Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Wajah di Balik Kebenaran
Ling Yue melangkah keluar dari kegelapan gua, cahaya matahari sore yang memerah menyinari wajahnya. Puluhan pasang mata tertuju padanya, pedang-pedang terhunus berkilau mengancam dari segala arah. Namun ia tidak mundur selangkah pun. Ia berdiri tegak, memegang erat dokumen-dokumen itu di dadanya, seakan itu adalah jantungnya sendiri.
Wei Yan melangkah maju dari barisan prajurit—pria bertubuh tinggi tegap, wajahnya penuh guratan luka masa lalu, tatapannya tajam namun entah bagaimana menyimpan kesedihan yang dalam.
"Serahkan dokumen itu," suaranya menggelegar, namun tidak sepenuhnya berisi amarah. "Dan ikut bersamaku. Aku tidak akan menyakiti kalian, asal kau patuh."
"Dokumen ini berisi nama-nama orang yang kau layani, bukan?" tanya Ling Yue lantang, suaranya memecah keheningan tepian danau. "Termasuk nama Pangeran Yu, paman Kaisar. Dialah dalang sebenarnya, bukan? Kau hanyalah alat baginya."
Beberapa prajurit di belakang Wei Yan saling berpandangan. Keraguan mulai terlihat di wajah mereka. Wei Yan mengerutkan kening, tangannya mengepal erat.
"Kau tidak tahu apa yang kau katakan," geramnya.
"Aku tahu segalanya," jawab Ling Yue mantap. "Ayahku bukan pengkhianat. Ia menemukan bukti konspirasi untuk menggulingkan Kaisar dan menguasai kekaisaran. Mereka yang takut kebenaran terungkaplah yang memfitnahnya, memburu keluargaku, dan membunuhnya secara diam-diam."
"Diam!" Wei Yan melangkah maju, seakan ingin menerkamnya, namun ia berhenti tiba-tiba saat melihat gadis itu tidak bergeming. Tatapan Ling Yue begitu mirip dengan seseorang yang ia kenal—seseorang yang tak pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.
"Kau..." suaranya melemah, amarahnya perlahan luntur digantikan kerinduan yang menyakitkan. "Matamu... persis seperti matanya."
Ling Yue tertegun. "Siapa?"
Wei Yan menunduk, bahunya yang lebat menyembunyikan getaran di bibirnya. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya pada gagang pedang.
"Aku tidak melayani Pangeran Yu karena kesetiaan," ucapnya pelan, hanya terdengar oleh mereka yang berdiri di dekatnya. "Aku melakukannya karena dipaksa. Mereka menyandera orang yang paling aku sayang."
Ia mendongak, menatap Ling Yue lekat-lekat, dan di matanya kini terlihat air mata yang ditahan.
"Ayahmu... Jenderal Ling Xuan, adalah sahabat sekaligus atasan yang paling aku hormati. Dan dia... adalah kakak kandungku."
Ling Yue mundur selangkah, ternganga. "Kau... paman?"
"Namaku Ling Yan," suaranya bergetar. "Aku mengubah nama belakangku setelah kakakku difitnah, agar bisa menyusup ke dalam lingkaran musuh dan mencari tahu siapa saja yang terlibat. Selama ini aku bergerak sendirian, membiarkan semua orang menganggapku pengkhianat, hanya agar aku bisa menyelamatkanmu dan membersihkan nama baik keluarga kita."
Keheningan menyelimuti tepian danau. Para prajurit yang menyertai Wei Yan—sebagian besar sebenarnya adalah orang-orang setia yang dipimpinnya secara diam-diam—menurunkan senjata satu per satu.
"Tapi kenapa kau tidak memberitahu kami sejak awal?" tanya Ling Yue, suaranya masih belum percaya.
"Karena di antara kita ada mata-mata Pangeran Yu," jawab Ling Yan. "Bahkan di antara pasukan yang aku pimpin sendiri. Jika kebenaran terungkap terlalu cepat, mereka akan membunuhmu sebelum kita sempat berbuat apa-apa. Itulah sebabnya aku datang seakan ingin menyerahkanmu—agar bisa mengeluarkanmu dari kediaman Li An tanpa menarik perhatian musuh yang mengawasi dari jauh."
