"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15- Dua Garis Lurus
Rutinitas baru di semester ini pelan-pelan membentuk pola yang pasti. Setiap harinya, kelas X IPA 2 seolah terbagi dalam dua irama: duniaku yang berkutat dengan bunyi peluit dan matras latihan silat, serta dunia Nara yang dipenuhi oleh tumpukan buku tebal dan rumus Fisika.
Meskipun waktu kami buat sekadar mengobrol santai di kelas makin berkurang, ada kebiasaan baru yang tanpa sadar tercipta. Setiap jam dua siang—satu jam sebelum bel pulang dan jadwal latihan soreku dimulai—aku selalu menyempatkan diri mengusili Nara di mejanya, atau sekadar membelikannya minuman dingin di kantin Mbok Darmi.
Hari Jumat siang itu, udara kelas terasa agak gerah. Sebagian besar anak cowok sudah kelelahan habis pelajaran Olahraga di jam pertama tadi. Diko bahkan sudah menempelkan dahinya ke meja kayu, tidur nyenyak di sebelahku.
Aku berdiri dari bangku belakang, menggeser langkah menuju meja barisan depan. Nara sedang duduk sendirian, memegang jangka dan penggaris sambil memandangi lembaran kertas kalkir di depannya.
Puk.
Aku menjatuhkan satu kotak susu rasa cokelat yang dingin tepat di samping jangka milik Nara.
Nara tidak langsung mendongak. Dia cuma helat napas pelan, lalu memutar kepalanya menatapku dengan alis terangkat sebelah.
"Ngapain lagi, Satria?" tanya Nara dengan suara khasnya yang datar dan dingin.
"Minum, Ra. Biar otakmu yang panas kena rumus Fisika itu rada adem dikit," kataku santai sambil langsung menduduki kursi kosong di sebelahnya tanpa dipersilakan.
Nara memperhatikan kotak susu cokelat itu sejenak, lalu menatap wajahku. Ada raut lelah yang tersisa di matanya, tapi bibirnya mengukir senyum tipis yang sangat halus.
"Makasih. Tapi kamu nggak usah beliin minum tiap hari begini, Sat. Uang sakumu nanti habis cuma buat ngasih aku minum," kata Nara pelan sambil membuka sedotan plastik susu itu.
"Yee, perhitungan banget! Lagian kan es teh manis sama susu kotak harganya cuma dua ribuan, Ra. Gak bakal bikin aku bangkrut," balasku sambil menyeringai lebar. "Anggap aja ini investasi biar tutor Matematikaku gak kapok ngajarin aku."
Nara menyedot susunya pelan, lalu memutar posisi duduknya sedikit menghadapku.
"Latihan silatmu sore ini dari jam tiga lagi, kan?" tanyanya.
"Iya, Ra. Seperti biasa, jam tiga sampai jam enam sore di aula bawah. Mas Teguh bilang hari ini ada simulasi tanding porsi penuh. Paling ntar badanku remuk lagi," jawabku sambil mengusap pelan otot paha kananku yang masih agak pegal dari latihan kemarin.
Nara menatapku agak lama. Tidak ada raut ejekan di wajahnya saat ini. Cewek itu mendadak kelihatan lebih serius.
"Jangan dipaksain kalau emang udah gak kuat, Sat. Kamu itu suka sok jagoan kalau udah di atas matras," cetus Nara, nada bicaranya galak tapi ada nada perhatian yang terselip sangat jelas.
Aku tertawa kecil mendengar omelannya. "Namanya juga atlet, Ra. Kalau gak dipaksa mana bisa berkembang? Sama aja kayak kamu yang dipaksa ngerjain lima puluh soal Fisika tiap hari sama Pak Ridwan."
Nara menghela napas panjang, mengakui kebenaran ucapanku dalam diam. Dia lalu mengambil pulpen gel hitamnya dari dalam kotak pensil, menarik telapak tangan kiriku secara spontan.
Aku agak kaget waktu jemari lentiknya yang dingin menyentuh telapak tanganku. Nara dengan teliti menuliskan sesuatu di telapak tangan kiriku menggunakan pulpen gel.
