“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Cahaya matahari sudah memenuhi kamar ketika Tiara perlahan membuka mata. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, kemudian melirik jam di meja samping ranjang. Pukul sembilan pagi.
Tiara menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya tidur selama yang ia inginkan. Biasanya, sebelum matahari terbit, ia sudah berada di dapur. Menyiapkan sarapan untuk Haikal dan Rumi, membuat bekal, memastikan obat-obatan Rumi tersedia, lalu membersihkan rumah sebelum berangkat bekerja.
Tetapi sekarang semuanya berbeda. Ia juga sudah tidak memiliki alasan untuk bangun pagi-pagi hanya demi memenuhi semua keinginan Haikal dan Ibunya.
Tiara bangkit dari ranjang dengan santai. Ia bahkan tidak terburu-buru ketika mandi dan berganti pakaian. Namun begitu keluar dari kamar, suara Rumi langsung menyambutnya.
“Tiara!”
Tiara menghentikan langkah.
Rumi berdiri di ruang makan dengan wajah masam. Di meja, tidak ada makanan sedikit pun.
Haikal duduk di kursi sambil memeriksa ponselnya.
“Jam berapa ini?” bentak Rumi. “Kenapa baru bangun? Mana sarapannya?”
Tiara melirik meja makan. Kosong. Ia kemudian menatap Rumi.
“Memangnya kenapa?”
Rumi terbelalak. “Kenapa?”
“Iya.”
“Kami lapar!”
Tiara mengangguk pelan. “Kalau lapar, makan saja.”
“Makan apa?” Rumi semakin emosi.
Tiara mengangkat bahu. “Entahlah.”
Haikal akhirnya meletakkan ponselnya. “Tiara, jangan macam-macam.”
“Aku tidak macam-macam.”
“Kau tahu Ibu dan aku belum sarapan.”
“Bagus.”
Haikal mengerutkan kening. “Bagus?”
“Iya. Berarti kalian tahu rasanya menunggu orang lain melayani kalian.”
Wajah Haikal berubah.
“Buatkan sarapan.”
Tiara justru menarik kursi dan duduk dengan tenang. “Tidak.”
“Tiara!”
“Aku belum sarapan juga.”
“Kalau begitu, buat sekalian untuk semuanya.”
Tiara menatap suaminya beberapa detik. Kemudian ia tersenyum tipis.
“Mas, aku istrimu, bukan pembantu.”
Ruangan langsung sunyi. Rumi menatap Tiara seolah wanita itu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat keterlaluan. Rumah besar itu tidak pernah memiliki pembantu, semua pekerjaan rumah termasuk memasak Tiara yang mengerjakannya.
Haikal mengepalkan tangannya.
Tiara melanjutkan dengan nada santai. “Kalau kalian lapar dan ingin minum minuman hangat, suruh saja calon istrimu, Intan, untuk membuatnya, Mas.”
Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Biar dia tahu, kewajiban menjadi istri seorang Haikal Atmadja di rumah ini selain menemani tidur.”
“Tiara!” Haikal membentak.
Namun Tiara tidak gentar. Di dalam dirinya sudah tidak ada lagi rasa takut seperti sebelumnya.
Intan yang sejak tadi berdiri di dekat Rumi mengepalkan tangan. Memasak? Membuat minuman? Melayani orang lain? Tidak mungkin!
Seumur hidupnya, ia tidak pernah melayani siapa pun. Bahkan di rumahnya sendiri, ia selalu memiliki seseorang yang membantunya. Bagaimana mungkin sekarang ia harus memasak untuk Haikal dan Rumi? Terlebih lagi untuk Tiara?
Intan menundukkan kepala. Ia harus menjaga citra. Ia tidak boleh memperlihatkan kemarahannya.
“Mas...” panggil Intan lirih.
Haikal segera menoleh. “Kenapa?”
