Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidden In The Story
"Mau ke mana lagi?" Jack bertanya pada Billby setelah mereka keluar dari Timezone.
Ya, setelah makan di Solaria sesuai permintaan Billby, mereka pergi ke Timezone yang pastinya juga atas permintaan gadis itu. Walaupun Jack melarangnya berteman dengan siapa pun, ia tetap berusaha menuruti semua keinginan keponakannya itu sebisa mungkin.
"Emmm, aku mau es krim," pintanya sambil meremas-remas perut boneka kelinci di tangannya—hasil memenangkan permainan capit boneka di Timezone tadi.
"Oke," balas Jack seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling mal untuk mencari kedai es krim yang sesuai dengan keinginan Billby.
Setelah berjalan cukup jauh, Billby menunjuk sebuah *outlet* kedai es krim yang menurutnya sangat lucu. Di depan toko tersebut terdapat patung es krim berbentuk kepala sapi.
"Billby mau yang itu, Om!" ujarnya dengan senyum lebar.
Billby langsung berlari menghampiri patung tersebut dan mengelusnya sebentar. Setelah itu, ia menatap etalase di depannya yang menampilkan berbagai macam bentuk es krim menyerupai kepala hewan.
"Menurut Om, mana yang paling lucu?" tanya Billby meminta pendapat.
Jack menunjuk es krim dengan bentuk kepala beruang. "Yang ini lucu. Tapi, Billby masih lebih lucu," goda Jack.
Bukannya senang dipuji, Billby justru menatap Jack dengan sinis. "Emang!" balas Billby sewot.
Jack terkekeh. "Jadi mau yang mana?"
Billby kembali menatap etalase di depannya. "Yang mana, ya?" Pikirnya serius, seolah-olah sedang memilih takdir hidup. "Yang beruang memang lucu. Tapi yang sapi sama kucing juga lucu. Boleh beli tiga gak, Om?" pinta Billby mulai ngelunjak.
Jack menatap Billby dengan agak terkejut. "Enak aja tiga. Ntar sakit perut. Satu aja. Kapan-kapan baru beli lagi."
Billby langsung cemberut. "Tapi lucu, Om..."
"Kamu suka ngelihatnya?"
Billby mengangguk cepat. "Suka banget. Kiyeowo!"
"Kalau gitu beli *squishy* aja. Ini kegunaannya buat dimakan, bukan cuma dilihat," ujar Jack seraya menunjuk es krim di etalase tersebut.
"Ya udah... kalau dua gimana, Om?" mohon Billby meminta kelonggaran.
"Satu aja, Billby. Kamu gak bisa makan es banyak-banyak. Tadi di Solaria kamu udah minum smoothies. Sekarang mau es krim dua lagi? Ntar kalau kamu sakit, yang repot Om juga. Gak boleh, ya. Satu aja," tolak Jack tegas.
"Om jahat! Padahal es krimnya lucu banget."
Jack memegang lengan Billby, bersiap menariknya pergi. "Mau beli gak? Kalau enggak, kita langsung pulang."
"Mau, mau! Billby mau yang beruang," putus Billby akhirnya setelah perdebatan panjang.
"Nah, gitu dong. Nurut sama Om," ujar Jack seraya mengambil ponsel dari saku celananya untuk membayar es krim Billby.
"Iya... Pak Guru," balas Billby lesu.
Setelahnya, mereka berjalan beriringan menuju area parkiran. Namun, tiba-tiba di tengah jalan, Billby menanyakan sesuatu yang suasananya mendadak terasa cukup berat.
"Om... kira-kira sampai kapan identitas aku disembunyiin?" tanya Billby, membuat binar di wajah Jack seketika meredup lesu.
"Maafin Om, ya... Om gagal jaga Mama kamu," ujar Jack dengan nada tulus sekaligus penuh sesal.
"Ngapain minta maaf? Om gak salah kok," balas Billby menenangkan. "Aku itu cuman pengen bisa di-posting sama kalian... atau sebaliknya, aku yang posting foto kalian. Tiap kita jalan-jalan dan foto bareng, pasti ada foto tanpa aku yang kalian bikin story. Kadang aku juga pengen ada di story kalian..." ungkap Billby jujur, yang justru semakin membuat Jack merasa bersalah.
Jack menghela napas panjang. "Nanti kalau kamu udah dewasa, kita buat acara yang besar banget buat mengungkap identitas kamu ke publik. Untuk sekarang, tahan dulu ya... Om takut kamu gak bisa menerima pandangan buruk orang-orang ke kamu. Kamu memang gak salah, tapi ya... beginilah dunia. Gak salah pun bisa disalah-salahin."
Billby mengangguk paham. "Aku ngerti kok, Om."
