NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 INTEROGASI
Bau obat-obatan dan cairan antiseptik yang menguar di udara rupanya tidak mampu menutupi aroma anyir darah yang masih menempel pekat di sela-sela jari Yuda. Meski kedua tangannya itu sudah bersih setelah dicuci.
Pemuda itu duduk membungkuk di kursi tunggu berbahan besi antikarat yang terasa sedingin es menembus kulitnya. Matanya menatap kosong ke arah ubin putih rumah sakit.
Namun, yang ia lihat bukanlah pantulan cahaya lampu neon dari lantai yang bersih, melainkan genangan merah pekat yang mengalir dari perut Haruma di atas panggung perlombaan di pelataran Candi Prambanan yang megah itu.
Pikirannya masih lumpuh. Kepingan-kepingan kejadian beberapa puluh menit lalu terus berputar bagai kaset rusak di dalam kepalanya.
Tatapan kosong Harumi yang terlihat beberapa detik...
Senyuman menyeringai yang merobek paras cantik kekasihnya itu.
Iya... HARUMI ADALAH KEKASIH (PACAR) YUDA.
Lalu kilatan bilah pisau yang bergerak terlalu cepat sebelum akhirnya menembus kulit perut Haruma dan merobeknya, tepat di saat Haruma mencoba melindungi dirinya.
"Ini gila, Yud! Ini bener-bener gila!" Suara parau Dion di sebelahnya memecah keheningan mencekam lorong Instalasi Gawat Darurat (IGD) tersebut.
Sang sutradara tim seni drama kampus mereka itu sudah duduk bersandar dengan kepala menengadah, mengusap wajahnya kasar. Kedua tangannya Dion pun gemetar.
Yuda masih saja diam seribu bahasa, tidak merespons sedikitpun.
Lidahnya terasa kelu, seolah ada bongkahan batu yang menyumbat tenggorokannya. Ia hanya menunduk, memandangi kaos ketat putih yang menjadi pelapis dalam kostum dirinya, yang kini bercorak merah kehitaman.
Sesekali dadanya naik turun dengan cepat, mencoba meraup oksigen di tengah serangan panik yang sejak tadi mencengkeram paru-parunya.
"Gue yang bertanggung jawab atas semua properti di panggung itu, Yud. Gue yang ngecek semuanya," gumam Dion lagi, kali ini nada suaranya bergetar menahan tangis dan rasa bersalah yang teramat sangat.
"Gue berani sumpah, Yud! Pisau yang dipakai Harumi buat nusuk perut Kakaknya itu nggak pernah ada, dan nggak pernah gue lihat sebelumnya... Gue nggak tahu dari mana pisau itu bisa ada di tangannya Harumi!"
Belum sempat Yuda mencerna perkataan Dion, derap langkah sepatu bot yang beradu dengan lantai granit lorong rumah sakit memaksa kedua pemuda itu menoleh.
Ketegangan baru seketika merayap naik ke tengkuk mereka.
Dua orang pria berseragam kepolisian dengan raut wajah tegas dan dingin berjalan mendekat.
Di belakang mereka, seorang petugas keamanan rumah sakit mengekor sambil menunjuk ke arah Yuda dan Dion.
Dunia Yuda yang sedari tadi terasa runtuh, kini semakin terasa menyempit.
Ini bukan lagi sekadar tragedi atau kecelakaan panggung. Ini adalah kejahatan berdarah, dan pihak berwajib telah datang untuk menuntut jawaban yang Yuda sendiri tidak memilikinya.
"Selamat malam. Anda berdua yang membawa korban penusukan dari Candi Prambanan?" tegur salah satu polisi yang memiliki pangkat Inspektur Polisi Dua di kerahnya.
Suaranya berat, menggelegar di lorong yang sunyi. Namanya tertera di dada kiri: BAYU.
Dion segera berdiri, memposisikan dirinya sedikit di depan Yuda yang masih tampak terguncang. "B-benar, Pak... Kami teman-teman kampusnya. Saya sutradara dari tim drama tadi."
Inspektur Bayu mengangguk pelan, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku kemejanya.
Matanya yang tajam menatap bergantian antara Dion dan Yuda, sebelum akhirnya tatapannya berhenti dan menajam, saat melihat noda darah segar yang membasahi sekujur pakaian Yuda.
