NovelToon NovelToon
Putri Mafia

Putri Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.

Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.

Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.

Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.

Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.

Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?

Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan

POV Miguel

Keheningan yang menyelimuti ruangan sudah cukup untuk membenarkan dugaan terburuk.

Valentina berada di tangan pria yang bertahun-tahun mencari cara menyerang keluarga Sanchez.

Fernando mengepalkan tinju.

Santiago meraih senjatanya.

Aku tak memikirkan apa pun lagi.

Saat itu tak ada lagi kepala keamanan, organisasi, bisnis, atau hal lain. Yang ada hanya Valentina.

Tak lama kemudian kami sudah memasuki gudang.

Tim keamanan membuka jalan dan baku tembak pecah seketika. Pria-pria bersenjata mencoba menghalangi kami, tetapi tak seorang pun berhasil memaksa kami mundur. Fernando maju dengan ketepatan seperti biasa, Santiago menutup titik-titik samping, dan aku terus mencarinya.

Setiap melewati sebuah ruangan, aku meneriakkan namanya.

"Valentina!"

Tak ada jawaban.

Sampai aku mendengar suara dari sebuah pintu di ujung koridor.

Aku mendobrak pintu itu.

Dia ada di sana.

Valentina terikat di kursi, ketakutan, tetapi masih sadar.

Beberapa detik aku hanya berdiri memandangnya, berusaha percaya bahwa ia benar-benar ada di hadapanku.

"Valentina."

Ia mengangkat kepala begitu mendengar suaraku.

Aku langsung menghampiri, melepas ikatannya, dan begitu lengannya bebas, ia memeluk erat tubuhku.

Aku mendekapnya kuat-kuat, mungkin lebih kuat dari seharusnya, karena saat itu rasa takutku akhirnya menemukan jalan keluar.

Aku tak memikirkan Fernando, Santiago, misi, atau pria yang berhasil kabur lewat belakang gudang.

Aku hanya bisa memikirkannya.

Kuangkat Valentina dalam gendonganku dan kubawa ia keluar.

Ia tidak protes, hanya melingkarkan lengan di leherku dan tetap merapat padaku sampai kami tiba di mobil.

Setibanya di rumah keluarga Sanchez, aku langsung membawa Valentina ke kamarnya. Aku ingin memastikan ia baik-baik saja, memeriksa apakah ia perlu dokter, dan, terutama, tetap berada di dekatnya beberapa menit lagi.

Kututup pintu di belakang kami dan kududukkan Valentina dengan hati-hati di atas tempat tidur.

Ia duduk menatapku.

Aku berlutut di depannya dan menyapukan pandangan di wajahnya, mencari luka yang mungkin terlewat.

"Kamu terluka?"

Ia menggeleng.

"Tidak."

"Yakin?"

"Yakin."

Aku menarik napas dalam, mencoba mengendalikan begitu banyak hal yang berkecamuk di kepalaku.

Lalu ia menggenggam tanganku.

Gerakan sederhana, tetapi cukup membuatku mematung.

Kupandangi jari-jarinya yang terjalin dengan jariku, lalu kembali menatap wajahnya.

Valentina menangis.

"Kenapa kamu sampai seperti itu?" tanyanya.

Aku tak sanggup menjawab.

Ia terus menatapku, dan saat itu aku sadar mungkin aku telah sampai di batas dari semua yang kupendam bertahun-tahun.

Keinginan untuk menciumnya hampir tak tertahankan.

Aku sudah menginginkannya sejak lama, jauh sebelum berani mengakuinya pada diri sendiri.

"Miguel, lihat aku."

Aku menurut.

Matanya penuh air mata.

"Kupikir aku akan mati," akunya. "Dan begitu kamu masuk ke ruangan itu, hal pertama yang kupikirkan adalah aku aman karena kamu datang mencariku."

Dadaku sesak.

"Aku akan selalu datang mencarimu."

Ia menarik napas dalam dan meremas tanganku.

"Itu yang nggak pernah kupahami. Kenapa kamu selalu ada di dekatku, tapi nggak pernah mencoba bersamaku?"

Pertanyaan itu membuatku tak punya jalan keluar.

Aku bisa saja berbohong lagi, bisa saja mengarang jawaban apa pun yang nyaman, tetapi setelah malam itu, aku tak sanggup menyembunyikannya lagi.

"Karena aku nggak pernah mengira kamu bisa merasakan hal yang sama."

Valentina memejamkan mata beberapa detik dan membiarkan setetes air mata lagi jatuh di pipinya.

Ketika kembali menatapku, ia tersenyum tipis, masih haru.

"Kamu bodoh sekali, Miguel."

Aku nyaris tersenyum.

"Aku tahu."

"Aku cinta kamu."

Kata-kata itu butuh beberapa detik untuk benar-benar kumengerti.

Aku menatapnya, sama sekali tak tahu harus bereaksi bagaimana.

"Apa?"

"Aku sudah mencintaimu bertahun-tahun."

Napasku tertahan.

Valentina terus bicara, seakan akhirnya memutuskan membuka pintu yang juga lama ia kunci.

"Aku menunggumu sadar. Lalu aku capek menunggu dan mengira mungkin kamu nggak akan pernah memandangku seperti itu. Tapi hari ini, saat kupikir aku bisa kehilangan segalanya, aku sadar nggak mau menyembunyikannya lagi."

Aku tak sanggup berkata apa pun.

Kusapukan tanganku di wajahnya, mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

"Valentina..."

Ia mendekat sebelum aku sempat menyelesaikan kalimat.

Aku tak sanggup menahan diri.

Kucium dia.

Itulah ciuman yang bertahun-tahun kubayangkan dan tak pernah kukira akan benar-benar terjadi. Ia memegang wajahku dengan kedua tangannya sementara aku menariknya lebih dekat, dan beberapa detik dunia di sekeliling kami seakan lenyap.

Ketika kami menjauh, hanya cukup untuk bernapas, kutempelkan keningku ke keningnya.

"Aku juga mencintaimu," akhirnya kuakui. "Selalu."

Valentina tersenyum di sela air mata dan menciumku lagi.

Kali ini aku tak perlu menyembunyikan apa pun.

Tak perlu berpura-pura perasaan itu tidak ada, dan tak perlu mengingatkan diri bahwa ia putri pria yang dilayani ayahku seumur hidupnya.

Aku hanya Miguel.

Dan ia Valentina.

Saat kami benar-benar larut dalam momen itu, kami mendengar seseorang berdeham di belakang kami.

Kami langsung berhenti.

Valentina membelalak.

Aku menoleh perlahan.

Javier Sanchez berdiri di ambang pintu.

Ayahnya memandangi kami dalam diam, tangan terlipat, dengan ekspresi yang mustahil dibaca.

Wajah Valentina memerah.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tak tahu harus berkata apa.

Javier menatap putrinya, lalu aku, dan akhirnya mengembuskan napas.

"Sepertinya kita punya banyak hal untuk dibicarakan, Miguel."

Aku menelan ludah.

Setelah bertahun-tahun takut Valentina tak akan pernah bisa mencintaiku, aku baru sadar bahwa masalah tersulit mungkin baru dimulai tepat saat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!