Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.
Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.
"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."
Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.
Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kami berjabat tangan. Kuamati senyum indahnya yang memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
"Nyonya Adelina, keponakanku cantik sekali. Sayang rambutnya tak putih seperti rambutmu."
"Ya, ia mewarisi semuanya dari ayahnya."
"Aku lihat begitu. Aku berencana tinggal beberapa waktu bersama kalian sampai amarah Papa reda. Semoga aku tak merepotkan."
"Sama sekali tidak, kau boleh tinggal selama yang kau mau. Lagi pula mansion ini milik kakakmu."
Emma meletakkan Salvatore di boks lalu berjalan ke arahku dan menggandeng lenganku.
"Ayo kita keluar sebentar ke taman. Aku mau kau ceritakan bagaimana kau bertemu kakakku, bagaimana caranya sampai bisa menikahimu."
Kami berjalan ke taman. Ia mulai bercerita tentang masa-masanya di Inggris. Aku menyukai Emma, senyum selalu tersungging di wajahnya. Sementara ia bicara, kuperhatikan ia dari bawah ke atas. Ia wanita yang sangat cantik, bermata kelabu, berambut merah muda, tinggi sekitar 1,65 meter. Sampai di taman kami duduk, dan salah seorang pelayan membawakan minuman segar untuk kami.
"Sekarang ceritakan, Adelina, bagaimana kau bertemu kakakku?"
"Lewat urusan bisnis."
Emma mengangkat satu alis.
"Bisnis? Berarti kau juga berbisnis minyak?"
"Bukan, Emma. Aku penyelundup, sama seperti kakakmu."
Ia menatapku, ekspresinya berubah, tapi aku tak bisa menjelaskannya. Beberapa detik kemudian ia mengembuskan napas.
"Aku mengerti."
"Emma, aku bukan ibu kandung Salvatore. Aku menikahi Jakob agar bisa berada di sisi bayiku. Meski ia tak sedarah denganku, aku mencintainya dengan segenap hidupku."
"Kalau kau tak menikahinya, kakakku takkan mengizinkanmu menemui bayi itu?"
"Begitulah."
Emma menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Khas para mafioso. Selalu mencari cara paling keji untuk memaksamu menikahi mereka. Itulah kenapa aku benci segala urusan mafia ini."
"Tapi ayah dan kakakmu juga mafioso."
"Aku menyayangi ayah dan kakakku, tapi aku benci pekerjaan mereka sebagai pemimpin mafia Jerman ini. Di dunia ini kita tak bisa bebas, kita selalu harus melakukan apa pun yang diperintahkan pemimpin kita."
"Mungkin kau benar, tapi mereka keluarga kita, dan kita harus mendampingi mereka sampai akhir, bukan begitu?"
"Tapi dengan bayaran apa? Sudahlah, mari bicarakan hal lain. Kau sudah menjelajahi seluruh kota ini?"
"Aku belum sempat."
"Kalau begitu, sempurna. Nanti sore kita berkeliling."
Tiga minggu berlalu sejak Emma tinggal bersama kami. Ia sudah menjadi sahabatku. Ia selalu membuatku tertawa dengan tingkahnya, menceritakan banyak hal tentang Jakob. Bicara soal Jakob, kami kini tidur di kamar yang sama, dan hubungan kami membaik pesat. Hari ini kami akan ke perusahaannya. Ia ingin aku melihatnya dan menghabiskan hari bersama. Aku bercermin, aku terlihat sempurna.
Kugendong Salvatore, kami turun ke ruang tamu tempat Jakob duduk mengobrol dengan Emma. Saat kami menghampiri mereka, Emma menatapku sambil tersenyum, sementara Jakob menatapku dengan wajah serius yang selalu ia pasang. Kami berpamitan pada Emma, lalu naik ke mobil. Beberapa menit kemudian kami tiba di perusahaan yang begitu besar. Jakob turun lebih dulu, memutari mobil, membukakan pintu, dan membantuku turun. Saat kami masuk, semua orang memandangi kami. Kami naik lift sampai ke lantai tempat sekretarisnya. Melihat kami, senyum sang sekretaris berubah jadi wajah serius, bahkan bisa kubilang kesal. Kami masuk ke kantornya.
"Perusahaanmu tidak buruk."
"Tidak buruk? Perusahaanku salah satu distributor minyak terbesar. Berkat perusahaan ini, organisasi kami bisa mencuci uang tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun."
Kuamati bagaimana ia mengangkat alisnya, sepertinya aku baru saja menyinggung egonya. Aku cuma tersenyum, sementara Salvatore-ku asyik bermain dengan boneka mainannya.
"Adelina, malam ini aku akan pergi ke Amerika Serikat untuk urusan pekerjaan. Cuma empat hari."
"Baiklah. Bisa kau tunjukkan seluruh perusahaan ini padaku?"
Setelah keluar dari kantor, ia menunjukkan titik-titik distribusi minyak, kantor-kantor, menjelaskan fungsi masing-masing. Berjam-jam berlalu, matahari sudah tenggelam, jadi kami memutuskan pulang ke mansion. Salvatore kecil kami sudah tertidur, ia benar-benar puas merangkak ke mana-mana. Sampai di rumah, kubantu Jakob menyiapkan kopernya, tapi sebelum ia pergi, kami bercinta sampai kelelahan. Sebelum berpamitan, ia menciumku di bibir. Aku mengembuskan napas, senyum tersungging di wajahku. Aku berjalan ke jendela, memandang ia naik ke mobilnya.