Intan mengangkat wajahnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak menyangka Tiara akan bicara seperti itu kepadaku.”
Tiara mendengus.
Drama lagi.
Haikal menatap Tiara tajam.
“Intan itu tamu kita, Tiara. Kamu harus melayaninya dengan baik.”
Tiara tertawa kecil. “Tamu?”
Ia menunjuk Intan. “Dia calon istrimu, Mas.”
“Jangan kurang ajar!”
“Kalau hanya melayani kau dan Ibu, aku mau.” Tiara berdiri. “Tapi kalau melayani gundik itu, aku tidak sudi!”
Intan menutup mulutnya. Air mata yang sejak tadi hanya dibuat-buat akhirnya mengalir.
“Aku tidak mau...” katanya terbata-bata.
Haikal segera mendekatinya. “Jangan menangis.”
“Aku tidak mau tinggal seatap dengan Kakak Madu yang bermulut pedas seperti Tiara setelah menikah dengan Mas Haikal nanti.”
Tiara tersenyum sinis. Intan melanjutkan tangisnya.
“Aku takut setiap hari bertengkar dengannya. Aku ingin punya rumah sendiri.”
Haikal langsung mengangguk. “Baik.”
Tiara menatapnya.
“Aku akan membelikanmu rumah.”
Intan terdiam.
“Tenang saja. Kamu bisa tinggal dengan nyaman di sana.”
Tiara tertawa pendek. “Kalau begitu, bawa juga Ibu bersamanya, Mas.”
Rumi langsung memekik.
“Apa?!”
Tiara menatapnya tenang.
“Biar dia belajar bagaimana merawat ibu mertua yang sudah tua dan sering sakit.”
“Kau mau aku keluar dari rumahku sendiri?”
“Ini bukan rumah Ibu.”
Rumi terdiam.
Tiara menatap sekeliling rumah yang selama bertahun-tahun ia rawat.
“Uang muka rumah ini hasil aku patungan dengan Mas Haikal saat aku masih bekerja sebagai petugas bank dulu.”
Rumi membuka mulut, tetapi tidak mampu membalas.
“Aku yang setiap bulan membayar sebagian cicilannya,” lanjut Tiara. “Jadi jangan bertindak seolah-olah rumah ini sepenuhnya milik Ibu.”
Haikal mengusap wajahnya kasar.
“Berhenti bertengkar!”
Tidak ada yang berbicara.
“Aku akan membeli rumah lagi.”
Haikal mengambil kunci mobil.
“Ibu dan Intan tinggal di sana.”
Rumi tampak puas.
Intan juga diam-diam mendengus kesal.
Namun Tiara hanya menatap suaminya.
“Kau bisa tinggal di rumah ini seorang diri, Tiara,” ujar Haikal dingin. “Aku akan pulang mengunjungimu kalau kau sudah bisa mengendalikan diri dan berdamai dengan emosimu yang besar itu.”
Tiara hampir tertawa.
Jadi sekarang dia yang dianggap bermasalah Setelah bertahun-tahun mengurus keluarga ini?
“Intan, Ibu,” kata Haikal. “Ayo kita cari sarapan di luar saja.”
Ketiganya berjalan menuju pintu. Tiara tetap berdiri di ruang makan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh kepadanya. Pintu akhirnya terbuka. Haikal melangkah keluar bersama Intan dan Rumi.
Sebelum pintu tertutup, Tiara berkata pelan.
“Pergi saja, Mas.”
Haikal berhenti sebentar.
“Kalau perlu, jangan pernah kembali lagi.”
Pria itu menoleh.
Tiara tersenyum.
“Aku sungguh tidak sabar melihat kamu menikah dengannya, dan melihat apa yang akan terjadi setelahnya.”
Intan menatap Tiara dari samping Haikal. Tiara membalas tatapan itu tajam.
“Kapan kamu sadar, Mas. wanita itu tidak sebaik yang kamu kira."
Bersambung....