan diucapkan tanpa tekanan. Seperti orang yang menyebut sejarah bersama, bukan seperti orang yang menutup sesuatu. Adrian melihat foto kecil di rak: peletakan batu pertama gudang, tahun yang sudah lama, Bramantya berdiri dua langkah di samping Darmawan. Foto itu sudah ada sejak Adrian pertama kali masuk ruangan ini sebagai direktur. Hari ini foto itu tidak memberi informasi baru. Hanya membuat pujian di ruangan terasa lebih halus.
“Saya akan laporkan kalau ada yang berubah,” kata Adrian.
“Bagus.” Bramantya berdiri lebih dulu, tanda pertemuan selesai. Ia menepuk lengan kursi, bukan lengan Adrian. “Jangan bawa urusan kecil ke meja yang besar. Kita sudah belajar biaya dari kesalahan itu.”
Di koridor lantai tiga puluh lima Adrian tidak langsung memanggil lift. Ia berdiri cukup lama di depan jendela yang menghadap pohon. Pegawai tidak lewat. Telepon tidak berbunyi. Ia mengulang apa yang tidak ditanyakan. Tidak ada nama penyusup. Tidak ada angka. Tidak ada Lazuardi. Hanya pujian untuk penutupan, dan janji bahwa dewan sudah ditenangkan.
Ia belum punya dasar. Rasa itu tidak hilang hanya karena ia menolak memberinya nama.
Lift menurunkannya ke lantai tiga puluh dua. Ruang kerjanya gelap sampai ia menekan sakelar. Meja hampir kosong, seperti biasa. Foto Darmawan tidak berada di atas meja. Foto itu ada di laci, dan hari ini ia tidak membukanya. Yang ia keluarkan adalah map bertuliskan tangan ayahnya: Koridor Timur. Tulisan di sampul sudah ia lihat berkali-kali sejak malam ia menemukan map itu. Amplop kecil di dalamnya belum pernah ia buka.
Hari ini ia membuka.
Kertas di dalam amplop hanya selembar, pendek, dilipat dua. Tinta pulpen menekan agak dalam pada huruf-huruf yang ia kenali tanpa perlu mencocokkan dengan surat lain. Tulisan tangan Darmawan. Ditujukan kepada Baskara. Bukan kepada dewan. Bukan kepada anaknya.
Adrian membaca sekali.
Nama Halim ada di situ, tidak sebagai sapaan dan tidak sebagai tanda tangan. Namanya duduk di kalimat tentang pembayaran yang dipindahkan. Kalimat di bawahnya pendek. Adrian tidak menyalinnya. Tidak ada paragraf penjelasan. Tidak ada angka. Tidak ada daftar rekening. Surat itu tidak bercerita. Surat itu hanya menahan satu gerakan dan satu nama.
Ia membaca lagi, lebih pelan, dari atas sampai bawah, memastikan ia tidak salah melihat urutan katanya. Kali kedua tidak membuat surat itu lebih panjang. Maknanya tetap belum utuh. Siapa yang memindahkan, dari pos mana, ke tangan siapa, tidak tertulis. Yang tertulis cukup untuk membuat kertas di jarinya terasa lebih berat daripada map yang sudah seminggu ia bawa tanpa dibuka.
Wajahnya tidak berubah. Rahangnya tidak ia kuncikan untuk siapa pun, karena tidak ada siapa pun di ruangan. Yang bergerak hanya jari. Ujung kertas bergetar kecil sebelum ia melipatnya kembali seperti lipatan semula dan memasukkannya ke amplop.
Ia meletakkan kertas itu di meja dan membuka kalender. Senin, 20 Oktober. Pagi: ruang arsip lama, lantai B2. Yusuf, Dimas, Sari, dan Alina. Agenda yang tertulis Sari dari Jumat hanya berbunyi “penandatanganan batas”. Tidak ada baris untuk surat ayahnya.
Adrian mengambil ponsel. Nama Dimas ada di panggilan terakhir. Jempolnya berhenti di atas layar, lalu ia mengunci ponsel tanpa menekan. Kalau ia membaca surat ini keras-keras hari ini, ia akan memaksa artinya menjadi utuh sebelum ia tahu konteks pembayaran yang disebut. Itu cara yang sama dengan panik yang kemarin hampir membuatnya mencabut satu baris dari draf.
Ia tidak memfotokopi. Tidak memotret. Tidak menelepon Dimas. Tidak menelepon Alina. Nama Baskara di surat itu adalah ayah perempuan yang besok akan duduk di meja yang sama dengannya, dan Adrian belum tahu kalimat apa yang aman untuk diucapkan tanpa mengubah dugaan menjadi tuduhan.
Map ia kunci di laci bawah. Kuncinya ia lepas dari ring utama dan ia simpan di saku jas, terpisah dari kunci laci biasa.
Di atas meja ada map lain, lebih baru, yang dikirim Yusuf kemarin sore. Perjanjian kerja sama terbatas. Enam bulan. Akses, batas, dan tanda tangan. Bukan surat ayahnya. Adrian membuka halaman pertama hanya untuk melihat tanggal yang akan diisi besok, lalu menutupnya lagi. Dua map itu tidak ia satukan.
Besok, 20 Oktober, ia akan bertemu Alina lagi. Kali ini dengan dokumen yang berbeda.