Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. ALIBI
Darah segar masih menetes perlahan, meresap ke dalam serat permadani mahal di sisi ranjang. Bau amis logam bercampur racun berhembus pelan memenuhi udara kamar yang semula harum oleh aroma lavender.
Kael Dravenhart merasa detak jantungnya seolah berhenti sesaat.
Begitu pintu kamar terbuka dan ia melihat pemandangan di hadapannya, genangan darah, sesosok mayat asing berbaju hitam, dan Virelia yang berdiri terpaku di tengah kekacauan dengan pakaian bersimbah noda merah, dan seluruh darah Kael mendesak naik ke kepalanya.
"Virelia!" seru Kael dengan suara panik yang tidak pernah didengar siapa pun sebelumnya.
Tanpa memperdulikan noda darah di lantai, Kael berlari kencang menerobos masuk. Pria itu langsung menyambar tubuh Virelia, menariknya menjauh dari mayat tersebut, dan mendekapnya erat ke dada bidangnya.
Virelia yang masih diliputi keterkejutan sempat menegang. Namun, menyadari situasi darurat yang dihadapinya, ia buru-buru memasang ekspresi ketakutan yang mendalam. Gadis itu mulai bergetar hebat, matanya membelalak lebar menatap mayat di lantai, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Kael sambil terisak tertahan.
"T-Takut ... ada monster hitam. Dia mau memakanku! Dia membawa pisau besar!" rintih Virelia dengan nada melengking penuh histeris, berusaha terdengar sekacau mungkin.
Di saat Kael sibuk menenangkan istrinya dengan mengelus punggung gadis itu penuh kecemasan, Julian dan beberapa ksatria pengawal sudah merangsek masuk ke dalam kamar. Julian langsung berlutut di samping mayat sang penyusup. Jari-jemari Julian yang terbiasa memeriksa laporan militer dengan sigap meraba leher, dada, dan rahang pria bertopeng hitam tersebut.
Julian menyipitkan mata, lalu membuka sedikit bibir mayat itu. Bau sisa racun langsung tercium.
"Ini jelas pembunuh bayaran profesional, Yang Mulia. Ada lambang faksi rahasia di balik jubahnya. Ada buih putih di sudut bibirnya. Dia tewas karena menggigit kapsul racun di gerahamnya sendiri," lapor Julian dengan nada serius, menengadah menatap Kael yang masih mendekap Virelia.
Julian bangkit berdiri, mengerutkan kening dalam-dalam. "Pertanyaannya ... bagaimana bisa seorang pembunuh bayaran elit tewas di kamar ini? Tidak ada suara bentrokan pedang yang besar. Dan dari luka memar di tubuhnya, dia jelas sempat menerima hantaman fisik yang cukup telak sebelum tewas."
Julian dan Kael seketika menghentikan pembicaraan mereka. Secara serempak, kedua pria itu menoleh perlahan ke arah Virelia, gadis yang kini sedang bersembunyi di balik lengan Kael, gemetar ketakutan dengan gaun tidur yang berlumuran darah.
Kael menatap istrinya lekat-lekat, lalu bertanya dengan suara yang dilembutkan serendah mungkin, "Virelia, lihat aku. Katakan, apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Virelia mengangkat wajahnya. Air mata buatan menggenang di pelupuk matanya, membuat penampilannya terlihat sangat menyedihkan dan rapuh. Ia menunjuk ke arah mayat di lantai dengan jari yang gemetar pura-pura.
"I-itu ... pria jelek itu masuk lewat jendela waktu aku mau tidur! Dia membawa pisau berkilau! Terus aku marah! Aku bilang dia tidak boleh masuk kamar Ratu Awan!" isak Virelia dengan suara cengeng khas anak kecil yang ketakutan.
Julian mendengarkan dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Lalu?"
"Terus ... terus aku lempar pakai vas bunga besar! Vasnya pecah di kepalanya! Dia jatuh gedebuk! Terus dia kejang-kejang sendiri minum air liur beracun! Hahaha, dia mabuk minuman busuk sendiri!" lanjut Virelia, menepuk-nepukan kedua tangannya heboh seolah sedang menceritakan kisah dongeng.
Kael dan Julian terdiam seribu bahasa.
Mendengar penjelasan yang tidak masuk akal itu, bahwa seorang putri yang dikenal gila berhasil merobohkan pembunuh bayaran elit hanya dengan melempar vas bunga, siapa pun yang mendengarnya pasti akan menganggapnya sebagai omong kosong belaka. Seseorang yang gila mungkin bisa melempar vas, tetapi mengalahkan pembunuh profesional hingga tewas? Itu tidak masuk akal.
Namun, Kael tidak mendebatnya.
