Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Penemuan mayat
Nathan dan polisi senior bernama Reno saling tatap, lalu tertawa bersama menertawakan Niko.
"Hahaha, apa-apaan reaksimu itu, Niko?!"
"Entahlah, dia ini terlalu percaya hantu. Sudah kubilang hantu itu tidak ada. Senior kita ini malah lebih menyeramkan dari hantu," ujar Nathan.
Reno terdiam sejenak. "Sembarangan sekali kamu, Nathan. Kalian lagi patroli, ya? Aku ikut."
Niko mengusap dadanya yang masih berdebar. "Tidak apa-apa nih?"
"Santai, aku baru saja dari sana."
"Melirik gadis-gadis muda, maksudmu?" goda Nathan.
"Hei, bagaimana kamu bisa tahu?!"
Nathan tidak menjawab dan hanya tersenyum. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan bersama sambil mengamati kondisi sekitar.
"Oh, iya. Hebat juga ya si Gavin. Padahal umurnya baru 25 tahun, sedangkan aku sudah 26. Gaji dia sekarang jauh lebih besar kalau tidak salah," ujar Reno dengan nada sedikit iri.
Niko menepuk pundak Reno. "Santai saja, kamu kan om-om lajang. Aku saja yang baru 22 tahun sudah menikah dan punya anak. Senior kapan?"
"Kapan-kapan saja, haha," jawab Reno santai.
Nathan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. "Mungkin nanti di pertengahan rute aku akan mengambil jalan lain. Aku ingin sekalian mampir ke panti asuhan."
"Ah, kamu masih sering pergi ke sana? Bukannya kamu sudah pindah dan punya tempat tinggal baru?" tanya Reno.
Nathan menjawab, "Aku terkadang masih datang. Anak-anak di sana juga katanya sering menanyakan keberadaanku kepada ibu panti."
"Aku mengerti. Tapi kapan kamu mau main ke rumahku, woi? Aku belum pernah memperkenalkan keluargaku kepada kalian," potong Niko.
Reno mengupil dengan wajah malas. "Kapan-kapan."
"Lain kali saja," tambah Nathan.
Baru saja mereka sampai di sebuah area gang, hidung mereka mencium aroma sesuatu.
"Seperti bau darah, ya?"
"Coba periksa."
Mata Nathan membelalak ketika melihat barang-barang berantakan di sekitar gang. Ia teringat pernah ada kasus pembunuhan di kisaran waktu ini pada kehidupan lalunya.
"Apa hari ini?!" pikirnya kaget. Dia langsung berlari menuju arah gang yang gelap itu.
Dua rekannya menyusul dari belakang. "Tunggu, woi!"
Benar saja, saat sampai di ujung gang, mereka menemukan sebuah mayat pria berusia sekitar 30-40 tahunan tergeletak miring bersandar di dinding.
"Ada mayat?!" pekik Niko terkejut.
Nathan segera mengambil kendali. "Amankan lokasi! Kita harus memberikan laporan terlebih dahulu."
Dia langsung menelepon sang komisaris.
"Halo, ada apa, Nathan?" suara Martin terdengar dari seberang telepon.
"Pak, ada mayat di distrik 1, area gang belakang rumah nomor 34."
Martin menghela napas berat, lalu meletakkan berkas pekerjaannya. "Baiklah, jangan sampai ada yang berubah di TKP. Aku akan segera ke sana."
Martin berdiri dari kursinya. Sudah cukup lama tidak ada kasus pembunuhan yang terjadi di area distrik 1 ini. "Tim investigasi, cepat ikuti aku!"
"Baik, Pak!"
Beberapa saat kemudian, Martin sampai di lokasi kejadian. Pria itu bersidekap dada sembari menatap tim investigasi yang sedang bekerja di area TKP.
"Setelah kulihat, dia ditusuk di area dada, tapi darah di lokasi tidak terlalu banyak," gumam Martin.
Nathan berdiri diam memperhatikan bersama dua rekannya.
Setelah mengumpulkan beberapa informasi awal di TKP, Martin berkata, "Katanya ponselnya hilang, tapi dompetnya masih ada, ya?"
"Iya, Pak. Apa mungkin ini kasus perampokan?" tanya salah satu polisi tim investigasi.
Nathan menyela, "Tidak, tidak mungkin. Kalau perampokan, kenapa dompetnya tidak diambil?"
