NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Ingat kata-kataku, Vanessa!" Jordan melepehkan kata-katanya penuh kebencian sambil menatap Vanessa yang masih bersimpuh di lantai marmer. Bahunya terangkat memeluk Yessika yang terus meringis kesakitan.

"Kalau sampai ada apa-apa dengan Yessika... aku akan membuat perhitungan yang jauh lebih berat dari sekadar mempermalukanmu malam ini!"

Tanpa menunggu sahutan, Jordan mengangkat tubuh Yessika ke dalam gendongannya.

"Ayo, Yessika. Aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang."

"Terima kasih, Jordan..." bisik Yessika dengan nada amat lemah, melirik sinis ke arah Vanessa dari balik pundak Jordan sebelum pintu aula utama tertutup rapat.

Para tamu undangan perlahan membubarkan diri dengan bisik-bisik yang merendahkan. Vanessa perlahan memegang tepi meja, menggunakan sisa tenaganya untuk berdiri kembali.

Kakinya bergetar hebat, lututnya memar dan memerah, tetapi matanya tetap kering. Ia mengusap sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu melangkah keluar dari aula pesta yang telah menjadi panggung pembantaian martabatnya.

Saat menyusuri koridor VIP yang sepi, sebuah suara berat menghentikan langkahnya.

"Vanessa."

Pria paruh baya dengan setelan jas amat megah melangkah mendekat. Arthur Carlton, ayah Jordan sekaligus pemimpin tertinggi Carlton Group saat ini.

"Paman Arthur," sapa Vanessa datar.

Arthur menghela napas panjang, memasang wajah penuh simpati.

"Paman sudah mendengar kekacauan di aula tadi. Jordan benar-benar keterlaluan! Paman minta maaf atas perlakuan kasarnya padamu. Nanti, saat anak nakal itu pulang, Paman sendiri yang akan menegurnya."

Vanessa menatap pria tua di hadapannya. Teguran? Vanessa tersenyum sinis di dalam hati. Ia sangat tahu tabiat Arthur. Pria ini tidak akan pernah tega memberikan hukuman berarti pada Jordan, anak kesayangannya yang digadang-gadang menjadi penerus tunggal.

Namun, Vanessa tidak lagi berniat menjadi mangsa yang pasrah.

Vanessa menundukkan kepalanya, membiarkan tubuhnya gemetar perlahan. Suaranya berubah menjadi amat melas, sarat akan keputusasaan dan rasa sakit yang mendalam.

"Tidak usah, Paman..." bisik Vanessa dengan napas tersengal pelan, seolah-olah hatinya telah hancur berkeping-keping. "Sepertinya... aku tidak sanggup lagi."

Dahi Arthur berkerut. "Maksudmu apa, Vanessa?"

"Jordan tidak menginginkanku. Dia hanya mencintai Yessika," ucap Vanessa seraya menatap Arthur dengan mata yang berkaca-kaca, memperlihatkan keputusasaan yang begitu meyakinkan.

"Lebih baik... kita batalkan saja pertunangan ini, Paman. Aku akan mundur. Biarkan Jordan mempublikasikan hubungannya dengan Yessika."

"Apa?!" Wajah Arthur seketika pucat pasi. Kepanikan yang sangat nyata mendadak menyapu raut wajahnya yang tadinya tenang. "Jangan bicara sembarangan, Vanessa! Membatalkan pertunangan? Tidak, tidak bisa! Jangan ambil keputusan gegabah hanya karena emosi sesaat!"

Vanessa menyunggingkan senyum getir yang dipaksakan. "Kenapa tidak bisa, Paman? Bukankah aku hanya beban untuk Jordan? Untuk apa mempertahankan pernikahan tanpa rasa cinta?"

"Vanessa, dengarkan Paman..."

"Atau..." Vanessa memotong kalimat Arthur, menatap pria tua itu dengan tatapan yang mendadak sangat dalam dan tajam, "...Paman takut dengan klausul perjanjian lama itu?"

Langkah Arthur terhenti. Seluruh persendiannya seolah mengeras. "Kau... kau tahu soal itu?"

