NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Aku Nggak Pernah Cinta

Menjelang siang, Senja sudah bekerja beberapa jam tanpa lagi menunggu surat pemecatan. Tas besar yang kemarin ia bawa telah kembali ke rumah, dan namanya tetap tercantum pada jadwal magang.

Vania justru tampak lesu. Namun saat jam makan, perempuan itu datang bersama Reza dan sengaja duduk di meja dekat Senja.

"Jawab jujur," kata Vania keras. "Kamu pernah cinta Senja enggak?"

Beberapa perawat langsung diam-diam mendengarkan.

Reza melihat Senja. Demi menyenangkan pacar barunya dan menjaga hubungan dengan keluarga Adiwangsa, ia menjawab, "Enggak pernah."

Lima tahun selesai dalam dua kata.

Senja meletakkan sendok. Semua orang menunggu ia menangis. Ia justru tersenyum.

"Syukurlah," katanya. "Berarti saya enggak kehilangan apa-apa."

Ia membawa nampan pergi dengan langkah ringan. Baru di balik pintu dapur, tangannya bergetar. Bukan karena masih mencintai Reza, melainkan karena dirinya yang dulu pantas mendapat jawaban lebih baik.

Vania mengejar. "Cepat atau lambat kamu keluar dari rumah sakit ini."

"Kemarin kamu bilang hari ini. Besok ganti lagi?"

Vania kehilangan jawaban.

Seorang perawat senior mengikuti Senja ke dapur dan menyodorkan tisu. Senja menerimanya tanpa menyangkal bahwa matanya panas.

"Lima tahun itu lama," kata perempuan tersebut.

"Iya. Tapi lebih baik selesai sekarang daripada lima tahun lagi."

Ia membasuh wajah dan kembali bekerja. Tidak ada adegan dramatis yang dapat Vania bawa pulang. Senja menutup hubungan lama dengan datang tepat waktu ke pasien berikutnya.

Di kamar 18, Senja menyerahkan makanan yang dibeli memakai sisa uang lama Rayhan.

"Mulai besok cari pendamping lain," katanya. "Saya tidak bisa terus bawakan makan."

"Aku bayar lebih besar."

"Bukan soal besar-kecil."

"Kalau aku gaji kamu khusus?"

Senja menggeleng. Rayhan meminta perawat lain, tetapi kepala perawat menjelaskan pasien VIP boleh meminta petugas yang sama selama jadwal memungkinkan. Senja hanya bisa menghela napas.

Rayhan melihat catatan pengembalian uang yang dibuat Senja. Setiap makanan dan biaya antar tercatat sampai seribu rupiah.

"Kamu serius banget."

"Karena orang gampang bicara kalau perempuan menerima uang."

Rayhan menerima sisa transfer dan berjanji tidak mengirim lagi tanpa izin. Ia juga mengatakan Reza tidak pantas mendapatkan air mata Senja. Senja menyuruhnya berhenti membicarakan mantannya dan fokus pada pemulihan.

Sore hari, Hana menelepon. Bapak dan Emak sudah hampir tiba. Hana akan naik kereta malam ke Jakarta agar tidak ditemukan.

Senja memesan penginapan murah dekat Gambir dan berjanji menjemput. Malamnya, ia membuat wedang jahe dan membawanya ke ruang kerja Damar.

"Saya mau izin keluar tengah malam. Adik saya datang. Dua malam mungkin saya enggak bisa menemani Bintang."

Damar menerima cangkir hangat. "Kenapa tidak bawa ke sini?"

Senja tidak menyangka pertanyaan itu. "Enggak perlu. Dia sudah ada tempat."

"Terserah."

"Terima kasih."

Damar mencicipi minuman. Jahe membakar lidah, manisnya tipis. Ia ingin bertanya masalah yang membuat Senja menunggu semalam sebelumnya, tetapi perempuan itu sudah berbalik.

"Senja."

Ia menoleh.

Damar menahan pertanyaan. "Hati-hati."

"Iya."

Setelah berbicara dengan Hana, Senja mengemas uang tunai, pakaian, serta nomor darurat. Bintang membantu memasukkan dua bungkus biskuit.

"Buat tante Bintang?"

"Iya."

"Ajak ke rumah. Kamar kita banyak."

Senja tidak tahu cara menjelaskan bahwa memiliki banyak kamar tidak sama dengan merasa berhak mengundang seseorang.

