Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Tabir yang Hampir Terbuka
Vano berjalan cepat menuju ruangan khusus di bagian belakang ruang kerjanya — ruangan yang kedap suara, dilengkapi layar lebar dan sistem audio terbaik, tempat di mana ia selalu menonton video Laudys sendirian, tanpa diketahui siapa pun. Ia menutup pintu, menguncinya, lalu duduk di kursi tengah dan menekan tombol putar di layar yang besar itu.
Gambar mulai bergerak. Di layar, dari sebuah kamar kontrakan yang sempit dan sederhana — dindingnya penuh coretan dan foto-foto lama — hadir sosok yang selalu ia tunggu-tunggu. Cahaya lampu yang remang menerangi sebagian wajahnya yang sengaja dijauhkan dari lensa kamera, namun matanya yang tertuju pada gitar itu tampak begitu dalam, begitu penuh perasaan. Laudys — yang saat ini duduk beberapa ratus meter di bawahnya, di meja nomor tujuh kantornya — sama sekali tidak menyangka bahwa pria yang menjadi atasannya sedang menontonnya dengan napas tertahan.
Begitu nada pertama terdengar, tubuh Vano kaku di tempat.
Itu bukan sekadar penuturan biasa. Cara jari-jarinya menyapu senar dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa, setiap nada yang keluar menyampaikan amarah sekaligus kesedihan yang begitu mendalam — semuanya terasa begitu sempurna, begitu menyentuh hati, seolah wanita di balik video itu benar-benar memahami setiap luka yang tersimpan di balik lagu itu. Vano terkesima. Matanya melebar tak percaya, napasnya tertahan di tenggorokan, dan perlahan-lahan rasa takjub itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih berarti daripada sekadar kekaguman biasa.
Bagaimana mungkin…
Bagaimana dia bisa memainkannya seperti itu!
Sangat cepat, melodi yang dibawakan Synyster Gates yang menurutku paling sulit! Tapi dia bisa memainkannya dengan sempurna! batinnya gemetar, menatap layar tanpa berkedip.
Seolah dia tahu. Seolah dia hidup hanya untuk bermain gitar.
Ia tak tahu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang sedang memainkan gitar tanpa memperlihatkan wajahnya di layar kamera di rumah kontrakan itu adalah wanita yang tadi pagi menyapanya dengan gugup di lorong kantor. Bahwa tangan yang memetik senar gitar itu adalah tangan yang sama yang memegang pena di meja nomor tujuh — tangan yang selalu menyembunyikan tato indahnya di balik lengan panjang kemeja, dan menutup punggung tangannya dengan alas bedak agar tak ada yang menyadarinya. Bahwa orang yang memainkan gitar yang ia dengarkan dengan kagum ini adalah orang yang sama yang menyapanya dengan sopan setiap pagi.
Dua dunia yang berdiri begitu dekat, berada di kota yang sama, bahkan di bawah naungan perusahaan yang sama — namun dipisahkan oleh satu rahasia yang belum terungkap. Dua nama — Meloudy dan Laudys — yang sebenarnya satu, namun bagi Vano, itu adalah dua orang yang berbeda.
Di rumah kontrakan yang sederhana itu, Meloudy menarik napas panjang setelah petikan terakhir berhenti bergema. Ia menyeka keringat di pelipisnya, lalu menatap layar komputernya. Video melodi gitar yang baru saja ia mainkan telah selesai diunggah ke kanal YouTube-nya. Jari-jarinya bergerak cepat, memastikan proses unggah selesai sempurna, lalu menutup tab peramban itu.
Sebelum beristirahat, ia teringat satu hal. Dengan tangan yang masih sedikit lelah, ia membuka tas kerjanya, berniat memeriksa kembali berkas-berkas penting yang harus diserahkan besok pagi. Ia menyibakkan tumpukan dokumen di dalam tas, memeriksa satu per satu dengan teliti.
Tidak ada.
Meloudy mengerutkan kening. Ia mengeluarkan semua isi tas, memeriksa setiap sudutnya, namun berkas itu tetap tak ditemukan. Jantungnya berdegup kencang. Ia menepuk dahi, teringat — berkas itu ia tinggalkan di laci mejanya, di kantor.
"Aduh… bagaimana bisa aku lupa?" gumamnya cemas.
Hujan di luar semakin deras, namun ia tak punya pilihan. Berkas itu terlalu penting untuk dibiarkan hingga pagi. Dengan tergesa-gesa, ia kembali mengenakan jaket, meraih payung, dan bergegas keluar — melintasi jalanan yang basah dan sepi, menuju gedung kantor yang kini mulai sepi.
Sesampainya di ruangan kantor yang sunyi, Meloudy langsung berjalan menuju mejanya. Udara di dalam terasa dingin, dan hujan di luar semakin deras menghantam kaca jendela. Ia segera membuka laci meja — dan berkas yang dicarinya ternyata terselip di sana.
Namun udara dingin yang menusuk membuatnya tanpa sadar menarik ujung lengan kemejanya yang mulai basah, lalu melipatnya ke atas untuk menghangatkan kulit yang mulai membiru. Satu lipatan, dua lipatan… seketika itu juga, seluruh lengan kanannya terbuka tanpa tersembunyi.
Tatonya.
Tato yang selama ini ia lindungi — di balik lengan panjang, di balik lapisan alas bedak tebal — kini terlihat jelas di bawah cahaya lampu yang remang. Polanya rumit dan indah, menjalar dari punggung tangan, naik ke pergelangan, hingga ke bahu. Tato yang sama persis dengan yang selalu ia tampilkan di video-video kanal Laudys — tato yang menjadi ciri khasnya, yang tak diketahui siapa pun di dunia nyata.
Meloudy tertegun. Jantungnya nyaris berhenti berdetak. Ia buru-buru menarik kembali lengan bajunya, menekannya erat-erat ke kulit seolah takut ada yang melihat.
Klik.
Pintu ruang kerja utama terbuka perlahan. Langkah kaki terdengar — berat, tenang, dan sangat ia kenal.
Vano berjalan keluar, berniat pulang setelah memastikan semua berkas tersusun rapi. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia tidak menoleh ke arah meja-meja karyawan, tidak pula ke sudut tempat Meloudy berdiri menegang. Ia berjalan tenang, seakan ruangan itu kosong.
Meloudy menahan napas, memeluk lengannya sendiri erat-erat. Matanya terbelalak, berdoa dalam hati — semoga ia tidak melihat. Semoga ia tidak menyadari apa yang tadi sempat terbuka.
Vano terus berjalan melewati lorong itu, beberapa meter darinya. Tatapannya tetap lurus, tak berbelok sedikit pun. Ia tidak melihat.
Hanya saat sudah melewati beberapa langkah, suaranya terdengar — tanpa menoleh, tanpa berhenti.
"Masih di sini, Nona?"
Meloudy tersentak.
"A… ya, Tuan. Saya… saya meninggalkan berkas penting di laci. Sebentar lagi saya pulang."
"Jangan terlalu larut," ucapnya singkat dan dingin, tetap berjalan menuju pintu keluar.
"Besok ada rapat pagi."
"Baik, Tuan."
Vano pergi, tanpa pernah tahu apa yang baru saja tersembunyi di balik lipatan lengan kemejanya. Pintu tertutup perlahan. Meloudy terkulai lemas di kursinya, napasnya terhembus panjang — lega, namun hatinya terasa semakin berat. Tabir itu belum terbuka, rahasianya masih tersimpan. Namun ia menyadari satu hal: suatu hari nanti, ia tak bisa terus menyembunyikannya selamanya.
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu