Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Tengah Malam
Rasa nyeri menyambar bahu Liana ketika jari-jari pria di atas ranjang itu mencengkeramnya lebih kuat.
Jam digital di meja samping menunjukkan pukul 00.07. Kamar itu hampir gelap, hanya disinari garis kuning dari lampu koridor yang lolos melalui celah pintu. Di hadapannya, seorang pria bertubuh tinggi duduk bersandar pada kepala ranjang. Kain sutra hitam menutup kedua matanya. Napasnya berat, kulitnya panas, dan urat di punggung tangannya menonjol seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Tujuh menit sebelumnya, Ci Karina masih berdiri bersamanya di koridor.
"Kamu sudah membaca batasnya?" tanya perempuan itu untuk ketiga kali.
Liana mengangguk. "Sudah. Saya bisa berhenti kapan saja, begitu juga pasien."
"Kalau dia terlalu kuat, ketuk dua kali. Security perempuan berjaga di ujung koridor, tapi tidak akan masuk kecuali kamu menekan tombol darurat." Karina menyerahkan sebuah gelang tipis dengan tombol merah di bagian dalam. Wajahnya tenang, namun kukunya menekan map sampai memutih. "Adik saya tidak akan sengaja menyakitimu. Namun malam ini obatnya gagal bekerja. Saya tidak mau kamu masuk tanpa mengetahui risikonya."
Liana memasang gelang itu sendiri. "Saya masuk karena memilihnya, Ci."
Karina menatapnya lama, seolah sedang menimbang apakah seorang asisten muda dari latar belakang biasa dapat dipercaya dengan rahasia keluarga Tan. Akhirnya ia membuka kunci pintu.
"Kalau begitu, jangan merasa harus menjadi pahlawan. Jaga dirimu juga."
Kalimat itu ikut masuk bersama Liana ke kamar. Menjadi satu-satunya pegangan saat pintu menutup dan kegelapan menelan punggungnya.
"Mulai," katanya serak.
Liana menelan ludah.
Ia sudah membaca kontraknya sampai hafal. Pasien akan memasang penutup mata sendiri. Terapis tidak boleh bersuara. Tidak ada hubungan seksual. Keduanya boleh menghentikan sesi kapan saja. Semua sentuhan berlangsung atas persetujuan dan berada di dalam batas yang telah ditandai sejak awal.
Di atas kertas, aturan itu tampak bersih.
Di kamar gelap pada tengah malam, tak ada satu pun yang terasa sederhana.
Liana menempelkan telapak tangannya ke lengan pria itu.
Tubuh di hadapannya langsung menegang.
Pria itu mengembuskan napas melalui gigi yang terkatup. Jemarinya meraba seprai, seolah sedang menahan dorongan untuk mencengkeram apa pun yang dapat dijangkau. Liana sempat hendak menarik tangan. Namun panas di bawah telapak tangannya menyentak ingatan yang tak pernah benar-benar pergi.
Sebuah lorong putih.
Bau antiseptik yang menempel di tenggorokan.
Pintu bangsal yang dikunci dari luar.
Suara Aldi yang berkata ia hanya perlu beristirahat, disusul senyum Nadia yang terlalu manis. Setelah itu, obat-obatan, malam tanpa akhir, dan sepasang sarung tangan milik seorang dokter bernama Darren Hartono.
Dalam kehidupan yang seharusnya menjadi satu-satunya miliknya, Liana pernah menolak kontrak ini.
Ia memilih mempercayai orang-orang yang katanya mencintainya.
Ia mati karenanya.
Sekarang, entah bagaimana, ia kembali ke usia dua puluh dua tahun. Kembali menjadi asisten baru di Tan Group. Kembali menerima pesan dari Ci Karina tentang pekerjaan rahasia senilai lima puluh miliar rupiah setahun.
Kali ini ia berkata ya.
"Jangan berhenti," ujar pria itu.
Permintaan itu mengembalikan Liana ke kamar.
Ia menggeser telapak tangannya perlahan dari lengan ke bahu pria tersebut. Hanya kulit bertemu kulit, gerakan panjang dan teratur seperti yang diajarkan dalam pengarahan medis. Namun pasien itu bereaksi seakan seseorang baru saja membuka pintu di ruangan yang kehabisan udara.
