NovelToon NovelToon
STORY/ The Wandering Witch Serena

STORY/ The Wandering Witch Serena

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Rizz the writter

Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.

——Di dunia bernama Cardinal.

Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.

Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.

Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

—CHAPTER 3—

Di sebuah tempat yang jauh dari Serena dan teman-temannya.

Seorang pria berambut biru gelap duduk diam di meja kantornya.

Ruangan itu cukup luas, tetapi hampir tidak memiliki dekorasi. Hanya beberapa rak buku, lemari arsip, dan sebuah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari kejauhan.

Cahaya matahari sore masuk melalui kaca, menyinari meja yang dipenuhi dokumen.

Pria itu membalik satu lembar kertas.

Lalu berhenti.

Tatapannya berubah serius.

"Sepertinya... ini sudah waktunya untuk bergerak lebih jauh lagi."

Tangannya meletakkan dokumen tersebut di atas meja.

Di sana tercantum sebuah laporan mengenai aktivitas tidak wajar yang terjadi di beberapa wilayah Cardinal.

Beberapa kota mengalami gangguan pada jaringan komunikasi Magi.

Monster-monster yang biasanya hidup jauh dari pemukiman mulai bermigrasi tanpa alasan yang jelas.

Dan yang paling mengkhawatirkan...

Ada beberapa orang yang menghilang.

Tidak ada residu Magi yang dapat digunakan untuk melacak mereka.

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Hm... Apakah ini ulah binatang Magi atau apa?"

Tok.

Tok.

Tok.

Tiga ketukan terdengar dari pintu.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Seorang wanita berambut putih masuk sambil membawa beberapa dokumen tambahan.

"Tuanku."

Pria itu mengangkat pandangannya.

"Ada laporan baru?"

"Tidak ada, tetapi..."

Wanita tersebut meletakkan dokumen di atas meja.

"...ada seseorang yang ingin menemui Tuan."

Pria itu terdiam sejenak.

Ia menghela napas pendek.

"Suruh masuk."

"Baik."

Wanita itu membungkuk sebelum berjalan keluar dari ruangan.

Pintu kembali tertutup.

Pria berambut biru gelap itu menatap dokumen di hadapannya.

Namun, sebelum sempat membukanya kembali...

Step...

Suara langkah kaki terdengar dari balik pintu.

Langkah itu berhenti tepat di depan ruangan.

Klik.

Pintu terbuka tanpa ketukan.

Seorang pria berambut hitam memasuki ruangan.

Pakaiannya serba hitam, menyerupai pakaian seorang pembunuh bayaran. Sebuah jubah hitam yang sedikit sobek pada bagian bawahnya menjuntai di belakang tubuhnya.

Ia berjalan santai seolah-olah tempat itu adalah miliknya sendiri.

Kemudian, ia menatap pria di balik meja.

"Oi."

Pria berambut biru gelap itu mengangkat alis.

Pria tersebut menyeringai tipis.

"Gimana kabarnya nih, Morphegor?"

Ruangan itu hening selama beberapa detik.

Morphegor menatapnya dengan wajah datar.

"Shindou."

"Ya?"

"Kau ke sini bukan buat nyari masalah, kan?"

Shindou tertawa kecil.

"Masih sehat aja, tuh."

Morphegor menghela napas.

"Sialan."

Shindou kemudian menarik sebuah kursi dan duduk tanpa diminta.

Tatapannya beralih pada dokumen yang tergeletak di atas meja.

"Kelihatannya kau sedang sibuk."

"Dan kelihatannya kau datang bukan untuk sekadar menanyakan kabarku."

Shindou menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Senyumnya perlahan menghilang.

"Benar."

Suasana ruangan berubah.

Morphegor menatapnya.

Shindou mengetukkan jarinya pada sandaran kursi.

"Ada sesuatu yang mulai bergerak."

Morphegor terdiam.

"Seberapa serius?"

Shindou menatap langsung ke arahnya.