"Ngapain ditulis di tangan, Ra?" tanyaku heran melihat gerakannya.
Setelah selesai menulis, Nara melepaskan genggaman tangannya dan menunjuk tulisan hitam di telapak tanganku:
Fokus! Jangan kecapekan.
Tulisan tangannya yang rapi dan tegas itu tercetak jelas di kulit telapak tanganku.
"Biar tiap kali kamu ngepalin tangan pas latihan sore nanti, kamu ingat pesan itu. Awas kalau pulang latihan ada luka baru lagi di mukamu!" ancam Nara sambil memelototkan matanya sok galak.
Melihat tingkah unik dan perhatian terselubungnya, ada rasa hangat yang mendadak meletup di dalam dadaku. Rasa pegal di badanku serasa menguap gitu aja.
"Siap, Mbak Tutor! Tulisan ini gak bakal tak cuci sampai latihan selesai," balasku sambil mengepalkan tangan kiriku erat-erat, seolah menyimpan pesan itu baik-baik di dalam genggaman.
Nara memutar kedua bola matanya, berpura-pura malas melihat tingkah konyolku, tapi senyum tipis di bibirnya gak bisa ditutupi.
Tepat pukul tiga sore, bel berbunyi nyaring menandakan jam pelajaran usai. Anak-anak yang tidak ada kegiatan langsung berhamburan pulang ke rumah masing-masing.
Aku berjalan menuju ruang ganti aula bawah, melepas seragam putih abu-abu dan berganti pakaian latihan silat hitam-hitam. Saat mengikat sabuk kain di pinggang, aku menyempatkan diri melihat telapak tangan kiriku. Tulisan Fokus! Jangan kecapekan dari Nara masih tercetak jelas di sana.
"Satria! Ayo masuk gelanggang, pemanasan sepuluh putaran sekarang!" teriak Mas Teguh dari tengah aula.
"Siap, Mas!" sahutku keras.
Latihan sore itu berjalan sangat keras. Dari pukul tiga sampai pukul lima sore, fisik kami dikuras habis dengan porsi sprint, push-up, dan pemantapan teknik bantingan. Pukul lima sore, Mas Teguh memulai sesi simulasi tanding (sparing).
Aku mendapat giliran tanding melawan salah satu senior kelas XI yang bertubuh lebih jangkung. Di ronde pertama, aku sempat kena tendangan lurus di area dada sampai terdorong ke pinggir matras. Napasku sempat sesak sejenak, dada rasanya seperti dihantam kayu tebal.
"Bangkit, Satria! Jangan diam aja!" seru Pelatih Utama dari pinggir gelanggang.
Aku berlutut di atas matras, menahan rasa sakit di dada. Saat jemari tangan kiriku mengepal di atas matras buat menopang badan, aku teringat pesan tulisan tangan Nara di telapak tanganku.
Fokus! Jangan kecapekan.
Aku menarik napas panjang-panjang, menegakkan posisiku kembali, lalu memasang kuda-kuda depan dengan tatapan mata tajam melotot ke arah lawan. Rasa sakit di dada berganti jadi tambahan energi yang meluap.
Di ronde kedua dan ketiga, aku bermain jauh lebih agresif. Refleks kelitanku bekerja sempurna, menghindari dua serangan tendangan lawan dan langsung membalasnya dengan sapuan kaki bawah yang sukses menjatuhkan senior itu ke atas matras.
Bruk!
"Poin masuk! Bagus, Satria!" seru Mas Teguh sambil menepuk tangannya kencang.
Ketika peluit tanda berakhirnya latihan berbunyi tepat pukul enam sore, seluruh badan rasanya sudah mandi keringat. Namun, ada kepuasan luar biasa yang memenuhi rongga dadaku.
Usai mandi dan berganti pakaian di toilet sekolah, aku menuntun motor bebekku menyusuri lorong parkiran yang mulai sepi dan gelap. Langit sore sudah berganti warna jadi jingga kehitaman.
