Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Ibunya mendekat dan memegang bahunya. “Menangis itu tidak apa-apa. Pernikahan bukan perkara kecil.”
Tira menggigit bibir. “Aku takut, Bun,”
“Takut menikah?”
Tira menggeleng lagi. “Takut kalau ternyata selama ini aku masih berharap dia datang. Ya Allah, astaghfirullah,"
Ibunya terdiam. Ia tahu siapa yang dimaksud putrinya. Dimas. Laki-laki yang telah membuat Tira menunggu begitu lama. Laki-laki yang baru menunjukkan ketakutan setelah Tira memutuskan untuk menikah dengan orang lain. “Kalau dia datang sekarang?” tanya ibunya hati-hati.
Tira menatap pantulan dirinya. Air matanya kembali jatuh. “Aku nggak tahu.” Untuk pertama kalinya, jawaban itu keluar dari mulutnya tanpa kepastian. Padahal beberapa minggu terakhir ia selalu berkata bahwa hatinya sudah mantap. Ia menerima Fahri. Ia akan menikah. Ia tidak akan kembali kepada Dimas. Tetapi hari ini, mengenakan pakaian pengantin, Tira sadar bahwa melupakan seseorang yang telah menjadi bagian dari hidup selama delapan tahun tidak mungkin semudah memutuskan hubungan di atas kertas.
Ada terlalu banyak kenangan yang harus ia kubur. Terlalu banyak kebiasaan yang harus ia lepaskan. Terlalu banyak mimpi yang dulu mereka bangun bersama. Namun Tira mengusap air matanya dan menarik napas panjang. “Aku sudah memilih, Bun.”
Ibunya menatapnya melalui cermin. “Kamu yakin?”
Tira mengangguk. Kali ini lebih tegas. “Aku tidak bisa terus menunggu laki-laki yang bahkan ketika diberi kesempatan terakhir masih membuatku tidak tahu masa depan kami.” Ia menunduk, meremas ujung kain pengantinnya. “Fahri mungkin bukan orang yang aku cintai selama delapan tahun. Tapi dia datang membawa kepastian. Dia datang ketika aku sudah terlalu lelah menunggu.”
Ibunya tidak berkata apa-apa.
Tira kembali memandang dirinya sendiri. Perempuan di cermin itu masih menangis, tetapi kali ini bibirnya membentuk senyum kecil. “Aku akan menikah,” katanya pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Aku akan menjadi istri Fahri.” Namun ketika kalimat itu selesai, sebuah pesan masuk ke ponselnya yang tergeletak di meja. Tira tidak langsung mengambilnya. Ia masih menatap cermin.
Sampai akhirnya ibunya melirik layar ponsel tersebut. Nama yang muncul membuat suasana kamar seketika berubah. Dimas. Hanya satu pesan. [Tira, aku harus bertemu kamu hari ini. Tolong.]
Jantung Tira berdegup keras. Tangannya yang tadi sibuk merapikan pakaian mendadak diam. Air mata yang belum kering kembali menggenang. Delapan tahun ternyata belum benar-benar selesai. Dan laki-laki itu masih datang tepat ketika Tira sedang mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia telah memilih jalan yang baru.
"Enggak, ini nggak benar!" Tira mulai mengucap istighfar berkali-kali. "Aku nggak akan goyah, Bun. InshaAllah aku memilih Fahri sebagai calon suamiku!"
"Nak!" ibunya langsung memeluk Tira.“Menjelang akad memang biasanya banyak godaan yang membuat pendirian goyah,” kata Bunda pelan sambil membelai rambut Tira. “Kamu harus berserah sama Allah. Kalau memang ini jalan yang sudah dipilihkan untukmu, Inshaallah kamu pasti bahagia, Nak.”
Tira menunduk. Tangannya masih memegang ujung kain pengantin adat Minang yang membalut tubuhnya. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Iya, Bun.”
Nasihat itu sebenarnya sudah sering ia dengar. Hanya saja hari ini terasa berbeda. Pakaian pengantin yang melekat di tubuhnya membuat semua terasa begitu dekat. Akad yang selama bertahun-tahun ia tunggu akhirnya tinggal hitungan jami.
Tira memandang dirinya di cermin. Apa lagi yang harus ditunggu? Dulu Tira benar-benar yakin bahwa Dimas adalah laki-laki yang tepat untuknya. Mereka cocok. Mereka bisa tertawa karena hal-hal kecil. Mereka bisa berbicara berjam-jam tanpa merasa bosan. Dimas tahu makanan kesukaannya, tahu kapan Tira sedang marah meski perempuan itu tidak mengatakannya, tahu bagaimana membuatnya tertawa ketika sedang menangis.
