NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Perpisahan dan Perjalanan

Tiga hari setelah Festival Penentuan berakhir, Chu Feng berdiri di gerbang belakang istana sebelum fajar, sebuah tas kain sederhana tersampir di bahunya, berisi tidak lebih dari beberapa potong pakaian, sedikit bekal, dan kalung peninggalan ibunya yang kini tak pernah lepas dari lehernya.

Keputusan untuk berangkat secepat ini bukan tanpa pertimbangan matang. Setelah pembicaraan panjang dengan ayahnya, mereka sepakat bahwa semakin lama Chu Feng tinggal di Kerajaan Chu setelah menunjukkan kemampuannya di festival, semakin besar pula risiko kelompok berjubah hitam itu menemukan keberadaannya. Lebih baik pergi sekarang, secara diam-diam, sebelum berita tentang pencapaiannya menyebar terlalu jauh ke luar wilayah kerajaan.

"Yang Mulia benar-benar akan pergi tanpa pengawalan resmi?" tanya Lao Sun, wajahnya masih menyisakan kekhawatiran meski sudah memahami alasan di baliknya.

"Pengawalan resmi hanya akan menarik lebih banyak perhatian, Paman Sun," jawab Chu Feng, memeriksa kembali isi tasnya. "Aku akan lebih aman bepergian sebagai kultivator biasa, bukan sebagai pangeran kerajaan."

Lao Sun mengangguk pelan, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Hamba sudah mengabdi pada Yang Mulia sejak kecil. Rasanya berat melepas Yang Mulia pergi sendirian ke tempat yang begitu jauh."

"Kau tidak melepasku sendirian," Chu Feng tersenyum, meletakkan tangan di bahu pelayan tua itu. "Kau akan tetap di sini, menjaga ayahku, dan menjaga rahasia ini agar tidak bocor ke pihak yang salah. Itu sama pentingnya dengan perjalanan yang akan kutempuh."

"Hamba mengerti, Yang Mulia." Lao Sun membungkuk dalam, suaranya bergetar menahan emosi. "Hamba akan berdoa untuk keselamatan Yang Mulia setiap hari, sampai Yang Mulia kembali."

Kaisar Chu sendiri sudah menemuinya semalam, dalam pertemuan pribadi singkat yang tidak melibatkan protokol formal apa pun—hanya seorang ayah dan anaknya, berbicara untuk mungkin terakhir kalinya dalam waktu yang lama.

"Aku sudah menuliskan surat pengantar untuk Sekte Awan Langit," kata Kaisar Chu malam itu, menyerahkan sebuah gulungan kecil bersegel. "Meski sekte itu kecil dan tidak terkenal, hubungan lama antara mereka dan keluarga penjaga di Desa Kabut Hening seharusnya cukup untuk memastikan mereka menerimamu dengan baik."

"Terima kasih, Ayahanda."

"Jangan berterima kasih dulu," Kaisar Chu menggeleng pelan, ekspresinya serius. "Perjalanan ini tidak akan mudah, Nak. Kau akan pergi sebagai orang biasa, tanpa gelar, tanpa perlindungan formal kerajaan. Di luar sana, dunia jauh lebih keras dari yang pernah kau bayangkan di dalam tembok istana ini."

"Aku sudah siap menghadapinya."

Kaisar Chu menatap putranya lama, sebuah ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan—kerentanan seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya, terlepas dari segala gelar dan tanggung jawab kerajaan yang membebani pundaknya.

"Aku tahu kau siap," katanya akhirnya, suaranya lembut. "Kau sudah membuktikan itu di festival kemarin. Tapi seorang ayah akan selalu khawatir, tidak peduli seberapa kuat anaknya."

Chu Feng, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasakan pelukan dari ayahnya—singkat, sedikit canggung karena jarang dilakukan, namun tulus.

"Pulanglah kalau kau sudah cukup kuat," bisik Kaisar Chu. "Atau kalau kau membutuhkan sesuatu. Pintu kerajaan ini akan selalu terbuka untukmu, Nak."

Sebelum benar-benar meninggalkan gerbang istana, satu orang lagi menunggu di sana untuk mengucapkan selamat tinggal—sesuatu yang tidak diduga Chu Feng, mengingat betapa rahasianya keberangkatan ini seharusnya.

Su Yue berdiri di bawah cahaya lentera yang mulai meredup seiring fajar mendekat, mengenakan jubah perjalanan sederhana, bukan pakaian formal seperti biasanya.

"Bagaimana kau tahu aku akan pergi pagi ini?" tanya Chu Feng, terkejut namun juga senang melihatnya.