Saat mau melewati gerbang luar sekolah, aku melihat sosok Nara baru berjalan turun dari lantai dua menuju tempat parkir motornya. Dia kelihatan membawa tas yang sangat berat, mukanya lemas khas orang kelelahan belajar.
Aku memperlambat laju motorku, menghentikannya persis di samping motor bebek merah marun milik Nara.
"Baru selesai bimbingan juga, Ra?" sapa ku sambil melepas kaca helm.
Nara kaget sedikit, lalu menoleh memandangku. Dia memandangi seragam sekolahku yang agak kusut dan rambutku yang masih setengah basah habis mandi.
"Iya, Pak Ridwan baru lepas kami jam enam tadi," jawab Nara pelan. "Gimana latihanmu? Ada yang luka lagi gak?"
Tanpa banyak bicara, aku membuka kepalan tangan kiriku dan memamerkan telapak tanganku ke hadapannya di bawah lampu gerbang sekolah. Tulisan Fokus! Jangan kecapekan darinya masih kelihatan jelas, walau agak samar kena keringat.
"Aman, Ra. Gak ada luka baru di muka. Pesanmu tak simpan terus pas tanding tadi," kataku sambil tersenyum lebar.
Nara menatapi telapak tanganku, lalu matanya beralih menatap wajahku. Ada binar gembira dan lega yang terpancar bening dari kedua mata bulatnya.
"Dasar aneh... ditulis di tangan malah beneran dipamerin," gumam Nara pelan, walau tawa kecil tetap lolos dari bibirnya.
"Biar terbukti kalau aku ini murid yang penurut," balasku menggebu. "Kamu sendiri gimana? Otak masih utuh kan habis dihajar rumus dari jam tiga?"
"Utuh sih... tapi lemes banget rasanya," sahut Nara sambil menyandarkan bahunya sebentar di jok motornya.
Melihat raut lelah di wajah cantiknya, aku mengusap tengkukku. "Yaudah, pulang yuk. Langsung istirahat di rumah, jangan belajar lagi malam ini."
Nara mengangguk pelan, memakai helm merahnya dengan gerakan agak lambat. "Iya. Kamu juga langsung istirahat ya, Satria."
Kami berdua menyalakan mesin motor masing-masing, lalu berkendara berdampingan keluar dari gerbang sekolah menembus jalanan kota yang mulai ramai oleh lampu-lampu kendaraan malam. Di belokan persimpangan jalan menuju rumah masing-masing, Nara sempat membunyikan klakson motornya dua kali sebagai tanda pamit sebelum melesat pergi.
Malam harinya di kamar, aku berbaring terlentang memandangi langit-langit. Otot-otot badanku pegal semua, tapi pikiranku terasa sangat tenang dan bahagia.
HP jadoelku di meja belajar berbunyi nyaring, tanda ada SMS masuk dari Nara:
"Makasih ya buat susu cokelatnya tadi siang. Nanti telapak tanganmu dicuci yang bersih pas mandi, biar tinta pulpennya gak bikin gatal."
Aku tersenyum sendiri membaca SMS singkat itu, jemariku lincah membalas:
"Udah tak cuci kok, Ra. Tapi tulisan itu udah tak rekam di kepala. Selamat istirahat ya, Mbak Tutor :)"
Balasan darinya masuk tidak sampai dua menit kemudian:
"Selamat istirahat juga, Calon Atlet. Besok gak usah beliin minum lagi, biar uangmu gak habis!"
Aku tertawa pelan membaca omelan penutup darinya, lalu meletakkan HP di samping bantal dan mematikan lampu kamar.
Di masa-masa itu, aku merasa hubungan kami berjalan sangat indah. Walaupun kami sama-sama sibuk dengan panggung perjuangan masing-masing, perhatian-perhatian kecil seperti ini selalu jadi jembatan yang merekatkan kami berdua.
Aku tidak pernah tahu, bahwa masa-masa tenang dan manis ini adalah tenang sebelum badai. Karena tidak lama lagi, panggung yang berbeda ini bakal membawa tantangan sesungguhnya yang siap menguji rasa percaya di antara kami.