NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kajian Malam Jumat

Kabar tentang korek api dan kucing sampai ke Zaki keesokan paginya, lewat Rukmini yang menyampaikannya dari balik lubang pemberian dengan wajah yang jelas-jelas sedang menahan tawa.

"Kang Zaki," katanya, "ada pesan dari seberang."

"Pesan apa, Mbak?" tanya Zaki, dadanya langsung berdebar.

"Katanya: terima kasih kembali untuk korek api dan kucingnya."

Zaki membeku. "Maksudnya?"

"Salammu, Kang. Sudah lewat tujuh mulut sebelum sampai ke sini. Yang tiba di telinga kami cuma korek api dan kucing." Rukmini berdeham keras untuk menutupi suara tawanya. "Dan satu lagi. Katanya, lain kali menulis saja, jangan lisan."

Di belakang Zaki, Darto mendadak sangat tertarik pada isi panci di tungku.

"Darto."

"Saya sudah bilang, Kang Ridwan yang salah."

"Kamu yang menyerahkan pesannya ke Kang Ridwan."

"Itu pendelegasian."

"Itu pembocoran."

Rukmini menyudahi perdebatan itu dengan tawa pendek. "Sudah, sudah. Intinya, tulisan lebih aman. Dan Kang Zaki, jangan khawatir. Kami paham maksud aslinya."

Zaki menunduk dan menahan senyum yang tidak bisa dibendung. Ternyata salam yang kacau pun bisa menyampaikan sesuatu.

Malam Jumat di Al-Hikmah adalah malam yang istimewa. Setelah shalat isya, seluruh santri berkumpul di serambi masjid untuk kajian bersama yang dipimpin langsung oleh Kiai Wahid. Santri putra duduk bersila di lantai serambi. Santri putri duduk di ruang dalam masjid, terpisah oleh tirai bambu tebal yang dibentangkan dari sisi ke sisi. Suara mereka terdengar, tapi wajah mereka tidak terlihat.

Malam itu, lampu minyak dinyalakan lebih banyak dari biasanya. Bau kopi dan pisang goreng menyebar dari sudut serambi. Suasananya hangat seperti berkumpul di rumah kakek yang bijak.

Zaki duduk di baris tengah, diapit Darto dan Kang Fadil. Beberapa shaf di depannya, Gus Hanif duduk bersama Ustaz Malik dan dua ustaz lain. Ia terlihat tenang, sesekali mengangguk pada santri yang menyapanya.

"Malam ini," kata Kiai Wahid setelah membuka dengan doa, "kita bahas satu pertanyaan sederhana. Kalau seseorang berjanji akan melakukan kebaikan, tapi di tengah jalan ia mendapati keadaan berubah dan janji itu jadi berat, apakah ia wajib menepatinya?"

Hening. Kiai memandang berkeliling dengan mata teduhnya.

"Boleh dijawab dari sisi mana saja. Putra maupun putri. Silakan."

Beberapa santri senior menjawab lebih dulu. Ada yang mengutip pendapat ulama tentang wajibnya menepati janji, ada yang menyebut pengecualian bila janji itu menyulitkan diri. Ustaz Malik menimpali dengan pembahasan yang rumit dan membuat dua orang santri di belakang Zaki diam-diam mengeluarkan pensil untuk mencatat.

Zaki mendengarkan sambil menyusun pikirannya sendiri. Ia teringat ayahnya, yang dulu pernah berjanji kepada seorang pelanggan untuk mengirim kain tepat waktu, padahal harga bahan naik dan ia nyaris rugi besar. Ayahnya tetap menepatinya. "Rugi sekali tidak apa-apa," kata beliau waktu itu, "asal kata-kata kita tidak jadi murah."

"Kang Zaki, kamu mau bicara?" bisik Darto. "Wajahmu kelihatan mau."

"Belum ada yang salah."

"Sebentar lagi ada. Selalu ada."

Benar saja. Salah seorang santri senior menyimpulkan bahwa janji yang memberatkan boleh dibatalkan begitu saja tanpa konsekuensi, dan sejumlah santri mengangguk-angguk setuju.

Zaki menarik napas dan mengangkat tangan.

"Silakan, Nak Zaki," kata Kiai.

"Mohon maaf, Kiai. Menurut saya, ada beda antara janji yang tidak mungkin ditepati dan janji yang berat ditepati. Yang pertama boleh dibatalkan. Yang kedua, kalau tidak membahayakan, tetap sebaiknya dipenuhi. Karena kalau setiap janji yang berat boleh dibatalkan, janji akan kehilangan harganya."

Beberapa kepala menoleh. Ustaz Malik mengangguk pelan. Zaki merasa telinganya panas, tapi ia melanjutkan. "Ayah saya pernah berkata, rugi sekali tidak apa-apa, asal kata-kata kita tidak jadi murah."

Serambi terdiam sejenak. Kiai Wahid tersenyum kecil.