Jack mengelus rambut kepala Billby dengan sayang. "Kami ngelakuin ini semua demi kebaikan kamu. Jangan pernah mikir kami gak sayang sama kamu, ya. Kalau cuma nurutin kemauan ego, mah, udah dari dulu Om posting semua tentang kamu. Punya keponakan yang se-perfect ini, siapa yang gak bangga? Rasanya Om pengen nunjukin ke seluruh dunia setiap momen kebersamaan kita dan setiap pertumbuhan kamu. Tapi ya itu tadi... demi menjaga mental kamu, kami terpaksa menahan keinginan itu."
"Dewasanya aku tuh kapan?" tanya Billby yang tampak sangat polos.
"Yang jelas sekarang belum. Dari pertanyaan kamu tadi aja udah nunjukin kalau kamu belum dewasa."
Wajah bulat Billby langsung mencerminkan ekspresi kecewa. "Yahh... padahal kirain Billby udah besar," ujarnya dengan bibir melengkung ke bawah.
Jack terkekeh ringan. "Nanti ada waktunya."
"Jadi sekarang aku belom besar?" tanya Billby lagi karena tidak puas dengan jawaban Jack.
"Menurut Billby sendiri?"
"Udahlah!" balasnya cepat dan tegas.
Jack terkekeh lagi. "Iya... udah."
"Oh ya Om, tadi Om bilang kalau Billby udah dewasa, Om mau mengungkap identitas aku di acara besar?"
Jack mengangguk.
"Terus... bakal ada Papa gak?" tanya Billby hati-hati, tetapi matanya memancarkan binar penuh harap.
Jack mendadak berdecak kesal. "Jangan harap," balas Jack dingin, lalu langsung menarik Billby untuk segera masuk ke dalam mobil.
***
Setibanya di rumah, Billby merasa gerah dan langsung memutuskan untuk mandi. Ia mengambil pakaian ganti serta perintilan lain untuk menemaninya di dalam sana. Setelah berlalu puluhan menit, akhirnya Billby keluar juga dari kamar mandi yang terletak di pojok kamarnya.
Billby menggosok-gosok rambut serta kulit kepalanya dengan handuk sambil berjalan menuju meja rias. Setelah duduk di sana dan merasa rambutnya sudah cukup kering, Billby memakai rangkaian skincare-nya dengan lengkap. Terakhir, ia menyemprotkan minyak wangi di setiap titik nadinya.
"Mmhhhh... wangi!" ujarnya sumringah sambil mengendus-endus pergelangan tangannya sendiri.
Lalu, ia menatap cermin di depannya. "Kira-kira sekarang enaknya ngapain, ya?"
BRAK!
"HAAA!" teriak Billby seraya menggebrak meja saat menemukan sebuah ide. Ia terkikik senang.
Billby keluar dari kamarnya dengan langkah hati-hati layaknya seorang pencuri. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada siapapun yang melihat tindak-tanduknya. Pandangannya lalu tertuju pada pintu yang ada di sebelah kamarnya.
Kamar Jack.
Pintunya tertutup rapat. Aman.
Kemudian Billby melangkah menuju kamar mamanya—Jizamy, atau yang biasa disebut Jiza. Saat tiba di depan tujuan, Billby menoleh lagi untuk memastikan keadaan benar-benar aman. Setelah yakin tidak ada yang mengawasinya, Billby membuka kenop pintu perlahan lalu melangkah masuk. Tak lupa, ia menutup kembali pintu tersebut sebelum melancarkan aksinya.
Saat tiba di tengah ruangan, Billby melemparkan pandangannya ke segala arah. Kamar ini terasa padat sekaligus kosong. Padat karena ada banyak barang di sana, namun kosong karena tidak ada lagi penghuninya. Ya, Jiza memang tidak tinggal di rumah ini. Sang mama memilih tinggal di sebuah apartemen bersama dua sahabatnya.
Saat matanya menangkap sebuah rak buku kecil, Billby segera melangkah ke sana. Inilah tujuan utamanya: mencuri novel milik Jiza. Sebenarnya Billby sendiri punya banyak koleksi novel, namun tidak ada yang seasyik novel mamanya yang bisa dikategorikan sebagai... novel dewasa. Xixixi.
Entah apa yang akan Jack lakukan padanya jika sampai mengetahui kebiasaan nyeleneh keponakannya ini.
Billby mengambil tiga buah novel yang berada di rak paling atas. Niatnya, ia hanya akan membaca sinopsis masing-masing buku yang ada di bagian sampul belakang, lalu menyelundupkan satu buku yang paling menarik untuk dibaca di kamarnya nanti.
Namun, saat ketiga novel itu sudah berada di genggamannya, ia tidak sengaja melihat sebuah bingkai foto di bagian belakang rak. Posisinya tampak sengaja ditaruh terbalik di rak paling atas—tepat di tempat ia mengambil novel-novel tadi.
Karena dirundung rasa penasaran yang besar, Billby meletakkan kembali ketiga novel tadi di atas rak lalu mengambil bingkai foto tersebut. Setelah membalik posisinya, Billby seketika terpaku di tempat.
"Apa... ini Papa?"
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.
good story