Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Menghindar tak selalu berarti pengecut. Kadang itu kehati-hatian, dan kadang justru kecerdasan."
Setelah percakapan yang tak menyenangkan dengan ibunya, Kayana memutuskan sudah waktunya untuk menghadapi semuanya, sudah waktunya keluar dari sumur ketakutan dan rasa malu yang dalam itu. Ia jelas bukan lagi orang yang sama, tetapi ia juga bukan lagi perempuan yang mau dihina.
Malam-malamnya tetap sama seperti biasa. Butuh waktu lama baginya untuk bisa terlelap, dan ketika akhirnya tertidur, ia hanya mengingat masa lalu yang terus menggerogotinya.
Ponselnya berdering tanpa henti.
Setelah malam yang buruk, sekujur tubuh Kayana terasa nyeri.
Ya Tuhan, kenapa sakit sekali? Ponselnya tak berhenti berbunyi, sampai ia ingin mematikannya. Ia menginginkan satu hari yang tenang, tetapi tampaknya hari ini takkan begitu. Setidaknya begitu yang ia kira sampai melihat siapa yang menelepon.
"Penyihir Kecilku, kau ini seperti tupai tanah. Sudah pukul tiga sore, kau masih saja di ranjang."
"Iya, Kakek," jawabnya malu-malu.
"Kuharap kau memang cuma tidur, bukan begadang sambil minum-minum."
"Aku memegang teguh janjiku, tidak lebih dari dua gelas."
Kayana berbohong. Ia memang berniat berhenti, tetapi terasa mustahil dengan begitu banyak masalah. Sisi lemah yang dimiliki setiap manusia menguasainya. Kemarin, setelah bertengkar dengan ibunya, ia teringat bagaimana ayahnya memperlakukannya, bagaimana kedua orang tuanya tak pernah menunjukkan sedikit pun cinta atau perhatian. Itu menyakitkan. Menyakitkan bahwa dunia bersikap seperti itu kepadanya.
"Yana, kita bertemu di Restoran Franca. Aku tunggu tiga jam lagi."
"Aku akan ke sana, Kakek."
Kayana tak pernah bisa menolak permintaannya. Hari ini adalah hari yang baru, atau setidaknya begitu harapan Hartono. Dari semua cucunya, Kayana adalah kesayangannya. Ia gadis yang sangat cerdas, cekatan, dan cakap. Hartono tahu Kayana akan mengatasi semua yang menimpanya. Ia tahu gadis itu akan bangkit dari abu.
Hartono hanya memiliki satu ketakutan, yaitu bila Kayana sampai mengetahui apa yang terpaksa harus ia lakukan pada suatu masa. Hartono sendiri tak melihat betapa keliru perbuatannya itu.
Kayana turun dari taksi untuk masuk. Saat itu pukul enam sore. Ia tiba di Restoran Franca, sebuah restoran yang amat mewah. Namun karena iri hati selalu menguasai dunia ini, sekali lagi para wanita anggun yang gemar bergosip mulai berbisik.
Mereka melontarkan kata-kata yang menyakitkan, seperti bagaimana mungkin seorang perempuan tak berkelas, perempuan biasa tanpa uang, bisa berdiri di Restoran Franca. Ucapan-ucapan hampa. Kayana mendengar setiap patah kata dengan saksama, tetapi memilih mengabaikannya.
Orang bodoh memang harus diabaikan. Itu ungkapan yang bagus, dan sudah waktunya diterapkan.
"Selamat sore, Nona. Boleh saya tahu nama Anda?"
"Tak perlu. Aku sudah pesan."
Kata-kata Kayana seolah menjadi bahan tertawaan bagi para wanita itu.
Pelayan itu tampak jengkel dan hampir membentaknya, tetapi ia terpaksa bungkam karena sang pemilik restoran muncul di belakangnya.
"Yana, Sayang, masuklah." Dengan satu tatapan, Patrick memerintahkan para pegawainya bubar.
Patrick adalah pria yang keras, tetapi kepada Kayana ia tak bisa bersikap demikian. Kayana adalah malaikat pelindungnya, perempuan yang meski telah melewati begitu banyak, tetap tahu cara mengulurkan tangan. Kayana akan menolong siapa pun sekalipun dunia berbalik melawannya. Dialah perempuan paling baik yang pernah Patrick kenal. Ia sempat kesal karena sudah lama sekali tak bertemu Kayana.