"Bisa sebutkan nama kalian? Kami mendapat laporan dari panitia acara bahwa telah terjadi tindak pidana penganiayaan berat menggunakan senjata tajam di atas panggung terbuka. Terduga pelaku adalah adik kandung korban sendiri. Benar begitu?" Inspektur Bayu memulai interogasinya dengan lugas, tanpa basa-basi.
Mendengar kata 'terduga pelaku' dan 'adik kandung', Yuda akhirnya memaksa tubuhnya yang gemetar untuk berdiri.
"Nama saya Yuda, Pak. Dan... dan ini bukan penganiayaan. Harumi tidak mungkin sengaja melukai kakaknya sendiri!" suaranya serak, bergetar oleh campuran antara amarah, kesedihan, dan kebingungan yang menyiksa.
Polisi kedua yang mendampingi Inspektur Bayu mendengus pelan, sebuah reaksi sinis yang sangat tipikal dari penegak hukum yang sudah terlalu sering mendengar alibi.
"Bukan sengaja bagaimana, Mas Yuda? Ratusan penonton melihat dengan jelas bagaimana saudari Harumi menyembunyikan pisau itu di balik kostumnya, lalu menusukkannya tepat ke perut korban yang bernama Haruma. Kami sudah mengamankan saudari Harumi dari lokasi kejadian bersama panitia keamanan." jawab Inspektur Bayu.
"Harumi sudah ditahan?!" Mata Yuda terbelalak.
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Membayangkan kekasihnya yang pasti sedang ketakutan, menangis, dan kebingungan di kelilingi petugas keamanan membuat dada Yuda terasa mau pecah.
"Dia sedang diamankan untuk dimintai keterangan. Kami di sini untuk mencocokkan kesaksian awal," potong Inspektur Bayu, menetralkan situasi.
"Mas Yuda, Anda berada tepat di depan mereka saat kejadian. Coba ceritakan kepada kami, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada konflik keluarga sebelumnya? Masalah utang piutang? Atau..." Inspektur Bayu menahan lanjutan perkataannya.
Inspektur Bayu menatap lebih tajam ke arah Yuda, dan melanjutkan perkataannya itu, "Atau... Ada motif cinta segitiga antara Anda, korban, dan pelaku?"
Pertanyaan terakhir itu bagaikan tamparan keras di wajah Yuda. Pemuda itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Tidak ada konflik apa pun, Pak! Haruma sangat menyayangi adiknya, begitu juga sebaliknya! Haruma yang paling mendukung hubungan saya dengan Harumi. Tuduhan Bapak itu sangat tidak masuk akal!" bantah Yuda, mencoba membela kekasihnya itu.
"Lalu bagaimana Anda menjelaskan penusukan itu?" Inspektur Bayu menekan balik, tatapannya tak gentar.
"Orang normal tidak akan membawa senjata tajam ke atas panggung perlombaan, dan menusuk anggota keluarganya sendiri tanpa motif yang kuat." tambahnya lebih tegas.
Yuda membuka mulutnya, namun suaranya tertahan.
Bagaimana ia bisa menjelaskan hal ini kepada polisi?
Jika ia mengatakan yang sebenarnya...
Bahwa tatapan mata Harumi berubah kosong sepersekian detik sebelum kejadian mengerikan itu, bahwa senyumannya bukanlah senyuman manusia, dan bahwa seperti terasa ada satu "kekuatan gelap tak kasatmata" yang mengendalikan tubuh kekasihnya itu...
Polisi pasti akan menganggapnya gila atau sedang mengarang cerita untuk melindungi seorang kriminal.
Melihat Yuda yang terdiam kaku, Dion mengambil alih. "Pak, saya berani bersaksi bahwa Harumi bertingkah sangat aneh sejak sebelum naik panggung. Tatapan matanya kosong. Senyumnya... senyumnya sangat mengerikan, Pak. Itu seperti bukan Harumi yang kami kenal." jelas Dion mencoba memberikan kesaksiannya pada dua polisi di depannya itu.
"Dan setelah penusukan itu terjadi, setelah pisau itu terlepas dari tangannya, Harumi langsung histeris kebingungan melihat darah di tangannya sendiri. Dia seperti orang yang baru tersadar dari tidur, Pak. Dia bahkan tidak tahu apa yang baru saja dia lakukan!" tambah Dion mencoba meyakinkan kedua petugas.