"Kalau dugaanku benar..."

Ia tersenyum tipis.

"...kita mungkin bakal punya masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar monster Magi."

"Apa-apaan? Jadi, apa yang kau maksud di sini?"

"Kael mulai dikerahkan oleh kerajaan Asteria sebagai petugas patroli di Foulska nantinya."

"Hanya itu?"

"Tidak... Asteria juga mulai mengerahkan pasukannya dan, yang lebih parah lagi, mereka mendapatkan bantuan militer langsung dari kerajaan Thyrion."

"Thyrion, ya... Kalau begitu, satu bantuan dari Suvarnabhumi tidak akan cukup."

"Hm... Bukannya mereka yang mendukung dan menyarankan kita buat revolusi dan terbebas dari Asteria?"

"Mereka memang memberikan dana dan militer yang cukup besar, tetapi kalau Asteria didukung kuat oleh Thyrion, perang ini ibarat manusia berusaha nyulik anak beruang dari induknya."

"Ya... Aku tahu kerajaan itu salah satu yang terkuat di dunia."

"Itulah kenapa aku merekrut dan membayarmu..."

"Ya, ya, ya... Aku tahu itu. Kau menyuruhku membantai semua penyihir kerajaan yang akan merugikan pihak kita."

"Kau mengalami kondisi Void Constitution, sehingga mustahil seseorang bisa mendeteksimu sebagai Anti-Magi."

"Tapi nggak bisa make sihir juga hambatan besar, loh... Walaupun fisikku menjadi jauh lebih kuat dari tentara elite terkuat."

"Mohon permisi..."

Wanita asisten Morphegor datang membawakan dua cangkir kopi lalu meletakkannya.

Wanita itu menunduk dan perlahan menjauh.

"Oh... Jarang banget kau memberikanku jamuan begini. Suasana hati lagi baik?"

"Tidak juga. Lagi pula, aku juga lagi didesak oleh raja iblis dosa besar yang lainnya. Apalagi Zhanobia si Serakah."

"Kalau Zhanobia wajar aja... Dia, kan, yang biayain perang dan revolusi ini."

Morphegor meneguk secangkir kopinya.

"Dia mendesak diriku ini untuk melakukan Operasi Ragnarok."

"Maksudnya..."

Shindou menyipitkan matanya.

"Kita disuruh ngelakuin serangan frontal besar-besaran?"

"Begitulah... Tapi operasi ini akan kita jalankan sebentar lagi. Dan kau! Selesaikan tugasmu cepat untuk membunuh petinggi penyihir Asteria agar Gracia dapat semakin meluas."

"Ok, kulakukan secepatnya."

"Tujuan awal rencana kita adalah merebut kota Foulska, Asterwaff, dan Warstown. Kita tak boleh gagal dalam Operasi Ragnarok ini."

Shindou meneguk habis kopinya lalu berjalan keluar ruangan.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Jangan lupa siapkan uang tambahannya, ya..."

"Kerja dulu yang bener sana."

Morphegor menghela napas pelan.

"Dasar."

◇◇◇

Di sisi lain.

Victor sedang kerepotan di meja kerjanya.

"Sial... Kalau revolusi mereka tetap lanjut, kerajaan ini jelas dalam bahaya."

Victor meletakkan berkas dokumen laporan kerajaannya.

"Pasukan mereka kini sudah memasuki wilayah Foulska. Apa-apaan ini... Sudah berapa lama mereka menyiapkan ini semua?"

Tok! Tok!

"Masuk!"

Seorang kesatria berzirah memasuki ruangan dan menundukkan kepalanya.

"Permisi, Yang Mulia."

"Ada apa? Kenapa buru-buru sekali?"

Prajurit itu mengangkat kepalanya.

"Penyihir... Dua belas penyihir elit kerajaan kita ditemukan meninggal di beberapa tempat."

Victor sontak berdiri.

"Apa!? Bagaimana bisa?"