Dan yang paling membuat Tira yakin, Dimas sendiri berkali-kali mengatakan bahwa mereka cocok. Karena itu Tira tidak pernah membayangkan bahwa laki-laki itu justru akan menjadi alasan terbesar mengapa ia harus menunggu begitu lama.
Tira tidak meminta pesta mewah. Ia tidak meminta rumah besar. Ia bahkan tidak pernah menuntut Dimas memiliki harta berlimpah sebelum menikah. Ia hanya ingin kepastian. Tetapi pembicaraan tentang pernikahan tidak pernah benar-benar keluar dari lisan Dimas. Selalu ada alasan untuk menunda. Nanti. Tunggu sedikit lagi. Belum waktunya.
Ahhh sudahlah. Tira sudah terlalu sering mendengar kalimat-kalimat itu sampai akhirnya ia sadar bahwa mungkin masalahnya bukan waktu. Mungkin Dimas memang tidak pernah berniat datang. Kesadaran itulah yang akhirnya membuat Tira berhenti menunggu. Ia mengusap sudut matanya, kemudian tersenyum kecil kepada pantulan dirinya. “Bunda benar, Ini cuma godaan.”
Bunda tersenyum. “Nah, begitu.”
"Esok, aku akan menjadi perempuan paling bahagia, iya kan Bun?" Ia tahu hatinya masih menyimpan sisa-sisa cinta kepada Dimas. Ia tidak akan berbohong mengenai itu. Delapan tahun bukan waktu yang bisa dihapus hanya karena sebuah keputusan. Tetapi cinta saja ternyata tidak cukup untuk membangun rumah tangga.
Bunda memeluknya dari belakang..“Aamiin.”
Di luar kamar, suara keluarga terdengar sibuk mempersiapkan berbagai keperluan pernikahan. Rumah itu penuh kesibukan. Semua orang berbahagia, termasuk Tira meski sebelumnya ia sempat galau.
***
Malam sudah menunjukkan pukul delapan ketika Ibu mengetuk pintu kamar Tira. “Tira, sudah malam. Istirahat, ya. Besok kamu harus bangun pagi.”
Tira yang sedang duduk di depan meja rias menoleh. “Sekarang?”
“Iya. Besok kamu dirias. Jangan sampai mata sembap.”
Tira tersenyum. “Iya, Bun,” Setelah ibunya pergi, Tira berdiri dan merapikan beberapa barang di atas meja. Besok adalah hari pernikahannya. Pikiran itu masih terasa aneh. Dua puluh enam tahun hidup sebagai Tira, tetapi besok pagi ia akan duduk di depan perias dengan rambut ditata, wajah dipoles, lalu beberapa jam kemudian menjadi istri seseorang.
Ia tersenyum sendiri ketika membayangkan Fahri melihatnya untuk pertama kali sebagai pengantin. Entah kenapa ada keinginan sederhana yang tiba-tiba muncul. Ia ingin menjadi pengantin paling cantik di mata Fahri. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk membuat Dimas menyesal. Ia hanya ingin memberikan versi terbaik dirinya kepada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. “Semoga Abang suka,” gumamnya sambil tersenyum.
Tira kemudian membuka laci meja untuk mengambil sesuatu, tetapi tangannya berhenti ketika melihat sebuah kotak lama di bagian paling belakang. Ia tahu benda itu. Sudah bertahun-tahun tidak pernah disentuh. Tira menariknya keluar dan membuka penutupnya. Ada beberapa surat cinta dari Dimas. Tulisan tangannya masih sama. Ada tanggal yang membuat Tira tersenyum ketika mengingatnya, ada kalimat-kalimat konyol yang dulu terasa sangat romantis, juga beberapa hadiah kecil yang diberikan Dimas sepanjang hubungan mereka. Sebuah gelang. Foto lama. Boneka kecil yang warnanya sudah memudar. Bahkan ada tiket bioskop yang entah kenapa masih ia simpan.
Tira duduk di lantai. Ia membaca satu surat sebentar. Dulu surat itu bisa membuatnya menangis bahagia. Malam ini tidak. Ada perasaan sedih, tentu saja. Tetapi bukan sedih karena ingin kembali. Lebih seperti sedih karena menyadari betapa lamanya ia pernah hidup dalam sebuah hubungan yang akhirnya tidak punya tempat di masa depannya.