Kedua polisi itu saling berpandangan sejenak. Catatan di tangan Inspektur Bayu berhenti digoreskan.
"Jadi, Anda ingin mengarahkan kami pada satu kesimpulan bahwa saudari Harumi mengalami gangguan kejiwaan? Atau kerasukan? Begitu?" Nada suara Inspektur Bayu terdengar sangat skeptis. Penuh rasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Dion barusan.
Di dunia hukum yang berlandaskan bukti fisik dan logika, argumen supranatural adalah sebuah lelucon.
"Saya hanya menceritakan apa yang saya lihat, Pak!" tegas Dion.
"Lagi pula, dari mana pisau itu berasal?! Kami semua diperiksa panitia sebelum acara dimulai. Properti kami nggak ada sebuah pisau pun!!" kata Dion lagi.
Mendengar pertanyaan Dion mengenai pisau tersebut, Inspektur Bayu perlahan menutup buku catatannya. Raut wajahnya berubah jauh lebih serius, dan ada kebingungan yang tertahan di balik sorot matanya yang tegas.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintar, lalu membuka sebuah foto sebelum menyodorkannya ke hadapan Yuda dan Dion.
"Itu juga yang sedang kami selidiki," ucap Inspektur Bayu pelan, suaranya kini kehilangan nada sinisnya.
"Tim Inafis kami sudah mengamankan barang bukti pisau yang digunakan untuk menusuk korban. Tapi ada satu hal yang membuat kami sangat bingung." tambah Inspektur Bayu.
Yuda menatap layar ponsel tersebut. Di sana, tergambar sebuah pisau yang telah diamankan di dalam plastik klip transparan.
Namun, alih-alih melihat pisau dapur yang mengkilap atau pisau lipat modern, darah Yuda seolah membeku seketika, saat ia melihat detail benda tersebut.
Bilah pisaunya...
Berwarna hitam kelam, berkarat di beberapa bagian dengan ukiran aksara Jawa kuno yang berkelok-kelok di sepanjang sisi logamnya.
Gagangnya terbuat dari kayu hitam yang diukir menyerupai sosok iblis dengan mulut menganga.
Itu sama sekali bukan pisau biasa.
Itu terlihat seperti sebuah pusaka kuno!
Dan saat kejadian penusukan di atas panggung, Yuda dan Dion memang tak memperhatikan sampai sedetail itu.
"Pisau itu..." Inspektur Bayu melanjutkan dengan nada berat.
"Menurut ahli forensik kami di lapangan, melihat dari tingkat korosi dan material logamnya, benda itu diperkirakan telah tertimbun di dalam tanah selama ratusan tahun. Mustahil benda purbakala seperti itu bisa disembunyikan oleh mahasiswi biasa tanpa ketahuan, apalagi sampai dibawa ke atas panggung." jelas Inspektur Bayu.
Udara di lorong IGD itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.
Bulu kuduk Yuda meremang hebat.
Perkataan polisi itu seakan menjadi validasi atas ketakutan terbesarnya.
Tragedi malam ini bukanlah kejahatan manusia biasa.
Sesuatu yang sangat tua, sangat gelap, dan sangat mendendam telah bangkit dari tidur panjangnya di pelataran Prambanan, dan kini menjadikan wanita yang dicintai oleh Yuda yaitu Harumi, sebagai wadah pembawa kematian.
Belum sempat Yuda mengutarakan kengerian yang bergejolak di dadanya, tiba-tiba sebuah suara melengking tajam merobek keseriusan mereka berempat.
TIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT...!!!
Suara alarm monitor detak jantung berbunyi panjang dan konstan dari dalam ruang gawat darurat yang menangani Haruma.
Tirai kaca di dalam ruangan itu tersingkap sedikit, memperlihatkan para dokter dan perawat yang tiba-tiba bergerak sangat panik.
Seseorang berteriak meminta alat defibrillator (alat denyut jantung), sementara yang lain memompa dada Haruma dengan putus asa.
"Haruma...!!" Yuda berteriak histeris, berlari menerjang pintu kaca ruangan itu sebelum dengan cepat ditahan oleh petugas keamanan dan Dion.
Garis lurus di monitor jantung itu menjadi mimpi buruk yang paling nyata...
Menandakan bahwa...
Kutukan kuno itu baru saja meminta tumbal pertamanya.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda