NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Langkah menuju kekuatan sendiri

Setelah kepergian rombongan Penyihir Agung Seraphina, keheningan kembali menyelimuti bukit Jangkar, namun ketenangan itu kini terasa berbeda. Udara terasa lebih segar, tanah tampak lebih subur, namun di balik keindahan itu tersembunyi pertahanan yang kokoh yang baru saja diaktifkan Arlen.

Siang itu, Arlen duduk di beranda rumahnya, di hadapannya terdapat tumpukan kulit tua dan catatan yang dipinjamkan Tuan Valian. Ia tidak ingin hanya mengandalkan kekuatan alam yang melindunginya, karena pertahanan luar saja tidak cukup jika dia belum menguasai sepenuhnya apa yang ada di dalam dirinya.

Cedric duduk di hadapannya, menatap anaknya dengan pandangan campur aduk antara rasa heran dan bangga.

"Arlen, kau sudah mengubah tanah ini menjadi tempat yang jauh lebih aman," ujar ayahnya pelan. "Tapi apa rencanamu selanjutnya? Kita tidak bisa selamanya hanya berdiam diri dan menunggu mereka datang menyerang."

Arlen mengangkat wajahnya, matanya yang kelabu menatap tajam ke arah ladang yang kini mulai menghijau.

"Kau benar, Ayah. Kekuatan sejati tidak hanya berarti mampu menjaga apa yang ada di hadapanmu, tapi juga mampu melangkah ke luar dan mengubah keadaan. Saat ini, aku hanya memahami separuh dari apa yang kumiliki. Aku harus melatih tubuhku agar mampu menampung lebih banyak tenaga, dan aku harus mencari orang-orang yang memiliki tujuan yang sama agar kita tidak berjalan sendirian."

Ia menunjuk salah satu gambar pada catatan di depannya.

"Kau tahu sendiri, Kerajaan menganggap kekuatan adalah hak kaum bangsawan. Lingkaran Kelam menganggapnya sesuatu yang harus dirampas dengan harga apa pun. Keduanya salah. Kekuatan ada di alam ini untuk dijaga, dan setiap orang yang berniat baik berhak memilikinya."

Cedric mengangguk pelan, meskipun banyak hal yang masih belum sepenuhnya ia pahami.

"Apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantumu?"

Arlen tersenyum tipis.

"Justru itulah yang ingin kubicarakan. Aku tidak bisa berada di sini setiap saat untuk mengawasi batas-batas bukit ini. Aku akan mengajarkan cara sederhana untuk merasakan aliran udara dan tanah di sekitar kita. Bukan untuk menyerang, tapi cukup untuk mengetahui jika ada orang asing yang melangkah masuk dengan niat buruk. Jika kau dan beberapa penduduk desa yang ku latih bisa memahaminya, kita akan memiliki mata dan telinga di mana-mana."

Mata Cedric sedikit melebar, namun ia mengangguk tegas.

"Akan kupelajari, walau mungkin lambat. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada keluargaku atau tanah ini."

Sore itu juga, Arlen tidak membuang waktu. Ia mengajak ayahnya turun ke ladang yang mulai hijau. Dia tidak mengajarkan sihir yang rumit, melainkan mengajarkan cara berdiri tegak, mengatur napas, dan merasakan getaran halus yang ada di dalam tanah—hal dasar yang dulu menjadi fondasi kekuatan para Penjaga Zaman Kuno.

Sementara itu, jauh di sebuah penginapan sederhana namun terjaga kerahasiaannya di pinggiran kota, Penyihir Agung Seraphina duduk sendirian di ruangannya. Di hadapannya terbentang sebuah peta wilayah, namun pikirannya terus melayang kembali pada sosok anak remaja di atas bukit itu.

Ia mengangkat tangannya perlahan, dan di telapak tangannya muncul gumpalan energi berwarna kebiruan yang berputar pelan.

"Kekuatan yang berbeda dari apa pun yang pernah kupelajari," gumamnya pelan. "Ia tidak memaksakan kehendaknya pada alam, melainkan menyatu dengannya. Itu bukanlah sihir yang diajarkan di istana, bukan pula ilmu terlarang yang dikembangkan oleh Lingkaran Kelam."

Seraphina berdiri dan berjalan mendekati jendela yang menghadap ke arah bukit tempat Arlen tinggal.

"Anak itu memiliki wawasan yang melampaui usianya. Jika ia bisa ditarik ke pihak Kerajaan, ia akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Namun jika dia terpojok dan berbalik menjadi musuh... atau jatuh ke tangan Lingkaran Kelam... dampaknya akan sangat buruk bagi keseimbangan benua ini."

Seraphina berbalik saat mendengar ketukan pintu. Seorang pengikutnya masuk sambil membungkuk hormat.

"Penyihir Agung, ada kabar dari pengamat yang dikirim Adipati Dolken. Mereka melaporkan bahwa gerakan anggota Lingkaran Kelam semakin terlihat di wilayah ini. Mereka tampak sedang mencari sesuatu, atau mungkin seseorang."

Seraphina mengerutkan keningnya.

"Mereka pasti juga mengincar anak itu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kirim pesan kembali ke pusat: katakan situasi di sini lebih rumit dari dugaan. Kita tidak bisa bertindak sembarangan menggunakan kekuatan besar, karena dikhawatirkan akan merusak keseimbangan energi yang sudah terjaga di sana."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah.

"Dan... awasi setiap gerak-gerik penduduk desa di sekitar bukit itu. Lihat apakah ada orang lain yang terhubung dengan anak itu. Kita perlu tahu kekuatan seperti apa yang sedang dia coba bangun."

