Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYERGAPAN DAN TAS HERMES
Gang sempit di pinggiran Jakarta itu persis seperti lokasi syuting film aksi kelas B tahun 90-an. Lampu jalan di ujung gang berkedip-kedip tidak stabil, mengeluarkan suara nging-nging yang menyakitkan telinga. Di kiri kanan, jemuran baju warga bergelantungan rendah, dan seekor kucing kampung sedang menjilati kakinya di atas tong sampah.
Di sudut gelap gang itu, dua sosok preman sedang mengendap-endap.
Mengendap-endapnya sangat berlebihan. Preman pertama mengenakan kaos oblong hitam ketat yang memperlihatkan otot lengan (yang sepertinya dilukis dengan spidol hitam) dan tato naga raksasa di bahu kirinya. Dia mengunyah tusuk gigi dengan gaya sok keras, rantai emas tebal di lehernya berkilau di bawah lampu jalan yang remang. Preman kedua, yang lebih kurus, mengenakan jaket kulit tebal meskipun cuaca Jakarta sedang panas terik, dengan bekas luka palsu di pipi dan satu gigi ompong yang sengaja dibuat agar terlihat jahat. Mereka berjalan dengan punggung membungkuk, mengintip dari balik tiang listrik dengan gaya yang sangat tidak natural.
Sementara itu, di ujung gang yang berlawanan, Larasati berjalan sendirian. Dia mengenakan gaun katun putih polos yang sangat tidak praktis untuk berjalan di gang becek, membawa keranjang anyaman berisi satu ikat bayam dan dua buah tomat. Dia berjalan dengan langkah ringan, tanpa menyadari bahwa dia sedang diawasi.
Di saat yang sama, di gang paralel yang berjarak dua blok, Vania sedang berjalan dengan langkah santai. Dia mengenakan kaus oblong longgar, celana jeans, dan kacamata hitam besar. Di lengannya, tergantung sebuah tas Hermes Birkin berwarna oranye terang yang sangat mencolok di tengah lingkungan kampung yang kumuh.
Ini surga, batin Vania, menghirup aroma gorengan dan asap pembakaran sampah yang baginya adalah aroma nostalgia. Di tahun 2026, aku harus pesan ojek online buat ke tempat begini, dan harganya mahal banget. Di sini, aku bisa jalan kaki, beli es lilin lima ratus perak, dan makan cilok yang bumbunya bikin lidah mati rasa. Aku rindu ini. Aku rindu kemacetan yang jujur, bukan kemacetan di SCBD yang penuh orang pura-pura sibuk.
Vania sedang dalam misi mencari tukang bakso legendaris yang katanya kuahnya terbuat dari tulang sapi pilihan, bukan dari kaldu bubuk. Dia sama sekali tidak berniat mencari masalah. Dia hanya ingin menikmati sorenya tanpa diawasi oleh pria bermantel bulu yang membuatnya kepanasan.
Tiba-tiba, dari arah gang sempit, terdengar suara teriakan yang sangat khas.
"Aaa! Tolong! Jangan dekati saya!"
Vania berhenti melangkah. Dia menatap "kamera" imajinernya. Ah, tropes 'Heroine Diserang Preman di Gang Sempit'. Durasi adegan ini biasanya tiga menit, diakhiri dengan Male Lead yang datang terlambat dan memukul semua preman dengan satu jurus jurus maut. Tapi tunggu, Raka sedang rapat. Siapa yang akan menyelamatkan dia?
Vania menghela napas. Dia tahu persis apa yang akan terjadi jika Larasati celaka. Plot akan menyimpang. Raka akan depresi. Dan Vania akan mati di tebing.
Dengan langkah cepat, Vania berbelok ke arah sumber suara.
Dia tiba tepat waktu. Di tengah gang, Larasati terpojok di antara tembok bata yang berlumut dan tumpukan kardus bekas. Preman bertato naga (yang ternyata adalah tato tempel yang mulai terkelupas di bagian ekor) sedang menatap Larasati dengan senyum menjijikkan, sementara preman berjaket kulit menghalangi jalan keluar.
"Heh, nona cantik," ucap Preman Bertato, suaranya dibuat serak dan berat, persis seperti dubingan film action. "Mau ke mana sendirian? Nggak takut diculik? Sini, ikut abang. Abang bakal jagain kamu."
Larasati memeluk keranjang bayamnya erat-erat, air matanya menggenang. "Tolong... saya tidak punya uang. Tolong biarkan saya pergi!"
"Uang? Abang nggak minta uang," Preman Bertato tertawa, menunjukkan gigi yang kuning. Dia melangkah maju, mengangkat tangannya untuk menyentuh bahu Larasati. "Abang cuma mau..."
Brak!