Melihat Virelia yang masih gemetar hebat, telapak tangannya berdarah, dan pakaiannya kotor bersimbah darah, hati Kael diliputi rasa iba yang teramat dalam. Pria itu mengira istrinya sedang mengalami trauma psikologis yang sangat berat akibat kejadian malam ini. Baginya, tidak penting bagaimana pembunuh itu mati; yang terpenting saat ini adalah kondisi mental Virelia.
Kael menghela napas panjang, lalu mengusap puncak kepala Virelia dengan penuh kelembutan.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Semuanya sudah lewat. Kau aman sekarang," bisik Kael menenangkan.
Virelia mengangguk patuh.
"Elaine?" Kael menoleh kepada Elaine, pelayan pribadi Virelia yang baru datang bersama rombongan dengan wajah pucat pasi.
"S-Saya, Yang Mulia!" jawab Elaine gemetar ketakutan melihat darah di mana-mana.
"Bawa Duchess ke kamar tidurku sekarang juga. Bersihkan pakaiannya, obati luka di tangannya, dan pastikan tabib istana segera dipanggil untuk memeriksa kesehatannya secara menyeluruh," perintah Kael dengan nada tegas namun tenang.
Virelia sempat berkedip kaget mendengar instruksi itu.
Kamar Kael? batinnya sedikit panik. Namun, menyadari bahwa ini adalah kesempatan emas untuk kabur dari TKP sebelum Julian menemukan bukti-bukti lain yang memberatkannya, ia langsung mengangguk cepat.
"Aku mau ke kamar yang ada kasur empuknya! Jangan biarkan monster hitam itu mendekat lagi!" seru Virelia, sengaja memerpanjang aktingnya, lalu membiarkan Elaine membimbingnya keluar dari kamar tersebut.
"Ayo, Yang Mulia. Kita pindah ke kamar awan dan mandi dengan awan merah muda yang sangat Amda sukai," bujuk Elaine sabar seperti biasa.
Begitu bayangan Virelia dan Elaine menghilang di balik pintu koridor, keheningan yang tegang kembali menyelimuti kamar itu.
Kael perlahan berdiri dari posisinya. Wajahnya yang tadinya penuh kelembutan kepada sang istri kini berubah menjadi sedingin es. Ia menatap mayat pembunuh bayaran di lantai dengan tatapan tajam setajam belati.
Julian melangkah mendekati Kael, merendahkan suaranya.
"Yang Mulia, Anda tahu betul pembunuh itu tidak mati hanya karena benturan vas bunga. Ada pola pertahanan diri yang sangat terstruktur pada luka di tubuh mayat ini. Lehernya sedikit terpelintir, dan ada bekas hantaman di perutnya. Itu adalah teknik bela diri tingkat tinggi," kata Julian tanpa basa-basi, mendorong kacamatanya ke atas.
Kael terdiam sejenak. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, rahangnya mengeras. Ia tahu persis apa yang dipikirkan oleh ajudan setianya ini. Istrinya, Virelia, bukanlah gadis lemah biasa seperti yang diisukan istana. Ada rahasia besar yang disembunyikan oleh gadis itu di balik topeng kegilaannya.
Namun, bayangan wajah Virelia yang ketakutan dan bergetar hebat di pelukannya tadi kembali berkelebat di benak Kael.
"Biarkan saja," jawab Kael dingin, memecah keheningan.
Julian menatap atasannya dengan terkejut. "Yang Mulia? Tapi ini menyangkut keamanan puri! Bisa saja dia-"
"Aku bilang biarkan, Julian. Nanti kita bahas lagi. Apapun rahasia yang disembunyikan Virelia, dia adalah istriku. Dan aku tidak peduli seberapa aneh atau misteriusnya dia, malam ini dia adalah korban yang hampir dibunuh di kamarnya sendiri, di kediamanku," potong Kael tandas, suaranya mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.
Julian terdiam, lalu menunduk hormat. "Baik, Yang Mulia. Saya mengerti."
Kael menarik napas dalam-dalam, matanya memancarkan amarah yang membara.
"Selidiki siapa dalang di balik pengiriman pembunuh bayaran ini. Cari tahu faksi mana yang berani menyusup ke Kediaman Duke Kael Dravenhart. Temukan mereka dan orang yang memberi perintah membunuh Duchess Dravenhart," perintah Kael.
Julian tahu kalau saat ini walau tenang, Kael sedang berada di puncak kemarahan. Dan itu adalah hal paling berbahaya untuk semua orang.
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣
kan udah tau mereka mah pemikiran nya suka ga waras.
mereka berkoalisi aja mang udah ga waras..
🤣🤣🤣🫣
tapi...
ga warasnya mereka itu mendekati jenius
semua masalah nya selalu dipecahkan dengan anggunly 😍
semalem apakabar Thor?
terjadikah yg diinginkan?
🫣🤣🤣
terjadi kan yg diinginkan itu 🫣🤣🤣
bocil minggir yaaa
laki laki mah lain di mulut
lain di tindakan
awas🫣🤣🤣