"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 - Buku Nikah
Berita itu muncul di grup WhatsApp keluarga Wiratama sebelum sore.
Ada video pendek.
Dokter muda menyelamatkan anak dari penculik di rumah sakit.
Mayor TNI memeluk dokter itu setelah pelaku ditangkap.
Awalnya orang-orang memuji keberanian Alya.
Lalu seseorang mengenali Damar.
Lalu seseorang mengenali Alya.
Setelah itu, pujian berubah bentuk.
Dokter itu istrinya Mayor Damar?
Kok tidak pernah kelihatan?
Bukannya dulu Damar dekat dengan Siska?
Katanya perempuan itu menggantikan kakaknya?
Cerita lama yang selama ini berbisik pelan tiba-tiba mendapat panggung baru.
Alya mengetahui semuanya dari Laras.
Kakaknya mengirim pesan malam itu.
Video kamu ramai. Kamu baik-baik saja?
Alya duduk di kursi tunggu rumah sakit, menatap layar.
Baik.
Laras membalas cepat.
Maaf.
Hanya satu kata.
Tapi Alya tahu artinya terlalu banyak.
Maaf karena kabur.
Maaf karena membiarkanmu menggantikan aku.
Maaf karena semua orang masih memakai cerita itu untuk menusukmu.
Alya mengetik lama, lalu menghapus.
Akhirnya dia hanya menulis:
Jaga dirimu, Mbak.
Dia meletakkan ponsel.
Di depan ruang ICU, Siska Paramitha sedang berbicara dengan Tante Nadia. Suaranya lembut, wajahnya penuh empati. Dari luar, dia tampak sempurna.
Saat melihat Alya, Siska tersenyum.
"Dokter Alya, saya dengar anak kecil itu sudah aman. Hebat sekali."
"Terima kasih."
"Tapi sepertinya video itu membuat banyak orang salah paham."
Alya mengangkat alis.
"Salah paham apa?"
Siska mendekat, suaranya diturunkan.
"Orang bisa berpikir Damar sengaja memperlihatkan hubungan kalian. Padahal kita sama-sama tahu pernikahan kalian... tidak seperti itu, kan?"
Alya menatapnya.
Tante Nadia sedang bicara dengan perawat, tidak mendengar.
Siska melanjutkan dengan senyum sedih yang dibuat sangat halus.
"Maaf kalau saya lancang. Saya hanya khawatir kamu nanti terluka lebih jauh. Damar itu orang yang bertanggung jawab. Kalau dia merasa bersalah karena kamu terluka atau hampir jadi sandera, dia bisa bersikap sangat protektif. Tapi protektif tidak selalu berarti cinta."
Kalimat itu tepat mengenai luka yang masih basah.
Alya tersenyum pelan.
"Mbak Siska sering sekali menjelaskan perasaan Damar."
Siska terdiam setengah detik.
"Kami sudah lama saling kenal."
"Saya tahu."
"Jadi saya paham cara dia berpikir."
"Mungkin."
Alya berdiri.
"Tapi kalau Mbak ingin membicarakan pernikahan saya, sebaiknya dengan saya secara jelas. Jangan pakai kalimat kasihan."
Senyum Siska menipis.
"Saya hanya berusaha baik."
"Kalau begitu terima kasih. Tapi saya tidak membutuhkan belas kasihan untuk status yang sah."
Kata "sah" membuat mata Siska berubah.
Sebelum dia sempat membalas, suara seorang tante keluarga Wiratama terdengar dari belakang.
"Status sah memang, tapi orang juga tahu awalnya bagaimana."
Alya menoleh.
Tante itu datang bersama dua kerabat lain. Wajah mereka penuh rasa ingin tahu yang dibungkus keprihatinan.
"Tante," kata Siska cepat, seolah ingin menahan.
Tapi perempuan itu sudah terlanjur mendapat momentum.
"Kami tidak bermaksud buruk, Alya. Hanya saja video itu menyebar. Orang-orang bertanya. Kamu kan adiknya Laras. Dulu yang dijodohkan dengan Damar itu Laras, bukan kamu."
Alya diam.
Tante lain menambahkan, "Kalau kamu dan Damar memang baik-baik saja, syukurlah. Tapi jangan membuat seolah keluarga ini sejak awal menyembunyikan sesuatu."
Lucu.
Mereka memang menyembunyikan banyak hal.
Tapi yang diseret selalu Alya.
Tante Nadia akhirnya menyadari suasana berubah.
"Ada apa ini?"
Siska langsung berkata, "Tidak apa-apa, Tante. Kami hanya bicara."
"Bicara apa?" Suara Damar datang dari koridor.
Semua orang menoleh.
Damar berjalan mendekat dengan wajah yang membuat dua tante langsung kehilangan keberanian.
"Saya tanya, bicara apa?"
Tidak ada yang menjawab.
Alya berkata, "Tidak penting."
Damar menatapnya.
"Kalau membuat wajahmu seperti itu, berarti penting."
Siska tersenyum kaku.
"Damar, mereka hanya khawatir video tadi membuat gosip."
"Gosip apa?"
Siska tidak menjawab.
Tante yang tadi bicara akhirnya berkata, "Kami hanya bilang, karena pernikahan kalian dulu mendadak, orang bisa salah paham. Apalagi semua tahu Laras yang seharusnya—"
"Cukup."
Suara Damar tidak keras.
Justru karena tidak keras, semua orang terdiam.
"Pernikahan itu sah. Alya adalah istriku. Tidak ada yang berhak menyebutnya pengganti seolah dia barang yang dipindahkan dari satu nama ke nama lain."