"Tentu saja aku tahu, Paman Arthur," bisik Vanessa pelan, melangkah satu tapak lebih dekat. "Perjanjian antara Kakekku dan Kakek Michael Carlton puluhan tahun lalu. Kakekku yang mendanai seratus persen modal awal berdiri Carlton Group. Dan apa isi klausul utamanya?"

Napas Arthur mulai terdengar berat.

"Siapa pun yang menikahiku secara sah, dialah yang berhak menjadi penerus utama keluarga Carlton," lanjut Vanessa dingin. "Dan jika keluarga Carlton atau aku membatalkan perjodohan ini secara sepihak... maka delapan puluh persen saham Carlton Group wajib diserahkan padaku sebagai ganti rugi."

Vanessa memiringkan kepalanya, menatap Arthur yang kini dipenuhi keringat dingin.

"Tapi, kalau aku menikah dengan penerus Carlton, aku hanya akan memegang tiga puluh persen hak suara," sambung Vanessa dengan nada polos yang mematikan. "Jadi... Paman yakin ingin membiarkan aku terus ditindas oleh Jordan? Aku tidak keberatan menerima delapan puluh persen saham itu besok pagi."

"Vanessa..." suara Arthur bergetar hebat.

Rahasianya yang disimpan paling rapat, rahasia yang hanya diketahui olehnya, mendiang ibu Vanessa, dan pengacara keluarga, kini dilayangkan tepat di hadapan wajahnya sebagai ancaman.

"Pikirkan baik-baik, Paman," kata Vanessa lembut sambil berbalik melangkah pergi.

"Aku akan menunggu keputusan Paman di kediaman utama."

****

Dua jam kemudian, di Kediaman Utama Keluarga Carlton.

Brak!

Suara dorongan pintu aula leluhur bergema keras di seluruh penjuru rumah.

"Berlutut!" bentak Arthur. Suaranya menggelegar, memecah kesunyian malam. Di tangannya, ia memegang sebatang rotan ukir tebal milik mendiang ayahnya.

Jordan yang baru saja kembali dari rumah sakit terpaku, terkejut luar biasa melihat ayahnya berdiri di hadapan altar leluhur dengan wajah merah padam karena murka.

"Ayah? Ada apa ini?!" seru Jordan heran. "Kenapa Ayah memintaku berlutut di aula leluhur?!"

"Aku bilang berlutut, Anak Bodoh!"

Cetas!

Cambukan rotan itu mendarat keras di punggung Jordan. Pria itu meringis kesakitan, terhuyung jatuh hingga kedua lututnya menghantam lantai kayu aula leluhur.

"Ayah! Apa-apaan ini?!" teriak Jordan membela diri, memegangi punggungnya yang panas membakar.

"Aku baru saja pulang dari rumah sakit! Yessika terluka parah karena didorong Vanessa! Kenapa justru aku yang dihukum?!"

Arthur maju, mencengkeram kerah jas Jordan dan menatapnya penuh kebencian.

"Jawab jujur padaku, Jordan! Apa kau benar-benar berselingkuh dengan Yessika di belakang Vanessa?!"

Tubuh Jordan mendadak kaku. Matanya berkedip cepat, raut wajahnya menunjukkan kegugupan yang amat jelas.

"K-kami... kami tidak berselingkuh! Aku cuma kasihan padanya! Yessika itu adik Vanessa, dia butuh perlindungan..."

Cetas!

Satu sabetan rotan kembali mendarat di bahu Jordan.

"Jaga mulutmu!" bentak Arthur penuh penghinaan.

"Jika Yessika bukan siapa-siapa bagimu, berhenti menempel padanya seperti pria gatal! Kau mempermalukan nama besar Carlton di hadapan seluruh relasi bisnis kita malam ini!"

"Ayah tidak tahu apa-apa!" protes Jordan dengan napas memburu, meremas jemarinya. "Vanessa yang keterlaluan! Dia wanita ular, Ayah!"

