NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 9 — Bayangan Masa Lalu yang Datang Kembali

Matahari pagi di kota metropolitan menyinari jendela kaca kamar utama kediaman Alexsander dengan hangat. Suasana di dalam rumah kini terasa jauh berbeda dibandingkan beberapa hari lalu. Tidak ada lagi kecanggungan atau benteng kaku di antara Clara dan Fedro. Hubungan mereka telah melebur menjadi sebuah keharmonisan yang natural, dipenuhi rasa saling percaya yang tumbuh subur di tengah badai masalah yang berhasil mereka lewati bersama.

Clara terbangun lebih dulu. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya perlahan, merasakan dekap hangat tangan kokoh Fedro yang masih melingkar erat di pinggangnya. Wanita itu menoleh, menatap wajah suaminya yang tertidur pulas dengan garis rahang tegas yang kini terlihat begitu tenang.

Tanpa sadar, sebuah senyuman terukir di bibir Clara. Jemarinya terulur pelan, merapikan beberapa helai rambut hitam Fedro yang menutupi dahi.

"Pagi, Tuan Alexsander," bisik Clara pelan pada angin.

Belum sempat Clara menarik tangannya, tiba-tiba mata hitam Fedro terbuka dengan sorot yang langsung awas dan tajam, sebelum berubah menjadi kelembutan hangat begitu melihat siapa yang ada di hadapannya.

"Pagi, Nyonya Alexsander," balas Fedro dengan suara serak khas bangun tidur yang selalu berhasil membuat jantung Clara berdegup dua kali lebih cepat. "Kamu bangun lebih pagi hari ini."

"Karena aku punya rencana hari ini," jawab Clara sambil mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya. "Ingat, masalah Bibi Rina dan perusahaan cangkang kemarin sudah selesai, tapi aku belum sempat menikmati motor baru pemberianmu secara bebas di jalanan."

Fedro tertawa kecil, membiarkan istrinya bangkit dari ranjang. "Baiklah. Mau balapan lagi ke bukit pinggir kota?"

"Tidak," sahut Clara sambil tersenyum penuh rahasia. "Hari ini aku ingin pergi ke markas lama. Teman-teman geng motor lamaku, Inara dan Icha, sudah merengek minta ketemu sejak kemarin. Mereka penasaran bagaimana kehidupan pernikahan ratu mereka dengan sang pengusaha dingin."

Fedro mengangkat sebelah alisnya. "Oh? Jadi kamu mau memamerkan suamimu ini di hadapan anak-anak jalanan?"

"Jangan GR!" ledek Clara sambil melempar bantal kecil ke arah wajah Fedro, yang dengan sigap ditangkap oleh pria itu. "Aku hanya ingin bernostalgia sebentar. Lagipula, aku ingin mereka tahu kalau aku baik-baik saja."

---

Menjelang siang hari, sebuah kafe bernuansa industrial di sudut kota yang biasa dijadikan tempat berkumpul anak-anak komunitas motor tampak ramai. Di salah satu sudut meja luar ruangan, Inara dan Icha sudah duduk sambil melambaikan tangan begitu melihat sosok Clara berjalan mendekat, ditemani oleh Fedro yang berjalan tenang di sampingnya.

"Clara!" seru Inara heboh begitu sahabatnya itu tiba di meja. Ia langsung berdiri dan memeluk Clara erat. "Ya ampun, pengantin baru! Hilang ditelan bumi semenjak menikah, ya!"

Icha yang duduk di sebelah Inara ikut terkikik geli. "Jelaslah sibuk, Inara. Suaminya kan pengusaha elite. Mana sempat nongkrong sama anak jalanan lagi."

Clara melepaskan pelukan Inara lalu mendengus pelan, meski bibirnya tersenyum lebar. "Sembarangan kalau ngomong. Aku tidak pernah melupakan kalian, ya." Clara kemudian bergeser sedikit, memperkenalkan Fedro yang berdiri tegap di sampingnya dengan jaket kulit senada. "Kenalkan, ini suamiku... Fedro."