Dada Alya bergetar.
Damar melanjutkan, "Kalau ada yang ingin bertanya kenapa pernikahan itu terjadi, tanyakan kepadaku. Karena aku yang mengucapkan ijab kabul. Bukan Alya sendirian."
Tante itu pucat.
Siska menatap Damar.
"Damar, tidak ada yang menyalahkan Alya."
Alya hampir tertawa.
Damar melihat Siska.
"Kamu juga."
Siska membeku.
"Kalau ingin membantu, bantu. Kalau ingin mengulang masa lalu untuk membuat istriku merasa kecil, jangan lakukan di depan keluargaku."
Kali ini Tante Nadia benar-benar terkejut.
Istriku.
Damar mengatakannya tanpa jeda.
Tanpa koreksi.
Alya menatap lantai karena takut wajahnya menunjukkan terlalu banyak.
Siska menarik napas, lalu tersenyum tipis.
"Saya mengerti. Maaf kalau terdengar salah."
Damar tidak menjawab.
Setelah para kerabat pergi dengan alasan mencari kopi, lorong menjadi hening. Tante Nadia menatap Damar dan Alya, matanya basah.
"Mama masuk dulu lihat Eyang," katanya, lalu pergi.
Tinggallah mereka bertiga: Alya, Damar, Siska.
Siska menggenggam tasnya lebih kuat.
"Saya harus pulang. Ada rapat yayasan besok."
Damar mengangguk.
"Terima kasih bantuannya."
Siska menatapnya lama.
"Damar, kamu berubah."
"Mungkin."
"Karena dia?"
Damar tidak menjawab.
Alya ingin pergi, tapi kakinya seperti tertahan.
Siska tersenyum sedih.
"Baiklah. Semoga Eyang cepat pulih."
Dia pergi.
Setelah Siska menghilang di lift, Alya baru bernapas lega.
Damar menoleh padanya.
"Kamu seharusnya memanggilku."
"Saya bisa bicara sendiri."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Aku tetap ingin ada di sana."
Alya tidak tahu harus menjawab apa.
Dia membuka tas, mengambil buku nikah kecil yang sejak datang ke Jakarta dia bawa karena urusan rumah sakit dan keluarga. Dia menatapnya sebentar, lalu menyodorkannya kepada Damar.
Damar mengerutkan kening.
"Apa ini?"
"Buku nikah kita."
"Aku tahu."
"Saya sempat berpikir, kalau tadi makin ramai, mungkin saya perlu mengeluarkannya. Lucu ya? Pernikahan sah tapi harus dibuktikan seperti surat izin."
Damar tidak mengambil buku itu.
Dia justru menutup tangan Alya dengan tangannya, mendorong buku itu kembali ke arahnya.
"Kamu tidak perlu membuktikan apa pun."
Alya menatap tangannya yang tertutup tangan Damar.
"Dua tahun lalu, Anda yang paling ingin saya ingat bahwa posisi ini bukan milik saya."
Damar menegang.
"Alya..."
"Jadi jangan heran kalau saya masih membawa bukti."
Dia menarik tangannya pelan.
"Saya mau beli kopi."
"Aku ikut."
"Tidak perlu."
"Aku ingin ikut."
Alya menatapnya.
Damar berkata, "Bukan karena tanggung jawab."
Kalimat itu membuat udara di antara mereka berubah.
Alya tidak tersenyum.
Tapi dia juga tidak menolak ketika Damar berjalan di sampingnya menuju lift.
Di dalam lift yang sepi, Damar berdiri dekat tapi tidak menyentuh.
Alya menatap angka lantai turun satu per satu.
"Mayor."
"Hm?"
"Kalau nanti Anda menyesal sudah bicara begitu di depan keluarga..."
"Aku tidak menyesal."
"Saya belum selesai."
"Aku tetap tidak menyesal."
Alya menoleh.
Damar menatap pintu lift, wajahnya serius.
"Yang kusesali adalah butuh dua tahun bagiku untuk mengatakannya."
Pintu lift terbuka.
Alya melangkah keluar lebih dulu karena kalau tetap berdiri di sana satu detik lebih lama, dia mungkin akan melakukan hal bodoh.
Seperti mempercayainya.
Di kafe kecil lantai dasar, Damar membeli dua kopi dan satu roti cokelat.
Alya menatap roti itu.
"Saya tidak pesan."
"Kamu belum makan sejak pagi."
"Anda sekarang menghitung makanan saya?"
"Sejak kamu menjadikan hampir pingsan sebagai hobi."
Alya ingin membalas, tapi perutnya berbunyi pelan. Sangat pelan. Sayangnya Damar mendengar.
Dia mendorong roti ke arah Alya.
"Makan."
"Ini perintah?"
"Permohonan yang terdengar seperti perintah."
Alya menatapnya beberapa detik, lalu membuka bungkus roti.
"Perbaiki nada Anda."
"Sedang."
Kata itu sama seperti yang pernah dia ucapkan di teras rumah dinas. Aneh, tapi Alya mulai percaya bahwa Damar memang sedang mencoba.
Mungkin terlambat.
Tapi tetap mencoba.
Alya menggigit roti cokelat itu pelan.
Rasanya terlalu manis.
"Enak?" tanya Damar.
"Biasa."
"Kamu sudah makan setengah."
"Saya lapar, bukan memuji."
"Baik."
Nada Damar datar, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Alya memalingkan wajah ke jendela kafe.
Di kaca, bayangan mereka duduk berdampingan terlihat seperti pasangan normal.
Itu yang paling menakutkan.