NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebakaran Resto

Dharma pulang jam dua belas malam dan berencana untuk langsung tidur. Ia lihat di sofa, Melisa juga sudah tidur sambil memeluk buku yang ia tidak tahu apa isinya.

Acara di resto tadi cukup menyita energinya, Ia belum sempat membawa gelang dan dompet yang katanya dicuri Melisa untuk didaktiloskopi agar segera bisa dibuktikan kebenarannya. 

Kalau perempuan itu sudah tidur begini, suasana kamar Dharma jadi begitu tenang seperti saat ia sendirian. Bedanya, ruangan ini terasa lebih hidup karen ada manusia lain selain dirinya.

Dharma membersihkan dirinya di kamar mandi, lalu berganti pakaian.

Ia menatap foto istrinya yang masih disimpan di nakas dekat tempat tidur. Bu Inggit sudah beberapa kali membuangnya, tapi ia cetak lagi untuk diletakkan di sana.

“Akhirnya ketemu juga sama bantal.” Baru saja ia memejamkan matanya, ponselnya berdering. 

Nama Ardi yang muncul di layar, tim marketing media yang tadi berpamitan pulang paling awal. 

“Ada apa, Di?” begitu telepon tersambung Dharma tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Menurutnya, menelepon seseorang di jam selarut ini tidak mungkin hanya untuk berbicara hal tidak penting.

“Resto cabang tiga kebakaran, Pak. Ini saya baru panggil damkar juga.”

“Cabang tiga? Kamu yakin?” Padahal ia baru saja pulang dari sana dan tidak terjadi apa-apa.

“Saya juga belum tahu, Pak. Tadi banyak pesan masuk di akun resto, orang sekitar nginfo kalau di sini kebakaran. Jadi saya langsung ke sini, ternyata sudah cukup besar, Pak.”

Dharma memijat pangkal hidunya. Ia mengantuk dan lelah sekali, tapi tidak bisa membiarkan ini semua terjadi begitu saja. 

“Oke, saya ke sana.” Dharma segera meninggalkan bantal-bantal dan selimut yang tadi memeluknya. Ia berpakaian seadanya dan akan langsung menuju ke lokasi. Ia perlu memastikan kerusakannya tidak terlalu parah dan kerugiannya tidak akan terlalu besar.  

Melisa yang mendengar percakapan itu ikut terbangun. “Mau ke mana lagi, Pak?” tanyanya. Ia hanya mendengar percakapan itu sedikit tadi.

“Resto kebakaran, saya harus ke sana lagi.” 

“Saya boleh ikut?” Melihat wajah Dharma yang sepertinya begitu lelah, Melisa reflek meminta ikut.

Dharma mengangguk saja. Tidak ada waktu untuk berdebat, pikirnya.

…

Jalanan sepi di jam ini. Dharma mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. “Pakai sabuk pengamannya!” perintahnya tadi sebelum tancap gas.

Melisa menurut saja. Dalam kecepatan itu, sebenanya Melisa ketakutan setengah mati, bagaimana kalau terjadi apa-apa di Tengah jalan, tapi ia tidak berani terlalu banyak berkomentar. Wajah Dharma kusut sekali, menyeramkan. Kombinasi lelah dan seperti menahan marah.

Sampai di Lokasi, damkar sudah dikerahkan untuk memadamkan api. Dharma mengusap wajahnya pasrah. Ia sudah bisa mengira-ngira total kerugian yuang harus ditanggungnya. 

Melisa menepuk-nepuk pundaknya pelan untuk bantu menenangkan. Dharma tidak menghindar. Ia memang butuh dikuatkan.

Ardi datang menghampiri Dharma. Ia mengangguk sopan pada Melisa dulu lalu menyampaikan laporan yang didapatnya. “Beberapa warga sekitar tadi sempat coba membantu memadamkan saat api masih terlihat kecil, Pak. Tapi mereka kewalahan dan api jadi semakin besar. Makanya saya panggil dua damkar agar tidak sampai merembet ke bangunan-bangunan sebelah. Penyebabnya belum bisa diketahui sekarang, Pak. karena Sebagian besar bagian resto sudah hangus parah.”