Inara dan Icha langsung menegakkan punggung mereka. Meskipun Fedro memasang senyum tipis yang ramah, aura dominan dan intimidatif dari sang pengusaha muda tetap terasa kuat, membuat kedua sahabat Clara itu sedikit salah tingkah.

"Halo, Inara. Dan... Icha," sapa Fedro dengan suara tenang dan berwibawa. "Terima kasih sudah menjaga istriku selama ini di jalanan."

"Ah, t-tentu saja, Tuan Alexsander!" balas Inara cepat, mencoba terlihat santai meski aslinya gugup setengah mati. "Clara adalah ratu kami di jalanan. Mana mungkin kami biarkan ada yang macam-macam."

Mereka akhirnya duduk bersama. Suasana meja langsung dipenuhi oleh gelak tawa dan cerita seru masa lalu Clara saat memimpin geng motor, diselingi godaan-godaan usil dari Inara dan Icha seputar kehidupan rumah tangga pengantin baru tersebut. Clara beberapa kali merona merah, sementara Fedro hanya menanggapinya dengan senyuman tenang, menikmati setiap detik kebahagiaan kecil yang terpancar dari mata istrinya.

Namun, di tengah gelak tawa yang hangat itu, tanpa ada yang menyadari, sebuah mobil sedan hitam berplat nomor asing terparkir di seberang jalan kafe. Seseorang di dalam mobil tersebut sedang mengamati gerak-gerik mereka melalui lensa kamera bertelefoto.

Di dalam mobil itu, seorang pria berbadan tegap dengan bekas luka tipis di sudut bibirnya memegang sebuah ponsel pintar yang terhubung ke sambungan jarak jauh.

"Tuan, target sudah ditemukan," lapor pria itu dengan suara dingin kepada seseorang di ujung telepon. "Dia sedang bersama suaminya di sebuah kafe terbuka di distrik utara."

Suara di seberang terdengar dingin dan penuh amarah tertahan. "Bagus. Pastikan dia tidak menyadari keberadaan kalian. Ikuti gerak-geriknya sampai ke tempat sepi. Waktu pembalasan kita sudah dekat."

"Laksanakan."

---

Sore hari menjelang senja, Clara dan Fedro pamit lebih dulu dari teman-temannya karena Fedro harus menghadiri sebuah pertemuan bisnis penting di kantor pusat perusahaannya, sementara Clara berencana langsung pulang ke rumah dengan motor sport barunya.

Mereka berkendara beriringan membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan pulang kantor. Clara melaju di depan, menikmati hembusan angin sore yang sejuk, sementara Fedro membuntutinya dari belakang dengan jarak aman, memastikan keselamatan sang istri.

Namun, saat mereka memasuki jalur lingkar luar kota yang agak lengang dan dikelilingi pepohonan besar—jalur yang sama yang sering digunakan untuk balapan beberapa hari lalu—insting balap Clara tiba-tiba berteriak memberi peringatan.

Dari kaca spion motornya, Clara melihat sebuah mobil sedan hitam melaju dengan kecepatan tinggi, mencoba memotong jalur secara agresif dan mendesak motor Fedro ke pinggir jalan.

*Brummm!*

Clara langsung memperlambat laju motornya, menepikan kendaraannya ke bahu jalan, lalu melepas helmnya dengan tatapan tajam penuh amarah. Fedro yang juga menghentikan kendaraannya langsung turun dari motor sport miliknya, melangkah cepat menghampiri sang istri dengan raut wajah yang berubah dingin dan berbahaya.

"Ada apa, Clara?" tanya Fedro tegas, langsung berdiri di hadapan istrinya untuk melindunginya.

"Mobil itu..." Clara menunjuk ke arah sedan hitam yang kini berhenti beberapa meter di depan mereka. Pintu mobil terbuka, dan dua orang pria bertubuh tegap berbadan besar keluar dari dalam kendaraan dengan langkah mengintimidasi.