Reno yang baru selesai memeriksa ulang lokasi juga setuju dengan pendapat Nathan. "Sepertinya ini memang bukan kasus perampokan. Aku melihat uangnya masih aman dan jam tangan masih terpasang. Hanya ponselnya saja yang hilang."
Niko memegang kepalanya bingung. "Apa mungkin pelakunya menginginkan sesuatu yang ada di ponsel korban?"
Martin tersenyum tipis. Entah kenapa dia tertarik dengan pemikiran kritis mereka. "Bagaimana menurutmu, Nathan?"
"Izinkan saya untuk memeriksa area sekitar lebih detail terlebih dahulu, Pak."
Melihat gerak-gerik dan ketenangan Nathan yang bertindak sangat berpengalaman, Martin merasa heran sekaligus penasaran.
Seorang polisi dari tim investigasi menyela dengan nada tidak suka, "Seorang polisi amatir dilarang melaku—"
"Boleh, biarkan saja dia," potong Martin dengan senyum menantang.
Nathan dengan hati-hati memeriksa area sekitar secara lebih mendalam.
Dia menemukan jejak sepatu samar yang tidak mengarah ke jalan keluar utama, melainkan menuju ke pintu belakang sebuah rumah.
Selain itu, posisi dan pola darah tidak cocok dengan tempat tubuh korban tergeletak. Ada tetesan darah kecil beberapa meter dari posisi mayat.
Luka tusukan terlihat seperti serangan langsung, tetapi tidak ada banyak percikan darah di dinding. Korban kemungkinan besar tidak dibunuh di tempat tersebut.
Melihat cara investigasi yang dilakukan Nathan, mata Martin mendelik. "Dia tidak terlihat seperti seorang amatir. Bahkan caranya menganalisis sudah seahli diriku, atau bahkan lebih," pikirnya penuh keterkejutannya.
Setelah selesai memeriksa, Nathan kembali mendekati Martin. Beberapa polisi dari tim investigasi menatapnya dengan raut jengkel.
"Ck, beruntung dia dekat dengan Pak Komisaris."
"Biarkan saja. Aku dengar dia juga bersikap arogan kepada Gavin tadi."
Bisik-bisik ketidaksukaan terdengar di antara mereka.
Nathan mengabaikan mereka dan berkata, "Setelah saya periksa, kemungkinan besar korban tidak dibunuh di area ini."
"A-apa?! Apa kamu yakin?!" Polisi di sebelahnya terkejut.
Niko ikut terperanjat, sementara Reno yang menyadari adanya ketidakpercayaan dari yang lain berkata, "Bisa jelaskan lebih detail, Nathan?"
Nathan mengangguk. "Darahnya terlalu sedikit. Kalau luka sebesar ini terjadi di sini, pola darah di sekitar korban seharusnya jauh lebih banyak. Tubuhnya kemungkinan besar dipindahkan."
Karena informasi mengenai korban masih kurang, kepolisian akan melakukan investigasi lebih lanjut dengan menghubungi keluarga korban.
Martin berbalik badan. "Baiklah, urus sisanya. Nanti aku terima laporannya."
Nathan dan dua rekannya saling tatap, lalu melanjutkan perjalanan. Mereka akan melihat perkembangan kasus ini besok.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ke panti, ya," pamit Nathan.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Mereka berpisah. Nathan tidak terlalu memikirkan kasus itu, walaupun di kepalanya ia mulai memetakan siapa pelakunya. Dia hanya perlu mengumpulkan bukti-bukti agar bisa menangkap pelaku tersebut.
"Baru saja kembali ke masa lalu, tapi sudah disuguhkan kasus pembunuhan..." batinnya.
Beberapa menit berlalu, dia akhirnya sampai di depan Panti Asuhan Memberi Kasih.
Panti inilah tempat dia tumbuh besar dan dirawat dengan baik. Penampilan panti asuhan ini terbilang bersih, meskipun tempatnya sudah tua dan harus diperbaiki.
Saat Nathan hendak melangkah masuk, tiba-tiba sebuah layar transparan muncul mengambang tepat di depannya.
[Misi: Selesaikan kasus pembunuhan dan dapatkan hadiahnya.]
[Hadiah penangkapan pencuri tadi: 10 juta telah diberikan.]
Mata Nathan mendelik lebar. Dia terkejut hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. "B-benda apa ini?!"