Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - LANGIT TANPA TOMBOL KELUAR
Gelap itu tidak berakhir dengan suara lonceng.
Ia berakhir dengan bau tanah basah.
Lin Feng menarik napas dan langsung terbatuk. Dadanya terasa terbakar. Udara dingin menyusup ke hidung, membawa aroma jerami, kayu tua, dan sesuatu yang tajam seperti daun yang diremas. Ia membuka mata.
Atap rendah dari bilah bambu memenuhi pandangannya. Cahaya pagi menembus sela-selanya, jatuh dalam garis-garis pucat ke dinding tanah. Ia terbaring di atas dipan kayu, tubuhnya diselimuti kain kasar. Tidak ada monitor. Tidak ada meja. Tidak ada headset.
Ia mencoba bangun. Rasa sakit menyambar dari rusuk hingga bahu, membuatnya jatuh kembali dengan napas tertahan.
“Jangan bergerak dulu.”
Suara seorang lelaki terdengar dari dekat pintu. Lin Feng menoleh pelan. Seorang pria kurus berusia sekitar lima puluh tahun berdiri dengan semangkuk air di tangan. Kulitnya gelap terbakar matahari, rambutnya diselipi uban. Ia mengenakan pakaian sederhana dan memandang Lin Feng dengan lega yang segera disembunyikan di balik kerutan dahi.
“Kau pingsan di jalan bukit,” katanya. “Kalau aku terlambat lewat, hujan semalam akan menenggelamkanmu di parit.”
Jalan bukit. Hujan. Parit.
Lin Feng memandang lelaki itu, lalu tangannya sendiri. Jemarinya lebih ramping dari yang ia ingat. Kulitnya bersih dari bekas luka lama yang ia dapat saat memasak, hanya ada goresan baru di telapak. Ia mengangkat tangan itu ke wajah. Tidak ada cincin, tidak ada sarung tangan, dan bukan tangan yang sama dengan tangan yang meraih meja komputernya.
“Ini…” Suaranya serak. “Tempat apa?”
Pria itu meletakkan mangkuk. “Rumahku. Kau sudah sadar, itu yang penting.”
“Bukan. Maksudku—” Lin Feng berhenti. Ia ingin bertanya apakah ini mimpi, apakah ia koma, apakah seseorang sedang mempermainkannya. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar konyol bahkan sebelum terucap. “Aku siapa?”
Alis pria itu berkerut. “Kau Lin Feng. Anak keluarga Lin dari dusun Sungai Abu. Kau sendiri yang bilang begitu sebelum pingsan.”
Nama itu menghantamnya lebih keras daripada rasa sakit di rusuk.
Lin Feng memejamkan mata. Seketika, sesuatu yang bukan ingatannya bergerak di balik kesadaran: rumah kayu sempit di lereng, suara perempuan memanggil dari halaman, sepasang tangan yang mengikat kain di pergelangan, rasa malu karena tak bisa menembus tingkat pertama Body Tempering. Gambaran itu pecah sebelum sempat ia raih.
Ia terkesiap.
“Pelan-pelan,” kata lelaki itu. “Kepalamu terbentur batu. Kau tak perlu memaksa ingatanmu kembali.”
“Aku berumur berapa?”
“Kalau kau lupa umurmu juga, pukulan itu pasti lebih keras dari yang kukira.” Pria itu mendekat, menempelkan punggung tangan ke dahi Lin Feng. “Tujuh belas. Dan cukup keras kepala untuk berjalan ke bukit sendirian dalam cuaca buruk.”
Tujuh belas.
Lin Feng menahan napas. Usianya sebelum mati dua puluh empat. Jika semua ini mimpi, pikirannya sedang membuat detail yang terlalu kejam. Jika ia masih hidup di apartemen, mengapa rasa sakit di tubuhnya terasa setajam ini? Ia menggerakkan ibu jari. Ototnya bergetar dengan usaha kecil itu. Tidak ada tombol untuk mempercepat gerakan, tidak ada bilah stamina yang memperlihatkan batas tubuh.
Ia mencubit lengannya.
Rasa perih menyengat.
“Kenapa kau mencubit diri sendiri?” tanya pria itu.
“Memastikan aku bangun.”
“Kau memang sudah bangun. Kalau belum, kau tidak akan mengeluh.”
Lin Feng tidak menjawab. Ia menatap mangkuk air. Permukaannya memantulkan wajah seorang pemuda berusia belasan tahun: pucat, rambut hitam kusut, dagu lebih kecil, dan sepasang mata yang tampak terlalu waspada. Wajah itu tak ia kenal. Namun nama yang baru disebut lelaki tadi terasa melekat pada tubuh ini, seperti pakaian yang pernah lama dipakai orang lain.
Ia menyesap air. Dingin dan sedikit berbau tanah liat. Tenggorokannya sakit ketika menelan. Tubuh ini nyata—atau setidaknya mimpinya memiliki terlalu banyak detail yang tidak ia minta.
“Di luar… dusun apa?”
“Sungai Abu. Wilayah pinggiran Kekaisaran Azure Heaven.” Lelaki itu menaruh mangkuk kembali. “Kau tahu itu. Kau juga bilang hendak pergi ke Azure Cloud City mencari pekerjaan.”