Ling Yue menoleh ke belakang. Li An berdiri di mulut gua, wajahnya semakin pucat, namun ia tersenyum tipis—bukan senyum bahagia sepenuhnya, tapi senyum lega bercampur kesedihan.
"Kau tahu..." bisik Ling Yue, menyadari sesuatu. "Li An, kau sudah menduga ini sejak awal, bukan?"
Li An mengangguk pelan. "Ada hal-hal yang tidak bisa kubilang sebelum waktunya. Tapi aku tahu... dia tidak akan menyakitimu."
Tiba-tiba suara dentuman panah terdengar dari arah bukit di atas mereka—bukan dari pasukan Ling Yan, melainkan dari tempat yang tersembunyi. Tiga orang berpakaian hitam melompat turun, pedang terhunus menuju ke arah Ling Yue.
"Mereka pengikut setia Pangeran Yu!" teriak Ling Yan, segera menghadang salah satu penyerang.
Li An berusaha melangkah maju, namun kakinya lemas. Salah satu pembunuh itu melesat ke arah Ling Yue, pedang berkilau tajam.
Ling Yue tidak sempat bergerak. Namun sesosok tubuh melompat di hadapannya—Shen Ying! Pedang musuh menancap di bahu wanita itu, namun ia berhasil menangkis serangan berikutnya dan mendorong pembunuh itu menjauh.
"Pergi! Bawa dokumen itu ke istana!" seru Shen Ying sambil menahan lukanya, darah menetes deras di tanah. "Jangan biarkan pengorbanan kami sia-sia!"
Mo Yu segera melompat turun, bertarung berdampingan dengan Ling Yan melawan pembunuh-pembunuh itu. Suara benturan pedang bergema di tepian danau.
Li An mengerahkan sisa kekuatannya, merangkul pinggang Ling Yue. "Kita harus pergi sekarang. Jika mereka berhasil membunuhmu dan menghancurkan bukti ini, tidak akan ada kesempatan kedua."
"Tapi mereka..." Ling Yue menatap paman dan teman-temannya yang bertarung, air mata mengalir deras.
"Mereka bertarung agar kau bisa hidup," ucap Li An tegas, meski napasnya tersengal. "Jangan biarkan pengorbanan mereka sia-sia."
Ling Yue menatap wajah-wajah yang berjuang demi kebenaran itu, lalu menggenggam dokumen itu erat. Ia mengangguk, berbalik, dan melompat masuk ke dalam perahu bersama Li An.
Mereka mendayung secepat mungkin menyeberangi danau, meninggalkan tempat pertarungan itu di kejauhan. Di belakang mereka, suara pertarungan perlahan mereda—entah siapa yang menang, entah apa yang terjadi pada mereka. Namun satu hal ia tahu: ia tidak boleh menyerah.
Di tengah perjalanan, Li An semakin lemah. Tubuhnya terasa panas, keringat dingin membasahi pakaiannya. Ling Yue memeluknya erat, mencoba menyalurkan kehangatan.
"Kau tidak boleh pergi..." isaknya pelan. "Kita baru saja menemukan keluarga kita. Kita baru saja menemukan kebenaran..."
Li An tersenyum lemah, menyentuh wajahnya dengan tangan yang gemetar.
"Aku senang... akhirnya kau tidak sendirian lagi," bisiknya. "Ling Yue... janji padaku... berjuanglah sampai akhir. Dan bahagiakan dirimu..."
"Jangan bicara seperti itu!" Ling Yue menahan tangis, memeluknya semakin erat. "Kau akan sembuh. Kita akan menghadap Kaisar bersama. Kita akan membangun rumah yang damai... kau, aku, paman, dan semua orang yang setia..."
Li An tersenyum, namun matanya perlahan mulai terpejam. "Aku ingin itu... lebih dari apa pun..."
Perahu mendarat di tepian yang aman. Ling Yue menariknya ke darat, berteriak meminta tolong, suaranya pecah memanggil nama pria yang dicintainya. Namun tubuh Li An terkulai lemas di pelukannya, napasnya semakin pelan dan lemah.
Di kejauhan, cahaya fajar mulai menyingsing di ufuk timur—hari baru yang seharusnya membawa harapan, namun kini terasa begitu pahit dan menyakitkan.