 “Kamu sudah melakukan Tindakan yang benar, Di. Makasih banyak ya.” Dharma menepuk Pundak Ardi juga. Anak itu juga terlihat begitu syok. 

“Saya curiga dari bekas gathering tadi, Pak. mungkin arang sisa pembakaran masih menyala.”

“Tidak, sebelum pulang saya sendiri yang memastikan itu sudah mati sempurna. Sudah cukup dingin.”

“Oh, kalau begitu bisa jadi ada korsleting Listrik ya, Pak?”

“Mungkin saja. Biar tim penyelidik besok yang bantu menganalisis dan ngasih kepastian penyebabnya. Buat evaluasi kita pada cabang-cabang lain. Besok koordinasikan rapat dengan para pimpinan cabang agar diperketat penjagaan dan SOP keamanan retso di segala aspek ya, Di.”

“Baik, Pak.”

“Kalau urusan dengan damkar selesai nanti kamu bisa langsung pulang. Sekalian infokan ke semua karyawan cabang tig aini, sementara besok libur dulu. Pesangon akan diberikan paling lambat seminggu ke depan.”

Ardi terlihat merenung. Baru saja mereka merayakan peluncuran menu baru untuk resto ini, ternyata nanti pagi ia malah menjadi pengangguran. 

“Sabar, Di. Kita cari jalan keluarnya bareng-bareng.”

“Baik, Pak. pulang dari sini nanti saya info teman-teman dan juga pengumuman penutupan resmi di media.”

Ardi menjabat tangan Dharma lalu membungkukkan badan berpamitan.

…

Di dalam mobil, Dharma hanya duduk bersandar sambil memejamkan mata. Napasnya teratur meskipun isi kepalanya sedang riuh memikirkan hal yang baru saja terjadi padanya.

Melisa ikut diam. Ia takut salah gerak dan malah memperburuk suasana.

Dharma menoleh padanya. “Kamu bisa nyetir, kan?”

Melisa langsung menggelengkan kepala. Bahkan baru saat masuk keluarga ini ia ke mana-mana dengan mobil.

Dharma menyandarkan kepalanya lagi. “Kalau begitu kenapa minta ikut? Tadi saya iya-iya aja karena mikir kamu bakalan bisa diajak gantian nyetir. Saya ngantuk banget soalnya.”

Melisa jadi merasa bersalah. “Ya maaf, saya tadi cuma penasaran aja sebenarnya, mau ikut lihat kebakarannya separah apa.”

“Cuma itu alasannya? Cuma karena penasaran aja?” Dharma tidak habis pikir bagaimana bisa Melisa segabut itu padahal sudah selarut ini.

Melisa malu sekali, jadi ia coba meluruskan. “Eh, sebenarnya bukan itu saja, Pak. saya kasihan lihat Pak Dharma baru pulang sudah harus pergi lagi, makanya saya ikut, siapa tahu ada yang bisa saya bantu.”

“Nah, itu dia. Harusnya kamu bantu saya.”

“Kalau bantu nyetir saya kebetulan ga bisa. Kalau yang lain mungkin bisa.”

Dharma langsung menoleh padanya. 

Melisa sadar ia salah bicara, tadi memang sedikit ambigu. “Maksud saya ngambilin minum kah, atau beliin makanan siapa tahu Pak Dharma lapar, atau apapun deh yang kayak gitu-gitu.”

Dharma hanya mengembuskan napasnya tanpa menjawab apa-apa.

Melisa jadi semakin kikuk. “Saya tuh ga berguna banget ya ada di kehidupan bapak?”

“Sudah jangan bicara apa-apa. Saya makin pusing.”

Dharma menghidupkan mobilnya dan melaju pulang. Kali ini Melisa merasa tenang karena kecepatan mobil tidak seekstrim sebelumnya.

Ia bertekad untuk belajar mengendarai mobil setelah ini. 

Saat membenahi sabuk pengaman yang dirasa kurang nyaman, tangan Melisa bersentuhan dengan tangan Dharma. “Kok panas banget? Bapak demam?”

Dharma hanya diam.

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Ross: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!