Nama-nama itu membuat kulit tengkuk Lin Feng menegang.
Azure Heaven. Azure Cloud City.
Ia pernah membaca keduanya ratusan kali di peta Eternal Heaven Online. Kota itu berada di tepi wilayah pemula, cukup jauh dari pusat kekaisaran untuk menjadi tempat para pemain awal mengumpulkan uang dan mencari bahan. Dusun Sungai Abu tidak ia ingat. Mungkin itu nama lokasi kecil yang tak pernah masuk peta. Mungkin peta game menghapus tempat-tempat yang dianggap tidak penting.
Atau mungkin ia memang berada di dunia game itu.
Jantungnya berdebar terlalu cepat. Ia memaksa diri duduk, kali ini perlahan. Pria tersebut mengulurkan tangan untuk membantu, namun Lin Feng menolaknya dengan gerakan kecil. Bukan karena tidak membutuhkan bantuan, melainkan karena ia perlu merasakan tubuhnya sendiri bergerak.
Nyeri. Berat. Lambat.
Ia menekan telapak ke kasur jerami dan berhasil duduk. Dunia sedikit berputar. Tak ada notifikasi yang menyatakan ia sedang terluka. Tak ada indikator yang menunjukkan berapa banyak kekuatan tersisa. Hanya keringat dingin di punggung dan napas yang masih pendek.
“Jangan memaksakan diri,” kata pria itu. “Aku akan memanggil tabib kalau demammu kembali.”
“Sudah berapa lama aku pingsan?”
“Sejak malam tadi.”
Lin Feng menatap pintu terbuka. Dari sana tampak halaman kecil dengan pagar kayu, tumpukan kayu bakar, dan rumpun tanaman berdaun panjang. Di luar pagar, lereng bukit turun ke lembah berkabut. Di kejauhan ada asap tipis dari beberapa cerobong. Pemandangan itu tidak dibingkai layar. Angin menggerakkan daun-daun sungguhan; seekor burung melompat di tanah, mematuk sesuatu, lalu terbang saat mendengar suara dari rumah.
Ia mengenal tanaman di dekat pagar itu. Daunnya sempit, bagian bawahnya memiliki garis keperakan. Dalam permainan, tanaman serupa disebut silver-vein grass dan menjadi bahan pendukung pil pemulihan tingkat rendah.
Namun ia tak bisa memastikan apakah ingatan itu benar. Permainan tidak pernah memberitahunya bagaimana tanaman tersebut berbau setelah hujan, atau apakah getahnya meninggalkan rasa pahit di kulit. Ia belum menyentuhnya, belum mengamatinya dari dekat. Yang ia miliki baru kemiripan bentuk dan nama dari ingatan.
“Tanaman di luar itu,” katanya. “Apa namanya?”
“Rumput urat perak. Tumbuh liar di sepanjang lereng. Jangan dimakan mentah.” Lelaki itu mengamati wajahnya. “Kenapa?”
Lin Feng menggeleng. Ia tak ingin menjelaskan bahwa nama itu cocok dengan bahan dalam resep game yang mungkin saja tidak nyata. Belum.
Ia menunduk memandang tangannya sekali lagi. Tubuh ini bukan tubuhnya, tetapi nama yang dibawanya sama. Fragmen ingatan asing menyisakan rasa takut akan kegagalan, rasa lapar, dan keinginan untuk pergi ke kota. Ia tidak tahu apakah pemuda itu telah mati atau hanya kehilangan kesadaran. Ia bahkan belum tahu apakah dirinya telah mengambil tempat seseorang.
Pria di hadapannya memberinya air dan tempat berteduh. Bukan karakter yang menunggu dialog berikutnya. Ia memilih untuk membantu, dan Lin Feng belum tahu alasannya.
“Terima kasih sudah menolongku,” ucapnya.
Lelaki itu tampak agak terkejut, kemudian mengibaskan tangan. “Berterima kasihlah setelah kau bisa berdiri sendiri. Aku tidak ingin mengangkatmu lagi.”
Lin Feng hampir tersenyum. Rasa sakit di rusuk segera menghapusnya.
Di balik rasa takut, satu pikiran mulai terbentuk. Jika ini Eternal Heaven, pengetahuan bertahun-tahun bisa menjadi jalan keluar dari kemiskinan dan kelemahan. Jika ini bukan Eternal Heaven, ia tetap harus mempelajari dunia tempat ia terbangun. Dalam kedua kemungkinan itu, ia perlu bertahan hidup dulu.
Ia memandang rumput urat perak di halaman dan menahan diri untuk tidak langsung menyebutnya bahan pil. Nama dalam game belum membuktikan apa pun. Ia akan memeriksanya ketika tubuhnya sanggup berdiri, lalu menguji nama kota, peta, dan hal-hal lain satu per satu.
Tidak ada tombol keluar. Tidak ada cara untuk memulai ulang.
Dan untuk pertama kalinya, Lin Feng memahami bahwa ia mungkin tak akan pernah tahu apakah ia sedang bermain.