"Saya tidak tahu, Raja. Yang pasti, orang yang membunuh mereka bukanlah orang biasa."

Victor menyandarkan bahunya ke kursi, lalu memijat dahinya.

"Tentu saja aku tahu dia bukan orang biasa. Kalau begini terus... Kita bisa semakin mundur."

Victor kembali duduk tegak.

"Undang Veronica, Rui, dan petinggi perang lain untuk menghadapku. Kita akan mengadakan rapat rencana."

"Siap!"

Prajurit itu berdiri tegap, lalu berjalan cepat keluar.

Victor menghela napas panjang sambil berjalan mendekati jendela.

"Apa yang dia rencanakan? Apa mereka hanya sedang mengulur waktu untuk melemahkan Asteria secara perlahan?"

Ia menyilangkan tangannya.

"Haruskah aku meminta bantuan lagi pada Thyrion?"

◇◇◇

Beberapa jam kemudian, di ruang rapat.

Kael menatap peta dan beberapa bidak yang diletakkan di atasnya.

"Kau yakin kita melakukan serangan besar-besaran secara langsung ke Ingrasia?"

Victor menyilangkan tangannya.

"Tentu saja. Hanya itu satu-satunya jalan kemenangan. Kalau kita terus bertarung dalam jangka panjang, ekonomi kerajaan akan anjlok lebih dulu..."

Victor menunjuk wilayah Foulska.

"Mereka pasti akan secara perlahan melemahkan ekonomi negara, lalu menyerang dengan skala besar untuk merebut empat kota di sekitarnya, terutama Foulska."

Rui menyilangkan tangannya.

"Melemahkan ekonomi... Itu memang strategi yang licik dan cukup masuk akal untuk memenangkan revolusi mereka."

Seorang wanita berambut emas panjang duduk di sisi meja rapat.

Kemeja putih dan dasi hitam yang dikenakannya tampak rapi, dipadukan dengan celana panjang berwarna senada.

Veronica menatap peta di hadapannya.

Mata birunya bergerak mengikuti garis pertahanan yang ditandai di peta.

Ia menopangkan kedua tangannya di meja.

"Jadi... rencana mana yang akan kita gunakan, Yang Mulia?"

Suasana ruangan seketika kembali serius.

"Kita gunakan Rencana A."

Victor menatap Kael.

"Kael, bawa beberapa muridmu untuk ikut dalam perang ini."

"Hah!? Anda yakin?"

"Tentunya bukan murid yang sembarangan. Pilih murid yang benar-benar bisa diandalkan saja."

Kael terdiam sejenak.

"Baiklah, saya konfirmasi."

◇◇◇

Keesokan harinya.

Kael, Rui, dan Veronica berkumpul di Akademi.

Beberapa murid yang dianggap pantas dan layak untuk mengikuti misi dikumpulkan di lapangan.

Termasuk Serena, Allwin, Michael, Lylian, dan Allen.

Kael berdiri tegap dengan pakaian militernya.

Terlihat seperti pakaian kasual biasa, tetapi berfungsi untuk memudahkan pergerakan.

"Kalian yang di sini akan dibagi tugas."

Tatapannya menyapu seluruh pasukan.

"Pertama, tim petarung utama akan ikut denganku ke medan perang di perbatasan Gracia. Lalu, tim pertahanan dan pengirim suplai akan bersama Rui. Dan tim pendukung atau petarung jarak jauh akan bersama Veronica."

Seluruh pasukan mengiyakan dengan kompak.

Beberapa menit setelah pembagian tim.

Serena, Lylian, dan empat orang lainnya ikut dalam tim pendukung bersama Veronica.

Sedangkan Allwin, Allen, dan beberapa anggota lain ikut dengan Kael ke garis depan.

Dan Michael bersama beberapa orang lainnya mengikuti Rui sebagai tim pertahanan di perbatasan ibu kota dan Asterwaff.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!