Napasnya melambat satu hitungan.
Lalu dua.
"Lebih dekat."
Liana ragu. Ia menekan dua kali punggung tangannya, kode yang telah mereka sepakati untuk meminta penegasan.
Pria itu mengangguk. "Aku setuju. Lebih dekat, tolong."
Baru setelah mendengar kata itu, Liana duduk di tepi ranjang.
Kasur turun oleh berat tubuhnya. Lutut mereka bersentuhan. Pria itu tersentak, tetapi bukan dengan jijik. Jemarinya bergerak ke arah Liana, berhenti beberapa sentimeter dari pinggangnya.
"Boleh?"
Liana menuntun tangannya ke sisi pinggang yang masih tertutup kain tipis jubah terapi.
Sentuhan pertama itu membuat keduanya diam.
Pria itu memiliki tangan besar dan dingin di ujung jari, tetapi telapak tangannya panas. Ia tidak meremas. Ia hanya menahannya di sana, seolah perlu memastikan Liana benar-benar ada. Kemudian bahunya yang keras turun sedikit demi sedikit.
Liana memperhatikan perubahan itu dengan dada sesak.
Menurut berkas yang ia baca, Renard Tan menderita kombinasi yang nyaris kejam. Tubuhnya kelaparan akan sentuhan, sementara mysophobia berat membuat sentuhan siapa pun memicu mual. Obat penekan yang selama ini menolongnya hampir tak lagi bekerja.
Malam ini adalah percobaan terakhir sebelum dokter mengganti seluruh rencana perawatan.
Dan Liana, perempuan yang bahkan belum genap dua bulan mengenal dunia konglomerat, menjadi variabel yang tak dapat dijelaskan.
Pria itu menariknya lebih dekat.
Gerakannya terlalu cepat. Liana kehilangan keseimbangan dan telapak tangannya jatuh di dada telanjang pria tersebut. Otot di bawah kulitnya mengeras. Degup jantungnya menghantam tangan Liana dengan ritme kasar.
Liana membeku.
"Maaf." Suaranya rendah, namun ia tidak melepaskan Liana. "Aku tidak akan melewati batas."
Ia tak mungkin tahu bahwa kata-kata itu lebih menenangkan daripada angka lima puluh miliar di dalam kontrak.
Liana mengembuskan napas. Dengan satu jari, ia menulis di bahunya.
P-e-l-a-n.
Sudut bibir pria itu bergerak tipis. "Baik, Nona Terapis. Pelan."
Menit demi menit melebur. Liana mengusap lengan, bahu, dan punggungnya dalam pola yang sama. Kadang pria itu menahan pergelangan tangannya di atas dadanya, kadang menyandarkan kening di pundaknya. Setiap kali gerakan menjadi terlalu kuat, Liana mengetuk dua kali. Ia selalu berhenti.
Pada satu titik, gelang darurat di pergelangan Liana terjepit di antara tubuh mereka. Renard langsung menjauh, kedua tangannya terangkat.
"Apa aku menekan tombolnya?"
Liana meraba gelang, memastikan lampunya tetap mati. Ia menulis `tidak` di punggung tangan Renard.
"Tetap pakai," katanya. "Aku perlu tahu kamu punya jalan keluar."
Alih-alih tersinggung oleh pengaman itu, ia sendiri yang membetulkan letak gelang agar mudah dijangkau. Gerakan kecil tersebut mengendurkan simpul terakhir dalam perut Liana. Pria ini sedang kehilangan kendali atas tubuhnya, tetapi masih berusaha menjaga kendali atas pilihannya.
Jam satu lewat.
Lalu jam dua.
Di luar, Menteng tenggelam dalam sunyi. Sesekali suara kendaraan melintas di jalan basah. Di dalam kamar, yang terdengar hanya napas mereka dan desir kain ketika tubuh bergeser.
Pada jam ketiga, Renard mulai gemetar.
Bukan karena memburuk. Ketegangan bertahun-tahun seolah dilepas sekaligus. Ia menunduk, hidungnya nyaris menyentuh lekuk leher Liana, lalu berhenti.
"Aroma apa ini?"
Liana menahan napas.
