NovelToon NovelToon
Hacker Cantik Incaran Mafia

Hacker Cantik Incaran Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Ibu Pengganti
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍

Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.

​Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.

Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.

​Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Denting pelan pisau perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mengiringi makan malam di ruang utama Mansion Adhitama.

Di bawah pendar hangat lampu kristal, rutinitas keluarga penguasa dunia bawah itu berjalan elegan, didominasi oleh celotehan riang Lea.

​Di ujung meja, sang patriark klan, Bramantya Adhitama, menyesap espresso-nya dalam diam. Wibawanya menguar tanpa perlu banyak bicara.

Di sebelahnya, sang istri, Lidya, tersenyum mendengarkan cerita cucunya, sementara Sonia kakak Elvano, sibuk memotong daging steak di piring putrinya tersebut.

​Elvano sendiri duduk bersandar dengan kemeja hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa selera.

Pikirannya masih tertinggal di kafe siang tadi. Tatapan tajam Alana, keberaniannya, serta aroma samar vanila bercampur bubuk mesiu dari wanita itu, entah mengapa terus mengganggu kewarasannya.

​"Mommy, Oma, Opa, tahu nggak? Hari ini Lea makan es krim cokelat yang gede banget!" celoteh Lea tiba-tiba, membuyarkan lamunan Elvano.

Gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

​Sonia tersenyum maklum, lalu melirik memperingatkan ke arah adiknya. "El, jangan terlalu sering kasih Lea makanan manis. Nanti giginya sakit."

​Elvano hanya mengangkat bahu pelan. "Mana bisa aku nolak, Kak. Jurus merayunya persis sepertimu kalau sedang ada maunya."

​"Bukan cuma sama Paman El, Mommy!" Lea menyela dengan semangat menggebu, mengabaikan tatapan mommy-nya.

"Lea makan es krimnya bareng Kael sama Kai! Mereka sekarang sekolah di tempat Lea! Oma, Kael sama Kai udah tambah tinggi dari Lea loh!"

​Detik itu juga, waktu di ruang makan tersebut seolah berhenti berputar.

​Denting alat makan lenyap seketika. Lidya membeku, garpu di tangannya lolos begitu saja dan jatuh berdenting ke atas piring. Bramantya meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan kaku.

Sedangkan Sonia menoleh patah-patah menatap putrinya, wajah cantiknya seketika pias memucat.

​"Sayang..." Lidya bersuara lebih dulu, napasnya terdengar bergetar hebat. "S-siapa yang tadi Lea sebut?"

​"Kael sama Kai, Oma!" Lea mengangguk polos.

"Anaknya Paman Raka sama Aunty Luna. Kami main bertiga tadi. Iya kan, Paman El?"

​Bagaikan ditarik oleh satu komando tak kasat mata, tiga pasang mata orang dewasa di ruangan itu serentak menoleh menatap Elvano. Tatapan mereka menuntut kepastian yang nyaris mustahil.

​Elvano menghela napas panjang. Ia meletakkan serbetnya, menyisir rambut ke belakang dengan satu tangan, lalu membalas tatapan keluarganya satu per satu dengan keseriusan mutlak.

​"Iya. Kael dan Kai masih hidup," ucap Elvano, suaranya yang berat memecah ketegangan.

"Anak-anak Raka selamat dari pembantaian malam itu. Aku bertemu mereka berdua siang tadi di gerbang sekolah Lea."

​Isak tangis Lidya pecah detik itu juga. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, membiarkan air mata kelegaan membasahi wajahnya.

Bramantya memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat, melepaskan beban yang selama setahun ini menghimpit dadanya.

Sementara itu, Sonia mengusap wajahnya yang basah, menunduk mensyukuri keajaiban tersebut.

​Bagi keluarga Adhitama, Raka bukan sekadar tangan kanan. Pria itu adalah darah daging klan ini.

​"Syukurlah... Tuhan, mereka selamat," bisik Sonia parau. Ia mendongak, menatap adiknya dengan kening berkerut tajam.

"Tapi El, siapa yang berhasil melindungi si kembar dari buruan Sindikat Bayangan selama setahun ini? Dan kenapa kau nggak langsung bawa mereka pulang ke sini?"

​Sudut bibir Elvano perlahan terangkat. Sebuah seringai rumit yang mencampurkan rasa frustrasi, kekaguman, sekaligus rasa geli terbentuk di wajahnya.

​"Mereka dilindungi oleh seekor singa betina yang luar biasa keras kepala," jawab Elvano santai.

​"Singa betina? Siapa?" tuntut Sonia semakin penasaran.

​"Adik kandung Raka."

​"Apa?!" Bramantya dan Sonia berseru nyaris bersamaan.

"Sejak kapan Raka punya adik perempuan?!"

​"Aku juga sama terkejutnya," lanjut Elvano. Ia meraih gelas air esnya, menyesapnya perlahan sebelum menatap kakaknya dengan kilat geli.

"Namanya Alana Casandra, gadis itu bukanlah gadis biasa, tapi hacker jenius yang membobol firewall markas kita dua bulan lalu. Dan siang tadi... dia menatapku di depan sekolah, menantangku, dan bersiap menyayat leherku kalau aku berani menyentuh si kembar."

​Sonia ternganga. "Tunggu dulu... jadi, cewek yang bikin kamu uring-uringan nggak tidur berhari-hari, yang bikin kamu ngamuk sampai ngehancurin meja kerjamu sendiri bulan lalu itu... adiknya Raka?!"