"Cukup!" bentak Arthur. "Kau tetap di sini! Berlutut sampai besok pagi dan renungkan kebodohanmu!"

Arthur melempar rotannya secara kasar ke lantai, lalu berjalan keluar dari aula leluhur menuju ruang tamu utama. Jordan yang menahan kesakitan di punggungnya melirik ke arah pintu yang terbuka.

Di ruang tamu, Vanessa sedang duduk dengan anggun di atas sofa kulit. Ia menyeruput teh hangatnya dengan sangat tenang, sama sekali tak terganggu oleh suara jeritan atau cambukan rotan yang baru saja terjadi.

Mata Jordan menyipit penuh kemarahan dan rasa percaya diri yang arogan. Pria itu mendesis dari dalam aula leluhur, memanggil Vanessa dengan nada memerintah.

"Vanessa! Sini kau!" panggil Jordan, suaranya lantang penuh keangkuhan. "Maju ke sini!"

Vanessa perlahan menurunkan cangkir tehnya, menoleh menatap Jordan dari kejauhan tanpa ekspresi.

"Kau lihat kan apa yang dilakukan Ayah padaku?!" gertak Jordan, menunjuk punggungnya. "Kau tahu betul betapa Ayah menyayangimu! Pergi ke kamar Ayah sekarang, bujuk dia untuk membatalkan hukuman konyol ini!"

Jordan menyunggingkan senyum miring, merasa yakin Vanessa masih menjadi wanita penurut yang akan melakukan apa saja demi dirinya.

"Cepat bujuk Ayah! Kalau kau melakukannya, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk tidak terlalu keras padamu soal kejadian Yessika tadi!"

Vanessa menatap Jordan selama beberapa detik. Tak ada rasa kasihan, tak ada kekhawatiran, hanya ada tatapan menatap seekor serangga yang menyedihkan.

Vanessa lalu berdiri dari duduknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dan melangkah tenang menuju tangga lantai dua, menuju kamarnya.

"Hei! Vanessa! Kau dengar aku tidak?!" teriak Jordan panik saat melihat Vanessa mengabaikannya.

"Vanessa! Kembali ke sini! Kau berani mengabaikanku?!"

Namun, Vanessa tetap melangkah stabil. Dia mengabaikan teriakan putus asa Jordan.

1
ryuka
bagusss vanesaa.. mati kutu kan kamu yesika
Mundri Astuti
kalo sebaliknya berarti Jordan yg merat 😛
Titi Liana
suka
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
Tri Handayani
seru semakin seru, up lagi donk kak
rurry Irianty
KK outhor up banyak² yaaa
Muft Smoker
aaaaaa gregeeet ,,

lanjuut kak ,,
ryuka
adduuhhh alesioo semoga rencana kamu berhasil ya
Tri Handayani
up lagi kpn thor🤭🤭🤭
ryuka: 🤭🤭🤭🫠🫠 ku tunggu up nya thoorrr
total 1 replies
Muft Smoker
kata aq mh udh aj pergi Vanessa toh klo 22 ny gx nikah ma km ,, 22 ny juga gx bakal dpat tahta yg mereka ingin kan ,,
Allea
ahh percuma vanes ngancam2 si arthur😅
Ayu Padi
jgn mau Vanessa
Mundri Astuti
kayanya ada sesuatu yg disembunyikan Arthur y, apa Jordan anak Arthur sama emaknya Kunti yak🤔
ryuka
gilaaa.. gillaaaa.. bpak nya gila
Muft Smoker
mungkin tuan Arthur bisa tutup mata dg kelakuan Jordan,, tp tanpa dsadari ia telah membangunkan singa yg sdang tidur ,,
Muft Smoker
ke tunggu peperangan tu terjadi ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏
Muft Smoker
karena hanya aq yg peduli dg harta mu ,,, hrus ny km ngomong ny bgtu yessika ,, 😏😏😏😏
Mundri Astuti
makin seru ini
ryuka
manttaaabbb alesiooo 🔥🔥🔥
Tri Handayani
ku tunggu up selanjutnya ka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!