Sebuah benda keras dan berat menghantam bagian belakang kepala Preman Bertato dengan suara yang sangat memuaskan.
Preman itu terbelalak, matanya mendelik ke atas, dan tubuhnya ambruk ke tanah seperti karung beras yang dijatuhkan dari truk. Dia mendarat dengan wajah lebih dulu, tidak bergerak lagi. Pingsan.
Preman Berjaket Kulit menjerit kecil, melompat mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Dia menatap benda yang baru saja merobohkan rekannya, lalu menatap sosok yang memegang benda itu.
Vania berdiri di sana. Napasnya tidak bahkan tidak memburu. Di tangan kanannya, dia masih memegang tas Hermes Birkin oranye itu.
"Kalian ini naskahnya klise banget, tahu," ucap Vania datar, menatap Preman Berjaket Kulit yang gemetar ketakutan. "Preman di gang sempit, kaos oblong, tato naga, dan rantai emas. Kalian ini disewa dari agensi casting yang sama, ya? Minimal pakai jaket denim atau kemeja flanel, biar ada variasi visual."
Preman Berjaket Kulit menelan ludah, matanya menatap tas Hermes di tangan Vania dengan horor. "K-Kau... kau siapa? Kau tahu siapa bos kami?!"
"Aku tidak peduli siapa bos kalian," balas Vania, mengayunkan tas Hermes itu pelan ke kiri dan ke kanan. "Yang aku peduli, tas ini beratnya hampir tiga kilogram. Isinya bukan lipstik dan bedak. Di dalamnya ada tumbler besi stainless steel satu liter yang penuh air es, buku 'Hukum Pidana Indonesia' edisi lengkap yang tebalnya seperti batu bata, dan botol parfum berisi ekstrak cabai rawit paling pedas. Kalau kau tidak mau kepala temanmu yang satu ini babak belur karena aku pukul lagi, saran aku, kau duduk di situ dan diam."
Preman itu mengangguk cepat, lalu duduk bersimpuh di atas tanah yang becek, tangannya diangkat tinggi-tinggi sebagai tanda menyerah.
Vania tidak repot-repot mengikatnya. Dia menatap Larasati yang masih memeluk keranjang bayamnya dengan tatapan kosong. "Kau tidak apa-apa, Las? Ayo, kita keluar dari gang ini. Bau gotnya mulai bikin pusing."
Larasati mengangguk pelan, masih syok. "K-Kak Vania... kau... kau hebat sekali."
"Aku cuma pakai alat bantu, Las. Bukan bela diri," balas Vania santai. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa koin logam. "Tunggu di sini. Aku mau lapor polisi."
Vania berjalan ke ujung gang, di mana sebuah telepon umum berwarna kuning dengan kaca yang sedikit retak berdiri tegak. Dia mengangkat gagang telepon, memasukkan koin lima ratus perak, dan memutar nomor 110 dengan jari yang cekatan.
"Halo, Polisi? Iya, saya mau lapor. Ada dua preman di gang Melati nomor 4. Satu pingsan kena pukul, satu lagi nyerah. Iya, saya yang pukul. Pakai tas. Oke, saya tunggu di sini."
Vania menggantung telepon. Dia berjalan kembali ke arah kedua preman itu untuk memastikan mereka tidak kabur sebelum polisi datang.
Tepat saat dia melangkah melewati tubuh Preman Bertato yang masih terbaring telungkup, saku jaket kulit preman itu terbuka. Sebuah amplop tebal berwarna cokelat jatuh ke tanah yang becek.
Vania berhenti. Dia menatap amplop itu.
Dengan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul, Vania berlutut dan mengambil amplop itu. Kertasnya tebal, mahal, dan berbau seperti parfum murahan yang biasa dipakai Om Reza.
Vania membalik amplop itu. Di bagian belakang, terdapat stempel lilin merah yang dicetak dengan logo keluarga. Logo itu adalah inisial "R" yang dililit oleh ular—stempel pribadi yang hanya digunakan oleh Om Reza untuk urusan-urusan gelapnya.
Vania menatap stempel itu, lalu menatap preman yang pingsan, lalu kembali menatap stempel itu.
Oh, batin Vania, matanya menyipit tajam. Jadi ini bukan penyergapan acak. Ini perintah seseorang.
Dia menoleh ke arah Larasati yang sedang memunguti tomatnya yang jatuh. Vania memasukkan amplop itu ke dalam tas Hermes-nya, tepat di sebelah botol cabai rawit.
"Las," ucap Vania, suaranya datar namun bergema dengan nada yang berbeda. "Sepertinya kita perlu bicara soal keamananmu. Dan sepertinya, aku harus segera mengurus Om Reza."
BERSAMBUNG...