Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kaca Kedai Raja Kuliner.
Galang sudah berdiri di tengah dapur betonnya yang bersih sejak pukul lima subuh.
"Sistem, aktifkan fitur Dapur Otomatis," ucap Galang dengan suara pelan.
[Fitur Dapur Otomatis diaktifkan.]
Tiba-tiba, tiga sosok bayangan hitam seukuran manusia muncul dari lantai dapur tanpa suara.
Bayangan itu tidak memiliki wajah, namun bentuk tangan dan kakinya sangat mirip dengan postur koki profesional.
"Gila, ini mirip ilmu ninja pembelah diri," gumam Galang menatap takjub ketiga bayangan tersebut.
Bayangan pertama langsung mengambil ayam potong dan membersihkannya dengan sangat cekatan di wastafel.
Bayangan kedua menyiapkan bumbu rempah, sementara bayangan ketiga mulai merebus air di panci raksasa.
"Luar biasa, mereka bekerja sangat rapi dan tidak membuang bahan sedikit pun," puji Galang sambil bersedekap dada.
Dengan adanya asisten bayangan ini, Galang kini bisa fokus mempraktikkan resep bintang tiganya.
"Sekarang saatnya mencoba membuat Mie Tarik Naga Pedas," batin Galang penuh semangat.
Ia mengambil mangkuk besar dan memasukkan tepung gandum khusus yang baru saja ia beli.
Tangannya mulai menguleni adonan itu dengan teknik pernapasan yang diinstruksikan langsung oleh memori sistem.
Plak plak plak.
Suara adonan gandum yang dibanting ke atas meja beton menggema memecah kesunyian dapur pagi itu.
Galang menarik adonan itu berulang kali hingga membentuk helaian mie yang sangat panjang dan tipis sempurna.
"Teksturnya sangat elastis tapi tidak mudah putus," ucap Galang menilai hasil tarikan tangannya.
Ia merebus mie itu sebentar lalu meracik bumbu cabai super pedas di wajan panas.
Asap merah yang sangat menyengat langsung mengepul dari wajan membuat hidung terasa sedikit gatal.
Sreng wusss.
Seporsi mie kuah kental berwarna kemerahan dengan aroma cabai yang membakar akhirnya tersaji di atas mangkuk.
Galang meniup kuah itu perlahan sebelum menyuapkan gulungan mie pertamanya ke dalam mulut.
Slurp.
Mata Galang langsung melebar saat rasa pedas yang luar biasa meledak di lidahnya.
Namun pedas ini tidak menyiksa perut, melainkan memberikan sensasi panas yang seketika membangkitkan adrenalin.
Jantung Galang berdebar kencang memompa darah dengan sangat cepat ke seluruh tubuhnya.
Perasaan takut, ragu, dan cemas yang biasanya mengganjal di hatinya mendadak hilang tanpa sisa.
"Ini bukan cuma pedas biasa, ini seperti suntikan keberanian murni," gumam Galang mengusap keringat di lehernya.
"Bang Galang, selamat pagi!" sapa Bima yang baru saja masuk lewat pintu belakang kedai.
Bima terlihat masih sedikit mengantuk dan menguap lebar sambil menaruh tas ranselnya di kursi pelayan.
"Pagi Mas Bima, kebetulan sekali, ayo cobain sarapan menu baru kedai kita hari ini," tawar Galang menyodorkan sisa mie di mangkuk.
Bima mencium aroma pedas itu dan langsung menelan ludah dengan ekspresi ragu.
"Wah merah banget kuahnya Bang, perut saya aman tidak nih pagi-pagi makan sepedas ini?" tanya Bima khawatir.
"Aman seratus persen, coba saja dulu satu suapan biar tidak penasaran," desak Galang meyakinkan.
Bima akhirnya mengambil sendok dan memasukkan mie itu ke dalam mulutnya perlahan.
Kunyah kunyah.
Reaksi Bima persis sama seperti Galang, matanya melotot dan napasnya seketika menjadi sedikit kasar.
Namun wajahnya yang tadi lesu mendadak berubah menjadi sangat garang dan penuh semangat.
"Gila Bang! Rasanya mau meledak tapi enak banget dan bikin melek!" teriak Bima mengepalkan kedua tangannya ke udara.
"Bawaannya saya pengen ikut tawuran atau demo ke gedung rektorat sekarang juga!"
Galang tertawa keras mendengar efek samping magis yang mempengaruhi mental karyawannya itu.
"Jangan dipakai buat tawuran Mas Bima, simpan saja keberaniannya buat ngadepin pelanggan yang rewel nanti siang," pesan Galang.
Tepat pukul sembilan pagi, pintu depan kedai kembali dibuka untuk menyambut pelanggan pertama.
Menu Mie Tarik Naga Pedas resmi ditulis di papan kardus dengan harga lima puluh ribu rupiah per porsi.
Meski harganya cukup mahal untuk ukuran mahasiswa, pelanggan yang sudah percaya dengan kualitas Galang tidak ragu untuk memesannya.
"Bang, mie pedasnya satu ya, saya butuh keberanian buat nembak gebetan hari ini," canda seorang pelanggan pria.
"Siap Mas, dijamin habis makan ini langsung berani maju ke depan mertua sekalian," balas Galang dari balik jendela pembatas dapur.
Suasana kedai langsung ramai dipenuhi oleh desahan kepedasan dan wajah-wajah pelanggan yang berkeringat.
DING.
[Progres Penjualan Mie Tarik Naga Pedas: 12 porsi.]
Namun kedamaian berbisnis itu ternyata tidak berlangsung lama hari ini.
Tepat jam sebelas siang, sebuah mobil dinas berwarna putih berhenti mendadak di depan halaman kedai.
Tiga orang pria berseragam cokelat aparatur sipil negara turun dari mobil tersebut dengan wajah arogan.
Di dada mereka terpasang tanda pengenal resmi dari Dinas Kesehatan Kota.
Mereka berjalan masuk ke dalam kedai tanpa permisi dan langsung berdiri berkacak pinggang di tengah ruang makan.
"Selamat siang, siapa pemilik tempat usaha ini?" teriak pria paruh baya yang memakai kacamata tebal.
Para pelanggan yang sedang asyik makan serempak menghentikan kunyahan mereka dan menatap heran ke arah petugas tersebut.
Bima yang dadanya masih dipenuhi keberanian efek mie pedas langsung melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun.
"Saya pelayannya Pak, ada urusan apa bapak-bapak ini datang dan teriak-teriak di tempat orang makan?" tegur Bima dengan nada menantang.
Petugas berkacamata itu mendelik kesal melihat seorang pemuda pelayan berani melawannya.
"Jaga nada bicaramu anak muda, kami ini petugas resmi dari Dinas Kesehatan," bentak pria itu menunjukkan kartu identitasnya tinggi-tinggi.
"Kami mendapat laporan masuk bahwa kedai ini menjual makanan yang dicampur bahan berbahaya dan sangat tidak higienis."
"Laporan palsu dari siapa Pak? Kedai kami ini bersihnya luar biasa, lantainya saja bisa buat ngaca!" bantah Bima tidak mau kalah.
Galang yang mendengar keributan segera mematikan fitur asisten bayangan dan berjalan keluar dari dapur.
Efek keberanian dari mienya juga masih terasa sangat kuat bergejolak di dalam dadanya.
"Saya pemiliknya Pak, nama saya Galang," ucap Galang menengahi perdebatan panas itu.
"Ada bukti kuat apa Bapak berani menuduh kedai saya menjual makanan berbahaya?"