Di ruang kerja, Damar menatap wedang jahe setelah Senja pergi. Ia hampir memerintahkan sopir menjemput Hana, lalu mengurungkan niat agar tidak tampak mencampuri. Sebagai gantinya ia mengirim nomor keamanan kompleks kepada Senja.

Pesan singkat itu membuat Senja tersenyum. Perhatian pertama yang ia terima dari Damar tidak disertai ancaman atau uang.

Menjelang malam, Hana mengirim foto kereta dan tiket digital. Ia berhasil keluar dari kampus melalui gerbang belakang bersama dua teman. Bapak dan Emak masih menunggu di pintu utama.

Senja menelepon resepsionis penginapan sekali lagi. Ia memastikan kamar tidak dapat diakses orang lain, membayar deposit, dan meminta nama Hana tidak disebut kepada penelepon asing.

"Mama pergi lama?" tanya Bintang ketika melihat tas kecil.

"Cuma jemput Tante Hana. Besok siang Mama datang lagi."

"Kenapa Tante enggak tidur di sini?"

Senja melirik tangga. "Karena Papa belum kenal."

Bintang berlari mencari Damar, tetapi Senja menangkapnya sebelum sampai ruang kerja.

"Jangan ganggu Papa."

"Bintang bisa bilang Papa jangan galak."

"Bukan begitu caranya."

Senja mengajak anak itu memilih boneka kecil untuk dipinjamkan kepada Hana. Bintang memilih kelinci putih dan memberi pesan agar tantenya tidak takut.

Ketika Damar keluar, ia menemukan mereka sedang memasukkan boneka ke dalam tas.

"Adikmu dalam bahaya?" tanyanya.

Senja tersentak. "Kenapa Mas tanya begitu?"

"Orang tidak naik kereta tengah malam untuk kunjungan biasa."

Untuk satu detik, Senja ingin menceritakan semuanya. Namun mengakui keluarganya menerima mahar lagi membuat rasa malu mencengkeram.

"Ada masalah dengan orang tua kami. Hana perlu tempat aman dua malam."

"Bawa ke sini."

"Enggak perlu. Saya sudah bayar penginapan."

"Aku tidak bertanya soal biaya."

Nada Damar terdengar seperti perintah. Senja justru makin merasa tidak enak. "Mas tidak suka orang asing di rumah. Saya enggak mau menambah masalah."

Damar tak menemukan jawaban. Aturannya sendiri kini menjadi dinding yang membuat istrinya memilih penginapan murah daripada kamar kosong.

Ia menyuruh Bik Inah menyiapkan kamar tamu tanpa memberi tahu Senja. Jika perempuan itu berubah pikiran, setidaknya tempat sudah ada.

Pukul sebelas tiga puluh, Senja memeriksa baterai ponsel, uang elektronik, dan plat nomor Grab. Damar memberikan payung karena hujan tipis mulai turun.

"Kirim lokasi."

"Mas mau menunggu?"

"Untuk keamanan, bukan menunggumu."

Senja menahan senyum. "Iya, Mas."

Panggilan itu kembali membuat Damar kehilangan jawaban selama satu detik.

Pukul dua belas lewat, Senja memesan Grab dan keluar membawa tas kecil untuk Hana. Damar berdiri di balik jendela lantai atas, memperhatikan mobil itu pergi tanpa mengetahui kapan istrinya akan pulang.

Sebelum naik, Senja memotret pelat nomor dan membagikan perjalanan melalui aplikasi. Damar melihat notifikasi lokasinya bergerak menuju Gambir. Ia tidak menyuruh berhenti, tidak pula menawarkan ikut. Namun lima menit kemudian, pesan singkat masuk ke ponsel Senja.

`Kalau pengemudi keluar dari rute, telepon aku.`

Senja membalas dengan satu kata. `Iya.`

Ia menunggu pesan lanjutan yang berisi larangan atau pertanyaan, tetapi tidak ada. Damar hanya meminta lokasi tetap aktif sampai ia tiba dengan selamat. Perhatian tanpa perintah itu terasa asing, membuat Senja memegang ponsel lebih lama sebelum menyimpannya.

Mobil berbelok meninggalkan kompleks. Damar masih berdiri di balik kaca, memegang ponsel yang menampilkan titik perjalanan istrinya. Rumah kembali sunyi, tetapi untuk pertama kalinya kepergian Senja membuatnya menghitung jarak dan waktu pulang seseorang selain Bintang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!