Kembali ke bukit hijau itu, hari mulai gelap. Arlen duduk sendirian di puncak bukit setelah seharian berlatih bersama ayahnya. Ia merasakan bahwa perlindungan bukit itu semakin kuat, namun ia juga sadar bahwa dia belum memiliki orang-orang yang bisa dipercaya sepenuhnya untuk berdiri bersamanya di medan perang.

Pikirannya melayang pada orang-orang yang mungkin bisa menjadi sekutu sejatinya.

Tuan Valian memiliki pengetahuan, namun dia terlalu lama hidup dalam pengasingan dan tampaknya enggan bergerak banyak, batin Arlen berpikir. Pengamat yang dikirim Lingkaran Kelam itu... ada sesuatu yang berbeda pada matanya, seolah ia dipaksa melayani tuannya. Dan Penyihir Agung itu... Dia melayani hukum Kerajaan, bukan kebenaran itu sendiri.

Namun tiba-tiba, saat Arlen sedang tenggelam dalam pikirannya, ia mendengar suara langkah kaki pelan mendekat. Kali ini bukan dari arah desa, melainkan dari balik rimbunan pohon tua di sisi bukit yang jarang dilewati orang.

Arlen tidak berbalik, namun dia berbicara dengan suara tenang yang terdengar jelas di keheningan malam.

"Kau sudah berdiri diam di sana cukup lama untuk mengetahui apakah aku berbahaya atau tidak. Mengapa tidak maju dan memperlihatkan wajahmu?"

Dari balik bayangan pohon tua itu, melangkah keluar sosok yang tidak disangka-sangka. Itu adalah pengamat bertopeng yang ia temui kemarin malam. Kali ini ia tidak membawa sikap mengancam, dan dia melepaskan penutup wajahnya perlahan.

Terlihatlah wajah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan, dengan tatapan mata yang tajam namun lelah, seolah memikul beban berat yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

"Aku datang bukan untuk mengintai kali ini," ujar pemuda itu pelan, matanya menatap lurus ke arah Arlen. "Namun juga belum berani menyebut diri nya sebagai teman."

Arlen mengangguk pelan, seolah sudah menduga kedatangan ini akan terjadi. Ia menepuk batu besar di sebelahnya, memberi isyarat agar pemuda itu duduk.

"Siapa namamu, dan apa yang membuatmu berani meninggalkan tempat persembunyian tuannmu?"

Pemuda itu berjalan mendekat dengan hati-hati, lalu duduk dengan sopan namun tetap menjaga kewaspadaannya.

"Namaku Kai. Aku dibesarkan dan dilatih sejak kecil untuk menjadi mata dan tangan bagi mereka yang kau sebut Lingkaran Kelam. Aku melakukan apa pun yang mereka perintahkan tanpa bertanya, karena aku percaya itu jalan satu-satunya untuk bertahan hidup."

Kai berhenti sejenak, menatap ke arah cakrawala yang gelap.

"Tapi saat kau berbicara malam kemarin... kau berkata bahwa hatiku belum sepenuhnya gelap. Kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Tidak ada yang pernah melihat ke dalam diriku dan mengatakan hal seperti itu. Semua orang hanya melihatku sebagai senjata atau ancaman."

Ia menoleh tajam ke arah Arlen.

"Apa yang sebenarnya kau lindungi di sini? Dan mengapa kau berbicara seolah kau tahu lebih banyak tentang dunia ini daripada siapa pun?"

Arlen tersenyum tipis, senyum yang penuh makna mendalam. Ia tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, melainkan mengajukan pertanyaan lain yang lebih dalam.

"Kau bertanya apa yang kulindungi, Kai... Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang ingin kau lindungi? Jika kau memiliki kebebasan memilih, apa yang akan kau pilih?"

Kai terdiam, matanya berkedip-kedip bingung seolah tidak pernah diberi kesempatan untuk berpikir sejauh itu.

"Aku... aku tidak tahu. Selama ini hanya ada perintah dan tugas."

"Kalau begitu mulailah mencari tahu jawabannya mulai malam ini," ucap Arlen tegas namun lembut. "Dunia ini luas, dan tidak semua hal harus diambil dengan kekerasan. Di sini, aku tidak meminta kau melayani siapa pun. Tapi jika kau memilih untuk berdiri di sini, kau akan berdiri untuk menjaga keseimbangan dan kebenaran."

Arlen berdiri tegak, menatap ke arah kejauhan di mana ada cahaya lampu-lampu kota yang berkedip samar.

"Aku tidak berjanji jalan ini mudah. Justru sebaliknya, jalan ini akan penuh bahaya. Tapi kau akan berjalan dengan kepala tegak, bukan sebagai bayangan yang tak punya nama."

Kai mengangkat wajahnya menatap sosok remaja di hadapannya itu. Ada rasa ragu yang masih tersisa, namun ada juga secercah harapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kai perlahan menundukkan kepalanya, bukan sebagai tanda kepatuhan seperti yang biasa ia lakukan pada tuannya, melainkan sebagai tanda penghormatan tulus.

"Aku tidak berjanji akan langsung mempercayaimu," ujar Kai pelan. "Tapi... aku akan tinggal sementara waktu. Aku ingin melihat sendiri apa yang berbeda dari tempat ini."

Arlen tersenyum puas. Sekutu pertamanya yang sejati, seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa namun terperangkap dalam kegelapan, kini mulai menemukan jalan keluarnya.

"Selamat datang, Kai. Tetaplah di sini selama kau merasa itu benar. Dan ingatlah... kekuatan sejati bukanlah seberapa tajam pisau yang kau genggam, melainkan seberapa teguh hati yang memegangnya."

Malam itu berakhir bukan dengan pertarungan, melainkan dengan awal baru. Arlen tahu perjalanannya masih sangat panjang, dan masih banyak kekuatan besar yang harus ia hadapi. Namun kini dia tidak sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!