Ia mengenal perubahan tubuhnya sendiri. Sejak remaja, kulitnya mengeluarkan aroma manis saat emosi memuncak. Bukan parfum, bukan sabun. Campuran melati dan kamboja yang bahkan tak bisa ia tiru ketika mencoba meraciknya.
Malam ini aromanya menghangat di antara mereka.
Renard menarik napas dalam.
Telapak tangannya di pinggang Liana mengencang, lalu segera melonggar lagi. "Aku tidak mual."
Liana menoleh meski tahu ia tak dapat melihatnya.
"Biasanya, sekadar mencium parfum orang lain dari jarak satu meter sudah membuatku ingin muntah." Suaranya terdengar tak percaya. "Tapi kamu..."
Ia berhenti. Wajahnya mendekat ke rambut Liana, masih menyisakan jarak yang sopan.
"Kamu tidak membuatku ingin lari."
Kalimat itu semestinya hanya laporan gejala. Namun di kamar gelap, dengan kain hitam menutupi matanya dan tubuhnya mempercayakan seluruh kelemahan kepada orang asing, kalimat itu terasa jauh lebih pribadi.
Liana menaruh tangan di dadanya lagi.
Degup yang tadi liar kini mulai teratur.
Renard menangkup telapak tangan itu dengan kedua tangannya. Ia mengusap pangkal ibu jarinya, pelan, hampir hati-hati. Perbedaan ukuran membuat tangan Liana seakan lenyap di dalam genggamannya.
"Lima menit lagi," katanya.
Liana melirik jam. Pukul lima kurang sepuluh.
Sesi yang dijadwalkan dua jam telah berlangsung hampir lima jam.
Ia seharusnya kelelahan, dan memang demikian. Punggungnya kaku. Kakinya kebas. Kulit di bahunya masih menyimpan jejak tekanan jemari. Namun untuk pertama kalinya sejak terbangun dalam kehidupan kedua, ia merasa telah memilih jalan sendiri.
Bukan Aldi.
Bukan Nadia.
Bukan ketakutan akan masa depan.
Dirinya sendiri.
Ketika lima menit habis, Liana mengetuk tangan Renard tiga kali. Tanda sesi selesai.
Pria itu tidak langsung melepaskannya.
"Sabtu depan?"
Liana menulis di telapak tangannya.
Y-a.
"Jam yang sama?"
Y-a.
Ia hendak bangkit, tetapi Renard menangkap ujung jarinya. Gerakan itu tidak kasar. Justru terlalu enggan.
"Apa aku boleh tahu namamu?"
Liana diam.
Itu juga bagian dari kontrak. Renard tidak boleh mengetahui siapa terapisnya. Liana, secara resmi, bahkan tidak seharusnya mengetahui siapa pasiennya. Karina membuat pemisahan itu demi melindungi kedua pihak.
Hanya saja Liana telah mengenali Renard dari suaranya pada detik pertama.
Bos yang pada siang hari nyaris tak pernah menatap orang lebih dari dua detik kini duduk di hadapannya dengan mata tertutup, meminta namanya seperti seorang pria yang takut kehilangan satu-satunya tempat aman.
Liana membalik telapak tangannya.
Ia menulis perlahan di kulit Renard.
S-a-m-p-a-i S-a-b-t-u.
Renard mengulang setiap huruf dalam diam. Genggamannya terlepas.
Liana berdiri. Kakinya hampir menyerah ketika menapak lantai, tetapi ia memaksa berjalan tanpa suara. Di ambang pintu, ia sempat menoleh.
Kain sutra hitam masih menutupi wajah Renard. Kepala pria itu sedikit miring ke arah pintu, seolah telinganya mengikuti setiap langkah Liana.
Ia menutup pintu.
Baru setelah bunyi kunci elektronik terdengar, Renard mengangkat tangan dan melepaskan simpul di belakang kepalanya.
Kain hitam jatuh ke seprai.
Matanya yang gelap terbuka dalam kamar kosong. Ia menatap pintu selama beberapa detik, lalu mengangkat telapak tangan tempat Liana menulis salam perpisahan.
Sisa aroma melati dan kamboja masih tertinggal di sana.
Renard menempelkan telapak itu ke hidungnya. Menarik napas pelan.
"Aroma yang sangat istimewa."