"Nasihat ayahmu bagus."

Zaki hendak menunduk, tapi tepat saat itu, dari balik tirai bambu di sisi kiri, terdengar sebuah suara.

"Mohon izin menambahkan, Kiai."

Suara itu jernih, tenang, dan sedikit ragu di ujung kalimat. Suara yang sama dengan yang pernah membacakan puisi di balik tembok.

Punggung Zaki menegang. Darto menyikutnya keras-keras.

"Silakan, Nak Nafisah," kata Kiai.

Nafisah. Nama itu bergema di kepala Zaki seperti bunyi lonceng di pagi hari.

"Saya setuju dengan perbedaan yang tadi," kata Nafisah dari balik tirai. "Tapi ada satu hal yang menurut saya perlu ditambahkan. Kalau janji itu berat karena keadaan berubah, kita boleh memohon keringanan kepada orang yang diberi janji, bukan membatalkannya sepihak. Jadi kalau ada masalah, yang berubah adalah caranya menepati, bukan janjinya."

Hening lagi. Kali ini lebih panjang.

Ustaz Malik menyesuaikan kacamatanya yang melorot. "Hm."

Dan seperti biasa, satu "hm" dari Ustaz Malik sanggup membuat seisi serambi menahan napas.

"Itu tambahan yang bagus," kata Kiai Wahid. "Dan menarik, karena dua jawaban tadi saling melengkapi. Yang satu menjaga nilai janji, yang lain menjaga cara menepatinya."

Zaki, tanpa sadar, tersenyum. Ia tidak menoleh ke arah tirai, tentu saja. Tapi ia merasakan suara itu masih menggantung di telinganya, seperti nada terakhir dari sebuah rebana.

"Kalian berdua ini," gumam Darto di sampingnya, "kayak lagi berbalas pantun."

"Kami tidak berbalas."

"Kalian saling melengkapi. Itu kata Kiai."

"Itu tentang janji."

"Ya, ya. Tentang janji."

Kajian berlangsung hampir dua jam. Zaki tidak menyadari waktu berlalu sampai kopi di gelasnya dingin. Saat pertemuan bubar, para santri berdiri dan saling bersalaman. Dari balik tirai, satu per satu santriwati keluar lewat pintu samping, menunduk dan berjalan cepat menuju asrama mereka.

Zaki melangkah ke halaman dengan kepala penuh. Ia mendengar langkah santai di belakangnya.

"Zaki."

Ia berbalik. Gus Hanif berdiri di sana, memegang peci di tangan dengan senyum yang sama seperti kemarin, ramah dan hangat.

"Jawabanmu bagus tadi. Nasihat ayahmu itu, boleh saya pinjam?"

"Silakan, Gus."

"Saya akan mengutipnya nanti di kamp latihan." Gus Hanif terkekeh kecil. "Anak-anak laskar sering lupa bahwa kata-kata itu sama beratnya dengan senjata."

Zaki mengangguk. "Semoga bermanfaat, Gus."

"Insyaallah." Gus Hanif memandangnya sebentar, lalu tatapannya bergeser ke arah tirai bambu yang mulai digulung para santri. Sesuatu di matanya melunak sesaat, seperti orang yang mengingat sesuatu yang dijaganya. "Nafisah itu memang pintar, ya."

Zaki tidak tahu kenapa, tapi kata-kata itu membuat perutnya berubah dingin. Bukan karena ada nada kasar di sana. Justru karena tidak ada. Yang ada hanyalah kekaguman yang dibalut hati-hati, dan itu lebih sulit dibaca.

"Iya, Gus," jawabnya akhirnya. "Pintar sekali."

"Sudah lama saya kenal dia." Gus Hanif tersenyum, lalu menepuk bahunya. "Selamat malam, Zaki. Istirahatlah."

Ia pergi. Zaki berdiri di tengah halaman, dengan bulan yang setengah dan udara malam yang terasa lebih dingin dari biasanya.

"Darto," katanya pelan, ketika sahabatnya menyusul di sebelahnya.

"Hm?"

"Yang kamu bilang kemarin, soal Gus Hanif. Yang katanya nanti saja."

Darto menatap ke langit yang sama, menghela napas, dan untuk pertama kalinya sejak Zaki mengenalnya, tidak tersenyum.

"Belum sekarang, Kang. Kamu belum siap."

"Siap untuk apa?"

"Untuk dengar." Darto menepuk punggungnya pelan. "Tidur dulu. Besok masih ada nahwu."

Zaki menatap punggung sahabatnya yang menjauh, lalu menoleh sekali lagi ke arah tembok tinggi yang berdiri diam di bawah cahaya bulan. Di baliknya, entah di kamar yang mana, seseorang mungkin sedang menulis puisi baru. Dan ia baru menyadari sesuatu yang membuat dadanya sesak sekaligus hangat: ia sedang menunggu puisi itu, dan ia takut jawabannya sudah ada di tangan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!