Fedro menyipitkan matanya. Aura dingin dan mematikan seketika menguar dari tubuh pria itu. Ia menyadari bahwa ini bukan sekadar preman jalanan biasa; ini adalah profesional yang dikirim oleh musuh lama yang belum sepenuhnya menyerah.

"Tetap di belakangku, Clara," perintah Fedro dengan suara rendah namun mutlak.

Clara mendengus dingin. Ia tidak bergeming dari tempatnya, justru melangkah maju sejajar dengan suaminya, membuka jaket balapnya sedikit untuk memastikan pergerakannya bebas. "Jangan meremehkanku, Fedro. Aku bukan gadis lemah yang hanya bisa bersembunyi di belakang suami."

Fedro melirik istrinya sekilas. Melihat sorot mata Clara yang menyala penuh keberanian, sudut bibir Fedro justru terangkat membentuk sebuah senyuman tipis penuh percaya diri.

"Baiklah, Nyonya Alexsander," jawab Fedro tenang sambil menggulung lengan kemejanya. "Kita selesaikan mereka berdua bersama-sama."

Kedua pria suruhan itu mendekat dengan seringai mengerikan di wajah mereka. "Rupanya kalian cukup peka," ucap salah satu preman itu dengan suara parau. "Tuan besar kami menyampaikan salam. Katanya, permainan sesungguhnya baru saja dimulai."

Sebelum preman itu sempat melanjutkan kalimatnya, Fedro sudah melesat maju dengan kecepatan luar biasa, melayangkan sebuah pukulan telak tepat ke rahang pria tersebut hingga tersungkur ke aspal. Di sisi lain, Clara tidak tinggal diam; dengan gerakan akrobatik yang terlatih dari masa-masa liarnya di jalanan, ia melompat dan menghujamkan tendangan memutar tepat ke dada preman kedua, membuat pria berbadan besar itu terdorong mundur hingga menabrak kap mobil.

Pertarungan singkat namun sengit itu berakhir dalam hitungan detik. Kedua suruhan itu terkapar di tanah, mengerang kesakitan akibat serangan telak dari pasangan suami istri yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Fedro merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan, lalu menatap tajam ke arah salah satu preman yang meringis kesakitan di tanah. "Katakan pada tuanmu... kalau dia berani mengganggu istriku lagi, aku sendiri yang akan mendatangi sarangnya dan membakar habis semuanya sampai tidak tersisa."

Kedua preman itu, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, segera merangkak bangkit, masuk kembali ke dalam mobil, dan tancap gas meninggalkan tempat itu dengan ketakutan luar biasa.

Suasana kembali sunyi. Angin sore berhembus pelan, menerbangkan helai rambut Clara. Wanita itu menoleh ke arah suaminya, lalu tertawa kecil—tawa lepas penuh kemenangan.

"Wah, ternyata suamiku tidak hanya jago di ruang kerja dan di atas kertas saham," puji Clara dengan nada menggoda, menyenggol lengan Fedro pelan. "Gerakan pukulanmu tadi lumayan juga."

Fedro tersenyum hangat, merangkul pinggang Clara dan menariknya mendekat ke dalam dekapannya. "Tentu saja. Seorang suami harus bisa melindungi ratunya dari preman-preman jalanan."

Clara menyandarkan kepalanya di dada bidang Fedro, mendengarkan detak jantung suaminya yang berketuk tenang. Bahaya memang masih mengintai di luar sana, dan musuh-musuh dalam gelap mungkin belum menyerah. Namun dalam dekap hangat itu, Clara tahu persis satu hal: tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa memisahkan mereka berdua lagi.

"Ayo pulang, Tuan Alexsander," bisik Clara lembut.

"Ayo, Nyonya Alexsander," balas Fedro tersenyum, sebelum mereka berdua kembali mengenakan helm dan melesat berdampingan membelah jalanan senja menuju rumah mereka.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!