NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

POV: Amelia

Perceraian itu memakan waktu berbulan-bulan. Bukan karena perceraiannya sendiri, yang hak setiap orang dan tak ada yang bisa menahan. Yang ditahan Arga, sejauh bisa, adalah pembagian harta.

Dia menyembunyikan aset atas nama orang yang bahkan tak kutahu ada, nominee, perusahaan cangkang. Mengulur dengan satu manuver demi satu, permohonan demi permohonan, penundaan demi penundaan. Tapi Pak Bayu hebat, sabar, dan aku punya bukti atas segalanya, kusimpan sejak hari pertama: rekening yang diblokir, pengendalian, penyekapan.

Setiap upayanya melukiskanku sebagai pencari untung membentur dokumen yang mengatakan sebaliknya, dan dokumen tak menangis dan tak mundur.

Pada hari putusan, pengadilan penuh. Aku masuk dengan pakaian longgar, perut tersembunyi di balik mantel, Ikan Kecil sudah besar di dalamku, diam-diam, sesekali menendang seolah mengikuti sidang. Arga di seberang, dan dia tampak sepuluh tahun lebih tua dari terakhir kali kulihat dari dekat. Lesu. Meringkuk. Lelaki yang kalah.

Hakim membacakan putusan. Perceraian dikabulkan. Pembagian harta mengakui kekayaan yang dibangun selama pernikahan, dengan bobot untuk semua yang kuderita dan kubuktikan. Aku memperoleh kembali harta, martabat, namaku bebas dari "istri si anu". Setelah tiga tahun, aku kembali jadi Amelia Pramesti saja, dan tak pernah ada nama yang terasa lebih milikku.

Arga tidak menggugat hak asuh. Karena semua orang mengira aku kehilangan seluruh kehamilan dalam jatuh itu, tak ada hak asuh yang diperebutkan. Dan justru karena itulah Ikan Kecil kusembunyikan, dengan begitu cermat, dengan begitu takut. Supaya lelaki itu tak pernah bisa menyeretku ke pengadilan mengejar anakku, supaya Bu Ratna tak pernah bisa mencoba lagi.

Ketika hakim menutup sidang, Arga mencari mataku. Dia mendekat sejauh yang diizinkan kepantasan, dan berbicara pelan, hanya untukku, jauh dari pengacaranya.

"Lia. Maafkan aku. Untuk semuanya."

Kutatap dia. Dan tak ada benci. Sudah lama benci pergi, lelah tinggal di dalamku. Hanya ada capek besar, dan iba yang jauh, jenis yang kita rasakan pada orang yang menghancurkan dirinya sendiri, yang punya segalanya dan mengubah semuanya jadi nol.

"Aku tidak memaafkanmu, Arga," kataku, tanpa amarah, nyaris lembut. "Belum. Mungkin suatu hari. Tapi aku juga sudah tidak membencimu. Kamu tidak cukup penting untuk itu. Hiduplah dengan apa yang kamu lakukan. Itu hukumanmu, dan itu lebih besar dari apa pun yang bisa diberikan pengadilan."

Dan aku pergi. Dengan kepala tegak, bebas, tangan diam-diam di perut.

Di luar pengadilan, lega datang bersama kekosongan yang tak kuduga. Bebas. Setelah semua, bebas. Tapi dengan harga apa.

Anin, yang kukuburkan tanpa sempat melihatnya tumbuh. Nenekku, sakit, jauh dariku, memudar di sebuah kamar panti. Tubuhku yang lelah berjuang. Kebebasan itu berasa duka, dan tak ada yang memberitahuku bahwa akan begitu.

Fariz menungguku bersandar di mobil, di seberang jalan, menjaga jarak agar tak mengganggu momenku. Dia tahu hari itu milikku, untuk kurasakan dengan caraku.

"Sudah selesai?" tanyanya ketika aku tiba.

"Selesai."

Dia tidak berkata "selamat", tidak berkata "sudah kubilang", tidak mengatakan apa pun yang akan dikatakan orang lain. Dia hanya membukakan pintu mobil untukku, dan di gerakan itu ada lebih banyak daripada seribu kalimat.

"Lia." Dia berhenti sebelum aku masuk. "Undangan itu masih berlaku. Ikut ke Surabaya. Mulai lagi jauh dari sini, jauh dari kota yang mengurungmu, dekat orang-orang yang akan melindungimu. Kamu dan Ikan Kecil."

Kusentuh perutku yang tersembunyi. Aku menolak undangan ini karena takut berganti sangkar, takutku yang paling dalam. Tapi Fariz sudah membuktikan padaku, berbulan-bulan, bahwa perlindungan tak harus jadi penjara. Dia tak pernah mengunciku, tak pernah mengawasiku, tak pernah menagih. Setiap kali aku ingin memutuskan sendiri, dia membiarkan, bahkan saat itu menyakitinya.

Dan Surabaya jauh dari Bu Ratna, jauh dari media Jakarta, jauh dari rumah di Pondok Indah. Tempat anakku bisa lahir tanpa keluarga Wiratama di dekatnya, tempat aku bisa mulai lagi tanpa beban setiap sudut mengingatkan pada luka.

"Aku terima," kataku. "Demi Ikan Kecil. Dan..." aku ragu, lalu memutuskan jujur, "demi diriku juga."

Dia tersenyum, senyum langkanya, hanya dengan satu sudut bibir, paling banyak yang mau dia izinkan pada dirinya.

Sebelum masuk mobil, kuajukan pertanyaan yang sudah berbulan-bulan dia tunda, yang selalu tinggal untuk nanti.

"Fariz. Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Sungguh. Karier, pengacara, nenekku, penyelamatan itu, semuanya. Kamu bilang 'selalu kamu, sejak sebelum kamu tahu aku ada'. Aku perlu paham. Aku tidak ikut ke Surabaya tanpa paham."

Lama dia menatapku. Dan kulihat dia ingin bercerita. Sangat ingin. Kulihat seluruh kisahnya menekan di balik matanya, mendesak keluar.

"Di Surabaya," katanya akhirnya. "Kuceritakan di Surabaya. Ada yang harus kutunjukkan dulu sebelum kuceritakan. Sesuatu yang kusimpan sejak lama, di sebuah rumah di tepi laut."

"Apa itu?"

"Di Surabaya, Lia."

Aku masuk ke mobil dengan janji pengungkapan itu menggantung di udara, satu misteri lagi untuk menambah semua yang lain. Dan saat kami melintasi Jakarta untuk terakhir kalinya, kupandangi lewat jendela kota tempatku dikurung, dikhianati, dipermalukan, dan tempat aku juga belajar berjuang, bicara keras, dan bangkit.

Kami melewati gerbang tol keluar kota, dan di kejauhan kulihat papan nama Wiratama Tech di fasad kaca, lampu biru merek Nova yang dulu kebanggaan Arga. Tak kurasakan apa-apa. Bukan marah, bukan rindu, bukan iba. Hanya ringan, seperti orang melewati sesuatu yang bukan lagi miliknya dan tak akan pernah lagi.

Aku pergi lagi. Tapi kali ini bukan kabur, melainkan memilih. Dan beda antara kabur dan memilih adalah beda antara hidup sambil menoleh ke belakang dan hidup sambil menatap ke depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!