​Elvano berdeham pelan, memalingkan wajah untuk menghindari tatapan menyelidik kakaknya.

​Melihat reaksi salah tingkah adiknya yang sangat langka itu, raut wajah Sonia berubah. Tawa renyah meluncur dari bibirnya, menular pada Lidya yang kini ikut tersenyum sambil menyeka sisa air matanya.

​"Astaga, El," Sonia menggeleng tak percaya, menatap adiknya dengan senyum jenaka.

"Setelah bertahun-tahun kau bersikap arogan dan bikin perempuan antre hanya dengan kedipan mata, kau malah takluk pada wanita yang ingin memenggal kepalamu. Kapan kau mau bawa dia kemari? Kakak mau gelar karpet merah untuknya."

​"Jangan mulai, Kak," geram Elvano pelan, urat di pelipisnya berkedut meski telinganya terasa sedikit memanas.

"Dia sangat keras kepala. Dia menolak mentah-mentah bantuanku, apalagi menyerahkan Kael dan Kai ke dunia kita."

​Bramantya mengangguk perlahan. Wajah sang patriark kembali memancarkan wibawa yang serius.

"Gadis yang sangat cerdas. Insting bertahannya benar. Sindikat Bayangan pasti sedang mengawasi pergerakan kita sekecil apa pun. Jika dia menyerahkan si kembar secara terbuka ke mansion ini, mereka bertiga akan menjadi sasaran empuk."

​"Lalu apa rencanamu, El?" tanya Sonia, nada suaranya berubah mengkhawatirkan keselamatan anak-anak sahabatnya.

"Kau nggak mungkin membiarkan Alana dan si kembar berkeliaran di luar sana sendirian tanpa perlindungan."

​"Tentu saja tidak," sahut Elvano mutlak.

Aura predatornya kembali mendominasi ruangan, dingin dan penuh perhitungan. Matanya menatap lurus ke arah jendela raksasa yang membingkai pekatnya malam.

​"Dia serigala penyendiri yang terlalu mandiri. Kalau aku memaksa, dia akan membawa lari si kembar dan menghilangkan jejak lagi. Jadi, aku harus bermain dengan aturannya."

​Elvano mengetukkan telunjuknya di atas meja marmer, merancang taktik di dalam kepalanya.

"Aku akan menjadikannya sekutu, tanpa dia sadari bahwa dia sedang berjalan masuk ke dalam wilayah kekuasaanku. Mulai besok, aku akan menempatkan penjagaan bayangan berlapis di radius apartemennya dan sekolah si kembar."

​Elvano membuang napas pelan. Bayangan sorot mata Alana yang menantangnya siang tadi kembali berkelebat, membuat darahnya berdesir aneh.

​"Aku tidak akan memaksanya masuk ke sangkar ini," gumam Elvano, suaranya merendah menjadi janji yang berbahaya.

"Tapi akan kubuat...dia sendiri yang akan datang mencariku."

Bersambung...

​

1
Munas Tuti
uluuuh judesnya Alana 😄
Munas Tuti
Alana beneran jenius..👍👍
Munas Tuti
Alana berpacu dg waktu....smg kamu dan anak2 kuat yaa
Munas Tuti
akhirnya anak 2 balita bisa ketemu tantenya
riniasyifa
terima kasih kakiku atas supportnya sejauh ini😄😍 semoga kakaknya sehat, dan mudah rejekinya selalu amin.
Munas Tuti
bakalan seruuni keknya 😄
Munas Tuti
huuuuh...telat baca niii, dipikir cerita seblmnya bln selesau 😄😄
Lucyana H
selalu ga sabar thor buat baca cerita selanjutnya.....😍👍😘💪
Lucyana H
setuju.....dgn ucapan Alana selama ada duo kembar yg pinter dan si elvano sang raja mafia ga usah merasa takut Al....berdua emang cocok di sebut dewa dan Dewi kematian👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼🫰🏼🫶🏼
Lucyana H
keren ....tenan...pasangan klan Adhitama ini emang ga ada matinya😘🥰👍😍
Lucyana H
ya ampun thor setiap hari ceritamu bertambah keren aja....💪👍🥰😘
riniasyifa: Terima kasih kakku, ikut senang author kalau ada yang suka sama ceritanya🤭😍
total 1 replies
Lucyana H
knp up nya dikit kali thor...ga berasa bacanya🥰
Lucyana H
pasti sebentar lg bakal nongol tuh para musuhnya klan Adhitama...siap siap aja.....bakal semakin seru...ayo boy basmi semua musuhnya 👍💪😁
Lucyana H
ngeri...kali.... good job boy.....balas dendam yg apik....
riniasyifa: terima kasih sudah mampir kak ku😍
total 1 replies
Lucyana H
udah ga sabar nunggu bsk....
V3
ternyata El takluk jg sama omongan KK nya 🤣🤣
kata si KK ... El itu mafia-mafia an 🤦🤦🙈🙈🤔
V3
ealaah ... mlh mereka dh ketemu lg dn mlh saling tatap-tatapan 🤣🤣
V3
smg ja mereka lekas bertemu 🤣
V3
cerdik bgt si El ,,, El tahu kalau Al adalah pelindung si kembar 🤦
V3
aku kasihan sama si Kembar ,,,, usia dh 6 tahun tp gak bisa Sekolah Krn hidup nya JD Nomaden 😔🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!