**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Cemburu
"Orang yang nggak penting" menelepon lagi pukul lima lewat tujuh menit.
Naila baru selesai latihan tari. Selama hampir dua jam, perban di telapak tangan kanannya membuat beberapa gerakan terasa canggung, tetapi ia menolak duduk di pinggir. Seusai latihan, ia mengganti balutan dengan kasa tipis dari kantong obat. Lecetnya sudah mulai mengering.
"Aku di depan kampus," kata Radhika begitu telepon diangkat.
"Depan kampus mana?"
"Gerbang utama."
"Gita sama Vania masih di toko. Mereka menyusul."
"Aku tunggu."
Naila menyampirkan tas ke bahu. "Memangnya kita makan di sekitar gerbang? Di depan kampus mana ada yang enak."
"Banyak."
"Jangan pelit. Kamu sendiri yang ngajak."
"Datang dulu."
Telepon ditutup.
Naila mendengus sambil keluar dari gedung klub tari. Beberapa anggota masih duduk di tangga. Seorang laki-laki dari kelas lain memanggilnya, lalu berlari kecil membawa permen lolipop pelangi sebesar piring.
"Ini buat kamu," katanya.
Naila menerima karena terlalu kaget untuk menolak. "Kenapa?"
"Tadi ada acara promosi di kantin, dapat dua. Kamu suka yang manis, kan?"
Naila bahkan tidak ingat nama laki-laki itu. Mereka mungkin pernah satu kelas umum.
"Makasih."
"Boleh minta WhatsApp? Buat kirim info acara kampus."
Permintaan itu diucapkan di depan beberapa teman yang sudah mulai bersiul. Menolak dengan kasar hanya akan memperpanjang keributan. Naila membuka kode QR kontaknya dan membiarkan laki-laki itu memindai.
"Aku jarang balas chat, ya," katanya sebagai batas.
"Nggak apa-apa."
Naila melanjutkan jalan sambil membawa lolipop besar yang tidak ingin dimakannya.
Di seberang gerbang, Radhika bersandar pada Rolls-Royce dengan kedua tangan terlipat. Kemeja gelapnya digulung sampai siku. Sejak beberapa menit lalu, tatapannya tidak lepas dari Naila dan laki-laki yang memegang ponsel di depannya.
Tiga hari.
Permintaan pertemanan Radhika sudah menggantung hampir tiga hari jika dihitung sejak pesan pertama sebelum ia menghapus Naila. Sekarang gadis itu menerima kontak laki-laki asing dalam waktu kurang dari tiga detik.
Sesuatu mengeras di rahangnya.
"Mana teman-temanmu?" tanyanya ketika Naila mendekat.
"Masih belanja. Mereka menyusul ke tempat makan."
"Kita makan di depan sana." Radhika menunjuk deretan warung. "Ada nasi Padang enak."
Naila memandangnya tidak percaya. "Serius?"
"Katanya depan kampus banyak yang enak."
"Itu kamu yang bilang!"
"Aku suka nasi Padang."
Naila berbalik. "Ya sudah, aku makan sama Gita dan Vania saja."
Radhika menangkap pergelangan tangan kirinya sebelum ia pergi. "Bercanda."
"Lepas. Tiga meter."
"Sepuluh persen aturan batal. Lupa?"
"Kata siapa?"
Radhika tidak menjawab. Tatapannya turun ke tangan kanan Naila yang kini hanya dibalut kasa tipis.
"Sini Mas lihat."
Ia membuka telapak tangan Naila perlahan. Luka kecil itu sudah kering di tepi, tidak bengkak, dan tidak ada kemerahan yang melebar.
"Nanti malam pakai salep lagi."
"Aku tahu."
"Jangan dipakai latihan dulu."
"Tadi sudah."
Radhika mengangkat mata. "Naila."
Nada rendah itu terdengar seperti teguran. Naila menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang tubuh.
"Nggak sakit, kok."
Barulah Radhika memperhatikan benda warna-warni di tangan satunya.
"Itu apa?"
"Sate ayam."
"Aku tahu itu permen. Siapa yang kasih?"
"Teman."
"Laki-laki atau perempuan?"
Naila mengerutkan hidung. "Kenapa tanya?"
"Jawab."
"Laki-laki."
Radhika mengambil lolipop itu dari tangannya. Gerakannya begitu cepat sampai Naila hanya sempat melihat bungkus warna-warni melayang tiga meter dan masuk tepat ke tempat sampah.
"Hei!"
"Kamu nggak suka lolipop."
"Kalau aku nggak suka, tetap bukan berarti boleh dibuang."
"Nanti kubelikan yang kamu suka."
"Bukan masalah harganya. Itu pemberian orang."
"Justru itu masalahnya."
Suara Radhika turun satu nada. Naila tidak menangkap perubahan tersebut. Ia hanya menganggap laki-laki itu kembali bertingkah sewenang-wenang.
"Aku tambah benci sama kamu. Persentase damainya turun jadi lima."
"Terserah."
Radhika membuka pintu penumpang dan mengarahkan Naila masuk dengan tangan masih melingkari pergelangan kirinya. Ia baru melepaskan setelah gadis itu duduk.
"Jadi makan di mana?" Naila bertanya curiga.
"Padma Lakeside."
Mata Naila langsung berubah. Ia pernah mendengar restoran privat di Sentul itu hanya menerima anggota dan reservasi, dengan harga per orang yang bisa menghabiskan sebagian besar gaji pegawai biasa.
"Kamu yakin?"
"Sudah reservasi."
"Gita sama Vania boleh ikut?"
"Boleh. Suruh mereka kirim lokasi. Kita jemput."
Naila mulai mengetik pesan kepada kedua temannya. Radhika duduk di balik kemudi, tetapi belum menyalakan mesin.
Sebuah pesan suara dari Gita langsung masuk.
"Nai, kami di toko buku dekat Margonda. Pengemudimu jangan kabur, ya. Vania masih pilih lip tint."
Suara Vania menyusul dari belakang, "Bukan pengemudi. Katanya orang nggak penting!"
Naila buru-buru mengecilkan volume. Terlambat.
Radhika menoleh perlahan. "Orang nggak penting?"
"Mereka salah dengar."
"Kotak musiknya sudah dibuka?"
Naila membeku. Ia tidak pernah mengatakan hadiah itu dibawa ke kos, apalagi sudah dibuka.
"Belum."
"Kalau belum, kenapa temanmu tahu pengirimnya orang nggak penting?"
"Kamu banyak tanya."
Radhika mengulurkan telapak tangan. "Ponsel. Biar aku lihat lokasinya."
"Aku bisa arahkan."
"Tanganmu luka. Jangan pegang ponsel terus."
Naila akhirnya menunjukkan layar tanpa menyerahkan perangkat. Radhika membaca nama toko, lalu memasukkannya ke navigasi. Mesin mobil menyala, tetapi ia masih belum melepas rem tangan.
Ia ingin bertanya mengapa Naila bisa memberikan kontak kepada laki-laki asing sementara permintaannya sendiri belum diterima. Pertanyaan itu tertahan oleh harga diri.
Jari Naila bergerak cepat di layar. Nama Radhika masih belum ada di daftar temannya.
Untuk pertama kalinya, Radhika menyesali tiga aturan yang ia buat sendiri.