"Aku punya firasat," Su Yue tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kesedihan yang coba disembunyikannya. "Dan aku benar."

Mereka berdiri berhadapan sejenak, keheningan canggung namun hangat menyelimuti keduanya.

"Aku akan kembali ke wilayah tengah bersama rombongan Klan Su besok," kata Su Yue akhirnya, memecah keheningan. "Kudengar kau juga akan pergi jauh."

"Ke Sekte Awan Langit," Chu Feng mengangguk, tidak melihat alasan untuk menyembunyikannya dari gadis yang sudah begitu banyak membantunya melewati minggu-minggu terakhir ini. "Untuk berlatih lebih jauh, jauh dari perhatian yang tidak diinginkan."

"Sekte Awan Langit," Su Yue mengulang nama itu, mengingatnya dengan saksama. "Aku belum pernah mendengarnya, tapi aku akan mencari tahu lebih banyak kalau ada kesempatan."

"Kau tidak perlu repot-repot."

"Aku ingin," Su Yue menatapnya lurus, ketulusan jelas terlihat di matanya. "Kita baru saling mengenal beberapa minggu, Chu Feng. Tapi entah kenapa, aku merasa perjalananmu ini bukan akhir dari pertemuan kita."

Chu Feng menatapnya, sesuatu yang hangat dan berat sekaligus menggenang di dadanya—perasaan yang sulit ia definisikan, namun terasa begitu nyata di tengah semua ketidakpastian yang menantinya.

"Aku juga merasa begitu," akunya pelan.

Su Yue melangkah maju, menyerahkan sebuah kantong kecil berisi beberapa lembar giok bertuliskan simbol Klan Su. "Kalau kau butuh bantuan, atau ingin menghubungiku, gunakan giok komunikasi ini. Klan Su memiliki jaringan yang cukup luas—setidaknya aku bisa membantu sejauh yang kubisa, meski jauh dari sini."

Chu Feng menerima kantong itu dengan hati-hati, menyimpannya di dalam jubahnya bersama kalung ibunya. "Terima kasih, Su Yue. Untuk semuanya—percakapan di taman, kepercayaanmu, dan sekarang ini."

"Jaga dirimu baik-baik," Su Yue tersenyum, meski suaranya sedikit bergetar. "Dan jangan terlalu nekat lagi seperti waktu melawan Chu Yan. Aku tidak akan selalu ada untuk mengkhawatirkanmu dari tribun."

Chu Feng tertawa kecil, sebuah tawa jujur yang jarang sekali ia tunjukkan. "Aku akan berusaha."

Ketika matahari mulai terbit di ufuk timur, Chu Feng akhirnya melangkah keluar dari gerbang belakang istana, meninggalkan Lao Sun, ayahnya yang mengamati dari jendela ruang pribadinya, dan Su Yue yang masih berdiri di gerbang hingga sosoknya menghilang di kejauhan jalan setapak.

Perjalanan menuju Sekte Awan Langit akan memakan waktu hampir dua minggu, melewati wilayah-wilayah Benua Timur yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya—kota-kota kecil, hutan-hutan lebat, dan mungkin beberapa bahaya yang belum bisa ia perkirakan.

"Kau meninggalkan banyak hal di belakang," komentar suara di dalam dirinya, nadanya lebih lembut dari biasanya.

Aku tahu, jawab Chu Feng dalam hati, langkahnya tetap mantap meski dadanya terasa berat. Tapi aku juga membawa banyak hal bersamaku—warisan ibuku, dukungan ayahku, dan harapan dari orang-orang yang mempercayaiku.

"Perjalanan yang panjang menantimu, Pangeran Ketujuh."

Aku siap, pikir Chu Feng, matanya menatap ke arah jalan panjang yang membentang di hadapannya, menuju cakrawala yang baru saja mulai terang oleh cahaya fajar. Aku sudah siap sejak malam aku menemukanmu di Lembah Kabut.

Ia melangkah maju, meninggalkan Kerajaan Chu yang selama tujuh belas tahun menjadi satu-satunya dunia yang ia kenal, menuju petualangan yang akan membentuknya menjadi seseorang yang jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan siapa pun—termasuk dirinya sendiri.

1
Nanik S
Lanjut terus💪💪💪
Irhab Hauzan: gas👍👍
total 1 replies
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
Nanik S
Dewa... yang dianggap Intensitas tertinggi
Nanik S
Semoga cerita ini sampai selesai
Irhab Hauzan: terimakasih supportnya🙏
total 1 replies
Nanik S
Hadir.... cukup menarik di awal
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai k salam kenal . masuk grup aku mau gak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!